MAIRA

MAIRA
24. baikan



" Maaf in kita juga pah, kita juga selalu pergi di saat papa dan mama berantem, kita..." Ucap anak laki laki, namun belum menyelesaikan ucapannya laki laki itu di tarik dalam pelukan hangat keluarga nya. Ia sangat menginginkan momen ini.


" Siapa yang bisa main alat musik se indah ini, sampai sampai papa dan kita semua serasa tertampar" ucap sang mama yang dari tadi diam menyimak musik itu. Namun baru saja musik maira terhenti.


" Gak tau mah, tapi nanti coba aku cari deh siapa. Kita harus berterima kasih sama dia" ucap sang ayah yang memboyong keluarganya duduk di sofa. sang papa juga memerintahkan beberapa pembantu untuk membuat atau membeli kue keu ringan.


" Tapi kayak di sebelah rumah!, Tapi siapa yang bisa main musik di sana?, Bukannya tetangga kita yang sebelah sibuk ya? Jangan jangan momy nya si tasya? Tapi katanya lagi konser" ucap laki-laki itu


" Ah mama lupa, itvi kan punya anak perempuan! Dia kan bisa main alat musik, bahkan dia pernah keliling dunia cuman buat kontes, juga pernah konser dan menyabet beberapa penghargaan" ucap sang mama itu mengingat ingat, ada satu anggota keluarga yang sudah menempati rumah besar di sampingnya. seorang anggota keluarga yang hampir terlupakan karena kesibukannya dan juga yang hampir tak pernah menetap di tanah air, dan tak pernah berkunjung sekalipun ke tempat ini. maka dari itu ia sedikit dilupakan.


" Maira mah?" Ucap anak perempuan itu sedikit bertanya


" Iya bener! Kok kamu tau zane?" Tanya sang mama, sembari mengelus pucuk kepala sang anak yang sudah berbaring di pangkuan nya.


" Dia temen sekelas aku, emang sih dia pinter tapi bukan pinter aja dia itu cerdas. Masa baru 2 hari bisa nyusul pelajaran dan udah hampir tuntas!, Tadi aja pas pelajaran seni dia nari dan ngedance keren bangat, pantes Bu tari jadiin dia pembantu guru buat bimbing"ucap Zane membahas maira.


Ya itu adalah keluarga Zane, tuan zavin marzha, nyonya Zahwa Zahira Jackson dan sang kakak zaidts zavin marzha. Sebuah keluarga yang sedikit tak harmonis, tapi sebuah keajaiban bahwa mereka bisa berbaikan dan saling mengerti.


"Wah beneran kamu? Tapi kok aku gak pernah liat" ucap sang kakak pada sang adik. Zaidts tak pernah melihatnya karena maira baru saja pindah dari Bandung.


" Ya karena maira tinggal di Bandung!" Jawab sang bunda, sang anak hanya ber oh ria saja, dan sekarang keluarga tersebut terlihat seperti keluarga harmonis pada umumnya. sembari memakan beberapa kue yang baru saja di hidangkan.


……


Di sisi lain papa maira dan orang yang di sebutkan maira tadi sudah datang. Mereka datang dengan mobil barang, Maira sangat senang karena hobinya di dukung lagi oleh ke 2 orang tuanya.


Saat maira sedang memindah kan kanvas yang sudah di isi dengan warna warna,juga yang masih kosong, maira di kejutkan oleh 3 orang wanita seumur nya. Ia adalah Zane ,anggel dan juga Nabilla.


" MAIRA" teriak Zane dan anggel. Maira yang mendengar teriakkan tersebut langsung menoleh ke sumber suara.


" Ya?" Jawab maira yang sedang memegang sebuah lukisan menatap mereka semua.


" Bentar... hallo kak kenalin nama aku Nabilla panggil aja aku bila atau abil" cerocos Billa memberikan tangannya, maira menyambut tangan itu dengan baik.


"Kakak yang tadi mainan alat musik ya? Tadi aku ngintip dikit hehe" ucap Nabila lagi. Maira hanya mengangguk dan tersenyum menampakan gigi putihnya, juga sedikit heran dengan sikap Billa yang terbilang sedikit 'so kenal'. Tapi tak apa karena dia adalah tetangga juga anak teman bunda maira.


" Lagi beres beres ya? Kita boleh bantu?" Ucap anggel yang melihat orang-orang membawa masuk barang barang.


" i iya. Oh iya Boleh! Tapi yang ringan aja ya ,takut nantinya ngerepotin" ucap maira menatap mereka bertiga. Mereka bertiga mengangguk paham dan mulai membantu.


Membereskan barang barang yang tadi tidak memakan waktu yang lama. karena, banyak sekali yang membantunya. Dari mulai bunda, ayah, mirzha, juga beberapa pembantu, tak lupa Zane anggel dan billa. Sekarang ini maira sedang beristirahat sambil mengobrol dengan ketiga gadis yang di temuin nya di depen rumah.


" Wih gede banget ruangan nya, ini di satuin ya kamarnya!" Ucap Zane mengguling gulingkan badannya karpet bulu itu, Zane seperti nya sudah menganggap rumahnya sendiri.


" Iya, makasih ya udah bantu aku beres beres. Oh iya tadi bunda kasih makanan ini, katanya buat camilan, ini di makan" ucap maira sambil menyodorkan beberapa piring yang sudah tersedia di sana. Ada kue kering, kue lapis, juga donat, tak tertinggal beberapa gelas berisi jus mangga.


Anggel dan Billa sudah memakannya, namun Zane belum menyentuhnya sama sekali. Ia masih berkeliling melihat lihat foto foto dan juga kamera yang sudah berjejer rapi di rak, alat musik yang lengkap, juga lukisan kanvas dan berbagai macam cat, tak lupa buku buku juga tertata rapi di sana.


" Kakak gak makan nih!" ucap Nabila heran, Zane hanya menggeleng dan fokus pada lukisan nya