
Jessie menghampiri Agnez dan tante Hilda, Jessie melihat betul betapa kecewanya Agnez dan tante Hilda atas kejadian ini, jadian ini bukan yang pertama kalinya mereka diperlakukan seperti ini, Jessie ikut bersedih melihat sahabatnya, Agnez memeluk mamanya dengan erat berbagi kasih dan sayang, suara isak tangisan merekapun sangat jelas terdengar, bagaimana tidak? keluarga yang mereka inginkan jauh dari kata sempurna, sosok papa yang di impikan menjadi sosok papa yang begitu tega bahkan khianat.
"Ma, mama cerai aja ya sama papa, Agnez nggak mau melihat mama seperti ini terus!" kata Agnez yang berisaha tegar.
Sedangkan Jessie mulai mendekati mereka, Jessie sangat bersimpati dengan apa yang terjadi, Jessie duduk disebelah mereka.
"Sini nak" kata tante Hilda dan lalu memeluk Jessie disebelah kiri dan sebelah kanan sudahbada Agnez.
"Ma, mama cerai ya sama papa!" kata Agnez memgulang perkataan nya.
Mama melepaskan pelukannya dari kami semua, mama menggenggam tanyanya sendiri, dari situ terlihat jelas bahwa mama berusaha untuk tegae dan kuat, Mama menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya, setelah itu mama menghapus air matanya.
"Sayang, Agneza anak mama, mama tidak bisa bercerai kepada papa, kamu pasti taukan alasannya, mama hanya bisa berharap kalau suatu saat papa mu akan berubah" kata Mama sembari memegang tangan Agnez begitu erat.
"Tapi ma, mau sampek kapan? dan kakek saja sudah meninggal, untuk apa mama tetap mempertahankan pernikahan ini, yang jelas jelas membuat mama sedih setiap hari" kata Agnez.
Jessie tahu betul, dulu Tante Hilda menikah karna perjodohan dari orang tuanya, tante Hilda tidak msu mengingkari wasiat Papanya, maka dari itu tante Hilda memilih untuk tetap pempertahankan rumah tangganya, walaupun yang dirasanya begitu pahit.
"Sayang, malam ini kamu menginap dulu ya dirumah Jessie untuk sementara waktu, biar masalah ini menjadi urusan mama sama papa" kata Mama.
"Boleh kan nak Jessie" kata Tante Hilda.
"Tentu saja tante" jawab Jessie yang begitu suka rela jika Agnez sahabatnya menginap dirumahnya.
"Tapi ma?" kata Agnez.
"Tidak apa, besok pagi kamu pulang ya, sudah nak sekarang kamu segera kerumah Jessie, mama harap kamu bisa tenang disana, tidak perlu menghawatirkan mama, mama baik baik saja" kata Mama yang terlihat negitu tegar menghadapi semua masalah nya.
"Baik ma, Agnez akan menginap tempat Jessie, I love you Mom" kata Agnez yang mencium tangan Mamanya.
Setelah itu giliran Jessie mencium punggung tangan tante Hilda bertandakan pamit.
"Kalau gitu saya pamit tante" kata Jessie yang berpamitan, begitu juga dengan Agnez.
Di halaman belakang, Jessie menghentikan langkah Agnez yang akan memasuki mobilnya.
"Agnez tunggu" kata Jessie yang menghentikan aktivitas Agnez.
"Iya Jess?" jawab Agnez.
"Apa nggak sebaiknya lu dirumah aja, ya bukannya gue nggak ngizinin lu nginep dirumah gue, tapi menurut gue nyokap lu lagi butuhin lu buat nemenin dia" kata Jessie menasehati.
"Tapi lu kan tau nyokap sendiri yang nyuruh gue nginep dirumah lu" jawab Agnez.
"Gini Nesa, iya nyokap lu nyuruh lu nginep dirumah gue, karna dia nggak mau lu ngerasain kesedihan ini, nyokap lu sayang sama lu makannya dia nggak mau lu sedih, Nesa nyokap lu butuh lu, pasti tante Hilda sangat terpukul, lu apa nggak mau ngehibur nyokap lu atau nenangin nyokap lu, kalau lu yang nginep dirumah gue, siapa yang nenangin nyokap lu" kata Jessie dengan panjang lebar.
"Lu bener juga Jes, makasih ya" kata Agnez dan lalu memeluk Jessie.
"Lu emng sahabat gue" kata Agnez dan llalu melepaskan pelukannya.
"Udah nggak usah sedih, gue tau lu kuat, semangat" kata Jessie yang memberi Agnez semngat.
