
Maira masuk ke dalam rumah masih dalam keadaan menggerutu, tak lama pembantu di sana menghampiri maira yang baru saja masuk.
" Nona sudah pulang! Ada yang bisa saya bantu?Apa perlu saya siapkan air hangat?atau makanan ?" Ucap pembantu itu sambil tersenyum dan menunduk
" Gak ada, saya bisa mandi sendiri sama gak perlu air hangat kerena sekarang panas. Dan gak usah nyiapin makanan atau camilan, nanti kalo aku laper aku nanti bilang lagi. Oh iya tolong cuci jaket ini yang bersih sama wangi!" ucap maira, maira melangkah naik ke lantai atas, sedangkan pembantu itu hanya mengangguk mengambil jaket warna merah itu, lalu pergi dari sana.
sebenarnya maira sedikit risih dengan keberadaan pembantu di rumahnya, karena di rumah sang nenek tak ada pembantu sebanyak ini, di rumah sang nenek hanya ada 1 pembantu dan beberapa supir saja. berbeda dengan di sini, pembantu dan supir nya lumayan banyak. huh... maira merindukan rumah sederhana nan kecil di pinggiran kota yang masih sejuk.
Maira sekarang sudah ada di kamarnya. Terdengar suara gemericik air segar, maira mandi dengan air dingin. Tak lama maira ke luar dari kamar mandi lalu menuju lemari, maira mengambil beberapa pakaian,lalu memakainya. Mengenakan baju putih oversize dengan celana legging di bawah lutut.
Setelah memakai pakaian maira mendarat kan tubuhnya di kasur yang empuk dengan motif bunga dan dedaunan. Maira mulai mengutak atik hpnya lalu tak lama ada telpon masuk
" Hello, dimana? Kok belum nyampe? Nyasar?udah di kawasan Jakarta belum? Mau aku jemput?" Cerocos maira pada orang di sebrang sana, orang di sana masih belum membuka mulut tapi sudah di serang dengan beberapa pertanyaan.
" Aku masih di Bandung" ucap orang di sebrang sana
" Kok bisa? Gak ada mobil? Atau alat aku udah ilang?" Tanya maira lagi
" Gak, cuman tadi ada hambatan. jadi..... Mungkin besok sekitar jam 10 an aku ke Jakarta, besok kan tanggal merah" ucap lagi seseorang itu
" Oke aku tunggu, kalo besok gak ada liat aja! Bibir kamu gak akan pernah bisa ngomong lagi" ancam maira
" Sadisnya belum hilang neng, aku itu lebih tua dar-" ucap orang dalam telpon itu, namun belum menyelesaikan ucapannya maira sudah memutuskan panggilannya.
......................
Hari sudah berganti, siang menjadi malam dan malam berganti pagi. Pagi ini maira sudah siap dengan pakaian olahraga nya, maira akan joging pagi di komplek perumahan ini, sembari melihat lihat lingkungan rumahnya. Saat maira di Bandung, maira sangat sering olahraga, setiap pagi maira selalu joging atau jika tidak sempat, maka maira akan pergi ke sekolah dengan sepedanya, membuat ia bertumbuh langsing walau sedikit pendek.
Maira joging menuju taman komplek yang cukup lumayan asri juga, di sana ada ayunan, jungkat jungkit dan perosotan juga permainan lain untuk anak kecil.
" Kak kok cepet banget si larinya katanya mau joging, ninggalin aku lagi" dengus sang adik dari belakang yang entah kapan berada di sana
"Ya ampun kaget!" dengus maira pada sang adik." Lagian kamu larinya lama banget, ya udah kakak tinggal. Masih kecil matanya udah jelalatan liat cewek cantik" ucap maira duduk di salah satu bangku
" Tapi masih cantikan kakak kok tenang aja" gurau sang adik juga duduk di sana. Di belakang sana ada 2 orang yang sedang menatap gerak gerik maira dan sang adik, mereka ber2 mendekat ke arah maira dan...
1...
2....
3....
Dor...
"Apa?" Tanya maira santai di sana, ia tak kaget walaupun sudah di kagetkan oleh 2 orang manusia itu
" Ya ampun kaget aku" ucap maira pura pura kaget dan mencebiki bibirnya
" Pagi kak zane sama pagi ka anggel" ucap mirzha pada ke 2 orang itu, ya itu adalah Zane dan juga anggel tetangga sekaligus teman sekelas nya maira.
