
Sekarang semua siswa sedang berlatih, Bu tari mengajarkan dasar dasarnya terlebih dahulu. Mereka sangat cepat tanggap sekali, di ajari beberapa kali saja sudah langsung bisa, oh sungguh warga kelas yang luar biasa walaupun banyak yang aneh di kelasnya itu.
Semua siswa menyebar ke seluruh sudut ruangan, bahkan pintu yang menghubungkan ruang musik dan tari saja di buka, semua siswa keluar masuk di ruang seni ke ruang musik, atau dari ruang musik ke ruang seni.
" Nathan coba kamu peragakan cara bermain gitar yang benar" ucap Bu tari, Nathan langsung maju ke depan dengan membawa gitar nya itu. kenapa Nathan yang dipilih untuk membimbing? jawaban nya adalah karena dulu, sewaktu Nathan SMP Nathan pernah mendapat penghargaan dari sekolah ini. ya penghargaan kompetisi tentunya.
Srek...
Jreng...
Itulah petikan awal gitar tersebut. Terdengar sangat ceria,di padukan dengan angin yang berhembus rasa sejuk menyeruak di dalam sana, tak lama tercium aroma jeruk lemon dan wangi pepohonan yang sangat segar, mungkin itu dari pengharum ruangan namun sangat cocok dengan keadaan sekarang ini. jika di katakan musik ini seperti musik musim panas yang ceria dan hangat. seseorang yang sedang di mabuk asmara pada saat cuaca yang sangat mendukung. jika di ibaratka lagu untuk seseorang yang terkasih, juga yang sedang memadu kasih dan sayang.
Maira hanya diam di dekat Bu tari sambil memejamkan matanya menikmati alunan musik yang indah,hangat juga sangat nyaman untuk di dengarkan.tak lama terdengar pula suara nyanyian dari para siswa yang di tunjuk bu tari tadi. benar! mereka adalah kelompok panduan suara. Tapi suasananya sedikit berbeda karena musiknya tiba tiba naik, membuat siswa yang bernyanyi lebih bersemangat lagi
' wah hebat, dari nada di bawah langsung loncat ke tengah tengah terus langsung naik atau ke lari atas, mungkin saking semangatnya' gumam maira dalam hati sambil membulatkan matanya lalu menatap Bu tari, Bu tari pun sebaliknya menatap maira dan tersenyum manis. ternyata Bu tari juga menyadari ada yang ganjal dalam alunan musik ini.
Bu tari menepuk punggung maira lalu berbisik 'kamu tau kan itu? Saya udah tau semuanya tentang kamu, jadi jangan di sembunyikan terus saya juga mau liat kemampuan dan perkembangan kamu sampai mana. tadi saya sedikit kecewa loh kamu biasa aja! kamu kan sang jenius itu' bisik nya.
Maira menatap bingung Bu tari apa yang dia tau? Dan apa yang di bilang sang jenius itu?
"Gak papa, gak usah di pikirin" ucapnya lagi, maira hanya menatap dan mengangguk tak mengerti.
Apa jangan jangan dia baru saja baca pikiran maira atau dia punya kemampuan baca pikiran atau, melihat masa lalu atau masa depan, atau jangan jangan Bu tari dari masa depan. ah pikiran liar maira sudah menguasai otaknya, ini pasti gara gara keseringan baca komik yang tentang timetreveling, atau yang punya kekuatan aneh aneh. oh sungguh tidak mungkin itu semua terjadi di dunia nyata, kalau terjadi ha sungguh lucu.
Karena bergulat dengan pikirannya, tak terasa alunan musik nya sudah berhenti. Nathan pun turun dari panggung.
" Gimana Bu, val, tas sama Mai?" Tanyanya pada semua orang tentang permainan musiknya tadi.
" Biasa aja" ucap Tasya sambil mendengus dan memutar bola matanya, entah kenapa orang ini selalu membuat maira kesal walaupun ia tak mengganggu nya.
" kalau ibu?" tanya Nathan pada gurunya ini.
" Tanya sama maira aja" ucap Bu tari, jadilah maira di tatap oleh ke 2 lelaki itu aneh, kenapa harus tanya maira coba ? Mungkin pendapat maira dan Bu tari beda.
" Hehehe jangan natap aku gitu dong serem!" Ucap maira sambil menggaruk tengkuknya
" Hahaha ternyata tadi kamu sok pintar itu karena kebetulan aja. padahal aslinya dongo!" ucap Tasya memaki maira sambil memainkan kukunya. Maira hanya tersenyum kepada Tasya, sebenarnya ia sudah ingin sekali menjambak rambut Tasya itu. tenang maira, jangan sampai ke bar-bar an kamu muncul sekarang, bisa berabe kalau nanti ketahuan, mana ia sudah menempatkan image nya lucu dan imut, kalau ketahuan kan pasti aneh. dan juga maira kan baru dua hari sekolah masa udah mau masuk ruang BK sih, gak lucu kan?
" Bagus kok nat, keren banget malah! Soalnya tadi kamu langsung loncat tangga nada ke tengah tengah,terus masih seimbang lagi dan kamu terus naikin ke tangga nada tinggi jadi keliatan kalo mereka tadi biasa aja langsung ribut gara gara kamu naikin dari nada rendah ke nada tinggi" ucap maira memuji dan tentunya menghiraukan ucapan orang menyebalkan di sampingnya.
" Mai kamu muji apa ngeledek?" Tanya Nathan sambil menyenggol lengan maira, maira hanya tertawa melihatnya. sedangkan Noval dan Tasya tak tau menau soal itu. Mungkin Meraka tak tau karena mereka belajar alat musik lain. Tapi kalo di dengerin baik baik itu sedikit menonjol.
" Itu namanya ngeledek" ucap Bu tari
" Loh bukannya itu muji ya Bu" ucap Noval
" Tadi dia loncat nada itu karena salah tapi kamu hebat bisa langsung fokus lagi dan bisa mengendalikan nada dengan benar, tadi juga yang nyanyi pasti kaget kan?" Ucap Bu tari, mereka hanya mengangguk saja, karena mereka juga salah, tak fokus pada nadanya juga.
" Makanya nyanyi yang bener, jangan ngelamun" ucap Bu tari lagi
" Wih Mai kamu hebat bisa langsung tau kalo itu loncat nada, pantes tadi aku nyanyi ngos-ngosan" teriak Zane di sana, semua siswa pun membenarkannya
" Gitu aja bangga cuman kesalahan kecil kan ? Ngapain di besar besarin lagian aku gak dengar tuh,nadanya kayak sama aja" sinis Tasya sambil menatap kukunya yang berkilau. sabar maira, kamu pasti bisa! menghadapi orang ini dalam waktu 3 tahun.
" itu masalah besar loh, kalo tiba tiba gitu nanti si penyanyi nya akan terbawa suasana dan cepet cape jika mereka tidak menyadarinya, dan buat penyanyi harus selalu fokus, lagian seorang pemain alat musik harus tau loh itu" jawab Bu tari. Tasya sama sekali tak mendengarkannya. Entah itu pura pura atau apa .