
Naeva segera kembali ke apartemen setelah mengembalikan motor. Gadis itu memilih memakai bus karena jika memakai taksi biayanya akan lebih mahal. Dan dia harus berhemat bukan?
Tririring.. Jegrek.
Baru saja membuka pintu gadis itu sudah disambut oleh Laskar yang berdiri di depan pintu dengan tangan dilipat di depan dada dan tatapan yang tajam.
"Kau kerja apa jam segini baru pulang?" tanya Laskar.
"Aku mengantarkan pesanan menggantikan kurir kafe yang sakit." jawab Naeva dengan jujur.
"Kenapa kau? Kenapa tidak pegawai yang lain?" tanya Laskar.
"Aishh. Aku sudah beruntung aku yang dipilih untuk mengantarkan pesanan loh." ucap Naeva.
Laskar mengerutkan keningnya. Laki-laki itu sedikit heran dengan tingkah Naeva. "Kenapa memangnya? Kau dapat harta karun begitu?" tanya Laskar
"Buatkan aku makan malam yang enak, nanti aku ceritakan semuanya." jawab Naeva sambil mengedipkan sebelah matanya. Kemudian gadis itu berjalan masuk ke kamarnya.
"Yak! Kau kira aku pembantumu?!" teriak Laskar kesal.
Walaupun begitu, Laskar tetap menurut dengan apa yang dikatakan Naeva. Dia langsung pergi ke dapur dan membuatkan makan malam untuk gadis itu sekalipun sambil mengomel. Dia hanya membuat satu porsi makanan untuk Naeva karena dirinya sudah makan sejak tadi.
Setelah Naeva selesai bersih-bersih gadis itu makan makanan yang sudah dibuat Laskar. Sedangkan Laskar, laki-laki itu hanya menatap Naeva yang sedang makan karena dia tidak ingin makan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Naeva terheran-heran.
"Aku hanya menatap pacar cantikku yang sedang makan." jawab Laskar.
"Ke-kenapa tiba-tiba?" tanya Naeva gelagapan. Bahkan gadis itu tidak berani menatap wajah Laskar.
"Kenapa? Bukankah kau bilang harus bersikap seperti pasangan sesungguhnya? Bergandengan, berpelukan, dan berciuman. Lalu pacar sungguhan akan mengucapkan kata-kata pujian kan?" tanya Laskar dengan senyum nakal di bibirnya.
"Terserah kau saja." jawab Naeva.
Selama Naeva makan, Laskar tidak melepaskan pandangannya dari wajah gadis itu. Hal itu membuat Naeva salah tingkah sendiri. Bahkan pipinya sejak tadi sudah memerah.
"Kau tidak akan berhenti menatapku?" tanya Naeva.
"Tidak." jawab Laskar dengan cepat dan tanpa mengalihkan pandangannya.
Hingga sekarang Naeva sudah selesai makan. Gadis itu hendak masuk ke kamarnya. Tapi langkahnya dihentikan oleh suara Laskar.
"Bukannya aku sudah bilang padamu, kau bisa tidur di kamarku." kata Laskar.
"Lalu kau akan tidur dimana?" tanya Naeva.
Laskar tersenyum miring. Laki-laki itu berjalan mendekati Naeva. Kemudian dia mensejajarkan tingginya dengan gadis itu. "Aku akan ke apartemen kak Hansen, kenapa? Kau berharap aku akan tidur bersamamu?" tanya Laskar balik.
"Tidak! Cepat pergi!" jawab Naeva spontan sambil mendorong tubuh Laskar agar menjauh darinya.
"Tidak bisa, karena kau yang meminta aku akan tidur disini. Denganmu." ucap Laskar sambil menarik tangan Naeva masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar. Naeva mondar-mandir di dekat ranjang dengan pikirannya yang sudah melayang kemana-mana. Sesekali gadis itu melirik ranjang king size di kamar itu. Memang luas sih, tapi dia masih tidak bisa membayangkan kalau akan tidur disana bersama Laskar.
Ceklek. Laskar keluar kamar mandi dengan rambut basah dan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Yak! Kau!" Naeva langsung menutup kedua matanya menggunakan tangannya. Tapi sesekali dia merenggangkan jarinya untuk mengintip.
Laskar tertawa kecil melihat kelakuan Naeva.
"Kalau mau lihat ya lihat saja." ucap Laskar.
"Tidak! Cepat pakai bajumu!" sahut Naeva dengan cepat.
