
" itu masalah besar loh, kalo tiba tiba gitu nanti si penyanyi nya akan terbawa suasana dan cepet cape jika mereka tidak menyadarinya, dan buat penyanyi harus selalu fokus, lagian seorang pemain alat musik harus tau loh itu" jawab Bu tari. Tasya sama sekali tak mendengarkannya. Entah itu pura pura atau apa .
" Maira coba kamu mainkan salah satu alat musik!" Ucap Bu tari
" Yang mana Bu?" Tanya maira
" Terserah"jawabnya
" Kayak cewek yang lagi ngambek aja selalu terserah" ucap maira sambil berjalan ke atas panggung, di panggung tersebut terdapat beberapa alat musik. Seperti piano, violin, gitar, drum, keyboard, saksofon dan masih banyak lagi.
" emang kamu bukan cewek?" tanya Bu tari, maira tak menanggapi nya karena ia sudah lebih fokus pada alat musik yang berjejer rapi di atas panggung ini.
Maira menatap ke depan dan menunjuk satu satu, maira seperti mengisyaratkan atau bertanya kepada orang orang di depannya untuk bermain apa. Teman teman yang melihatnya langsung memilih piano, supaya bisa sedikit santai, mereka masih capek tadi bernyayi. Maira yang melihat teman temannya mengangguk. Ia duduk di kursi bulat dan mencoba memainkan jarinya di sana.
Ting...
Ting...
Dengg...
Nenggg...
" Lagu apa?" Tanya maira pada semua siswa yang hendak bernyanyi
" Yang santai aja, bisa jazz, atau pop aja" teriak siswa di sana
" Oke, rock ya"ucap maira sambil memainkan kembali tangannya dengan nada tinggi dan tempo yang cukup cepat
"Yang santai bage, cape tau nyanyituh" teriak lagi di barisan penyayi itu, maira hanya tersenyum tipis dan memainkan piano nya dengan santai, dengan teknik sederhana.
Alunan musik terdengar sangat lembut,indah dan juga menenangkan. semua orang bernyanyi dengan syahdu dan juga merdu, permainan musik maira sangat di nikmati oleh penyanyi juga pendengar. Siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut bernyanyi. sampai sampai orang yang berada di ruangan sebelah mengintip ruangan seni ini.
Maira menyelesaikan musiknya dengan baik, dan mendapat tepuk tangan dari semua siswa.
" Biasa aja kali, itukan cuman teknik dasar dan sederhana. Semua orang juga bisa" ucap Tasya nyinyir. Entah kenapa Tasya sangat tak suka dengan maira. apakah pada zaman dahulu maira melakukan kesalahan pada Tasya? tapi maira tak pernah sekalipun bertemu dengan orang ini, bahkan anak para sahabatnya pun baru pertama kali bertemu.
"Emang biasa sih, tapi pembawaannya lembut dan tepat. Ya walaupun teknik itu sederhana tapi itu luar biasa bagi pendengarnya. Dari pada teknik yang sulit tapi salah dan gak tepat gak enak tau di dengernya, telinga serasa mendengung" ucap Noval membela maira, dan menyindir Tasya. Bu tari hanya tersenyum, dulu ia tak bisa berbuat apa apa kepada Tasya, karena Tasya anak donator di sini. namun, sekarang ada maira untuk di jadikan alasannya.
Maira turun dari panggung, lalu tanpa di suruh Tasya maju ke depan, membuat semua orang menghela nafas.
" Hah pembuatan onar lagi" bisik para siswa.
Tasya memegang viola, lalu menatap semua siswa
Tasya memainkannya dengan baik, namun di tengah tengah tiba tiba suaranya jadi sedikit sumbang dan fals,juga terdengar decitan yang membuat telinga sakit. Bagaimana bisa seseorang yang memiliki telinga tidak mengetahui permainan musik nya sendiri. Tasya memang anak dari pengusaha dan juga seorang anak violinist, dan yang ia mainkan sekarang viola bukan violin. astaga anak ini benar benar pencari masalah. tapi kenapa permainannya masih seperti itu? apa ibunya tidak mengajarinya? ya walaupun berbeda tapi itukan masih dari kelompok yang sama. Oh sungguh membuat kepala sakit.
