MARRIED

MARRIED
Kiss The Rain



Dan setiap malam aku berbaring


berpikir mungkin kau mencintaiku seperti aku selalu mencintaimu. Tapi bagaimana kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu ketika kamu bahkan tidak bisa melihatku tepat di mataku?


Saya tidak tahu apa yang menyakitimu. Tetapi saya juga bisa merasakannya


dan itu sangat menyakitkan. Untuk mengetahui bahwa aku tidak bisa melakukan apapun


jauh di lubuk hatiku


entah bagaimana saya hanya tahu


tidak peduli apa


aku akan selalu mencintaimu.


Saya sering menutup mata


dan aku bisa melihatmu tersenyum. Anda meraih tangan saya


dan aku terbangun dari mimpiku


meskipun hatimu adalah milikku


itu kosong di dalam. Aku tidak pernah memiliki cintamu


dan saya tidak akan pernah melakukannya.


Kenapa?


***


David Leonal POV


Setelah bertemu dengan sahabatku yang menghilang sekian lamanya, aku teringat akan Rose. Bagaimana keadaannya? Mengapa tiba-tiba Rose sakit dan tampak pucat? Padahal tadi dia baik-baik saja. Aku mengambil ponselku dan mencari nomor Rose.


Shit! Tidak aktif. Aku mengkhawatirkannya sekarang. Aku pun segera pergi menuju apartementnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor juga apartementku. Aku memang sengaja membujuknya tinggal di apartement itu agar mudah mengawasinya, dan agar tidak kesusahan saat pergi ke kantor. Rumahnya cukup jauh dari kantor.


Aku memasukkan kode apartement Rose. 170707. Aku tidak tahu tanggal apa itu yang pasti Rose sangat memaksa agar kode apartementnya di ganti. Karena saat awal aku yang mengurus apartement ini, aku menset kodenya dengan tanggal ulang tahun Rose. Rose selalu mengelak saat aku berusaha mencari tau.


Rose tidak ada di apartementnya. Holly shit! Aku panik sekarang. Tenang David, tenang. Pikirkan sesuatu.


Rumah Rose.


Aku segera menelfon mom, ibu dari Rose. Aku sudah memanggilnya seperti itu sejak aku mulai pacaran dengannya. Mom sangat baik dan perhatian, aku menyayanginya. Wanita kedua yang ku sayangi setelah Rose. Karena mamaku tidak termasuk orang yang penting bagiku. Hah, dia bahkan tidak pantas disebut seorang mama.


"Mom, Rose disana?" Tanyaku dengan nada yang ku usahakan tetap tenang.


"Ya, dav. Dia disini." Tanpa sadar aku menahan nafas tadi, dan sekarang aku merasa lega luar biasa. Sungguh, aku sangat takut. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa Rose ku. Aku tidak akan memaafkan diriku jika itu terjadi.


"Hubungi aku bicara kesini?" Tanyaku dengan suara tercekat. Hanya dengan tidak melihatnya saja membuatku sangat khawatir.


Hening.


Namun samar-samar aku mendengar suara Rose dari jauh sedang berbicara dengan mom.


"Ok, mom. Good night."


"Datang kesini sering. Dan mom merindukanmu."


"David juga kangen sama mom. Sorry mom akhir-akhir ini kerjaan David banyak."


"Mom ngerti. Mom tutup telfon dulu ya? Mau siapin makanan buat Rose pas bangun nanti." Aku mengaguk dan mengucapakan salam penutup.


Hatiku remuk. Rose menyembunyikan sesuatu. Aku tau dia tidak tidur. Aku tau dia hanya sedang tidak ingin di ganggu. Sudah seharusnya aku sadar bahwa ini adalah konsekuensi dari mencintai orang yang tidak mencintaiku. Namun mengapa rasanya masih sakit?


***


Aku memasuki sebuah club ternama di Jakarta. Tak biasanya aku memasuki tempat seperti ini. I mean, setelah aku mengenal Rose. Dulu, memang inilah dunia ku, dunia Kenzie juga beserta Kevin dan Ryan. Hanya saja semakin kami beranjak dewasa dan menanggung tanggung jawab yang lebih, kami tidak lagi mempunyai waktu untuk berkumpul di tempat ini.


