
Sekarang maira sudah mandi lagi, pagi ini maira sudah mandi 2 kali. Maira turun kembali ke lantai bawah berkumpul bersama ayah,ibu dan adiknya.
" Segarnya mandi di cuaca panas kayak gini!, Beda kalo di bandung, kalo libur sekolah jam segini belum mandi, masih gulung gulung di selimut" ucap maira menuruni tangga, tangga rumah maira terhubung dengan ruang keluarga.
" Dek kamu belum mandi?" Tanya maira kepada mirzha, sang adik hanya menggeleng sembari tersenyum
" Ihk bau sana mandi kalo enggak... Bun! Boleh aku ceburin ke kolam, siram pake air kotor atau siram pake selang di depan?" Ucap maira menakut nakuti sang adik, sang adik yang mendengarnya langsung menatapnya horor, dan berlari ke kamarnya. Mungkin ia takut dengan ancaman sang kakak.
" Hahaha emang ya tu anak nurut banget sama kamu kak" ucap sang bunda pada maira
" Bukan nurut, tapi takut!. Oh iya Bun ayah mana?" Ucap maira sembari bertanya dan menoleh ke kanan dan kiri
" Ngapain kakak cari ayah?" Tanya sang ayah di balik tembok putih, ayahnya langsung berjalan menuju 2 orang wanita itu sambil membawa tas yang lumayan cukup besar.
" Yah tolong jemput kak Andri sama uncle Andra dong!" Ucap maira memohon, maira menatap sang ayah dengan mata kucingnya itu lalu mengedip ngedipkan nya
" Nih buat kakak dari temen ayah!. Iya Ayah jemput deh, sekarang atau nanti? Kamu mau ikut?" Ucap sang ayah menyodorkan tas yang cukup besar itu.
Maira langsung membuka tas itu, di dalamnya terdapat violin dengan ukiran nama maira di bawahnya.
" Woah violin, ada nama akunya lagi, ini dari om Joel?" Ucap maira antusias, maira melihat lihat violin itu, ia yakin violin nya sangat mahal apalagi terdapat ukiran nama di sana. Sang ayah hanya mengangguk dan tersenyum melihat sang anak bahagia
" Gak deh ayah aja yang jemput, Mai mau coba violin nya" ucap maira berlalu ke luar, ia ingin memainkan musiknya di luar agar lebih indah.
"Sekarang?" Tanya sang ayah, dan sang bunda hanya mengekori maira, tak lupa dengan sang ayah pula. Semua orang mengikuti maira sampai ke teras depan rumah .
" Taun kemarin aja yah biar gak telat" celetuk sang bunda, maira dan sang ayah hanya tertawa.
Maira dan sang bunda sudah ada di teras depan rumah, sedangkan sang ayah sudah melajukan mobilnya tadi. Di teras halaman itu cukup luas, ada pohon mangga, pohon jeruk, pohon mahoni dan beberapa pohon lainnya. Juga ada bunga bunga yang sangat harum. Ada bunga tulip,Lily, anggrek, mawar putih dan merah juga melati yang harum.
Di samping taman bunga ada kolam yang lumayan cukup besar di sana ada ikan koki, koi, lohan, arwana, dan masih banyak lagi ikan di sana termasuk ikan ikan kecil dan berwarna. Ah iya di sana juga anak bunga teratai berwana putih,pink dan ungu.
Sang bunda dan anak bungsu nya duduk di kursi teras,saling berhadapan. Dangan di temani teh segar dan beberapa camilan. Sedangkan maira berdiri di taman bunga yang sangat berwarna itu.
Maira memainkannya dengan lembut,manis, dan juga indah. Musiknya terdengar sangat hangat dengan penuh kasih dan sayang, juga manis yang menggambarkan keluarga yang harmonis. Mungkin orang yang mendengar musik itu akan menghentikan kegiatannya lalu mendengarkan musik itu. Sama halnya dengan tetangga tetangga maira, ada yang sedang merawat tanaman, ada yang sedang mencuci motor atau mobilnya, ada juga anak kecil yang sedang bermain di luar gerbang. semuanya mendengar kan alunan musik maira.
