MAIRA

MAIRA
13. izin



Malam pun tiba dengan cepat, maira masih tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan orang orang yang berada di bawah mereka sudah siap untuk makan malam.


" Mir panggil kakak kamu sana" ucap sang bunda. Mirzha hanya menurut saja , ia tahu jika bundanya sudah marah maka sang bunda akan ngerap sampai pagi.


Mirzha melangkahkan kakinya menuju kamar sang kakak setibanya di kamar sang kakak ia melihat kakaknya yang terlelap dengan nyenyak di atas kasur. Ya mirzha langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, maira juga jarang mengunci pintunya tersebut.


" Kak bangun makan malem dulu" ucapnya sambil menoel pipinya, namun tak ada jawaban dari maira


" Kak bangun bunda nanti ngerap" ucapnya lagi


" Kakak maira banjir" teriaknya lagi namun masih tak ada jawaban. Mirzha menggelitik kakinya itu, ia berharap kakaknya segera bangun. Namun hasilnya nihil maira masih saja tidur.


" Ini kakak aku mati apa gimana?di gelitikin juga bukannya ketawa atau paling enggak bergerak ini gak ada reaksi apa apa! Dasar kebo! Kulit keras! " Gumam Mirzha. Namun tak terduga maira melemparkan bantalnya tepat sasaran, dan mengenai wajah imut sang adik


" Berisik! Aku gak mau makan! Nanti kalo laper pasti ke bawah. Sana pergi !" Ucap maira masih dengan mata tertutup


" Kakak ngigo?" Tanya sang adik


" Enggak Amirudin!" Jawab maira


" Hebat kakakku di bangunin gak nyaut, di teriakin gak denger, di gelitikin gak geli, eh pas di bisikin kedengeran " gerutu Mirzha


" Kakak masih denger sana pergi " ucap maira membalikan badannya. Dan sang adik berlalu begitu saja sembari mengomeli sang kakak.


Dari tadi maira sudah bangun di kala adiknya membuka pintu kamar, tapi karena kepala maira yang begitu pusing memikirkan apa yang terjadi sedari pagi sampai maira ingin terlalap, jadinya maira hanya memejamkan matanya.


Di meja makan hanya ada sang bunda, ayah maira akan pulang larut malam, membuat mereka makan terlebih dahulu.


" Mana kakak kamu?" Tanya sang bunda


" Tidur Bun katanya nanti aja makannya kali udah laper" ucap mirzha, ia langsung duduk di kursi dan mengambil piring lalu nasi dan lauknya. Sedangkan sang bunda hanya mengangguk paham saja.


......................


Pagipun tiba maira semalam tak makan malam ia tidur dari sore sampai pagi. maka dari itu pagi pagi sekali maira sudah bangun, maira bangun lalu mandi dengan air hangat. Selang 15 menit maira selesai mandi dan memakai pakaiannya, maira meguraikan rambutnya begitu saja. Maira tak pernah memakai bedak ataupun apalah itu, ia hanya menggunakan crime bayi saja. maka dari itu kulitnya masih semulus bayi. Setelah memakai crime maira memakai bodylotion di seluruh tubuhnya tak lupa juga minyak wangi aroma jeruk segar.


Setelah mengurus tubuhnya maira menjadwal pelajaran apa saja dan turun ke bawa, di sana hanya ada sang bunda saja yang sedang memasak. Maira hanya menatap sang bunda lekat


" Kamu udah bangun?" Ucap sang bunda


"Hemm" jawabnya. " Bun Rara minta maaf" ucap maira sambil menunduk. Maira meminta maaf karena kemarin sudah berkata kata kasar pada sang bunda.


" Iya bunda juga minta maaf ya , kemarin udh kasar sama kamu" ucap sang bunda, maira mengangguk setuju. Mereka memang suka bertengkar, tapi tak lama mereka akan saling meminta maaf, mereka hanya perlu mengalah dan memberi waktu satu sama lain untuk berfikir dan menenangkan diri.


Setelah acara maaf maaf an tak lama datang sang ayah dan mirzha adik maira. Mereka bergabung dengan maira yang sudah duduk terlebih dahulu sembari memakan roti panggang.


" Emm.. yah.." ucap maira sedikit ragu dan memeluk tangan sang ayah erat


" Pasti ada maunya" ucap sang bunda yang sedang menyiapkan nasi goreng di meja makan, sembari menatap maira yang sudah bergelayut di tangan ayahnya.


