Love Trap

Love Trap
Pengungkapan Perasaan ¹⁴+



Hari-hari telah berlalu. Tidak terasa Naeva sudah satu bulan tinggal di penthouse kepunyaan Laskar. Hingga sekarang hubungan mereka masih dalam status pura-pura berpacaran. Berita tentang hubungan asmara Laskar sudah mulai mereda. Digantikan dengan berita Laskar yang akan kembali dengan aktivitasnya sebagai idol soloist.


Mereka juga cukup jarang bertemu karena Laskar disibukkan dengan comeback-nya. Libur selama satu Minggu yang diberikan agensi untuknya hanya sebuah kalimat saja.


"Kak.. aku sudah lelah hari ini. Bisakah rekamannya lanjut besok saja?" tanya Laskar.


Hansen melihat jam di handphonenya. Empat angka yang berjajar disana menunjukkan pukul sepuluh malam kurang lima belas menit. Setelah melihat jam di handphonenya Hansen menangguki pertanyaan Laskar.


Wajah Laskar langsung ceria seketika. Laki-laki itu segera memakai jaket, topi, masker serta kacamatanya. Laskar pergi dari studio rekaman dengan perasaan berbunga-bunga. Malam ini dia berniat pergi ke apartemen dan menginap disana. Jujur saja dia rindu melihat wajah Naeva, sekalipun mereka hanya berpura-pura berpacaran jauh di dalam hati Laskar dia ingin semua itu bukan pura-pura.


Tapi laki-laki itu kecewa ketika sampai di apartemen. Penthousenya itu kosong tidak ada seorangpun disana. Laskar terdiam sebentar, tanpa sengaja sudut matanya melihat kalender.


"Tanggal itu... ini sudah satu bulan dia tinggal disini. Apa jangan-jangan..."


"Nggak! Dia nggak boleh pergi!"


Laskar segera menghubungi Naeva. Tapi handphone gadis itu tidak aktif. Laki-laki itu semakin khawatir. Tanpa ada pikiran mengecek barang-barang Naeva di kamar, dia keluar penthouse begitu saja berniat mencari gadis itu.


"Kenapa harus pergi? Aku tidak mengusirmu." gumam Laskar.


Dia benar-benar tidak rela jika Naeva pergi dari penthousenya. Dia tidak ingin kesepian lagi seperti dulu sebelum bertemu Naeva.


"Kumohon angkat teleponnya." ucap Laskar dengan suara bergetar.


Setelah sekian lama berjalan, laki-laki itu menyerah. Matanya sudah memerah karena air mata yang memaksa keluar. Tapi Laskar tetap menahannya. Laki-laki itu jongkok dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Tidak ada orang yang memperhatikannya karena disana itu sudah biasa terjadi ketika seseorang putus cinta.


"Apa dia benar-benar pergi?" batin Laskar.


"Laskar?"


Mendengar suara yang dia kenal, Laskar mendongak menatap siapa yang memanggil namanya dengan suara yang sangat lembut.


"Hey! Kenapa kau menangis?!" Yap gadis itu adalah Naeva yang baru saja pulang bekerja.


Naeva jongkok di depan Laskar, lalu tangannya terangkat mengusap air mata yang ada di sudut mata Laskar.


"Kau belum pergi dari sana?" tanya Laskar.


Naeva terdiam memikirkan pertanyaan Laskar. Setelah beberapa saat dia baru ingat hari ini adalah tepat satu bulan dia tinggal di rumah Laskar.


"Em, aku lupa. Aku akan segera berkemas." jawab Naeva sambil tersenyum.


Grep! Laskar menggenggam erat tangan Naeva dan menariknya agar berdiri.


"Ayo pulang!" ajak Laskar.


Laki-laki itu sebenarnya ingin meluapkan semua yang ada di hatinya saat ini juga. Tapi dia sadar dia dimana berada dan  dia yang merupakan seorang selebriti kemanapun dia melangkah pasti ada wartawan yang mengikuti dirinya.


Selama perjalanan sampai ke apartemen Laskar sama sekali tidak menatap atau berbicara kepada Naeva.


"Ada apa dengannya? Kenapa tangannya sangat panas? Padahal sudah mendekati musim dingin. Kenapa dia diam saja sejak tadi?" batin Naeva bertanya-tanya.


Tanpa melepaskan pegangan mereka, Laskar menekan nomor pin penthousenya. Tit. tit. tit. Tririring.. Jegrek..


