
Baru saja Laskar membuat pernyataan, seluruh media sosial langsung dipenuhi dengan nama Laskar dan Naeva. Ada fansnya yang mendukung, ada pula yang tidak menyukai berita tersebut lalu menghujat Laskar dan juga Naeva. Banyak diantara mereka semua yang penasaran dengan wajah Naeva, karena dalam pernyataan yang Laskar unggah di akun Instagramnya wajah Naeva sengaja di blur. Laskar tidak ingin fansnya mengetahui wajah Naeva dengan jelas. Sekalipun sudah tersebar foto-foto mereka, tapi foto yang tersebar di media wajah Naeva tidak terlihat terlalu jelas.
Dibalik itu ada Zack yang marah dengan berita tentang Laskar dan Naeva yang baru saja keluar. Karena sebenarnya dia merencanakan akan mengeluarkan berita tentang Laskar ini dengan dibumbui berita yang melenceng. Tapi beritanya malah keluar lebih dahulu, dan mendapatkan respon baik dari fans-fansnya. Trendingnya berita tentang Laskar yang mempunyai pacar, bahkan mengalahkan trendingnya drama terbarunya. Itu juga yang membuatnya sangat kesal.
"Kak... aku ingin menemui gadis itu!" kata Zack kepada managernya.
Disisi lain. Naeva sedang berada di depan meja riasnya dan memoleskan make up tipis-tipis. Setelah menyelesaikan riasan wajahnya, gadis itu tersenyum puas.
"Aku tidak peduli sekalipun usia kami beda jauh. Dia harus menjadi milikku." ucapnya di dalam batin.
Setelah itu dia segera keluar kamar. Dia berniat pergi ke tempat kerjanya untuk memancing perhatian para wartawan. Pokoknya seluruh dunia harus tahu bahwa dia berpacaran dengan Laskar.
"Kau mau kemana?" tanya Laskar yang melihat Naeva.
"Bekerja. Aku sudah tidak hadir dari pagi sampai siang. Jadi aku akan masuk di malam hari." jawab Naeva.
"Kau yakin bisa melewati wartawan yang berkerumun di depan gedung itu?" tanya Laskar.
"Tentu saja. Apa yang seorang Naeva tidak bisa lakukan?" jawab gadis itu. Kemudian dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Sesaat sebelum Naeva membuka pintu Laskar langsung memanggil gadis itu, dan mengatakan akan mengantarkannya.
"Aku akan mengantarmu. Tunggu sebentar." ucap Laskar. Kemudian laki-laki itu masuk ke kamarnya untuk mengambil jaket, topi, dan masker serta kunci mobilnya.
Naeva tersenyum puas melihat respon Laskar tersebut. Memang ini tujuannya. Dia ingin mendapatkan perhatian Laskar, kemudian diluar sana pasti ada wartawan dan jika para wartawan itu melihat mereka pasti akan keluar berita lebih menarik lagi.
Setelah Laskar siap, mereka keluar dari penthouse dengan mengendap-endap. Tanpa sadar Laskar menggenggam tangan Naeva. Bahkan selama lift bergerak turun Laskar tidak melepaskan genggaman tangannya. Kalian tahu bagaimana keadaan jantung Naeva saat ini?
"Jantungku seperti mau lompat dari tempatnya." batin Naeva sambil melihat tangannya yang digenggam Laskar.
"Nanti ketika keluar lift, kau segera masuk ke dalam mobil." perintah Laskar.
"Baiklah. Tapi, kenapa kau membawa dua topi?" tanya Naeva sambil melirik topi yang ada di tangan kiri Laskar.
"Aku tidak ingin dunia mengetahui wajahmu. Terlalu berbahaya. Jadi pakai ini." jawab Laskar sembari memakaikan topi yang ia bawa tersebut kepada Naeva.
Lagi-lagi jantung Naeva dibuat berdebar-debar. Tapi dia harus bisa mengendalikan dirinya, dia tidak boleh terlihat salah tingkah di depan Laskar. Yang ada dia yang harus membuat Laskar salah tingkah.
"Pacar palsuku ini sangat perhatian ya?" puji Naeva sambil memeluk lengan Laskar.
"Ada apa denganmu?" tanya Laskar terheran-heran.
"Bukankah orang berpacaran melakukan hal seperti ini? Berpegangan tangan, berpelukan, dan... berciuman?" tanya Naeva balik.
Merasa wajahnya mulai memanas Laskar segera memalingkan wajahnya. Dia tidak tahu Naeva bisa mempunyai sifat seperti ini. Dia kira Naeva hanyalah seorang anak konglomerat yang memiliki sifat polos, dia tidak menyangka seorang Naeva bisa melontarkan pertanyaan nakal seperti ini.
