MAIRA

MAIRA
6.jamkos



"Mengap-" ucap maira dengan bahasa baku mengikuti aries. "ehk kok aku ngikutin bahasa dia baru sehari masa udah Tertular" ucap maira sambil memegang mulutnya, tawa anggel dan Zane pecah membuat penghuni kelas menatapnya


" Sutt.. ihk itu mereka pada ngeliat kita tau gak? malu gais" ucap maira sambil menggelengkan kepalanya ke kanan. Ya di sana sudah terdapat tatapan tak suka pada ke tiga orang ini.


" Mereka emang suka cari masalah" ucap anggel. " Cari perhatian mereka sok cantik dasar" timbal zane


" Sutt ihk ....masa hari pertama udh banyak musuh ihk, tadi aja aku udah ribut di lapangan padahal hari pertama" ucap maira


" Oh jadi yang ribut itu kamu? " Tanya anggel. Maira hanya cengengesan tak jelas, karena memang benar kalau maira yang tadi ribut di lapangan.


" Jangan ngobrol terus ngapa perus saya ni udah demo minta di isi" ucap zane, emang dasarnya tukang makan jadi ya gitu. Padahal tadi kan yang gak makan maira tapi malah Zane yang katanya kelaparan.


" Ketua kelas yang baik dan budiman juga rendah hati dan tidak sombong tolong minggir sebentar aja" ucap maira memohon


" Tadi pak guru tidak mengijinkan kita untuk ke kantin, pak guru hanya berkata bahwa kita sekarang sedang tidak ada pelajaran apapun, jadi siapa suruh kita bisa pergi ke kantin sekarang?" ucapnya masih dalam mode membaca buku


" Kan biasanya kalo jamkos itu ya kekantin" ucap maira yang sudah di buat geram dengan satu orang ini.


" Ya boleh lah minggir 5 detik aja. Mau jalan belakang ada yang Mabar penuh sama orang aku risih tau" ucap maira menohon


" Tetap tidak bisa,, lagi pula sebentar lagi istirahat jadi jika kamu kekantin sekarang nanti istirahat mau pergi ke mana?" Ucap aries


Aries ini adalah tipe orang yang sangat patuh, jika di suruh terjun dari gunung salak pun pasti dia mau, jika itu memang perintah. Dan aries ini adalah anak di antara 0.001 persen yang ada di dunia dengan sifatnya itu, membuat seseorang harus meredam emosinya dalam dalam.


" Bolehkan aku cekek dia sekarang" ucap maira monolog dan mengepalkan tangannya


" Udh mai sabar aku masih ada persediaan kok tenang aja, mau apa? Chiki? Permen? Coklat?roti? Atau apa " tanya Zane membuka tasnya dan mentodorkannya kepada maira


" Isi tas kamu makanan semua terus bukunya mana? " Tanya maira heran dengan zane


" Di titipin ke si anggel, ya kan njell?" Ucap Zane menunjuk anggel.


Maira di buat melongo lagi dengan tingkah mereka, ah benar memang sekolah ini spesial. Di sini terdapat kamus berjalan, juga tempat sampah berjalan nya pun ada. Sungguh luar biasa baru satu hari sudah di buat nganga apalagi nanti maira akan menemukan orang yang seperti apa lagi.


" Kamu selalu berangkat bareng?" Selidik maira


" Enggak" Jawab Zane sambil memasukan permen karet ke dalam mulutnya, dan anggel yang sudah gemas dengan Zane hanya memutar bola matanya jengah


" Kalo enggak trus gimana?" Tanya maira penasaran


" Aku selalu nginep di rumah anggel kakek dan neneknya baik selalu kasih aku makan jadi aku selalu nginep bahkan aku punya kamar sendiri" ucap Zane


" Kalo gitu kapan kapan main ke rumah aku di sana banyak makanan, atau gak main ke resto bunda aku nanti aku kasih diskon deh" ucap maira


