
" bisa bisanya dia ngehibur aku di saat dia udah gak ada " ucap maira tersenyum kikuk sehabis membaca itu
" Dia anak yang baik ya! Mrs bangga punya adik kayak dia, oh iya dia ngasih apa ke kamu?" Tanya Mrs Sandra
Maira menunjukan cincin itu kepada Mrs Sandra. Cincin itu berbentuk bulan sabit. cincin itu masih melingkar di jari manis maira, terlihat sangat cantik dan elegan.
" Ra nanti kalo udh gak muat gimana?" Tanya Mrs Sandra
" Bakal aku jadiin kalung. Ini aja baru di pake 2 Minggu yng lalu soalnya kegedean. Dia udh kasih kalungnya kok" jawab maira, Mrs sandra hanya mengangguk an kepalanya. Ia juga memberikan suratnya kepada maira
" Baca" ucap Mrs Sandra
Maira kembali menetes air matanya, bagaimana bisa ia menitipkan dirinya kepada kakaknya itu.
" Jangan nangis lagi nanti kei marah sama Mrs" ucapnya
" Biarin biar aku ketemu sama dia hehehe" ucap maira
" Kalo beneran ketemu gimana?"tanya nya
" Kalo bau sama jelek aku mandiin dulu lah, nah kalo udah wangi sama ganteng aku langsung karungin aja" ucap maira sambil tertawa, ah air matanya sekarang sudah mereda.
karena terlalu sibuk mengobrol, mereka sampai lupa waktu. sampai sampai hari sudah semakin sore, membuat maira dan yang lainnya harus pulang. Terutama Mrs Sandra yang harus mengurus suaminya, juga maira yang akan di interogasi sang bunda jika pulang telat.
Maira meninggalkan tempat dengan memakai kacamata, maira selalu membawa kacamata di dalam tas nya, walaupun itu bukan kacamata minus. Hanya untuk menutupi sembab di matanya saja, karena tadi maira menangis tersedu sedu membuat matanya bengkak dan merah.
Maira berjalan ke luar dari caffe itu, maira masuk ke dalam mobil dan ternyata supir nya itu sudah ada di dalam mobil sambil tertidur pulas. Supirnya tertidur pulas karena menunggu maira yang mengobrol sangat lama.
" Pak bangun maira udah mau pulang" ucap maira menepuk pundak pak sopir, pak sopir terlonjak kaget sampai menarik tangan maira ke depan
" Tenang pak ini maira" ucap maira lagi mengangkat tangannya menenangkan pak supir itu.
" Eh non, maaf non saya ketiduran" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Mobil yang di tumpangi maira pun memesan dengan kecepatan rata rata. Maira hanya membayangkan wajah dari anak yang tadi 'kamu benar ! dia sangat mirip dengan mu kei' gumam maira dalam hati.
Karena jarak antara caffe dan rumah maira tidak terlalu jauh maka dalam 10 menit saja sudah sampai.
Maira masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh sang bunda yang sudah ada di depan pintu dengan tatapan ganasnya.
" dari mana aja kamu?" Tanya sang bunda sambil melipatkan kedua tangannya di dada
" Ketemu Mrs Sandra sama Miss Selena Bun" ucap maira menunduk sambil berjalan masuk.
" Kamu gak usah berurusan sama Meraka lagi! dan tinggalin mimpi kamu jadi pelukis atau apalah itu. lebih baik kamu belajar masuk buat nerusin usaha bunda nantinya" ucapnya melarang maira menjalankan hobinya
" Bunda tau kanvas adalah hidup aku? Jadi bunda gak bisa larang aku kayak gini dong! aku tau aku gak bisa masak, dan itu bukan hobi aku, juga bukan keahlian aku. lebih baik aku nyari kerja di luar sana dari pada nerusin usaha bunda " ucap maira tak terima
" kenapa gak mau? sebaiknya kamu rubah sikap kamu, dan inget perjanjian kita apa? kalau kamu melanggar, tahu kan konsekuensi nya?. gara gara hobi kamu ya ayah meninggal, kamu tahu dan sadar itu,kan?juga kamu yang hampir gila karna itu! Dan satu lagi kamu nyerang temen kamu yang baru masuk sekolah" ucap bunda maira sudah berteriak keras
" Gak usah urus hidup aku Bun semua orang gak ngerti aku kecuali opa dan kei. aku juga gak akan langgeng perjanjian kita kok, aku bukan tipe orang yang jilat ludah sendiri " ucap maira yang langsung berlari ke kamarnya, yang berada di lantai atas.
perjanjian itu adalah jika maira mau bersikap feminim juga anggun, dan tidak tomboi, kasar, dan mencari masalah. ah satu lagi maira harus memiliki sahabat yang lebih dari satu, kerana dulu sebelum pindah maira hanya memiliki satu orang teman,ya itu seperti perjanjian yang konyol. nah, jika maira berhasil maka maira boleh mengejar hobinya,membebaskan juga menuruti kemauan maira, tapi jika itu tak berhasil maka maira harus menuruti setiap perintah kedua orang tuanya.
" MAIRA PUTRI VELS berhenti di sana!" teriak sang bunda
Maira diam lalu menatap sang bunda" iya bunda aku tau aku yang bunuh opa! Puas!" Teriak maira. " Semua orang udah nyalahin aku jadi ya udah,buat apa aku jelasin lagi panjang lebar,buang buang tenaga. terserah bunda mau apa aku gak peduli!" ucap maira
"dan satu lagi aku udah nurutin kemauan bunda ya ,buat jadi feminim dan lain sebagainya. aku bahkan udah punya 2 orang teman, aku berhasil penuhi semuanya, jadi sekarang bunda yang nurutin aku buat bisa melukis lagi. Bunda inget kan janji itu?jangan larang aku buat hal yang mustahil kaya gitu! Itu adalah kebahagiaan aku satu satunya sekarang. karena opa dan kei udah gak ada" ucap maira berlalu meninggalkan sang bunda. Sang bunda hanya menatap kepergian sang putri nya. Entah apa yang sekarang di pikiran wanita itu.
Berbeda dengan bundanya yang hanya menatap kepergian maira. Maira sendiri sekarang sedang mandi dengan air dingin, maira juga membasahi kepalanya, di kamar mandi tercium aroma bunga lavender di campur dengan aroma kayu manis yang menenangkan. Setelah ritual mandi, maira duduk di atas kasur dan memainkan hpnya, banyak notifikasi di sana, namun maira tak menghiraukannya kepalanya serasa mau pecah sekarang ini. Maira menekan nama yang tertera di sana, dan menelpon seseorang.
" Hallo kak, ini Rara ! Besok bawa alat lukis, alat musik,kamera sama yang lain lain yang masih tertinggal di bandung, besok Rara sekolah jadi kirim itu jam 2 sorean,nanti kurang lebih nyampe sini jam 4 an jadi Rara dah pulang" perintah maira
"……"
" Gak ada tapi tapian kak! Nanti kalo bunda marah biar Rara aja yang handel, lagian bunda gak akan ada orang di rumah 2 hari" ucap maira kepada seseorang di sebrang sana
".…"
" Oke gitu" ucap lagi maira, maira menutup telpon itu. Maira merebahkan tubuhnya di kasur lalu tak lama terlelap.