
Zidan atau yang sering disebut dengan Zey, teringat dengan sosok gadis yang berada diruangannya, dia teringat bahwa semalam dia sempat menabrak gadis ini disebuah Mall.
"Gadis ini kan yang semalam menabrak saya" batin Zey yang mengingat bahwa gadis itu adalah gadis yang semalam dia jumpai di Mall.
Zey terheran mengapa gadis ini berada didalam ruang kerja nya, dan siapa yang telah mengizinkan dia masuk kedalam sini, bahkan belum ada satupun wanita yang berani memasuki ruangan nya terkecuali ada yang bersangkutan dengan nya, itupun terkadang Zey yang lebih memilih untuk keluar agar tidak satu ruangan dengan lawan jenis.
"Ada apa kamu memasuki ruangan saya?" tanya Zey yang kepada Jessie yang tengah menatap nya dengan kesungguhan.
Jessie tersadar dengan ucapan pria tersebut, dia merileks kan dirinya agar terlihat biasa saja dan mulai menjawab pria tersebut.
"Oh, tadi saya mencari ruang rawat, tapi malah masuk kemari hhhee" jawab Jessie asal.
"Kalai kau tidak ada keperluan lagi, silahkan keluar dari ruangan saya" kata Zey yang ingin Jessie segera keluar dari ruangannya.
Belum sempat Jessie menjawab tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Zey.
Tok Tok Tok.
"Dokter Zey" suara itu berasal dari balik pintu.
Ya, Zey sangat mengenal suara itu, itu adalah suara dari teman kerja nya, dia tidak mungkin menunjukan kepada teman nya kalau dirinya tengah berdua an dengan seorang gadis diruangan nya, apa lagi gadis ini tidak tau siapa? Zey sangat kelimpungan, dia benar benar bingung harus berbuat apa? sedangkan Jessie tengah santai melihat ekspresi pria tersebut yang begitu kebingungan dan cemas, Jessie menyandarkan tubuhnya dimeja kerja Zey dengan kedua tangan yang dilipat didadanya.
"Ketampanannya naik dengan drastis jika dia kebingungan seperti ini" batin Jessie yang tersenyum melihat tingkah Zey.
Spontan Jessie ditarik oleh Zey kedalam sebuah ruang ganti pribadinya yang hanya berbataskan satir (gordeng pembatas), Zey terlihat sangat panik, sedangkan Jessie tersenyum bahagia dengan agenda kali ini, dia tidak menyangka bahwa pria ini benar benar aneh, entahlah yang ada didalam pikiran Jessie hanya ingin mencuri perhatian pria itu.
"Zey, kau dimana?" tanya teman nya itu yang dirasa oleh Zey sudah memasuki ruang kerja nya.
"Saya sedang berganti" jawan Zey asal.
"Wah, saya masuk sekalian ye, mau ganti juga" kata nya.
Zey terbelalak memdengar pengakuan dari temannya itu, mana mungkin dia mengizinkan nya masuk, sedangkan disini dirinya tengah bersama seoranh gadis.
Jessie terus menatap wajah Zey yang baginya begitu lucu.
"Hahaha maafkan aku" batin Jessie yang begitu girang dengan adegan ini.
"Tidak bisa Rik, saya tengah telanjang, pergilah setelah ini saya akan menyusul" kata Zey yang mencari cari alasan.
Rik adalah teman Zey, yaa namanya adalah Erik, sikap Zey yang dingin dan tempramental sangat berbeda sekali dengan Erik yang bersikap usil dan care dengan siapa saja, namun keberuntungan rupawan tidak berpihak dengannya, Zey yang dingin memiliki wajah yang nyaris sempurna sedang Erik memiliki wajah yang standar, namun demikian Zey tidak pernah menggunakan ketampanannya hanya untuk hal hal yang tidak baik apa lagi mempermainkan seorang perempuan, Zey adalah Dokter tertampan dirumah sakit ini.
Mendengar perkataan teman nya, timbulah sikap usil dari Erik.
"Ayo lah Zey, saya ingin melihatnya" kata Erik yanh berniat menjahili Zey.