Ketika baru masuk ke dalam penthouse, Laskar langsung menghimpit tubuh Naeva ke dinding.


"Yak! Kau! Kau sedang apa?!"


"Jangan pergi... tetap disini." ucap Laskar dengan nada pelan.


"Ha-hah?"


Naeva terdiam melihat tatapan Laskar kepadanya. Dia tidak pernah melihat tatapan ini sebelumnya dari mata Laskar. Dia bisa melihat ketulusan di mata Laskar, disaat yang bersamaan Naeva juga melihat mata Laskar yang menyiratkan kekosongan dan kesepian di hatinya.


Naeva memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Laskar. Dia tidak ingin Laskar mengetahui perasaannya yang sebenarnya karena terlalu lama bertatapan. "Kau memang tidak mengusirku, tapi perjanjian kita dulu aku akan pergi setelah satu bulan." jawab Naeva.


Laskar melepaskan sebentar tubuh Naeva. Laki-laki itu memegang udara seolah memegang sebuah kertas. Lalu dia gerakkan tangannya seolah menyobek kertas. Setelah itu dia kembali mengunci tubuh Naeva.


"Aku sudah merobek perjanjian itu. Perjanjiannya batal. Kau tetap tinggal disini!"


"Bisakah kau menyingkir? Posisi ini agak tidak nyaman." tanya Naeva sambil memalingkan wajahnya.


"Jawab aku dulu, tinggallah disini lebih lama lagi! Nggak boleh bantah!" perintah Laskar.


"Kenapa aku harus menurutimu?" tanya Naeva dengan ekspresi wajah kesal bercampur dengan wajahnya yang merah merona.


"Karena kau pacarku!"


Mendengar hal itu seketika Naeva menatap mata Laskar. Gadis itu mendapati bahwa jarak antara mereka benar-benar sangat dekat sekarang. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Hembusan napas Laskar yang menyapu pipinya membuat bulu kuduknya seketika berdiri.


"Itu hanya pacar pura-pura! Kau tidak bosan dalam posisi ini?" jawaban Naeva sekaligus bertanya lagi.


"Tidak, aku tidak bosan. Kau ingin hubungan palsu ini menjadi nyata?" tanya Laskar balik.


"Kau hanya berakting." jawab Naeva sambil mengalihkan pandangannya lagi.


Laskar menghela napasnya. Baru kali ini dia membenci profesinya sebagai aktor. "Tatap mataku!" perintah Laskar.


Naeva segera menurutinya. Jantungnya berdetak kencang ketika menatap mata Laskar.


"Kau pikir mataku bisa berbohong? Apa kau pikir jantungku bisa berakting? Kau pikir aku bisa mengendalikan jantungku agar berakting?" tanya Laskar sambil mengarahkan tangan Naeva untuk menyentuh dadanya.


Naeva bisa merasakan jantung Laskar yang juga berdetak kencang sama seperti dirinya. Ketika dia mendongak menatap wajah Laskar, Naeva bisa melihat wajah laki-laki itu yang merah merona hingga sampai telinga.


"Kau percaya sekarang?" tanya Laskar.


Naeva menangguk kecil.


Laskar menarik pinggang Naeva agar lebih dekat dengannya. Satu tangannya memeluk pinggang Naeva, dan satu tangannya lagi masih memegang tangan Naeva.


Dan.. cup. Laskar mendaratkan sebuah kecupan tanpa pergerakan di bibir Naeva. Setelah beberapa saat Laskar melepaskan tautan bibir mereka. Laskar melepaskan tangannya yang memegang tangan Naeva, perlahan tangannya terangkat memegangi pipi Naeva.


"Kenapa tanganmu gemetar? Dan bola matamu juga bergerak tidak beraturan?" tanya Naeva dengan nada pelan.


"Karena gugup..." jawab Laskar.


Cup.. Laskar kembali mencium bibir Naeva tapi kali ini dia menunjukkan keahliannya.


"Kalau semua ini cuma mimpi, aku tidak ingin bangun dari tidurku." batin Naeva seraya memejamkan matanya menikmati permainan yang dipimpin oleh Laskar.


"Kalau kau membenciku karena mengambil ciuman pertamamu hari itu tanpa izin, maka lupakan ciuman itu. Dan ingatlah ciuman kali ini sebagai ciuman pertamamu. Bukan yang waktu itu." batin Laskar.


...***...


...Bersambung......



...MAMPIR SITU YUKKK...