
" Kucing pemberian terakhir mamy udah mati. Aku harus gimana? Minta maaf sama kakak yang udah bilang kasar? Atau diemin dia lagi?.... Hiks...hiks.." ucap Billa menyangga wajahnya dengan tangan lalu menangis.
Maira menatap Billa sendu, maira tak tau masalah lengkapnya namun ia sangat simpatik pada masalah ini. Andai saja bundanya tak menyuruhnya datang mungkin ia tak akan ikut terlarut dalam masalah orang lain. dan sekarang malah jadi ia yang simpatik oleh masalah orang lain.
" Mereka berantem satu jam?" Bisik maira pada Zane.
" Enggak. Tadi kita nunggu ka Daniel pulang dari RS. Terus nguburin dulu kucingnya. Jadi sekitar 20 sampai 30" jawab Zane juga berbisik. Maira hanya mengangguk saja, ia tak tahu ingin bicara apa, kalau pun pulang tidak enak dengan Billa, masa harus nyelonong gitu aja. apalagi tadi sudah menyaksikan pertengkaran nya. seperti nya setelah pulang ia akan mengumpat habis habisan pada bunda tercinta nya ini.
Billa masih menangis tersedu sedu di sama di peluk dengan anggel. Biasanya jika mereka ribut kak Daniel akan pergi, menghindar atau tidak peduli. Tapi sekarang mungkin sudah batas kesabarannya. Bagaimana tidak marah, kamarnya berantakan ikannya yang ia pelihara mati juga laba laba berbahaya hilang entah kemana. ya walaupun setimpal dengan kucing yang mati itu.
"Bill tenang dulu, pikirin dengan kepala dingin. bill... Hei jangan nangis jelek loh! Udah sesegukan tuh" ucap anggel menenangkan, ia merapihkan rambut Billa.
" Aku buatin minum ya!" Ucap Zane menarik maira ke dapur, maira hanya pasrah saja. Pada saat pergi ke dapur maira melihat ke arah kolam renang, di sana ada kak Daniel dan juga kucingnya yang tadi mengikutinya. Tampak di sana Daniel sedang memangku kucing maira sambil mengelus nya.
" Zane... kucing aku ada di kakak itu" rengek maira pada Zane
" kucing? kucing siapa? kakak?" ucap Zane tak mengerti perkataan maira
" iya aku pelihara kucing, tadi dia ikut aku. tapi..." ucap maira dengan muka sedih ala ala anak kecil
" kamu pelihara kucing? sekarang dimana?" ujarnya cepat.
" di kakak itu ish... gimana ini" ucap maira menarik narik tangan Zane
"kok bisa?" tanya lagi Zane, sekarang Zane sekarang seorang kakak yang sedang mengintrogasi sang adik karena menghilang barang.
" tadi aku gak sadar" jawab maira seperti anak kucing yang sedang merengek
"maira aku angkat tangan. kucing Billa juga..." ucap Zane yang malah menakut nakutinya
"kok gitu ish, kucing kesayangan aku. mana belum pamit ke Suga lagi" ucap maira yang sudah lesu
"sss Suga si-siapa? idol K-Pop? kok bisa pamitan sama dia?" ucap Zane bingung
" bukan! itu kembarannya snow" ucap maira yang semakin tak menjurus, untung saja Zane mengerti arah pikiran maira, ya snow itu mungkin kucing yang di bawa Daniel sekarang, pikir nya.
"kan udah ada yang si Suga! jadi gak apa apa kan?. daripada stres mending kamu bikin minum buat kita semua, kamu anak chef kan? pasti bisa lah buat minum" ucap Zane yang sudah melihat lihat isi kulkas orang lain itu. maira hanya tersenyum manis, manis sekali kepada Zane. ya tujuan dari di ajaknya dia ke dapur ternyata untuk ini.
Maira dan Zane sudah berjalan lagi ke ruangan yang di tempati Billa dkk. Saat di perjalanan maira melihat kak Daniel sedang menangis dan curhat pada kucing maira.
'ternyata bisa nangis juga......Tapi... Lucu juga ya orang curhat sama kucing' batin maira. maira hanya menatap lalu pergi begitu saja, biarkan saja lah.
" Nih minum dulu" ucap Zane menyodorkan pada Billa, Sekang billa sudah sedikit mulai tenang
" Beneran gak apa apa? Enak gak?layak di minum?" Ucap anggel, ia tau Zane tak pernah membuat minuman, menyalakan kompor saja ia tak bisa. Yang ia tahu hanya makan makan dan makan saja, seperti seorang putri pada umumnya, Yang selalu di persiapan oleh para pelayan.
" Ini buatan anak chef terkenal ! Masa gak enak" dengus Zane, maira hanya tersenyum. Maira membuat teh lemon segar juga milk tea untuk teman temannya juga.
" Enak loh! Gak terlalu manis, tapi pas di lidah" ucap Samuel memuji
" Iya teh lemon nya juga seger sama kayak ada manisnya tapi bukan dari gula" ucap Billa, mereka Semua memuji minuman yang di buat maira. Hahaha membuat maira semakin besar kepala,karena di puji. padahal jika di rumah ia tak di perbolehkan memegang alat dapur,dengan alasan keamanan dan kenyamanan (maira tak bisa memasak). hahaha
" Gak salah ajak aku" sindir Zane pada anggel, anggel hanya mendelik saja tak terima. Ya maksud dari Zane adalah mengajak anggel, jika mengajak anggel pasti minuman itu tak akan di minum oleh siapapun. Karena anggel sama dengan zane, apalagi ia adalah putri satu satunya di keluarga ayah juga mendiang sang ibu.
Persahabatan yang sangat erat menurut maira, mereka saling mensufort satu sama lainnya.
"Emang ya kalo orang dingin plus pendiam kalo udah marah langsung meledak" hela Samuel
" Bom kali ah meledak" gurau Zane
" Bom bukannya sabun pencuci piring ya?" Ucap anggel
" Sabun pencuci baju kali ah... Ini nih efek anak Sultan sejak dini gak tau mana yang buat cuci baju dan piring" ucap Billa yang sudah mereda.
Maira hanya duduk di antara Mereka, mereka juga sedang memakan kue yang tadi maira bawa. Maira hanya meringis karena itu kue buatan Billa, Zane juga anggel yang tepung terigu nya sudah di buat perang perangan, di lempar sana sini, juga pada saat pengadukan nya kemasukan satu butir telur yang masih dengan cangkangnya, entah itu masih ada eek ayamnya atau tidak. Tapi yang pasti rasanya masih enak kok tenang saja.
" Kak Daniel gak di kasih?" Tanya maira pada semua orang
" Si kepala batu, muka tembok dan si kulkas berjalan itu?" Maki Billa pada Daniel
" Eh gak boleh gitu sama kakak, biar bagaimanapun dia kakak kamu!. Lagian tadi aku liat dia lagi nangis tuh di Deket kolam sama kucing aku" ucap maira
" Beneran dia nangis? Seumur umur belum belum pernah aku liat dia nangis. kita nginep yu!" ucap Samuel terkejut dan mengajak semua ke kolam renang. sungguh orang orang ajaib. Maira hanya bisa mengangguk menandakan perkataan nya benar, apakah benar Daniel belum pernah menangis? Atau ia hanya menyembunyikan nya saja?