"Kenapa? Aku benar kan?" tanya Naeva lagi.
"Hm. Mungkin iya." jawab Laskar.
Naeva tersenyum. Gadis itu melihat angka yang menunjukkan lantai dimana mereka berada. Mereka sudah hampir sampai di basement.
"Memang iya, kau bilang kita harus berpura-pura berpacaran. Artinya aku harus berakting dengan baik. Aku memang bukan aktor sepertimu, tapi kemampuan aktingku tidak buruk." ujar Naeva sambil mengedipkan sebelah matanya. Tepat setelahnya pintu lift terbuka dan Naeva segera keluar dari lift lalu masuk ke dalam mobil.
"Apa itu tadi? Dia sedang berakting?" gumam Laskar sambil berjalan ke mobil.
"Kenapa aku merasa kesal?" batinnya bertanya-tanya.
"Hei! Kau tidak akan masuk ke mobil?" tanya Naeva yang melihat Laskar hanya berdiri di luar mobil.
"Cerewet!" sahut Laskar, kemudian laki-laki itu segera masuk ke mobil dan menjalankannya.
Begitu keluar dari gedung mereka melihat para wartawan yang berkerumun di depan gedung. Para wartawan itu tidak menyadari bahwa mobil yang baru saja keluar itu adalah mobil Laskar.
"Sebanyak itu?" tanya Naeva yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Naeva mencebikkan bibirnya. "Tidak lebih terkenal dari Zack." sahut Naeva.
Mendengar Naeva menyebut nama Zack, Laskar seketika menginjak pedal rem sehingga mobil berhenti mendadak.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Laskar.
"Kau tidak lebih terkenal dari Zack!" jawab Naeva mengulangi kalimatnya.
"Kau menyukai bedebah itu?" tanya Laskar.
"Jangan menyebutnya seperti itu! Jalankan saja mobilnya!" perintah Naeva.
Entah kenapa Laskar juga menurut disuruh Naeva. Di kepala laki-laki itu kembali berputar kata-kata kakak sepupunya yang mengatakan dia harus menyesuaikan dengan tipe ideal Naeva.
"Bagaimana tipe idealmu?" tanya Laskar.
"Tampan dan multitalenta seperti Zack, baik dan ramah seperti Manager Na, dan tegas seperti managernya Zack." jawab Naeva.
"Jadi maksudmu aku tidak setampan bedebah itu?" tanya Laskar terdengar kesal.
"Sudah kubilang jangan menyebutnya bedebah!" sahut Naeva.
"Baik baik!"
Setelah percakapan itu mereka saling diam hingga sampai di Kafe tempat Naeva bekerja. Setelah mengantarkan gadis itu ke tempat kerjanya Laskar pergi ke rumah Hansen karena rumah managernya itu tidak terlalu jauh dari Kafe ini.
"Kakak!" teriak Laskar memanggil managernya.
"Kau? Bagaimana kau bisa kemari?" tanya Hansen.
"Apa aku kurang tampan? Apa aku kurang baik dan ramah? Apa aku tidak tegas?" tanya Laskar berturut-turut.
Hansen mengerutkan keningnya. "Kau sehat?" tanya Hansen balik sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Laskar.
Disisi lain Naeva segera mencari Robin di dapur Kafe.
"Robin!" panggil Naeva.
"Oh, kau sudah sadar dari mabuk?" tanya Robin.
"Hehe, maaf jika saat mabuk aku merepotkanmu." ucap Naeva sambil cengengesan.
"Tidak, kau dan Ruby membuatku hampir beku." jawab Robin dengan senyuman tertekan.
Naeva tertawa, kemudian gadis itu memakai celemek dan mulai mencuci gelas-gelas yang menumpuk.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa keluar rumah setelah berita itu keluar?" tanya Robin.
"Bagaimana kau tahu yang diberita itu aku?" tanya Naeva balik dengan suara berbisik.
"Lihat sekilas saja aku tahu kalau itu kau." jawab Robin.
"Ahh, benar juga. Pesonaku terlalu mudah untuk dikenali." ucap Naeva dengan bangganya.
Robin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naeva. "Jadi kau benar-benar berpacaran dengan laki-laki itu?" tanya Robin.
"Em... tidak. Kami hanya berpura-pura berpacaran di depan media." jawab Naeva berbisik tepat di telinga Robin. "Dan akan menjadi sungguh-sungguh sebentar lagi." sambungnya di dalam batin.
...***...
...Bersambung......