
Agnez tengah memikirkan perkara yang dilakukan sahabatnya Jessie, entah mengapa rasa takut itu terus menghantuinya, hingga dirinya begitu kesulitan untuk menepis rasa tersebut.
"Enggak gue nggak boleh kayak gini, inget Agnez, Jessie itu sahabat lu, nggak mungkin itu akan terjadi, toh itu akan terjadi Jessie nggak mungkin menyukai Rafa, gue harus yakin" batin Agnez yang berulang kali mengigatkan dirinya.
Wajar saja bila Agnez memiliki sikap seperti ini, karna dulu pasca pertemuannya dengan Rafa dan Bimo, Rafa menyebutkan bahwa dia mengagumi seorang perempuan yang cantik, manis, ramah dan pandai, sekilas ciri ciri itu menuju kepada Jessie sahabatnya, ya bagaimana tidak Jessie bagaikan seorang wanita yang nyaris sempurna, bahkan banyak sekali kaum adam yang mengaguminya dan tidak sedikit pula kaum hawa yang mengaguminya juga.
*****
Dikantor papa nya Jessie, Jessie akan memasuki lift nampak lift tengah ada yang menggunakan, Jessie harus menunggu untuk beberpa saat, hingga lift itu terbuka, dan benar saja ada beberapa pegawai yang berada di lift itu dan akan keluar.
"Siang Nona Jessie" sapa meraka bersama an yang melihat keberadaan Jessie.
Beberapa karyawan itu terdapat 4 orang, 3 orang perempuan dan 1 orang laki laki, mereka tersenyum ramah kepada Jessie, sudah tidak asing lagi karna Jessie pewaris keturunan Al-Ghifari satu satunya.
"Siang" jawab Jessie kepada mereka.
Setelah itu Jessie mulai memasuki lift bergantian dengan beberapa karyawan tadi, Jessie menuju ruangan papa yang tepat berada di lantai paling atas yaitu lantai 20.
Tak lama kemudian Jessie telah sampai di lantai 20, dan dia berjalan menuju ruangan papa nya.
Tok Tok Tok..
Ketukan pintu ruangan papa Jessie, Jessie mengetuknya hingga beberapa kali dan tidak mendapatkan jawaban dari papa nya, hingga ada seorang sekertaris yang melewati keberadaan Jessie.
"Nona Jessie" sapa Sekertaris itu.
"Papa saya kemana ya?" tanya Jessie yang tidak menjumpai papa nya.
"Oh pak Wijaya baru saja bertemu clien dari Jogja" kata Sekertaris itu.
"Kalau begitu saya permisi ya Non" kata sekertaris itu lagi.
Sedangkan Jessie hanya tersenyum menanggapi sekertaris itu, Wijaya adalah nama dari papa Jessie, yang bernama lengkap Wijaya Novian Al-Ghifari, yaa keluarga Jessie bernama Al-Ghifari semuanya, karna nama itu keturunan dari Kakeknya papa yang bernama Al-Ghifari, dan entah mengapa setiap keturunan Al-Ghifari memiliki 1 keturunan dan kali ini keturunan Al-Ghifari melahirkan seorang penerus perempuan.
Jessie mulai memasuki ruangan papanya, dia memilih duduk di Sofa tepat diruangan itu, Jessie membaringakn badannya sembari memaikan ponselnya saat menunggu kedatangan papanya.
Waktu terus berjalan, hingga Jessie telah menunggu papa nya selama 30 menit lamanya, dan tiba tiba papa Jessie baru saja memasuki ruangan nya.
"Hallo sayang, kamu baru sampai?" tanya papa yang melihat kearah Jessie.
"Tidak papa, Jessie sudah 30 menit dari sini, bagaimana meeting papa?" tanya Jessie kepada papa nya.
"Kamu tau kalau papa sedang meeting" kata Papa yang tengah duduk dikursi kerjanya.
"Ya tentu saja pa, tadi sekertaris papa yang membagi tahunya" jawab Jessie yang tengah duduk menghadap papa nya.
"Tadi papa sedang ada meeting dengan salah satu perusahaan yang ada di Jogja, papa akan melakukan kerja sama, untung nya negosiasi papa diterima dan sekarang kita tengah bekerja sama dengan perusahaan Pasya Grup" kata papa.
"Bagus dong pa, oh iya papa ngapain manggil Jessie kemari?" tanya Jessie yang penasaran dengan panggilan papa nya.
