
Happy reading guys
...****************...
...Bagai perahu yang bersandar...
...Aku kan menjadi nahkoda ...
...Yang akan mengarungi samudera luas...
...Mengantarkan mu ke pulau impian...
...Mimpi terukir dalam benak ku...
...Bagaimana rasanya mendayung berdua bersamamu...
...Ditengah badai dan di tengah samudera yang tenang...
...Tuhan izinkan aku mendayung bersamanya...
...Nafas Nadi...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dea kamu mau liat drama tidak?" bisik Jannah ke Dea saat berjalan di belakang Nadia dan Putri saat akan menuju parkiran
"Drama apalagi kak? tanya nya
"Pokoknya liat aja lah nanti, sekarang kita bisa balas kelakuan dua anak pejabat itu" bisik Jannah lagi, Dea nampak acuh Karena dia mulai khawatir untuk pulang ke rumahnya sudah tidak ada angkutan umum.
"Bang Dimas" Teriak Nadia memanggil Dimas, saat itu Dimas sedang mengobrol dengan tiga orang sahabat nya di parkiran.
"Besok jangan lupa, lo ingetkan request gua" ucap Ghani ke Dimas "Noh Nona muda lo manggil" ujarnya lagi
degdegdeg
suara Jantung Dimas saat Nadia memanggil dan disebelahnya ada Putri
"Aduh Jantung gw ngapa jadi deg, Sabar.. Tarik nafas Dim.... hembuskan... " Dimas bergumam, dan Nadia dan Putri sudah berdiri disebelahnya. Lalu Nadia menepuk lengan Dimas
"Bang lo denger kagak sih gw panggil" ketus Nadia merasa dicuekin ajudan sang ayah
"Denger Nona, pendengaran saya masih tajam" jawabnya
"Kalau dengar kenapa diem aja lo gua panggil, nih gua minta tolong anter sahabat gua yang cantik dan manis ini" Ucap Nadia sambil menarik lengan Putri, Putri malu-malu kucing saat Nadia menarik lengannya.
"Nadia lo bener-bener ya, bikin gua kesel. tunggu aja pembalasan gua" bisik Putri
"Tapi lo suka kan?, ya kan... ya.. kan.. " jawab nya sambil berbisik
"Ba... baik Nona, Mari Nona" ucap Dimas gugup lalu membukakan pintu mobil belakang, saat Dimas membuka pintu penumpang dia tampak melongo karena mobil Nadia di jok kursi belakang penuh dengan buku sekolah punya anak muridnya dan beberapa paperbag belanjaan yang belum sempat dia bawa masuk ke rumahnya. Dimas menutup kembali pintu belakang mobil Honda Jazz keluaran terbaru milik Nadia.
"Maaf Nona sepertinya Nona Putri bisa duduk disamping saya, soalnya jok belakang penuh dengan barang-barang Nona Muda" ucap Dimas seperti orang bodoh dihadapan Putri, lalu dia memutar dan membukakan pintu depan samping kemudi.
"Mari Nona" ucap nya lagi mempersilahkan Putri masuk dan duduk, Putri yang sudah lelah hanya mendengus menuruti perintah Dimas
"Huft..." dengusan Putri, sebelum masuk kedalam Putri sempat memelototi Nadia dan Jannah yang cengar-cengir, "Gua bales ya kelakuan lo berdua, inget itu" ucap Putri, Jannah dan Nadia hanya membalas dengan tertawa
setelah Putri masuk kedalam mobil Dimas memutar kembali menuju pintu kemudi, saat hendak membuka pintu kemudi Nadia menghampiri
"Lo seneng kan bang, Ingat ini ga gratis" ujar Nadia
"Paham Non, Terima kasih ya.. non emang The best" Jawab Dimas tersenyum puas dan Nadia hanya memberi kan dua Jempol.
Dimas memasuki mobil dan duduk di kemudi kemudian tubuhnya merapatkan ke badan Putri, Putri yang salah tingkah Jantung berpacu tidak normal
"Sialan si Nadia, bikin gw jantungan. Tumben banget ini ajudan gantengnya maksimal mana wangi lagi" gumam Putri
"Eh mau ngapain lo, mau mesum lo ya? " panik Putri
"Maaf Non, saya cuman mau pasang sabuk pengaman"
"Sabar Put.. Tarik nafas, Jantung berkerja samalah" Nadia masih bergumam dan Dimas mulai menghidupkan mesin mobil
Tin... mobil yang di bawa Dimas membunyika klakson tanda mohon pamit
"SEMANGAT DIMAS" teriak Adhan menyemangati Dimas, Melihat Tingkah Adhan Ghani memutar otak untuk mengerjainya.