" Hehehe... Mai boleh gak ikut lomba di International high school of arts?" Ucap maira memohon sambil mengerjapkan matanya memelas. Terlihat dimata Maira yang sangat sangat memelas.


" Hahaha bener Bun" ucap sang ayah menyetujui perkataan sang bunda tadi.


" Terserah bunda aja" ucap sang ayah menunjuk sang bunda yang sudah duduk di sebelahnya


" di mana itu tempatnya?" tanya sang bunda, terlihat raut tidak setuju di wajahnya


" Di US" ucap maira.


Maira sangat berharap bisa di izinkan ke sana kerena sekolah itu paling terkenal di seluruh dunia, atas siswa dan siswi nya yang berbakat juga berprestasi.


" Ikut dong" ucap sang adik


" Asal mau bujuk Bunda ayo ayo aja" ucap maira


" Gak jadi " ucap sang adik langsung, ia tahu bunda maira sangat keras dan tak mudah di bujuk,sama seperti kakaknya ini, jadi mirzha tak mau ambil resiko. sedangkan maira hanya mendengus kesal saja pada sang adik


" Kamu ke sana sama siapa?" Tanya sang ayah


" Ihk ayah selama ini aku bulak balik luar negeri baru tanya sekarang ? Kemana aja sih!?" Ucap maira


" Habis bertapa di gunung salak" ucap sang ayah


" Ngadi Ngadi" ucap maira


" Nanti bunda pikirin lagi, tapi kalo kamu mau makan nasi bunda izinin" ucap sang bunda yang sudah menyetabilkan mimik wajahnya


" Ayolah cuman tanda tangan di sini aja pliss" mohon maira sambil menunjukan surat yang berisi persetujuan orang tua. Ayah maira membacanya dengan seksama


" Kok ini sekolah menetap di sana? Kalo menetap di sana ayah gak izinin. kehidupannya terlalu bebas kakak" ucap sang ayah sembari menunjukan isi dari bacaan itu, terlihat pula sorot mata yang khawatir terhadap putri tercintanya ini.


" Itu cuman formalitas ayah! Lagian kalo sekolah di sana juga aku dapet basiswa full, terus bisa langsung ketemu jurusan yang tepat sama di sana juga nyediain asrama kok, cewek sama cowok nya di pisah" ucap maira masih memohon izin." Oke kakak penuhin tantangan bunda kakak makan nasi nih. Tapi tanda tangan di sana" ucap maira lagi sambil memakan nasi goreng buatan sang bunda


" Wih kakak hebat dapet beasiswa full dari sekolah luar negeri, apalagi sekolah yang lumayan mahal " ucap sang adik antusias


" Tuh mirzha aja seneng banget dengernya apalagi aku,pliss lah yah... Bun ... Izinin ya nih Mai makan lagi" ucap maira memohon sambil memasukan lagi nasi tersebut dengan wajah yang tidak enak di lihat


" Hahah kenapa maksain sih,, tu muka jadi aneh hahaha" ucap sang adik tertawa sangat keras


" Hahaha bener kata adik kamu, ya udah ayah tanda tangan di sini kan? Kasian kamu mukanya kayak nahan mau berak" ucap sang ayah lalu menanda tangani surat itu


" Oke bunda juga setuju. tapi..." Ucap sang bunda


" Tapi apa lagi Bun. ini aku makan nih... nih....nih " ucap maira sambil terus memasukan beberapa sendok nasi ke mulutnya, tapi matanya terpejam.


" Hahaha bukan itu,kamu makan aja kaya mau di kasih racun" jawab sang bunda melihat anaknya lucu.


" Terus apa?" ucap maira menyudahi acara makannya


" Kamu gak boleh sekolah di sana!" Ucap sang bunda tegas


Maira menyetujuinya, ya dari awal tujuannya hanya ikut serta dalam pertandingan seni internasional. Dan akhirnya perjuangan membujuk mereka tidaklah sia sia. "Aku berangkat duluan ya ayah bunda" ucap maira berdiri dari tempat duduk.


Maira berangkat terlebih dahulu karena ia ingin mengejar pelajaran yang tertinggal di sekolah barunya, mungkin jika sudah sampai maira akan meminjam buku orang lain.