"Iyahhh" Jawab Agnez dengan teesenyum.
"Btw lu pulang nya gimana?" tanya Agnez.
"Lu nggak usah khawatir, banyak taksi disini" kata Jessie.
"Lu nggak papa?" tanya Agnez lagi.
"Gue masuk ya, hati hati" kata Agnez yang melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam rumah, sedangkan Jessie segera memesan taksi untuk segera pulanh.
Di kamar, Jessie sudah mengotak atik ponsel barunya, tiba tiba dia teringat sosok pria yang menabraknya tadi saat di Mall.
"Astaga, kenapa gue kepikiran dia? tapi lumayan juga" gumam Jessie yang tersenyum senyum sendiri membayangkan adegan bertemu dengan pria misterius tadi.
Betapa sempurnanya pria tadi, dia begitu dingin dan kaku, yang membuat Jessie terpesona hingga memorinya terpenuhi dengan bayangan pria tadi, Jessie bahkan belum tau namanya siapa dan hanya bertemu sekali saja namun pertemuan itu membuat sukses membuat Jessie sangat terpesona olehnya.
"Siapa ya pria itu? dia begitu cuek, bahkan dia sangat berbeda dengan pria kebanyakan, ya tuhan! kalau ada apa dengan hambamu ini!" gerutu Jessie lagi.
Jessie benar benar frustasi dibuatnya, berkali kali dia mengusap mukanya agar fikiran tentang pria tadi hilang, namun bayangan pria tadi tetap ada, Jessie menasuki kanar mandi dan segera mencuci muka.
"Jessie sadar lah Jessie" gerutu Jessie yang telah mencuci mukanya tepat didepan cermin.
Jessie merasa belum bisa lepas dari bayangan pria tadi, hingga akhirnya Jessie memutuskan untuk keluar kamar dan mencari cemilan didapur, Jessie berjalan kedapaur, dan sesampainya disana Jessie membuka kulkas dan mengambil susu dingin di dalam nya, Jessie mengambil gelas dan menuangkan susu itu kedalam kelas, setelah dirasanya cukup Jessie duduk diruang makan, dan beberaoa kali meneguk susu itu.
Tampa Jessie sadari dia telah melamun membayangkan sosok pria tadi, Jessie teesenyum senyum sendiri dilamaunan nya.
Tiba tiba.
"Wahh anak mama kelihatannya bahagia sekali, sampai sampai melamun dngan tersenyum senyum sendiri" kata Mama yang membuyarkan lamunan Jessie.
"Ah Mama" kata Jessie yanh telah tersadarkan.
"Kamu kenapa nak? apa anak gadis mama ini telah jatuh cinta?" tanya dengan nada kedekan.
"Hiks mama ah" kata Jessie memanja kepada Mamanya.
"Ayo ada apa? coba cerita dengan mama" kata Mama.
"Mama tapi jangan bilang papa ya! janji" kata Jessie sembari mengantungkan jari kelingkingnya bertandakan janji.
"Iya mama janji" kata Mama dan menjabat jari kelingking anaknya balik.
"Gini lo ma, tadi tu kan Jessie ke Mall buat beli Hp baru" kata Jessie yang mulai bercerita.
"So?" tanya mama.
Jessie menggenggam tangan mamanya.
"Nah, Jessie kan lagi jalan, tapi jalannya Jessie meleng terus Jessie jatuh ketabrak seseorang, tau nggak si ma?, orang yang nabrak Jessie itu ganteng banget, dan beda sekali sama laki laki kebanyakan, dia itu kaku, dingin dan cuek ma, Jessie suka ma sama dia, padahal Jessie baru saja bertemu dengan nya, seketika jantung Jessie tu berdenyuk kencang Ma" kata Jessie menjelaskan kpada mamanya.
"Jadi, anak mama ini sedang jatuh cinta?" kata Mama
"Ah mama, apa itu sebuah cinta ma?" kata Jessie yang malu malu.
"Bisa dibilang iya dan juga tidak sayang, karna jatuh cinta itu sulit untuk di ungkapkan namun begitu terasa" penjelasan mama.
Jessie tersenyum melihat jawaban mamanya, ya walaupun dia tidak tahu apa yang tengah dia rasakan saat ini, benarkah ini sebuah cinta atau kah hanya sekedar pengaguman saja.
"Mama akan selalu mendukung apa yang kamu inginkan sayang, asalkan itu berdampak positif buat kamu" kata Mama yang selalu memberi Jessie semngat.
"Makasih ya ma" kata Jessie lalu memeluk mamanya.
"Jessie sayang mama" kata Jessie yang berada didekapan mamanya.