
Happy Reading guy's...
...****************...
"Anti BOLAY.. BOLAY... BOLAY" ucap Alfa dengan khas anak-anak
"Siapa yang ngajarin manggil Anti kaya gitu? " tanya Nuffus sambil menghujani ciuman dan klitikan ke bocah 4 tahun.
"Ampun... anti ampun geli... " ucap Alfa
"Jadi siapa yang gajarin hah? " Nuffus masih saja usil
"Ampun Anti.. Papah yang ngajarin " ucap Alfa
"Oh papah hah.... rasakan ini"
"Ampun Anti... Neeeeeek... Akiiiiiiii, Anti jahat" ucap Alfa melengking
"Neng!! " Ayah yang melihat cucunya sudah mau menangis menghentikan kelakuan Nuffus
"Akiiiiiiii... huu.. huuu... Anti Jahat" ucap Alfa sambil menangis menghampiri Kakeknya meminta di gendong
"Huu bisa nya ngadu" ucap Nuffus
"Sudah-sudah jangan nangis masa jagoan nangis? ucap sang kakek sambil menyeka air mata Alfa.
"Abisnya Anti jahat" Adu Alfa "Dasar Anti Bolay jelek" Sungut Alfa, Nuffus hanya terkekeh geli
"Neng jangan ledek ponakan kamu terus, Kamu ini ngeledek aja bisanya" ucap Ayah sambil menggendong cucu pertamanya sambil pura-pura memukul nuffus. Alfa tertawa melihat tantenya diomelin sang kakek.
"Pukul anti ki.. pukul aja, tau rasa. Akal sih" Alfa mengayunkan lengannya dalam gendongan sang kakek seolah-olah menghakimi tantenya
"Berasa anak tiri kalo kaya gini, memang benar Kata orang kalau cucu pertama itu lebih diutamakan dibanding anak bungsu" ucap Nuffus sambil memanyunkan bibirnya. "Awas ya kalau tidak ada Aki, Anti klitikan lebih dari ini"
"coba aja kalau belani, Week Anti jelek week" ucap Alfa sambil melipat kedua tangannya di dada dengan ketus.
"Kok kamu udah pulang neng?, emang tidak kuliah? " tanya ayah sambil menurunkan cucu nya dan memberikan tangan kanannya ke Nuffus, lalu Nuffus mencium punggung tangan laki-laki paruh baya cinta pertamanya.
"Sudah tadi Yah, cuman satu mata kuliah" jawab Nuffus, "Umi masak apa? " tanya Nuffus sambil berjalan ke arah dapur melihat Umi sedang sibuk di dapur dengan di temani 2 orang ART.
"Bikin pisang goreng, tadi kan ayah bawa satu tandan pisang" ucap Umi sambil menunjuk satu tandan pisang uli.
"Neng bantu ya, Bantu Abisin... " ucap Nuffus sambil berlalu mencomot pisang goreng yang sudah matang, lalu Umi menepuk bokong Nuffus sambil geleng-geleng kepala.
"Ceklek" suara pintu kamar terbuka, tampak keluar laki-laki tua berumur 70 tahun yang masih tampak sehat.
"Bay, aya naon sih gandeng jasa" ( Bay Ada apa sih berisik amat?) Tanya Abah Rahman
( Bay/bayi/Embay\= panggilan lain dari anak perempuan bahasa sunda daerah banten*)
"Itu Bah, Si eneng gangguin Alfa" jawab Umi sambil membawa sepiring pisang goreng dan mendekati ayah mertuanya lalu menuntun ke arah ruang keluarga yang sudah ada suami dan cucunya.
"Abah uyut... masa tadi Anti jahat sama Alfa" Adu Alfa ke buyutnya
"Emang anti kenapa, hmm" tanya Abah sambil memangku cicit kesayangannya
"itu Anti kelitikin Alfa sama cubit pipi Alfa" Alfa masih ngoceh ngadu ke Abah Rahman sambil menusuk-nusukan jari telunjuk ke pipi keriput Abah,
"Uyut lucu pipi nya peot, giginya cuman ada empat" celoteh Alfa sambil mengusap pipi Abah Rahman.
"Kan uyut udah tua jadinya peot dan ompong, tapi uyut ganteng kan? " ucap Abah Rahman sambil mencumi cicit nya
"Anteng aya papah sama Aki. Uyut tulun Aku mau picang goleng" Alfa turun dari pangkuan Abah Rahman lalu mengabil pisang goreng buatan Umi, Tuan Hasyim dan Nyonya Hasyim tersenyum melihat tingkah sang cucu.
"Abaaaaaah" Teriak Nuffus berlari menuju sang kakek yang sedang duduk di sofa sambil menikmati acara TV sambil makan pisang goreng, lalu memeluk dan mencium nya.
"Udah gede ga malu apa teriak-teriak kaya gitu? " ucap Umi menegur anak gadisnya
"Au nih Anti, aya di Hutan aja" sungut Alfa protes.
"Ups, hehehe maaf ya ganteng nya Aunty. sini Aunty minta maaf yang tadi" ucap Nuffus sambil mencium Alfa.
"Benel ya, tapi Anti janji ya ga nakal agi" ucap Alfa sambil mengangkat jari telunjuk di hadapan Nuffus
"Janji, Kita baikan" ucap Nuffus sambil menautkan kelingking mereka.
.
"Yeaaay, kita temenan" ucap Alfa heboh.
Acara TV sedang menayangkan berita lamaran seorang pengusaha muda bisnis Retail ternama di dalam sebuah Acara.