Laskar tersenyum tipis lalu segera masuk ke ruang ganti. Sedangkan Naeva terduduk di pinggir ranjang sambil memegang dadanya. Jantung gadis itu berdetak lebih kencang dari biasanya karena melihat Laskar barusan.
Gadis itu menatap pintu ruang ganti yang sudah tertutup. Terlihat siluet Laskar yang sedang berganti pakaian di dalam sana. Tubuhnya terlihat kekar walau hanya dalam bentuk siluet yang dilihat oleh Naeva.
"Apa semua idol dan aktor mempunyai bentuk tubuh yang kekar seperti itu?" batin Naeva.
Sesaat kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aktor ada juga yang berbadan gemuk dan perut donat." jawabnya sendiri.
Setelah berganti pakaian Laskar segera duduk di samping Naeva dan bertanya mengenai Naeva yang pulang terlalu malam kali ini.
"Jadi? Kau dapat harta karun apa sampai senang itu?" tanya Laskar.
Naeva menceritakan semuanya dengan jujur. Mulai dari mengantarkan pesanan-pesanan pelanggan. Hingga kebetulan yang tidak terduga dia mengantarkan pesanan ke rumah Zack. Bahkan Zack meminta dirinya untuk memperbaiki laptopnya.
Mendengar cerita Naeva, Laskar mengerutkan keningnya. Sedikit catatan, Laskar adalah teman satu angkatan Zack ketika kuliah. Dan dia tahu betul bahwa Zack pandai masalah komputer, laptop dan sejenisnya. Menurutnya agak aneh aktor yang merupakan rivalnya itu meminta tolong masalah laptop.
"Kau yakin dia tidak menyembunyikan sesuatu?" tanya Laskar.
"Tentu saja, aku mengenalnya dengan baik. Aku sudah menjadi Zack's mine sejak dia debut." jawab Naeva.
Laskar menghela napasnya. Dia hanya berharap Zack tidak macam-macam dengan Naeva. "Berhati-hatilah dengannya." ucap Laskar sambil mengacak rambut Naeva.
"Apa maksudmu?" tanya Naeva.
Laskar menggelengkan kepalanya.
"Lihatlah, beberapa hari yang lalu aku lihat fotomu dan dia di pasang bersampingan." ujar Naeva sambil menunjukkan poster yang dia ambil beberapa hari yang lalu.
"Hm, sekali lihat juga tahu aku berkali-kali lipat lebih tampan darinya." ucap Laskar membanggakan dirinya sendiri.
"Dih, dilihat dari sisi manapun jelas Zack lebih tampan!" sahut Naeva.
"Lalu? Kenapa kau menyukaiku?" tanya Laskar.
Naeva langsung membelalakkan matanya. "Kau bilang apa hah?! Si-siapa yang menyukaimu?! Aku sama sekali tidak menyukaimu!" jawab Naeva. Walaupun begitu pipi gadis itu yang merah merona tidak bisa berbohong.
Laskar mendekatkan wajahnya ke wajah Naeva. Tangannya bergerak mengusap bibir pink Naeva. "Kau mencuri ciuman dariku, apa itu tidak suka?" tanya Laskar.
"Kapan? Kapan aku mencuri ciuman darimu?!"
"Bahkan kau memotretnya. Ingin kutunjukkan fotonya?" tanya Laskar.
"Tidak!" jawab Naeva dengan cepat.
Laskar tertawa kecil. Kemudian laki-laki itu beranjak dari ranjang dan berjalan menuju sofa berukuran besar yang ada di kamarnya.
"Kau mau kemana?" tanya Naeva melihat Laskar yang mengira akan pergi karena letak sofa ada di dekat pintu.
"Tidur lah." jawab Laskar sembari menarik bagian bawah sofa dan membuatnya menjadi lebih lebar hampir mirip seperti ranjang.
"Kau akan tidur di sofa?" tanya Naeva lagi.
Laskar terdiam. Kemudian laki-laki itu berbalik menatap Naeva. "Kenapa? Kau ingin tidur seranjang denganku?" tanya Laskar balik.
"Tidak! Tidurlah disana!" jawab Naeva. Kemudian gadis itu segera masuk ke dalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Laskar tersenyum kecil menatap Naeva yang salah tingkah dibuatnya. Laki-laki itu terbayang ketika dia tidak sengaja mencium gadis itu di alun-alun kota. "Dulu aku tidak merasakannya dengan benar. Apa harus ku ulangi?" batin Laskar disusul telinganya yang tiba-tiba memerah dan senyuman salah tingkah.
"Kau memang sudah gila Laskar." gumamnya kemudian.
...***...
...Bersambung......