"SiJudes ini gw kerjain juga" gumam Ghani dalam hati
"CIH, SEMANGAT lo kira mau perang" Ghani berdecih
"De, kamu kenapa gelisah amat" tanya Jannah
"Ga ka, Anu" jawab Dea terbata
"Anu apa?, ngomong yang jelas ngapa" Nadia ikut berucap
"Ini ka, kan udah malem banget udah ga ada angkutan umum yang ke arah rumah aku, terus tadi aku pesen Ojol di tolak mulu" ujar Dea sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Yaelah gua kira kenapa, tenang" ujar Nadia yang jiwa mak comblangnya keluar ia akan tau harus bagaimana. lalu menghampiri Adhan
"Kak... kak... kak jangan macem-macem deh.. " ujar Dea yang melihat gelagat Nadia yang tidak beres
"Tuan Asisten" Nadia memanggil Adhan, Adhan dan Ghani menoleh
"Ya ada apa Nona" jawab Adhan singkat
"Boleh Minta tolong anter sahabat saya, kasian dia pulang ga ada yang jemput dan Angkot ke rumahnya udah tidak ada jam sekarang, di tambah lagi dia di tolak mulu sama OJOL karena daerah rumah dia tuh daerah rawan gangster, Kasian ya. Tolonginlah" ucap Nadia dengan nada memelas
"Maaf Nona saya tidak bawa kendaraan, saya tadi kesini bareng kawan saya" jawab Adhan
"Ya kasian kamu Dea, Ya sudah saya minta tolong sama Tuan CEO saja, Tuan... " Ujar Nadia lemas dan memanggil Ghani, Ghani yang melihat akal-akalan Nadia yang cuman mau mendekatkan Dea dengan Adhan langusung melempar kunci mobil nya
"Banyak Alasan, Pake mobil gua" ujar Ghani sambil melempar kunci mobil ke Adhan. Adhan menangkap kunci mobil dengan perasaan Kesal.
"Ini bukan akal-akalan lo kan Blay? "
"Najis sorry ya ngapain gua ngerjain lo, dah lo sana anterin cewaan lo, dipepet si Jaya baru nyaho lo" ucap Ghani,
"Terus lo balik gimana BOS? "
"Gampang gua mah, gua kaya nya nginep disini dah. soalnya lebih deket juga ke balai kota, besok lo mampir dulu kerumah gua ambil pakaian gua, inget pakaian formal bukan pakaian sehari-hari" ujar Ghani, Adhan hanya Menggukkan kepala pertanda mengerti. Lalu Adhan berjalan menuju mobil, Adhan mulai menghidupkan mobil dan melajukan mobil ke arah Jannah dan Dea
"Hei Gadis Rata, Masuk... " Adhan memberi perintah ke Dea, Dea membulatkan manik matanya di panggil gadis rata.
"Hei nama saya Dea pak, bukan gadis rata"
"Yayaya terserah nama mu siapa, cepat masuk. mumpung saya sedang berbaik hati, tidak ada penolakan" Paksa Adhan dan Dea menghentak-hentakan kakinya karena Kesal akan sikap Adhan sambil menggerutu
"Kalo ga ikhlas ga usah nganter, tapi maksa lagi. untung aja lo ganteng" gerutu Dea dalam hati dan masuk duduk dibangku belakang.
"Hei duduk didepan saya bukan supir mu" ketus Adhan saat Dea hendak mendudukan bokongnya di kursi belakang
"Iya.. iya.. " jawabnya, Jannah dan Nadia yang melihat Dea sedang Kesal cekikikan berdua
Dea masih mendumel dalam hati masuk duduk disamping kemudi.
"Kalo ga ikhlas ga usah, lagian siapa yang mau dianter cowok judes kaya lo" umpat Dea dalam hatinya. tapi bibir nya tampak berkomat-kamit
"Kau Gadis Rata sudah dibilangkan jangan lagi mengumpat ku, apa tadi hukuman yang aku berikan belom cukup puas? " ketus Adhan
"Sial, Kenapa nih cowok tau banget kalo gua ngumpat dia, Kenapa dia sekarang bertambah Ganteng aja sih, Oh Dea sadar Dea cowok mesum ini yang udah ngambil keperawanan bibir lo" gumam Dea
cup..
Adhan mencium dalam bahkan bukan sekedar ciuman, Adhan mencoba membuka bibir Dea dan mengorek lidah dan bermain-main dalam mulut Dea dan menghisap bibir bagian bawah Dea, Dea yang merasakan serangan dadakan hanya mampu diam hingga memukul dada bidang Adhan. kecupan mereka berangsur lama, mereka menyudahi setelah keduanya kehabisan nafas"
"Hoshoshos.." suara nafas Dea menetralkan nafas nya
"Sudah kubilang jangan mengumpatku, Tau kan akibatnya" bisik Adhan ditelinga Dea, sambil menarik dan memasangkan sabuk pengaman milik Dea
"Dasar cowok Mesum, Cih"
"Kau"
Jannah dan Nadia yang melihat adegan French kiss hanya melotot dan menggigit bibir bawah masing-masing.
"Hai bujang Lapuk. Mau sampe kapan kau disini, belum jalan juga atau kau mau berbuat mesum di mobil ku, hemm" Kesal Ghani karena sempat melihat Adegan ciuman Adhan dan Dea saat akan menghampiri Jannah, kenapa mereka bisa tau Adegan tersebut karena Dea tidak sadar membuka jendela mobil nya.
"OK OK, Kalian berempat jangan iri ada saat nya kalian akan menikmati juga" ujar Adhan Asal
"CIH, buruan sana jalan Bikin empet" Ujar Arya
"Hahahaha" tawa jahat Adhan dan berlalu meninggalkan mereka.
...-- bersambung--...
...****************...