
Keesokan harinya. Naeva masih tidur. Gadis itu meringkuk di bawah selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Kriiiingg!!!! Alarm berbunyi nyaring.
"Emh... siala--" belum sempat gadis itu meneruskan kalimatnya pipinya seketika memerah mengingat kejadian semalam.
Naeva menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Laskar. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ada secarik kertas yang diletakkan di dekat alarm.
"Bajumu sudah aku siapkan. Kau mandi saja di kamar mandiku. Setelah itu kau segera makan." isi surat itu.
Naeva menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Emang dia bisa begini ya?" gumamnya. Gadis itu segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah memakai pakaian yang disiapkan oleh Laskar, Naeva pergi ke dapur untuk sarapan.
"Semalam itu benar-benar pengakuan cinta?" batinnya sambil meneguk air minum.
"Masa bodoh lah."
Setelah itu dia berjalan menuju kulkas untuk mengambil bahan makanan. Tapi dia menemukan secarik kertas lagi tertempel di pintu kulkas.
"Malam ini belum. Tapi tidak tahu dengan malam selanjutnya." tulisan di kertas itu.
"Dih! Dasar mesum!"
Naeva segera membuka kulkas. Tapi di dalam kulkas sama sekali tidak ada bahan makanan. Dia ingat betul membeli ayam beberapa hari yang lalu dan dia taruh di freezer. Tapi di dalam freezer hanya ada secarik kertas lagi.
"Nggak usah masak, lihat di meja makan." tulisan di kertas tersebut.
Naeva yang sejak tadi menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Akhirnya gadis itu tidak dapat menahannya. Senyum manis terlukis dibibir gadis itu.
Naeva segera memakan sarapan yang dibuatkan Laskar. Kemudian gadis itu berangkat ke tempat kerjanya. Sepanjang waktu Naeva terus tersenyum. Hal itu membuat Robin, teman kerja sekaligus teman kuliahnya itu terheran-heran.
"Kau sehat kan?" tanya Robin.
"Memang aku terlihat sakit?" tanya Naeva balik.
"Nggak sih." jawab Robin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nih, antarkan ke meja nomor 11!" perintah Naeva.
Robin hanya menurut. Sedangkan Naeva gadis itu lanjut membuatkan pesanan-pesanan pelanggan lainnya. Bibirnya tetap tersenyum mengingat perlakuan manis Laskar. Tapi itu tidak bertahan lama. Senyumnya luntur seketika ketika mendapatkan pesan dari Ruby.
"Kau belum bayar biaya semester?" isi pesan Ruby.
"Njr, bisa-bisanya aku melupakan hal ini." gumam Naeva.
Drrtt.. drrtt.. handphonenya berdering menunjukkan telepon dari Ruby. Naeva segera mengangkatnya.
"Di tagih ya?" tanya Naeva.
"He'em, Bu Sally tadi yang bilang kepadaku. Aku disuruh tanya kepada kau kapan kau akan bayar biaya semester." jawab Ruby.
"Haish.. ribet amat dah ah. Tapi gapapa deh. Lagian hari ini hari gajianku." ucap Naeva.
"Oke. Malam ini mau kumpul bertiga nggak? Ada yang mau aku katakan." ajak Ruby.
"Bertiga? Sama Robin?" tanya Naeva.
"Iyalah, siapa lagi."
"Oke, kau kirim lokasinya nanti. Yasudah aku mau bekerja." ucap Naeva.
Setelah itu dia langsung memutuskan panggilan teleponnya. Naeva terdiam sebentar. Uang gajiannya hanya sedikit. Bahkan itu tidak ada setengah dari biaya semester kuliahnya. Terbesit di pikirannya untuk minta uang kepada ayahnya. Tapi tetap saja dia gengsi, dan lagi ayahnya itu pasti menyuruhnya untuk pulang.
"Masa aku harus minta tolong Ruby lagi sih? Padahal waktu itu dia sudah meminjamkan uang padaku." gumam Naeva.
"Kenapa lagi nih? Tadi senyum-senyum terus. Sekarang tiba-tiba murung?" tanya Robin yang baru saja kembali.
"Oh, enggak. Gapapa. Ngomong-ngomong Ruby bilang mau ngajak kita kumpul bertiga. Ada yang mau dia katakan." ujar Naeva mengatakan kepada Robin apa yang dikatakan Ruby tadi.
"Dia hanya bilang begitu?" tanya Robin.
"Iya, memangnya dia mau bilang apa lagi?" tanya Naeva balik.