Papa tidak langsung menjawab pertanyaan dari Jessie melainkan papa nya mengambil sebuah map berwarna hijau dari lacinya dan meletak kannya di atas meja.
Jessie mendekat dan tepat duduk didepan papanya, batas mereka hanya terhalang sebuah meja.
"Kamu adalah satu satunya anak papa dan keturunan Al-Ghifari, papa tau kamu anak perempuan tapi papa yakin walaupun kamu perempuan kamu bisa mengendalikan perusahaan kita nak" kata papa nya.
"Gimana pa? Jessie kurang paham!" kata Jessie yang ingin diperjelas kembali.
"Kamu adalah penerus dari keturunan Al-Ghifari sayang, papa mau kamu sudah mulai belajar dari sekarang" kata papa nya.
"Jadi papa mau Jessie sekarang yang memegang perusahaan papa begitu?" kata Jessie yang sedikit syok dengan perkataan papanya.
"Iya kenapa tidak sayang? kamu sudah semester 4, dan papa yakin kamu akan segera lulus, kamu juga memiliki otak yang sangat cerdas berkat keturunan dari kakek mu, jadi apa yang diragukan lagi nak, bukan kah lebih cepat itu lebih baik!" kata papa.
"Tapi pah? Jessie masih kecil untuk memegang perusahaan papa, Jessie masih berumur 20 tahun pa" kata Jessie.
"Justru dengan umurmu yang sudah 20 tahun lah kamu sudah berkewajiban untuk mengambil ahli perusahaan ini Jessie, Kamu akan ditemani oleh Faris untuk membimbingmu dan membantu segala urusanmu disini, papa harap kamu tidak menolaknya" kata papa yang begitu yakin dengan keputusannya.
Jessie bingung dengan apa yang di mau papanya, disisi lain Jessie masih ingin fokus dengan kuliahnya namun dia tidak mungkin menolak permintaan papa nya, kalau bukan dirinya lantas siapa yang akan diandalkan oleh papa nya.
Faris adalah orang kepercayaan dari papa Jessie, dia adalah direktur di perusahaan ini, dia telah mengapdi disini selama 5 tahun lamanya dan menjalankan tugas nya dengan sebaik mungkin, kerja nya selalu memuaskan dan dapat diandalkan.
"Baiklah pah Jessie mau, dimulai kapan Jessie akan bekerja?" tanya Jessie yang menyetujui permintaan papanya.
"Besok kamu bisa langsung datang kemari, papa sudah bicarakan perihal ini dengan seluruh karyawan kita, dan kamu tandatangilah surat ahli waris ini" kata paoa sembari menyodorkan sebuah map berwarna hijau itu kepada Jessie.
Jessie mengambil map itu dan sekilas membaca keseluruhan dari isi map itu.
"Pah, ini apa nggak berlebihan untuk Jessie?" tanya Jessie yang tidak yakin dengan isi surat itu bahwa dirinya lah yang mewariskan semua harta Al-Ghifari yang tidak akan habis walaupun dengan 7 keturunan sekaligus.
"Tidak sayang, kamu itu adalah keturunan Al-Ghifari, jadi ini adalah milikmu dan kamu pewaris sah nya" kata Papa yang meyakinkan Jessie.
Jessie menghelakan nafasnya dan menatap map itu sekilas dengan tatapan yang banyak sekali pertanyaan, namun dia mengurungkan pertanyaan itu agar tidak keluar dari mulutnya.
"Ayo sayang tanda tanganilah" kata papa lagi yang memantapkan hati Jessie.
Dengan gesit Jessie langsung menandatangi map itu, dan menyodorkan kembali kepada papanya.
"Ini pa" kata Jessie.
"Iya sayang" jawab papa.
"Pah!" kata Jessie yang nampak ragu memandang wajah papa nya.
"Kenapa sayang? lakukan lah dengan yakin, papa akan selalu mendampingimu dari belakang dan mengontrol setiap kerja kamu, setelah dirasanya kamu sudah bisa papa baru akan bebaskan kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir sayang" kata papa yang menenangkan.
Tiba tiba papa menelpon seseorang.
"Keruangan saya sekarang" kata papa dipanggilan itu dan langsung mematikannya.
Aku tidak tahu siapa yang tengah ditelpon papa dan apa maksud papa menyuruhnya segera kembali yang jelas aku tidak mau menanyakan perihal itu terlalu jauh.