Love Trap

Love Trap
18.18



Jessie menatap mata sahabatnya dengan penuh kesungguhan, Jessie selalu menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu karna menurutnya tidak ada apapun yang perlu ditutup tutupi.


"Tapi Lo janji jangan pernah ceritakan hal ini ke siapa pun!" kata Jessie.


"Iya gue janji, siapa Jess ah buruan geh gue penasaran bnget nih" kata Agnez.


Jessie akan membuka mulutnya dan mulai berbicara, Jessie terus menatap mata sahabatnya dan menghembuskan nafas bagi Jessie ini adalah hal yang lumayan sulit karna dirinya harus mengatakan kepada Agnez yang pertama kalinya bahwa dirinya mencintai seorang pria.


"Pertama gue nggak tau dia siapa dan gue nggak pernah ketemu sama dia, pertemuan pertama Waktu itu gue ke Mall sepulang dari bertemu Bimo, gue ketemu sama cowok yang menurut gue sangat luar biasa, berbeda dengan pria kebanyakan, dan yang lebih buat gue kagumi adalah cowok itu berhasil mencuri semua perhatian gue termaksud pikiran gue, palak gue berpusing pusing dengan sosoknya yang menurut gue dia adalah cowok yang paling sempurna yang belum pernah gue jumpai, sosoknya yang begitu tampan, matanya yang sipit senyumnya yang manis dan yang jelas gue nggak tau dia siapa, sampai akhirnya gue ketemu lagi sama dia sewaktu jenguk nyokap Lo, dia seorang dokter disana, dokter tertampan dirumah itu, dan gue tau siapa dia" kata Jessie menjelaskan dengan matanya yang penuh dengan cinta, baru kali ini Jessie mengalami sebuah cinta.


"Wahhh siapa pria tersebut yang berhasil meluluhkan putri kampus?" kekeh Agnez yang jantungnya semakin singkron mendengar penjelasan Jessie ternyata selama ini yang dia takutkan salah.


"gue lega banget" batin Agnez yang terlihat menenang mendengar penjelasan Jessie.


"Pria itu bernama..." kata kata Jessie terhentikan karna kedatangan sosok Kevin.


"Hay, maaf ya kalian pasti menungguku lama" kata Kevin yang tengah berada didepan mereka.


"It's ok, btw Lo bawa bingkisan yang gue titipin sama Lo tadi kan" tanya Agnez.


"Bawa dong" jawab Kevin sembari kelihatan bingkisan yang berada ditangannya kepada Agnez dan Jessie.


"Duduk dulu Vin, Lo mau pesen apa?" tanya Jessie.


Kevin pun duduk diantara mereka berdua, dan tersenyum kepada mereka sembari meletakan bingkisan tersebut diatas meja.


"Gue nggak bisa lama disini, setelah ini gue mau cabut ya soalnya ada urusan" kata Kevin.


"Kenapa buru buru Vin, gabung lah sebentar" kata Agnez.


"Sorry, lain kali aja ya, kalau gitu gue cabut dulu ya" kata Kevin


"okey ti ati ya Vin" kata Agnez.


"Makasih Vin atas bingkisannya" kata Jessie yang tersenyum.


"okey, bye ya" kata Kevin dan segera cebut meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Kevin Agnez melanjutkan pembicaraan mereka berdua tetapi berbeda topik.


"Eh Jes, kalau boleh tau bokap Lo sama bokapnya kak Rafa itu akrab ya?" tanya Agnez.


"Iya, rekan bisnis sekaligus sahabat papa sejak jaman sekolah dulu" jawab Jessie.


"Jadi Lo udah lama tu kenal sama kak Rafa?" tanya Agnez.


"Baru baru ini sih, kalau bokap nya udah sejak dulu" jawab Jessie.


*****


Malam hari Rafa baru saja pulang dari kesibukannya menyelesaikan sidang akhirnya, dia memilih untuk segera pulang, sesaimpainya dirumah Rafa melihat ada papanya tengah duduk diruang tamu sembari menikmati secangkir kopi diatas meja tepat didepan papa duduk, papa menyambut kedatangan Rafa begitu juga Rafa mendekati papa nya.


