MAIRA

MAIRA
27. kurang tepat



Sekarang sudah hampir satu jam berlalu sejak ketiga tetangga rusuh maira pulang. Sang bunda terus membujuk maira untuk ke rumah Nabilla, entah untuk memberikan kue, atau melihat keadaan rumah yang katanya sedang terjadi keributan, dan menyuruh maira membantu membereskan masalah yang terjadi. Ah pemikiran ibu ibu selalu saja ingin ikut campur. Namun, Maira selalu menolaknya karena tidak ingin ikut campur.


" Mai ayo lah ,,,mau ya! Nanti bunda kasih tempat buat kamu lukis sesuka kamu dan tempat itu besar loh! Mau ya? Please!"ucap sang bunda membujuk


" Bunda buat apa aku ikut campur masalah mereka? Aku ini baru pindah dan belum kenal mereka" ucap maira masih tetap menolaknya


" Bunda kasih kamu caffe baru, caffenya belum buka jadi kamu bebas mau desain dan gambar apa aja di sana" ucap sang bunda masih membujuk. Tak lama ada seorang pembantu yang lumayan muda menghampiri maira dan bunda, ia membawa jaket berwarna merah.


" Non ini jaket yang kemarin yang non suruh cuci, ini udah di cuci non. Tapi kayaknya ini bukan jaket non deh! Ini jaket laki laki kan?mau di simpan di lemari non atau ginama?" Ucap pembantu itu masih berdiri, kenapa orang ini hadir di waktu dan tempat yang gak tepat sih. ingin sekali maira memukul bibir mulus pembantu itu.


" Ah itu jaket kakak siapa sih!lupa" Ucap maira mengingat ingat. sebenarnya maira sudah tau dan ingat siapa pemilik jaket itu. tapi ia tahu pasti sang bunda yang sering ikut campur ini menyuruhnya memberikan jaket itu sekarang juga.


" Itu pasti jaket nya Daniel kakaknya Nabilla, sekalian aja kamu kasih jaketnya sekarang! Sambil bawa kue dan makanan lain ya! Di rumahnya gak ada mamanya jadi kamu anter ya" ucap sang bunda


" Kan bisa besok Bun ngasihnya. Lagian ada pembantu di sana, ngapain kita yang kasih makan. oh iya gimana bunda bisa tau itu jaket kak Daniel?" ucap maira tak mau dan menatap sang bunda.


" ya tau lah itu jaket pemberian bunda waktu dia ultah" jawab sang bunda


" aku aja yang jadi anaknya gak pernah di kasih hadiah" ucapnya maira yang sedikit memelankan suaranya, agar sang bunda tak mendengarnya.


" siapa suruh dulu pas Risa di ambil orang tua nya, kamu gak mau ikut balik kerumah ini. ihk cepatan kamu anter dulu makanan nya, jangan mengalihkan pembicaraan!. Ayolah Mai mau ya? Nanti bunda kasih objek lukis buat kamu" ucap sang bunda. Mendengar kata lukisan maira langsung merespon


" Bener nanti aku boleh lukis sesuka hati? " Tanya maira pada sang bunda. Sang bunda hanya mengangguk.


"Oke aku mau" ucap maira lagi.


Maira sudah bersiap untuk mengantarkan jaket dan makanan kepada tetangga depan rumahnya, maira berjalan dengan di ikuti kucingnya yang bermata biru. Maira sudah bulak balik pulang ke rumahnya agar kucingnya tidak ikut, namun sang kucing masih tetap mengikutinya, kucing itu adalah kucing peliharaan maira saat di Bandung, maka dari itu ia sangat menempel pada maira.


Maira sudah berada di depan pintu, maira mengetuk pintu itu namun tak ada jawaban. Maira mulai memberanikan diri untuk masuk, alangkah terkejutnya maira saat melihat pertengkaran di depan mata. Kurang tepat mungkin ucapan dalam hati maira.


" Aku capek ladenin kamu, bikin pusing ! Jangan manja!" Ucap laki laki itu yang tak lain adalah Daniel


" Eh anak kecil itu belajar yang rajin, bukan kayak kamu ! Nilai masih rata rata juga, gak malu kakaknya anak cerdas dan teladan di sekolahnya,sedangkan kamu? Heh apaan" ucap Daniel menghina adiknya


" aku emang gak cerdas kayak kamu! Tapi punya hati dan perasaan, bukan seperti anda cerdas tapi gak ada hatinya, maaf saya bukan robot tuan" sindir lagi Billa


"Terserah anda" singkatnya sembari ingin pergi


" Ada masalah langsung pergi bukan di selesaikan dengan baik!" Ucap Billa sembari mengambil kunci motor daniel, lalu melemparnya ke sembarang arah dan masuk ke kolong kursi.


" KAMU!!!" Teriaknya menunjuk Billa, beberapa detik kemudian ia berlalu begitu saja meninggalkan orang orang yang ada di sana, dan menatap Maira sekilas.


lalu ia berjalan lagi ke kolam renang belakang rumah. Maira hanya tertegun di sana ia sangat kaget dan heran bagaimana orang bertengkar selama 1 jam kurang lebih. Dan juga Maira lupa bahwa kucingnya sudah mengikuti Daniel sekarang.


" Eh ada maira? Ada apa?" Ucap anggel mencair suasana, tapi suasananya masih canggung


" I ini ada makanan dari bunda, katanya gak ada yang masakin kalian? sama jaket kakak yang tadi itu" Ucap maira kikuk


" Hehehe tau aja bunda kamu, sini duduk dulu" ucap Zane menepuk kursi. Di sana ada anggel, Zane, Sam, dan juga aries entah sedang apa di sana, tak lupa billa yang juga duduk di karpet.


Maira duduk di kursi dekat Zane,Billa yang tadi duduk di karpet sekarang juga duduk di sebelah anggel. mata, hidung dan wajah Billa sudah memerah entah sudah menangis atau menahan amarah


" Aku harus gimana?" ucap Billa meluncurkan bulir air matanya. Maira yang tidak tahu harus apa hanya diam menyimak saja


" Tapi billa,, kakak kamu tidak membunuh kucing kamu, kucing kamu memakan ikan buntal peliharaan kakak kamu. Ikan buntal memiliki Racun tetrodotoksin yang terdapat di dalamnya, yang merupakan racun yang dapat menyerang sistem saraf dan sangat mematikan. Racun ini bahkan lebih mematikan dibandingkan sianida. Mengonsumsi sekitar 1–2 miligram racun tetrodotoksin murni saja sudah dapat membuat nyawa melayang. Ditambah ia di gigit oleh Laba-laba Punggung Merah Australia. kucing kamu tadinya hendak memakannya, seperti ikan buntal, namun malah terkena gigitannya. laba laba Redback Spider (Latrodectus hasseltii) memakan korban hingga 10.000 orang tiap tahun. Bayi saja bisa meninggal kalau digigit. apalagi kucing kamu, kucing kamu juga sudah memakan ikan buntal yang memiliki racun tetrodotoksin " jelas aries panjang lebar, maira hanya mengaga mendengar penjelasan aries


" Kok kamu tau" ucap anggel


" Tadi saya dan kak Daniel sudah membawanya ke rumah sakit. Namun, dokter berkata demikian" ucap aries. Maira hanya berpikir mungkin aries menjiplak semua ucapan dokter tanpa terkecuali.


" Kucing pemberian terakhir mama udah mati. Aku harus gimana? Minta maaf sama kakak yang udah bilang kasar? Atau diemin dia lagi?.... Hiks...hiks.." ucap Billa menyangga wajahnya dengan tangan lalu menangis