......................
Di sisi lain ada 2 orang manusia yang sedang bertengkar, mereka mungkin seumur an dengan ayah dan bunda maira. Mereka memang sudah sering bertengkar bahkan tetangga yang lainnya pun sudah terbiasa.
" Gara gara kamu yang gak bener jagain anak, 2 anak kita jadi jarang di rumah. Seharusnya kamu lebih pentingin keluarga" ucap pria itu berteriak
" Eh kamu juga! Kamu yang gak ada waktu! Kamu yang selalu ngajak aku berantem ! Jadi anak kita gak betah tinggal di rumah!" Teriak juga wanita itu.
Ternyata 2 anaknya baru saja pulang, mereka masih di ambang pintu. namun, sudah di suguhkan dengan pertengkaran orang tuanya.
" Mah! pah! Bisa gak sih gak berantem sehari aja, aku udah cape dengerin kalian ribut Mulu! Aku malu sama tetangga" ucap sang anak perempuan itu berada di tengah tengah pertengkaran
" Dia yang mulai duluan" ucap wanita itu menunjuk suaminya. Sedangkan suaminya sudah naik darah karena ditunjuk oleh sang istri, baru saja ingin memaki sang istri, anak laki-laki angkat bicara
" Kalian selalu aja kayak gini, gak bosen? Aku yang denger nya aja bosen!, Kalian kayak anak kecil tau gak? Masalah kecil aja di besar besarin tau" teriak sang anak laki laki.
" Kamu anak nakal! Udah inget rumah?, Biasanya kamu di jalanan, kenapa gak balapan lagi, sekalian mati aja" ucap sang papa berteriak
" PAH UDAH AKU CAPEK! KALO PAPA GAK SAYANG SAMA ABANG GAK USAH BILANG KAYAK GITU! ITU BIKIN AKU SAKIT HATI SEBAGAI ADIKNYA"teriak sang anak perempuan
" Kamu udah bisa bentak papa!? Hebat ya anak papa sekarang semuanya pada ngebangkang! Pasti di ajarin kamu kan Zai? Dasar ana-"ucapan sang ayah terhenti karena mendengar musik yang begitu menyentuh hati, ia seperti tertampar oleh musik itu. Begitupun ke 3 orang lainnya,mereka tertegun dengan suara itu.
Kehangatan?keindahan?keharmonisan keluarga?. Semua itu tak ada di keluarga ini. Sang anak perempuan hanya memejamkan matanya agar air mata nya tak keluar, namun itu hanya sia sia air matanya keluar dan tumpah di sana. Sang kakak yang melihatnya hanya memeluk sang adik, walaupun terbilang nakal tapi sang kakak sangat menyayangi adiknya itu.
" Maaf" itulah yang di lontarkan sang papa, mereka ber3 hanya menatap satu sama lain, seorang papa yang angkuh dan tak mau meminta maaf, sekarang minta maaf karena sebuah permainan alat musik. Sungguh luar biasa
" Kak! Maaf papa udah bicara kasar sama kamu, papa juga minta maaf sama kamu Zane dan mah maaf ya! Papa seharusnya ada waktu buat kalian, seharusnya kita saling bicara, dan seharusnya papa luangin waktu buat kalian" ucap sang papa, Meraka hanya menatap ayahnya dengan sendu dan air mata terurai, permainan musik itu masih terdengar membuat suasananya semakin mencair.
" Maaf in kita juga pah, kita juga selalu pergi di saat papa dan mama berantem, kita..." Ucap anak laki laki, namun belum menyelesaikan ucapannya laki laki itu di tarik dalam pelukan hangat keluarga nya. Ia benar-benar sangat menginginkan momen ini.