"Assalamualaikum pah" salam Rafa dan mencium tangan papanya.


"Duduk nak, bagaimana bingkisan yang papa titipkan kamu, apa sudah kamu berikan kepada anaknya pak Wijaya?" tanya papa.


"Sudah pa, tapi maafkan Rafa, Rafa tidak sempat bertemu dengannya karna kebetulan Rafa sangat sibuk sekali dan jam kelas dia masuk bersama an dengan Rafa jadi tadi Rafa titipkan dengan temannya " jawab Rafa.


"Waduh mengapa jadi begini, lain kali saya harus mengatur jadwal dimana Rafa dan Jessie harus bisa saling mengenal dan bertemu" batin papa.


"Yasudah tidak apa, kamu pasti capek segeralah masuk, papa akan menelpon pak Wijaya" kata papa.


"Baik pah, salam kan pak Wijaya maaf Rafa tidak bisa memberikan langsung kepadanya" kata Rafa.


"Iya" jawab papa.


Tak lama kemudian Rafa menaiki tangga untuk segera masuk kedalam kamar nya, sedangkan Ridwan papanya Rafa mengambil ponsel nya dari dalam saku celana nya untuk segera menelepon sahabatnya Wijaya.


Panggilan telepon tersambung kan, Ridwan memilih untuk keluar rumah tepatnya dihalaman agar membicarakannya tidak didengar oleh anaknya.


"Hallo Wijaya, maaf saya malam malam menelponmu" kata Ridwan.


"Tak apa Ridwan, baru saja saya akan menghubungi mu, oh iya saya mau memberitahukan kalau bingkisan yang kamu kirimkan tidak sesuai rencana yang telah kita susun sebelumnya" kata Wijaya.


Jessie sudah pulang dari kampus sejak dari tadi, dan memberikan bingkisan yang telah dia bawa untuk papanya dari om Ridwan, Papanya sudah bertanya terlalu banyak mengenai kejadian bingkisan itu sampai ditangan Jessie namun tidak sesuai rencana, sebenarnya bingkisan itu hanyalah pelantara agar Jessie dengan Rafa bisa saling mengobrol dan mengenal satu sama lain.


"Iya sekali lagi saya minta maaf, bagaimana kalau planning nya kita rubah, kapan kapan kamu makan malam bersamaku dirumah ku" kata Ridwan.


"Sepertinya itu ide bagus" jawab Wijaya.


setelah sekian banyak perbincangan akhirnya Ridwan dan Wijaya memutuskan panggilannya.


"Semoga kali ini rencanaku tidak akan gagal kembali" batin Ridwan.


Ridwan memilih untuk segera masuk kedalam rumah karna cuaca malam tidak baik untuk kesehatan, dalam rumah tepatnya diranjang Ridwan teringat oleh sosok istrinya yang telah meninggal dunia 7 tahun lalu pasca penyakit yang dideritanya yaitu kanker payudara stadium 4.


Ridwan menatap foto nya dengan istrinya didalam genggaman tangannya, dia benar benar merindukan sosok istrinya tersebut mamanya Rafa.


"Andai kau masih hidup, ku pastikan kau akan bahagia melihat anak kita tumbuh menjadi pria dewasa dan tampan, sayang sebentar lagi akan kita kan segera menikah dengan seorang gadis yang telah sekian lama kita jodohkan, semoga kau disana juga berbahagia ya mendengar kabar gembira ini, aku sayang kamu😘" gumam Ridwan yang terus memeluk foto istrinya.


Ridwan tipe pria yang sangat setia, walaupun dia masih muda dan ditinggalkan istrinya dia lebih memilih membawa cintanya hingga akhir hayat dari pada menikah kembali karena baginya cinta pertamanya sudah iya berikan kepada istrinya.


sikapnya yang setia terhadap pasangan sangat melekat pada sosok Rafa, Rafa tipe pria yang sulit jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta dia akan terus mencintainya Tampa batas waktu.