
Karena berita tentang Laskar dan Naeva yang tiba-tiba trending, Hansen langsung kembali ke apartemen Laskar. Mereka bertiga sekarang ada di ruang tamu untuk membicarakan hal ini.
Tadinya mereka memang ingin membicarakan tentang berita yang baru saja muncul tersebut. Tetapi ketika sudah berkumpul mereka hanya saling diam. Hansen yang memijit pelipisnya karena pusing. Naeva yang menggigit kuku jarinya karena cemas. Dan Laskar yang dengan santainya bermain handphone terlihat masa bodoh dengan hal tersebut.
"Kalau sekarang sudah muncul skandal tentang aku dan dia, berarti sekarang aku nggak punya alasan buat mengancamnya agar aku tetap tinggal disini dong." batin Naeva.
"Nggak! Nggak! Pokoknya aku nggak mau keluar dari sini." batinnya lagi.
"Tunggu... tapi dipikir-pikir aku tinggal disini sudah hampir satu bulan. Ahh aku sungguh tidak mau pergi." rengeknya di dalam batinnya.
Naeva tidak mencemaskan tentang skandal Laskar. Gadis itu mencemaskan jika sudah muncul skandal tentang dirinya dan Laskar, artinya dia tidak punya bahan untuk mengancam Laskar lagi. Dia tidak mau keluar dari apartemen ini dan kembali ke rumah.
Ditengah-tengah keheningan. Tiba-tiba Hansen menghela napasnya dan bertanya kepada mereka berdua.
"Baiklah, sekarang apa yang akan kalian katakan ke media tentang ini?" tanya Hansen.
"Akui saja." jawab Laskar.
"Yak! Kau sudah gila hah?!" semprot Naeva yang kaget mendengar jawaban Laskar.
"Lantas? Kau mau bilang apa? Kau mau bilang teman kakaknya Laskar tinggal di apartemen Laskar? Kau mau bilang Laskar menggendong teman kakaknya ketika mabuk? Kau mau bilang Laskar menc--"
Sebelum Laskar melanjutkan kalimatnya Naeva langsung menginjak kaki laki-laki tersebut agar tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Jadi? Kau mau bilang kita pacaran padahal kita tidak pacaran?" tanya Naeva lagi.
"Hm.. Iya." jawab Laskar.
Naeva mendengus kesal. Dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan oleh Laskar. Mengatakan bahwa mereka pacaran memang lebih baik daripada mengatakan bahwa ia teman kakak sepupu Laskar. Tapi tetap saja, ada rasa tidak rela di hatinya jika harus berpura-pura berpacaran dengan Laskar.
"Apa tidak ada cara lain kak?" tanya Naeva kepada Hansen.
"Hm.. menurutku saran Laskar ada benarnya. Jika kalian bilang bahwa kau teman Ruby, publik akan mempertanyakan hubungan kalian. Dan itu akan semakin rumit." jawab Hansen.
"Baiklah. Sudah diputuskan, besok aku akan mengunggah pernyataan melalui akun Instagramku." ucap Laskar kemudian masuk ke kamarnya.
Naeva dan Hansen menatap Laskar dengan tatapan kesal. Mereka berdua tidak habis pikir dengan laki-laki itu. Padahal skandalnya sudah menumpuk, dan mendapatkan skandal baru lagi tapi bisa-bisanya dia tetap santai seperti tidak ada beban sama sekali.
"Kau tidak keberatan kan kalau kami mengunggah pernyataan seperti itu?" tanya Hansen.
Naeva diam sebentar, tapi akhirnya dia mengangguk menyetujui hal tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu aku pamit." ucap Hansen. Kemudian dia segera pergi dari apartemen Laskar menuju gedung agensinya. Karena dia tahu disana direkturnya sedang marah besar.
Sedangkan Naeva berjalan masuk ke kamar Laskar meminta penjelasan lagi. Sekalipun alasan Laskar berniat mengumumkan status hubungan mereka berpacaran sudah jelas dikatakan tadi. Tapi dia masih ingin bertanya lagi. Dia merasa tidak puas dengan alasan yang dikatakan Laskar. Kenapa dia harus berpura-pura pacaran? Itu yang dia tidak mau. Baginya hubungan itu bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan.