Maira menatapnya dengan bingung, apa Tasya tak punya telinga? Padahal ada menempel. Atau jangan-jangan budek?, Maira ingin sekali merebutnya, apalagi itu teknik yang cukup sulit. Gak usah pamer dulu lah kalau permainannya masih belajar, seharusnya yang dasar saja dulu. Membuat semua orang yang ada di sana tersiksa dan menutup telinganya.
Treng....
Srekk...
Tak...
Senar dari salah satu viola itu putus, maira yang melihatnya ingin langsung mematahkan lengannya. Berbeda dari maira yang marah, semua siswa terlihat senang karena permainan nya berakhir di tengah jalan. Mereka tak mempermasalahkan senarnya karena mungkin sudah tersedia di sekolah. Bu tari sudah memijat kepalanya sedari tadi.
Tasya turun, lalu memberikan violin nya pada Bu tari, Tasya berlalu begitu saja, ia berlagak tak terjadi masalah apa apa. Semua siswa yang melihatnya menganga dengan kelakuan seorang remaja yang di bilang seperti kekanak Kanakan ini.
Tak lama kemudian bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan ke luar dari kelasnya untuk pulang.
" Maira ada yang ingin ibu bicarakan, kamu tetap di sini, dan yang lain silahkan boleh pulang" ucap Bu tari. Semua siswa yang berada di ruang musik berhamburan dan berlari ke ruang kelasnya untuk mengambil tas kesayangan mereka. Maira yang di perintahkan untuk tetap di ruangan itu hanya melihat temannya yang sudah pulang ia hanya melongos saja.
"Rara!" Ujarnya, membuat maira menoleh ke kanan dan kiri. Ia tak tau masih ada yang memanggilnya Rara padahal yang memanggil maira Rara hanya Miss Selena, Mrs Sandra, dan kei saja.
" Hei udah lupa?" Tanyanya, maira hanya mengeryitkan matanya, memangnya siapa Bu tari itu.
" Hahaha bener lupa, ini teteh tartar! Sedihnya kamu lupa sama teteh" ucap Bu tari
" teteh" ucap maira melengking, maira merentangkan tangannya memeluk Bu tari ini.
" Udah hampir 10 gak ketemu,terakhir ketemu pas teteh pamitan mau ke Jakarta ya?, kok teteh tau aku? udah lama kan kita gak ketemu!"cerocos maira yang masih memeluk si teteh itu.
Bu tari adalah guru les menari maira saat maira berumur 5 tahun, tapi Bu tari di pindah tugaskan ke Jakarta untuk mengajar di salah satu sekolah di sana. Juga berkuliah kembali untuk jadi guru SMP lalu jadi guru SMA.
" Teteh masih sering liat Story kamu atau enggak Miss Lena dan Mrs Sandra, jadi teteh tau. Oh iya beberapa hari yang lalu teteh ketemu sama Lena dan kak Sandra di caffe jadinya teteh ikut ngerumpi juga sih dikit" ucap Bu tari, maira hanya mengangguk
" Kamu buka galery juga di Jakarta? Kapan buka? Oh iya kamu mau ke International high school of arts? Di izinin? Sekolah yang kamu impi impikan banget kan ?mau sekolah di sana?" Tanya Bu tari tanpa henti-hentinya
" Satu satu dong teteh, pusing aku mau jawab apa dulu" ucap maira, Bu tari hanya tersenyum , mungkin karena antusias.
" Ya karena saking antusiasnya, murid kesayangan, ya walaupun ngajar sebentar" ucap Bu tari
" Oke aku jawab" ucap maira yang sudah menarik nafas nya