" Resto deket rumah aku ada,nanti kalo mampir tinggal chat aku aja, di Deket komplek perumahan X " ucap maira mengingat ingat


" Yang cabang 3 bukan?" Tanya Zane


" Iya bener yang ada tulisan Mai nya, itutuh nama panggilan sayang bunda aku" ucap maira


" Ya ampun kamu maira anaknya Tante itviani yang dari Bandung itu?" Ucap anggel


" Iya benar,, kok kalian tau?" Tanya maira


Hahaha selama ini mereka tetanggaan dan tidak tau satu sama lain. Maira yang selalu diam di rumah dan Zane juga anggel yang sering kelayapan, membuat mereka tak tah satu sama lain. Juga maira baru saja pindah kurang lebih satu Minggu yang lalu.


" Jadi saya dan kamu tetangga depan rumah ?" Tanya aries yang mulai tertarik dengan pembicaraan para betina ini.


" Hihi kamu orang yang sering di bicarain bunda yang katanya anak pinter itu" ucap maira menunjuk aries, ya memang benar sih aries pintar,bukan sekedar pintar tapi sepertinya ia sangat cerdas, buktinya ia bisa menjabat ketua selama 9 tahun berturut-turut.


" Ehk bisa diem gak sih! berisik tau gak sih, kalo gak bisa diem mending keluar aja ganggu tau" ucap siswi di sebrang sana sambil melempar botol dan di tangkap oleh maira. Maira menguasai beberapa teknik taekwondo jadi maira bisa menangkap botol itu tepat sasaran.


" Eh itu orang yang ngajak ribut tadi di lapangan,,, aku kira dia kakak kelas ternyata satu kelas. siapa si dia?" Ucap maira


" Oh yang ribut tadi itu dia pantes dia emang biang masalah juga si, ahk dia itu Tasya Kamila Calvert salah satu orang kaya di kales ini sama anak donator itu, kalo yang lagi pake kutek itu sepupu kamu tau" jelas anggel


"Sepupu?, kok aku gak tau ya! Beneran sepupu aku sama dia? " Tanya maira yang tak tau apa apa


" EH TU MULUT BUKANNYA DIEM MALAH NGELUNJAK" teriak seseorang yang sedang kutekan itu


" Heeh tuli lu yang dari tadi treak treak kagak jelas trus Sekarang malah marah sama kita! Gak jelas banget si hiduplu" teriak anggel tak mau kalah.


Yang berisik dari tadi itu adalah tasya, tapi entah mengapa menyalahkan Zane dkk. Ah lupa jika ia selalu mencari masalah pada orang orang apalagi Tasya anak yang cukup cerdas, jadi dari SMP pun sering membully dan cari masalah sana sini, entah apa yang tersimpan di pikiran nya.


" Eh albino jaga tu mulut" teriak Tasya yang sudah berdiri dari tempat duduknya


"Cuma gara gara putih di bilang albino sirik lu ya! gara gara kulit gue putih mulus dan bersih! emang nya situ panuan" ucap Zane juga tak mau kalah dan membela temannya yang di ejek, juga balik mengejek.


" Hahaha gak mungkin lah gue sirik sama rakyat jelata kaya lu! " Teriak lagi orang yang tadi di bilang sepupu maira


"Sekarang guguk udah bisa bicara ya njell, belajar di mana si jadi pengen sekolahin ikan gue " ucap zane menghina


" Udah gak usah di ladenin Zane guguknya lagi belajar ngegong gong" ucap anggel sambil menahan tangan anggel


Zane hanya tertawa keras sedangkan orang yang ada di sana hanya diam sambil mengepalkan tangannya. Orang itu ingin menghajar Zane dan anggel,apa daya mereka juga anak terpandang di sekolah ini jadi mau bagaimanapun ia tak bisa menghajarnya. Jikapun menghajar Meraka pasti urusannya nanti main saham sahaman.