" Pagi juga mir, tumben kamu joging pagi biasanya jam segini kamu masih tidur" ucap anggel. Anggel mengenal Mirzha karena Mirzha tidak tinggal di Bandung bersama kakaknya. Mirzha tinggal di Jakarta dan di asuh oleh baby sister, alasan ayah dan bundanya tidak menitipkan pada kedua orang tuanya. karena bunda maira tak ingin membebankan ke 2 orang tuanya.
" Lagi jagain kakak" ucap mirzha enteng. Maira menatap tajam sang adik
" Enak aja kamu lagi jaga aku, yang ada aku yang jagain kamu !" Ucap maira
" Lagi jagain kakak aku yang cantik ini supaya gak di godain sama cowok di sini!" Ucap sang adik mempertegas, dan menatap maira lekat. Sedangkan maira hanya bergumam tak jelas
" Elah lagaknya njell jagain, bentar lagi juga udah mangkal di tukang bubur inimah'" ucap Zane memukul lengan anggel
" Gak usah pukul juga kali, sakit tau" ucap anggel mengusap tangannya yang sakit.
Mereka semua hanya tertawa bahagia, seperti matahari yang bersinar begitu bahagia membuat semua orang tidak tahan dengan panasnya.
" Zane njel aku palang duluan ya! Panas nih" ucap maira pada ke 2 temannya
" Bareng aja" ucap Zane. Mereka semua berjalan pulang, di perjalanan ke 4 orang itu bercanda gurau. Adik maira mengikuti maira kemana saja, begitupun saat ini,mungkin kerinduan seorang adik yang jarang bertemu dengan kakaknya. Membuat ia ingin selalu menempel pada maira.
Sesampainya di depan rumah maira berpamitan pada ke 2 temannya itu, lalu masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Di halaman terdapat mobil yang tak begitu asing di mata maira, maira bergegas masuk ke dalam rumah untuk memastikan.
"Loh bunda katanya lagi ke luar kota!? Ayah juga" tanya maira, saat masuk barusan maira langsung di kejutkan oleh ke 2 orang tuanya yang berada di rumah, Biasanya mereka jarang sekali pulang ke rumah. dan tadi pagipun tak ada orang selain dirinya dan sang adik.
" Gak jadi, hotel cabang udah di handel sama sekertaris ayah, jadi ayah bisa males malesan. Lagian hari ini tuh tanggal merah, tapi masa harus kerja bagai kuda" ucap sang ayah
"Hahaha males malesan lagaknya" ucap sang bunda sembari menyodorkan kopi kepada sang ayah, maira duduk di sebelah ayahnya sedangkan sang adik duduk di bawah memegang toples makanan.
" Eh Bun kita udah kaya, males sehari gak papa kali gak akan bangkrut juga" ucap sang ayah. Bunda hanya mendengus saja sambil memainkan remot tv, memindahkannya ke sana dan kemari membuat maira pusing.
" Kayaknya gak akan males malesan deh! , Soalnya kanvas, kamera, cat dan barang barang lain datang sekarang, sekitar jam 10 an" ucap maira melirik jam nya, yang sekarang menunjukan jam 9 pagi
" Ahk bunda baru aja inget! Resto yang ada di Deket rumah kita belum di cek sama caffenya juga" ucap sang bunda
" Elah mau ngelak,, bunda kan 3 hari yang lalu ngecek" ucap mirzha sang adik, maira hanya tertawa kecil karena ada yang membantunya untuk beres beres nanti
" Hahaha kalo ngomong suka bener kamu mah mir,,,oh iya kak ayah udah siapin ruang nya ! Kamar yang Deket kamar kamu itu" ucap sang ayah sambil menyeruput kopi itu nikmat
" Beneran yah? Makasih loh yah! Ayah baik banget deh jadi makin sayang deh aku" ucap maira sambil memeluk sang ayah erat
" Kak bau asem tau mandi dulu sana" ucap sang ayah melepaskan pelukan dari maira, maira hanya mencium bau badannya dan tersenyum, benar saja ia sekarang bau keringat