LOVE UNTIL JANNAH

LOVE UNTIL JANNAH
LOVE UNTIL JANNAH



Happy Reading guy's


......................


"untuk soal itu nanti akan dijelaskan oleh Mas Ghani sebagai pemberi Dana CSR" ucap pak wali dan pak wali menutup pidato nya dan kembali ke tempat duduknya.


"Lo bikin malu Nah" ucap bu Reni


"Iya malu-malu in" Nadia menambahkan


"Kenapa emangnya, aku kan nanya hak kita" ucap Jannah polos


"Hak gundul mu, pokoknya gua malu" ucap Nadia.


"Bodo amat" ucap Jannah lagi. Tiba saat nya sambutan pihak ArRahman corp. Ghani maju ke podium memulai sambutan nya dan menyampaikan beberapa keberhasilan Perusahaannya dalam video yang di tampilkan di layar besar. setalah VT Perusahaannya di tampilkan Ghani lalu menyampaikan jawaban atas pertanyaan Jannah.


"Pertanyaan yang tadi dilemparkan, akan saya jawab. boleh yang tadi bertanya berdiri? " suara bariton pemuda tampan itu menggema, Jannah yang sedari awal Ghani berdiri di podium hanya menatap kagum pria yang bersama nya tadi


"Dia kadang menyebalkan, kadang terlihat bodoh, dan kenapa di podium itu dia terlihat Gagah dan berwibawa. dia manusia apa mahkluk jadi-jadian sih? " Jannah masih bermonolog dalam pikirian nya.


"Nah lo dipanggil tuh" ucap bu Reni, Jannah bergeming masih melamun dengan tatapan kagum


"Nah... nah... lo dipanggil tuan Ghani" Nadia sambil menyikut lengannya. Nadia tampak kesal dan bergumam. "Gua kerjain juga lo, biasanya kan lo kalau melamun gitu antara sadar ga sadar. semoga aja lo bisa jawab spontan pertanyaan gua" Nadia bergumam


"Nah menurut lo Tuan Ghani Ganteng ga? bisik Nadia di telinga Jannah


" Ganteng banget" jawab Jannah


"Kalo gua jadiin suami boleh ga?" bisik Nadia di telinga Jannah.


"DIA CALON SUAMI AKU TAU" ceplos Jannah dengan suara keras berdiri dan melotot ke arah Nadia.


krikkrikkrik... suara hening di aula tersebut dan semua mata tertuju pada Jannah yang sedang berdiri sambil bertolak pinggang. Ghani geleng-geleng kepala, Adhan dan Dimas menunduk malu karena ulah Jannah


"Dhan, Calon Istri nya Ghani ajaib. luar biasa emang sahabatnya non Nadia" ucap Dimas ke Adhan


"Gua rasa nya pengen menghilang Aja dari sini Dim" Adhan menimpali


"Ehm, siapa calon suami ibu? " suara bariton Ghani menyadarkan Jannah.


"Ups" Jannah menutup mulutnya dan mukanya tampak memerah karena malu, dan ingin rasa nya dia keluar dan menghilang di acara tersebut.


"Nadia Kamu tanggung Jawab, aku malu" bisik Jannah ke Nadia


"Enak aja lo yang berbuat lo lah yang tanggung jawab, dah sana jawab kalau perlu maju" ucap Nadia


"Maaf kan saya, bapak dan ibu semua saya terbawa suasana" ucap Jannah dengan muka memerah , para peserta tertawa akan kepolosan Jannah.


"Saya tanya kan lagi ke Ibu, boleh diulangi pertanyaan ibu yang tadi? " tanya Ghani


"pertanyaan apa ya pak? " jawab Jannah polos sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal


"Kenapa dia menggemaskan sekali, rasa nya ingin aku memakannya" ucap Ghani dalam hati


"Pertanyaan kapan di Lamar" ucap Ghani semua orang tertawa dan kaget bisa juga seorang Ghani bercanda


"Tuan Ghani bisa juga bercanda" ucap seseorang


"Iya ga nyangka" jawab yang lain.


"oh itu pak, iya kapan pak?" ucap Jannah yang sudah memegang microphone. semua orang tampak tertawa geli dan ada juga yang malu. bisa-bisanya dia tidak fokus saat acara seperti ini.