Aku segera memesan tempat VIP dan minuman yang aku suka. Sungguh, aku perlu menenangkan diriku. Pikiranku sangat kacau. Aku bahkan tidak kemana aku harus berlari dan membuang seluruh rasa sakit ini. Sudah lama Rose tidak menghindariku. Dia sudah mulai menerimaku. Tidak seperti pertama aku mendekatinya. Kenapa? Kenapa dia seperti ini?


Entah sudah berapa gelas, atau bahkan botol alkohol yang aku minum. Jika Rose tau hal ini, aku yakin dia akan memarahiku habis-habisan. Sama seperti ia memergoki ku sedang menghisap rokok beberapa tahun lalu. Rose, Rose, Rose. Ia menjungkir balikan duniaku. Tidak pernah dalam hidupku aku jatuh sedalam ini pada seorang wanita. Hanya wanita biasa. Bukan model dengan badan sexy menjulang. Hanya seorang wanita atau bahkan janda dengan tubuh mungil, mata besar berbinar dan bibir tipis yang selalu menggoda.


Aku tertawa mengejek diriku sendiri. Sesakit inikah rasanya mencintai? Apa 5 tahun ini kurang baginya untuk dapat mencintaiku? Aku tau ia menyayangiku. Menyayangi. Hanya sebatas itu. Aku selalu optimis bahwa suatu hari nanti ia akan balas cintaku. Namun mengapa makin kesini, rasa optimisku berkurang?


Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri ketika aku melihat seorang yang menarik perhatianku. Wanita dengan mini dress berwarna hitam. Badannya mungil. Matanya besar dan terang. Bibirnya hampir mirip dengan Rose. Hanya saja tampak sedikit lebih bervolume. Mungkin pengaruh lipstik merah yang ia pakai.


Bukan, aku bukan tertarik karena dia cantik ataupun sexy. Meski kenyataannya memang seperti itu. Namun lebih karena dia mirip dengan seseorang. Entah apa yang membuatku berjalan menghampirinya. Tau-tau aku sudah berdiri di hadapannya.


"Sofia?" Sofia tampak kaget dan melihat ke arahku dengan tatapan aneh. Apa dia tidak mengenaliku? Tidak mungkin. Kami sudah berteman lama.


Aku mengenal Rose dari Sofia. Apa ketampananku berkurang? Tidak, aku yakin belum. Karena sedari tadi sangat banyak kaum hawa menatapku dengan tatapan lapar. Tapi kenapa Sofia melihatku dengan tatapan seperti itu?


Aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga akhirnya kesadaranku menipis dan akhirnya semuanya gelap.


Author POV


Rose masih menangis tanpa suara. Sungguh, dia tidak bermaksud membohongi David. Ia tau ia menyayangi David. Dia peduli pada David. Tidak mungkin 5 tahun kebersamaan mereka tidak berarti apa-apa baginya. Namun hanya sebatas sayang, dan sayang itu tidak pernah berkembang. Bukannya Rose tidak pernah mencoba, Rose sudah mencoba tiap hari bahkan.  Hanya saja rasa itu tidak pernah lebih dari sayang. Menyakiti David membuat hatinya itu sakit. Ia merasa menjadi penjahat sekarang.


"Mom, apa yang harus aku lakukan? Aku engga bermaksud menyakiti David." Mom hanya menghela nafas. Masalah anaknya rumit. Cinta tidak bisa di paksa dan hati anaknya ini masih di genggam oleh seorang yang tidak mungkin lagi dapat tercapai.


"Kau tau, mom. Aku sudah coba terlalu keras. Aku sudah mencoba mencintainya tetapi aku engga bisa." Rose mulai menangis keras.


"Rose, David orang yang baik. Dia mencintaimu dengan tulus. Jalani saja apa yang ada. Bagaimana pun, mom hanya pihak luar. Ini hidupmu dan kamu bebas melakukan apapun selama itu benar. Kamu tau mom selalu dukung kamu kan?" Rose mengangguk.


"Tenangkan dia dan katakan padanya bahwa kamu baik-baik saja. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Rose pun mengambil ponselnya dan mencari nomor David.


Tersambung. Hanya saja tidak di angkat. Rose tetap mencoba menghubungi David. Pada percobaan ketiga, baru telfon tersebut di angkat.


"David, kamu kemana? Kenapa kamu baru angkat? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Rose tak sabar. Biasanya David selalu mengangkat telefonnya tidak sampai 5 detik.


Hening.


"David?"


"Kak, ini aku." Suara seorang wanita yang sangat ia kenal terdengar dari telefon.


"Sofia?!"