Love Trap

Love Trap
9.9



Jessie mendekati Zey perlahan, langkah demi langkah Jessie mulai mendekat, hingga berada di titik dimana jarak mereka hanya sekitar setengah meter saja, Jessie berkata.


''Kenalin nama gue Jessie Myseha Kirania Athayan Zahrania Al-Ghifari, gue sering dipanggil Jessie'' Kata Jessie yang memperkenalkan dirinya kepada Zey.


''Ok, nama saya Zey'' jawab Zey tampa menyalami ganti tangan Jessie.


''Kenapa lu nggak jabat tangan gue, ini nggak najis'' kata Jessie yang kesal karna Zey tidak menyalami kembali tangan nya yang tengah mengatung.


''Maaf saya hanya menjaga kehormatan kamu sebagai wanita, sekarang kamu boleh keluar dari sini, jika tidak ada keperluan lagi'' kata Zey yang ingin Jessie segera keluar dari ruangannya, ya bukan maksud apa apa dia hanya ingin menjaga kehormatan Jessie sebagai perempuan yang bukan mukhrinya, karna pada dasarnya seorng perempuan dan laki laki tidak diperbolehkan berdua dua an didalam satu ruangan, karna itu bisa mendekatkan pada sebuah perzinahan, seperti ayat dalam Al-Qur'an surah Al isra' ayat 32, (dan janganlah kamu mendekati zina, zina itu sungguh suatu perbuatan yang keji, dan suatu perbuatan yang buruk).


"Ok, gue akan pergi tapi lain kali kita bisa ketemu tidak?" tanya Jessie..


"Tidak, saya sedang sibuk" jawab Zey.


"Ya enggak sekarang juga, lain kali pas kamu lagi santai gitu" kata Jessie yang berusa mencari celah.


"Maaf saya tidak bisa" kata Zey yang bersikekeh.


Jessie menyebeki Zey, dia heran sekali dengan sikap Zey yang menolaknya dengan mentah mentah, baru kali ini Jessie ditolak dengan seorang laki laki.


"Menyebalkan, tapi dengan sikapnya yang seperti ini gue makin yakin kalau dia pria yang tepat buat gue" batin Jessie.


"Silahkan keluar!" kata Zey yang mempersilahkan Jessie agar cepat keluar.


"Hmmm, baik lah tapi lain kali gue akan datang kesini lagi, See you pak Dokter Zey muuuaaacch" kata Jessie yang begitu genit dengan Zey, dia begitu sulit mengendalikan dirinya saat berada didekat Zey.


Jessie mulai berjalan mengeluari ruangan Zey hingga akhir dia memandang Zey dari dekat pintu, dia meninggalkan senyuman tipis dan lambaian tangan kepada Zey dan setelah itu Jessie kelaur dari ruangan itu.


Jessie telah hilang dari pandangan Zey, Zey memegang kepalanya dengan dua tangannya, dia merasa sangat aneh dengan sikap gadis tersebut.


"Mimpi apa semalam saya bisa bertemu lagi dengan hadis itu" batin Zey


"Astaga, mengapa firasatku begitu tidak enak" kata Zey yang terus memutar otaknya.


Hingga beberapa saat dia teringat bahwa dirinya ada oprasi saat ini, dia memutuskan untuk segera bersiap siap untuk segera berangakat.


Ditempat lain Jessie memasuki ruangan rawat mama nya Agnez, disana telah ada Agnez yang menjaga mama nya.


"Assalamualiakum tante" salam Jessie dengan tersenyum setalah memasuki ruangan.


Tante Hilda, mama nya Agnez tersenyum mendapati kehadiran Jessie, ya karna tadi Jessie belum sempat masuk dan bertemu dengan tante Hilda.


"Bagimana keadaan tante?" tanya Jessie yang tengah berada didekat tante Hilda.


"Tante tidak apa apa, hanya nyeri sedikit saja" jawab tante Hilda.


"Lu dari mana Jes?" tanya Agnez kepada Jessie.


"Oh gue tadi abis ketemu seseorang" jawab Jessie.


"Siapa?" tanya Agnez.


"Ih kepo lu" kata Jessie.


"Huhuhu lu mah" balas Agnez.


"Kalian kan belum kan siang, pergilah kekantin untuk segera makan atau sekedar mencari cemilan" kata tante Hilda.


"Tapi mah! Agnez gak papa kok" kata Agnez.