Robin hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian laki-laki itu kembali melayani para pelanggan yang memesan makanan dan minuman.
Ketika hendak pergi mencatat pesanan pelanggan, tiba-tiba handphonenya berdering kembali. Tapi kali ini bukan dari Ruby. Melainkan dari Laskar. Orang yang berhasil membuatnya tersenyum dari pagi. Gadis itu segera mengangkatnya.
"Kenapa?" tanya Naeva.
"Em... rindu? mungkin." jawab Laskar dibalik telepon disusul tawanya.
"Apa sih tiba-tiba gini?"
Pipi Naeva seketika memerah mendengar jawaban Laskar barusan bahwa laki-laki itu merindukan dirinya.
"Kau dimana? Sedang apa?" tanya Laskar.
"Di kafe. Mau nyatat pesanan pelanggan. " jawab Naeva.
Laskar diam sebentar. Hal itu membuat Naeva membuka suaranya kembali. "Kenapa diam saja? Kau sendiri sedang apa? Apa sudah selesai rekaman?" tanya Naeva.
"Hari ini aku tidak rekaman. Hari ini aku syuting MV. Dan sekarang sedang istirahat sebentar." jawab Laskar.
"Yasudah. Aku tutup ya, pelanggan ramai." ucap Naeva.
"Kau tidak ingin datang kemari?" tanya Laskar sebelum Naeva menutup teleponnya.
"Memang boleh?"
"Tentu saja. Datanglah jika sudah selesai bekerja." jawab Laskar.
"Baiklah, nanti aku kesana." ucap Naeva. Kemudian gadis itu segera menutup teleponnya.
Kita ke Laskar. Laki-laki itu memandangi layar handphonenya yang sudah gelap. Rasanya dia belum puas mendengar suara gadis kecilnya itu. Tapi dia tidak bisa memaksanya agar terus bertelepon dengan dirinya, karena dia tahu Naeva pasti juga sama sibuknya seperti dia.
"Laskar, waktu istirahat sudah selesai." kata Hansen.
"Ah baik."
"Tunggu, sebaiknya kau kontrol emosimu." ucap Hansen tiba-tiba.
Laskar menaikkan satu alisnya tanda bertanya apa maksud managernya tersebut.
"Di depan ada Zack." kata Hansen dengan wajah yang serius.
Mendengar nama Zack, tangan Laskar terkepal seketika. "Kenapa dia kemari?" tanya Laskar.
"Aku juga tidak tahu, dia hanya bilang ingin menemuimu." jawab Hansen. "Aku hanya mengingatkan kontrol emosimu. Jangan sampai syuting hari ini batal gara-gara kalian bertengkar." imbuhnya kemudian.
Laskar mengangguk mengerti. Sebisanya dia akan berusaha menahan emosinya. Tapi ya kalau emosinya meledak berarti Zack yang memancing emosinya.
Laskar bersama Hansen managernya keluar untuk menemui Zack. Ketika melihat kedatangan Laskar, Zack langsung tersenyum sinis.
"Hello kawan lama." sapa Zack dengan nada sinis.
Laskar hanya mengangguk. Laki-laki itu tidak ingin terpancing emosi hanya gara-gara menanggapi mantan sahabatnya itu.
"Kudengar kau punya pacar? Kau tidak ingin mengenalkannya padaku?" tanya Zack sengaja memancing amarah Laskar.
Dan benar saja. Laskar hampir terpancing. Laki-laki itu sudah menatap tajam Zack dengan tangan yang terkepal erat siap melayangkan pukulan.
Zack berjalan mendekat ke arah Laskar. Kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Laskar. "Kau kira aku tidak tahu bahwa kalian hanya berpura-pura pacaran? Tunggu hingga aku menyerahkan bukti itu ke media. Dan kau aka di cap sebagai penipu." bisik Zack.
Laskar langsung menoleh ke arah Zack. Tatapan mereka beradu sengit. Mendengar apa yang dikatakan Zack, Laskar langsung terpikirkan sesuatu.
"Lihat apa yang akan aku lakukan padamu jika kau berani menyentuhnya!" ancam Laskar dengan berbisik juga.
Zack menjauhkan wajahnya dari telinga Laskar lalu tersenyum mengejek.
Sedangkan Laskar segera kembali masuk ke ruang istirahatnya. Bahkan laki-laki itu sama sekali tidak menghiraukan sutradara dan Hansen yang memanggil dirinya berkali-kali.
...***...
...Bersambung......