"Jadi? Kau ingin berpacaran denganku?" tanya Laskar.
Naeva terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Laskar. Benarkah itu yang dia inginkan? Sesaat kemudian Naeva menggeleng-gelengkan kepalanya, dia yakin pasti bukan itu yang ia inginkan. Dia hanya benci kebohongan.
"Kalau begitu... bukankah aku harus pergi dari sini?" tanya Naeva.
Laskar langsung bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Naeva. "Kenapa harus pergi?" tanya Laskar.
"Aku mengancammu akan menyebarkan kejadian malam itu ke media supaya muncul skandal. Sekarang sudah muncul skandal, artinya aku tidak ada alasan lagi yang bisa kugunakan untuk tinggal disini. Ditambah aku sudah hampir satu bulan tinggal disini." ucap Naeva sambil menatap mata Laskar.
"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi!" larang Laskar.
"Kenapa? Agar kau bisa berpura-pura berpacaran denganku? Untuk menutupi citra burukmu?" tanya Naeva.
Entah mengapa Naeva sangat kesal karena Laskar mengajaknya berpura-pura berpacaran. Dia merasa dipermainkan, dan dia benci hal itu.
Laskar hanya diam, dia bingung bagaimana dia menjawab pertanyaan Naeva. Karena dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia melarang gadis itu pergi dari rumahnya. Padahal dia dahulu sangat ingin Naeva segera keluar dari rumahnya. Tapi sekarang rasanya tidak rela jika gadis itu harus pergi.
"Itu... itu demi kau." ucap Laskar. "Ketika kau. terlibat skandal denganku hidupmu tidak akan tenang. Media akan mengikutimu kemana-mana. Para sasaeng, dan fansku yang tidak terima mungkin akan menyakitimu. Ditambah diluar sana masih ada pria itu yang mencoba menangkapmu." jelasnya panjang lebar.
"Kenapa kau peduli?" tanya Naeva. "Kau menyukaiku?" tanyanya lagi.
"Tidak." jawab Laskar dengan spontan.
Naeva berdecak sebal. Dia sudah menduga jawaban ini dari Laskar. Karena sebelumnya juga seperti itu. Laskar mengatakan gadisku tapi katanya gadisku berarti bendaku. Sekarang? Peduli tapi tidak suka.
"Kau memang benar-benar aktor hebat Laskar Emilio Rafael." ucap Naeva dengan nada sinis. Setelah mengatakan itu, dia segera keluar dari kamar Laskar dan masuk ke kamarnya sendiri.
"Kau salah Naeva.. aku tidak sehebat itu dalam berakting. Andai bisa, aku ingin berakting tidak peduli padamu." gumam Laskar sambil menatap pintu kamarnya sudah tertutup.
Sedangkan Naeva dikamarnya dibuat bingung dengan dirinya sendiri. Dia bahkan tidak menyangka akan mengatakan semua itu kepada Laskar.
"Kau kenapa Naeva? Bukankah kau ingin tinggal disini lebih lama? Kenapa kau malah mengatakan hal seperti itu?" gerutunya sambil berjalan mondar-mandir didalam kamarnya.
Dia juga bingung, kenapa dia harus merasa kesal dipermainkan oleh Laskar? Kenapa dia merasa marah ketika Laskar mengatakan tidak menyukainya? Dia tidak punya perasaan khusus padanya, seharusnya dia biasa saja ketika Laskar mengajaknya pura-pura pacaran. Harusnya dia biasanya saja ketika mendapatkan jawaban itu dari Laskar.
"Nggak boleh begini. Aku harus tanya tentang ini kepada Ruby." gumam Naeva.
Gadis itu merogoh sakunya dan segera menelepon sahabatnya itu dan menyuruhnya agar datang ke apartemen Laskar untuk menanyakan tentang sesuatu aneh yang dia rasakan. Dia tidak bisa bertemu Ruby di luar apartemen. Karena diluar sana pasti banyak wartawan yang menunggunya. Ditambah fans Laskar yang hampir mirip zombie. Dia tidak ingin menjadi santapan mereka.
...***...
...Bersambung......