"Boleh maju bu" ucap Ghani


"Ehm Hadirin semua mungkin mengira saat ucapan saya soal lamar hanya bercanda, itu tidak bercanda sama sekali. Saya serius. Saya berdiri disini dan perkenalkan Gadis cantik di samping saya Calon Istri saya bernama Nurjanah" ucap Ghani lantang dan Ghani berlutut di hadapan Jannah sambil memegang tangannya


"Nurjanah Abdul Rahman mau kah kau ku jadikan tempat bersandar ku, saat lelah seharian bekerja,


menjadikan kau tempat keluh kesah ku, menjadikan kau ibu dari anak-anak ku, menua bersama, hidup sampai ajal menjemput, dan hingga LOVE UNTIL JANNAH? "ucap Ghani dengan serius dan penuh penekanan. Jannah merona merah di Lamar Ghani didepan banyak orang, Jannah memberanikan diri menatap Ghani. Netra mereka bertemu, Jannah menatap Ghani lebih dalam, Jannah ingin memastikan sekali lagi akan ucapan pria menyebalkan itu, dia tidak melihat kebohongan yang dia lihat hanya tatapan teduh hangat dan tulus dari seorang COE Retail raksasa itu. . Suara tampak riuh


"terima.... terima... terima... " ucap Nadia orang pertama yang teriak dan diikuti yang lain...


"Dengan bismillah saya bersedia menjadikan semua itu untuk AA, hingga Love Until Jannah" ucap Jannah . Ghani reflek memeluk Jannah dan mengecup keningnya dan menyematkan cincin bermata berlian yang dia persiapkan sebelumnya.


Di rumah besar seorang ibu tampak menggerutu kesal oleh kelakuan anak nya,


"Bisa-bisanya anak itu melamar gadis tampa mengenalkan dulu ke Umi" Umi tampak kesal akan kelakuan Ghani.


"Umi kenapa sih?, kesel banget kayanya?" tanya Nuffus saat tiba memasuki rumah besar itu lalu merebahkan tubuhnya di samping Umi dengan menjadikan paha Umi sebagai bantal.


"ini Abang kamu, ngelamar gadis ga ngomong" jawab Umi sambil memberikan Gawai ya ke Nuffus yang memperlihatkan video lamaran kiriman Adhan. "Hei sajak kapan neng dateng? masuk bukannya kasih salam" ucap Umi sambil menepuk paha anak gadis nya.


"Hehehe lupa, Assalamulaikum Bunda Ratu" Nuffus hanya nyengir


"Walaikumsalam, lain kali jangan ulangin"


"Iya.. iya.. maaf, Tapi gentle banget kan si Alay itu ngelamar di depan banyak orang, Tapi Umi seneng kan punya mantu kak Jannah? " tanya Nuffus sambil melihat rumah besar itu terlihat sepi.


"Seneng banget malah, tapi tidak seperti ini" ucap Umi masih kesal


"kok sepi Mi pada kemana? Ayah dan Ayah kemana terus keponakan neng juga kemana? " tanya Nuffus lagi


"Abah lagi istirahat, Ayah sama Alfa lagi di kebun, Mau ambil pisang katanya udah pada matang" Ucap Umi dan tidak berapa lama suara cempreng bocah laki-laki menggema di rumah


"Antiii.... Anti bolay...!!! " ucap bocil 4 tahun berlari dan memeluk tantenya.


"Hei bocil apa tadi bilang, Hah!," Nuffus mensejajarkan dirinya dengan bocil 4 tahun itu sambil mencubit gems kedua pipi keponakan kesayangannya.


"Anti BOLAY.. BOLAY... BOLAY" ucap Alfa dengan khas anak-anak


"Siapa yang ngajarin manggil Anti kaya gitu? " tanya Nuffus sambil menghujani ciuman dan klitikan ke bocah 4 tahun.


"Ampun... anti ampun geli... " ucap Alfa


"Jadi siapa yang gajarin hah? " Nuffus masih saja usil


"Ampun Anti.. Papah yang ngajarin " ucap Alfa


"Oh papah hah.... rasakan ini"


"Ampun Anti... Neeeeeek... Akiiiiiiii, Anti jahat" ucap Alfa melengking


"Neng!! " Ayah yang melihat cucunya sudah mau menangis menghentikan kelakuan Nuffus


"Akiiiiiiii... huu.. huuu... Anti Jahat" ucap Alfa sambil menangis menghampiri Kakeknya meminta di gendong


"Huu bisa nya ngadu" ucap Nuffus


"Sudah-sudah jangan nangis masa jagoan nangis? ucap sang kakek sambil menyeka air mata Alfa.


"Abisnya Anti jahat" Adu Alfa


...Bersambung...


......................