"Eh eta si Ghani pan, Ceng?" ( itu si Ghani kan Ceng?)
tanya Abah ke Ayah
*sebutan apa lagi itu Ceng? *
"Heeh Bah, kumaha bah geulis teu? " ( iya Bah, Gimana bah cantik ga?) ucap Ayah Hasyim
"Iya cantik, Jadi bener yang kemaren Eneng kasih tau ke Abah itu dia orangnya? " Tanya Abah
"Iya bah, kita belom sempet jalan-jalan kan ya? " Ucap Nuffus
"Umi kesel Sama Anak itu, dia belom ngenalin ke kita dia udah main Lamar di depan banyak orang" sungut Umi
"Biarin aja Mi, berarti anak kita itu gentle, Ayah seneng akhirnya punya mantu perempuan lagi" ucap Ayah
"Ih ayah nyebelin, belain Ghani terus" protes Umi dengan menekuk wajahnya.
"Lah siapa yang ngebela, orang ayah ngasih pendapat"
"Ya udah, Ayah tidur sendiri di kamar. Umi mau tidur sama Ghani atau ga sama Nuffus" Sungut Umi sambil pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang
"Lah.. lah kenapa jadi bawa-bawa tidur, Jangan Marah dong sayang!" ayah mengejar Umi dan membuntuti nya di belakang diikuti Alfa yang ikut mengejar sang kakek dan neneknya.
"Ish, geus kolot geh memarahan" (ish,udah tua marahan) ucap Abah sambil geleng-geleng kepala
...----------------...
Ditempat lain seorang pria paruh baya di temani Asisten pribadinya sedang menonton tayangan berita Konferensi pers penyerahan dana CSR ArRahman corp dengan Pemerintah daerah
"Jadi benar gadis itu, calon istri cucu nya si Rahman tua bangka itu? "
"Benar tuan" jawab sang Asisten
"Gadis kampung, apa hebatnya dia dibanding kan anak gadisku?" gumam pria paruh baya itu.
"Awas sih dia terus Don, Pastikan saat mereka lengah Jalan kan rencana kita. kita hancurkan keluarga tua bangka itu"
"Baik tuan, akan segera saya laksanakan perintah tuan" jawab sang Asisten
-Pov Author-
Aduh ada apa ini, sepertinya akan ada bibit pelakor, terus apa hubungan pria ini dengan Abah Rahman apa ya?
...----------------...
Dalam ruangan kerja Walikota dua orang pria beda generasi terlibat obrolan hangat
"Nak Ghani, sekali kami selaku Pemda banyak-banyak terima kasih, setiap tahun perusahaan Nak Ghani selalu mensuport kami" ucap pak Firmansyah.
"Sama-sama pak, Oh ya pak maaf saya mau tanya kenapa Jannah manggil bapak sebutan Ayah? "
"Pasti Nak Ghani bingung ya?, Itu karena Jannah dan Nadia anak saya mereka sahabatan sejak SMP, Jannah juga sudah saya anggap anak sendiri begitupun sebaliknya. Gadis itu gadis hebat nak, mandiri, Care, Cantik, Lugu dan polos, Beruntung nak Ghani mendapatkan jodoh dia" ucap pak Firmansyah
"Iya pak saya sangat beruntung"
Tok... tok.. tok.. suara ketukan pintu
"Masuk" sahut pak Firmansyah
"Ceklek" pintu terbuka masuk dua orang pemuda masuk ke ruangan kerja Walikota.
"Siang pak Wali dan Tuan, ini berkas-berkas MOU yang bisa di tanda tangani" Adhan menyerahkan berkas ke Ghani dan Dimas menyerahkan ke pak Firmansyah.
"Santai aja nak Adhan ga usah terlalu formal" Ucap pak Firmansyah "Mas Dimas, Jadwal saya setelah ini apa? "
"Jadwal bapak siang ini kosong baru ada nanti malam sehabis isya ada acara pengajian rutin di rumah pribadi pak Gubernur" jawab Dimas
"Apa ibu sudah tau?" Tanya Pak Firmansyah
"Sepertinya ibu sudah di rumah pak Gubernur, buat bantu-bantu bu Wahid, Apa neng Nadia saya kasih tau juga untuk ikut kesana pak? "
"Sudah biarkan saja anak itu, dia ke sana juga bukan ngaji tapi malah ngerumpi dengan si Putri"
"Ekheem, apa nanti malam juga akan ada acara lamaran juga pak? " Tanya Ghani untuk mengoda sahabatnya. Adhan tampak nahan ketawa.
"Maksudnya? " Tanya pak Firmansyah dengan mengangkat alis tidak paham ucapan Ghani
"Jangan dengerin bujang lapuk ini pak, kalo ngomong suka ngaco" sarkas Dimas panik.
"Loh orang saya cuman nanya, apa ada sekalian acara lamaran, kenapa kamu panik gitu Dim? "
"Iya bener tuh Dim," Adhan menambahkan sambil menyenggol bahu Dimas. Dimas yang panik wajahnya memerah malu.
"Oh paham saya, Jadi kamu Mas mau ngelamar keponakan saya ternyata?, Ehm Stok Bujang Tampan yang Jomblo di kota ini berkurang, Alhamdulillah" ucap pak Firmansyah.
"Sialan Bujang lapuk ini, Gua balas nanti" gumam Dimas "Gak pak kita cuman temanan saja kok" ucap Dimas. Ghani dan Adhan yang tidak kuat tertawa akhirnya melepaskan tawanya.
...Bersambung...
...****************...