"Iya tante, kami gak papa kok" kata Jessie.


"Ya sudah kalau itu mau kalian" ucap Hilda.


"Oh iya nak Jessie, bagaimana dengan kuliahmu" tanya Hilda.


Mamanya Agnez sangat bangga sekali kepada Jessie dengam prestasi prestasi yang dia dapatkan, walaupun Jessie adalah sahabat baik Agnez, maka dari itu Hilda sangat senang sekali bila Jessie bermain dengan Agnez, denagn harapan kalau prestasi prestasi Jessie dapat menular kepada Agnez anak nya.


Tiba tiba ponsel Jessie berbunyi.


"Sebentar ya tante" kata Jessie yang berpamitan sedikit menjauh untuk segera mengangkat panggilan masuk.


Jessie menjauh beberpa langkah dari tante Hilda dan Agnez, Jessie mengangkat panggilan itu.


"Hallo pa" jawab Jessie yang tengah mengangkat panggolan itu.


Ya ternyata yang menelponnya adalah papanya, papa Jessie tengah berada disebuah perusahaanya, papa Jessie adalah CEO disalah satu perusahaan di Jakarta.


"Kamu bisa ke kantor papa sekarang nak!" kata papa.


"Oh, iya pah, Jessie bisa" kata Jessie yang mengiyakan permintaan papa nya.


Jessie menutup panggilan itu dan segera mendekat kembali ke pada Hilda dan Agnez.


"Maaf tante, Agnez tadi papa nelpon katanya saya harus ke kantor papa" kata Jessie yang berpamitan.


"Tak apa nak, kamu sama siapa?" tanya Hilda.


"Jessie sama pak supir tante, ya udah Jessie permisi ya tante" kata Jessie yang menjabat tangan Hilda.


Jessie didik oleh orang tuanya menjadi kepribadian yang sopan, ya walaupun belum sepenuhnya.


Jessie mulai melangkah kan kakinya untuk mengeluari ruang rawat tante Hilda.


"Mah, Agnez kedepan dulu ya" kata Agnez yang ingin menemui Jessie.


"Iya" jawab Hilda.


Agnez mengejar Jessie yang berjalan belum jauh, Agnez memanggil Jessie.


"Jes, tunggu" panggilan Agnez.


Jessie yang msndengarnyapun langsung mrmbalikan badannya dan memberhentikan langkahnya menunggu Angez yang tengah berjalan menghampirinya.


"Ada apa Nesa?" tanya Jessie.


"Ih lu mah, baru aja di mari dah asal pulang aja, beneran apa Bokap lu yang nyuruh lu pergi atau lu yang alesan" kata Agnez.


"'Hahah Lu kenapa sih Nesa, ya benaran lah bokap gue, emng lu kira siapa? gue nggak tau sih tumben gitu bokap tiba tiba nyuruh gue ke kantor" kata Jessie.


"Kantor? lu serius" kata Agnez lagi.


"Ya kalik gue bohong, ya serius lah!, udah ya gue cabut dulu, nanti kalau gue senggang gue kemari lagi kok" kata Jessie.


"Ok, makasih ya Jess" kata Agnez.


"Bye" kata Jessie dan lalu melangkahkan kakinya untuk segera ke kantor ayahnya.


Jessie menyusuri jalan, hingga dia berada disebuah titik rusngan dokter Zey, sesekali Jessie mengintip kesana, dia ingin memastikan bahwa Zey ada tidak didalam ruangan itu, entahlah ini yang namanya cinta atau apa, yang jelas Jessie selalu ingin melihat sosok pria itu.


Jessie menolah noleh dan beberpa kali bola matanya mencari seorang pria itu namun dia tidak menjumpainya dari balik pintu.


"Mungkin dia sedang nugas" batin Jessie.


Jessie memilih untuk melanjutkan berjalannya, sedangkan Agnez tengah duduk disebuah kursi tepat didepan ruangan mamanya diawat.


"Jujur gue takut Jes, kalau lu di sukai juga dengan Rafa, Entah kenapa rasa takut ini selalu muncul gitu aja, sebenernya lu tadi ketemu siapa sih Jes!" batin Agnez yang tengah merasa resah dengan sikap Jessie tadi.


"Bahkan gue bisa ngerasain kalau lu lagi seneng Karana ketemu dengan seseorang, tapi siapa? yaallah semoga firasaatku ini salah" batin Agnez