Satir ganti itu hanya berukuran 1 1/5m x 1m saja, jadi ukuran yang sangat kecil untuk mereka berdua, Jessie yang terpat berada didepannya pun bersikap seolah tidak ada apapa bahkan dia hanya tersenyum memandangi Zey dengan kedua tangannya dilipat didada, sesadangkan Zey setang sibuk menjaga satir itu agar tidak terbuka.
"Ayolah Zey, saya ingin melihatnya" kata Erik yang semakin menjadi.
"Keluarlah, jangan pernah kau bertidak aneh" Jawab Zey.
Erik yang semakin menjadi ingin menjahili Zey karna sikap Zey yang menurutnya aneh, dia bersi kekeh ingin membuka satir itu, berulang kali dia membuka satir itu namun Zey yang pantang menyerah tetap menutupnya, ya sepeti seseorang yang tengah bermain kucing kucingan hahaha seorang Dokter bisa juga bersikap layaknya anak kecil.
Jessie yang melihay adegan ini pun semakin dibuat tertawa namun Jessie memilih untuk menahan tawanya, hingga pada akhirnya Zey lah yang memenangkan.
"Baiklah saya akan pergi" kata Erik yang tengah menyerah dan akan keluar.
"Syukurlah" gumam Zey yang merasa lega.
Zey sangat mewanti wanti dengan gerak gerik Erik, dan dia dengar tidak ada suara apapun, Zey rasa Erik memang sudab pergi, akhirnya diapun melepaskan tangannya dari penjagaan satir itu dan tepat berdiri didepan Jessie, Jessie lagi lagi tersenyum melihat wajah pria tersebut, entah mengapa Jessie sangat ingin sekali tersenyum melihat nya berkali kali.
Tiba tiba..
"Baaaaaaaaaaaaaaaaa" Erik membuka satir, nyaris suara Erik semakin pelan karna dia melihat keberadaan Jessie disini.
Berniat ingin menjahili malah dirinya sendirilah yang terkena getahnya, Erik begitu malu dan terperangah dengan gadis yang bersama Zey.
"Sorry" kata Erik dan lalu lari terbirit berit menjauh dari Zey dan gadis itu.
Diluar Erik mengingat ingat kejadian tadi dan terus mengusap usap wajah nya.
"Gadis? siapa dia? mangapa dia berada diruangan Zey? apa dia pacar Zey? tidak Zey tidak memiliki pacar, lalu siapa dia?" gumam Erik yang masih terperangah dengan adegan yang baru saja dia alami.
Bagaimana tidak ini pertama kalinya dia melihat temanya Zey membawa seorang gadis diruangannya, dan entah siapa gadis itu.
"Tapi cantik juga gadis itu hahaha" gumam Erik.
Diruangan kerja Zey, Zey terlihat begitu malu dengan apa yang terjadi karna sebelumnya dia tidak pernah membawa gadis keruangannya apa lagi sampai berpacaran, sedangkan Jessie merasa sangat gembira bisa berdua an dengan sosok yang sering disebut Zey, Jessie memandangi wajah Zey dengan tersenyum semangat, terlihat jelas raut wajah Jessie yang berbinar binar yang menambah kecantikannya.
''Yaa tuhan sempurna sekali ciptaanmu ini'' batinJessie yang memandangi Zey.
Zey yang meilihat Jessie tangah asyik melamun, dia memutuskan untuk membuyarkan lamunan gadis tersebut.
''Maaf, bukannya saya mengusir anda, tapi alangkah baiknya kalau anda segera pergi dari ruangan saya'' kata Zey yang menginginkan gadis yang tidak dia kenal itu segera pergi.
Jessie yang medengarnyapun semakin terpesona dengan sosok Zey pria dingin yang terlihat begitu menjaga nama nya dengan baik, Jessie tersenyum kepada Zey naumunZey masih saja kaku dan tidak membalas sedikitpun senyuman Jessie bahakn Zey berkali kali membuang mukanya agar tidak terjun dalam kekeliruan,
Zey tipikal orang yang sangat pandai menjaga sikap apalagi hatinya, walaupun yang saat ini didepannya beriri seorang gadis yang begitu cantik bak seperti bidadari namun dirinya masih sanggup untuk mengontrolnya.