Love Trap

Love Trap
7.7



Pagi hari, Jessie baru saja bangun dari tidurnya, wajahnya yang begitu cantik saat baru terbangun, tidak mengurangi kecantikan dari dirinya, Jessie bersiap siap untuk segera ke kamar mandi, baru saja Jessie melangkah beberapa langkah saja Jessie mendapati Hp nya berbunyi, yang bernadakan panggilan masuk, Jessie menghampiri Hp nya dan melihat tertera nama Agnez dari layar ponsel, Jessie segera mengangkat pangiilan itu.


"Hallo, gimana bep" jawab Jessie yang telah mengangkat panggilan telpon dari Agnez.


"Gue minta tolong ya Jess, tolong lu kerumah gue, ambilin pakaian ganti gue sama mama, lu hari ini nggak ada jam kampus kan! bisa kan Jess!" kata Agnez dari balik panggilan.


"Bentar bentar, lu emang dimana?" tanya Jessie yang kebingungan dengan perkataan sahabatnya itu.


"Gue dirumah sakit Mithra Bangsa Jez, lu cepet kesini ya, gue tunggu!" kata Agnez lalu mematikan panggilannya.


Jessie yang dengan cepat langsung bersiap siap untuk segera rumah sakit.


Diperjalanan memasuki rumah sakit, Jessie berjalan dengan sedikit terburu buru membawa pesanan yang diminta oleh sahabatnya, Jessie sudah menganggap keluarga Agnez seperti saudarnya sendiri, jadi keluarga Agnez juga menyayangi Jessie seperti keluarganya.


Jessie berjalan menuju kasir, disana Jessie bertanyakan ruangan yang telah diberitahukan oleh Agnez, di kasir terdapat 2 suster yang berjaga disana.


"Maaf Sus, ruangan rawat no 45 dimana ya?" tanya Jessie kepada suster itu.


"Arah sana mbak, mbak silahkan berjalan lurus kesana setelah itu mbak belok kiri, nah disitu" Penjelasan susuter sembari menunjukan kearah yang dimaksudkan nya.


"Terima kasih ya Sus" kata Jessie dan langsung berjalan kearah yang telah diberitahukan oleh suster tersebut.


Jessie berjalan kearah ruangan rawat mama Agnez dengan sedikit terburu buru, betapa terkejutnya Jessie melihat seseorang yang telah mencuri perhatiannya tadi malam juga berada dalam satu rumah sakit bersamanya, berasa seperti keberuntungan berpihak kepada Jessie.


"Astaga! ternyata dia seorang Dokter" batin Jessie yang melihat pria itu mengenakan pakaian dokter.


Pria itu berjalan bersama satu teman dokternya, nampak sangat serius selaki dia berbicara dengan temannya, hingga tepat bersisipan dengan Jessie, mata Jessie begitu sulit untuk berkedip dan mulutnya begitu kaku untuk berbicara layak nya seperti patung sementara.


"Kita harus secepatnya melakukan tindakan oprasi terhadap pasien itu" kata pria itu yang terlihat begitu serius dan arogan.


Mata Jessie betul betul mengekori jalan nya pria itu hingga peria itu sedikit menjauh, Jessie yang begitu penasaran dengan pria itu dia memutuskan untuk mengikuti pria itu tampa kesadarannya, ya Jessie benar benar sudah di curi perhatian nya terhadap pria misterius itu.


Pria itu memasuki sebuah kantor para dokter sedangkan teman yang tadi bersamanya terus berjalan kearah yang berbeda dengan pria itu.


"Astaga! ternyata dia dokter sekaligus manager rumah sakit" gumam Jessie.


"Siapa nama laki laki itu, mengapa aku begitu kesulitan melihat namanya" gumam Jessie yang masih mencari cari nama Dokter tersebut.


"Maaf mbak ada yang bisa saya bantu" kata suster yang memergoki Jessie yang tengah asyik mencari nama dokter tersebut.


"Oh iya sus, dokter yang memiliki ruangan ini siapa ya namanya?" tanya Jessie yang begitu ingin tahu siapa nama dokter sebut.


"Dia Dokter Zidan, biasa dipanggil dokter Zey, Dokter Zey adalah dokter bedah dia juga masih muda" suster itu memberitahu.


"Trima kasih ya sus, saya permisi dulu ya" kata Jessie yang ingin segera mengantarkan pesanan Agnez.


"Iya Mbak" jawab Suster itu.


"Agnez" panggilan Jessie.


Agnez segera memeluk Jessie, dipelukan Jessie Agnez menangis sejadi jadinya.


"Lu kenapa? nyokap lu!" tanya Jessie.


"Mama Jes, mama" kata Agnez yang tengah menangis.


Jessie melepaskan pelukan Agnez dan memegang kedua pundak Agnez.


"Lu tenang ya Nesa ada gue, sekarang lu duduk dulu ya, baru lu cerita sama gue" kata Jessie yang ingin berusaha menenangkan sahabatnya.


Mereka duduk disebuah kursi tunggu tepat didepan ruang mama Agnez dirawat.


"Lu tarik napas pelan pelan ya terus kamu hembuskan" kata Jessie yang mengarahkan agar Agnez lebih tenang.


Agnez mengikuti intruksi dari Jessie, setelah itu Agnez mencoba bercerita apa yang terjadi dengan nya.


"Semalem papa dateng kerumah, bawa selingkuhan nya Jes, mama syok dan stress dengan apa yang dilakukan papa yang semakin lama semakin menjadi, karna mama ingin mempertahankan rumah tangganya, mama mencoba membela dirinya tapi papa malah mendorong mama hingga mama jatuh dan terbentur meja hik hik hik hik hik" penjelasan Agnez yang masih terus saja menangis, Agnez menangis histeris menyaksikan perlakuan papa nya yang mempermainkan keluarganya.


"Sabar ya Nesa, ada gue yang bakalan bantuin lu, dan siap jadi temen curhat lu, sekarng lu hapus air mata lu, dan lu mandi setelah itu lu urusin mama lu ya, gue yakin lu pasti kuat kok" kata Jessie yang berusaha menenangkan mama nya.


"Makasih ya Jes, lu nggak mau masuk dulu" kata Agnez yang sudah menghapus air matanya.


Sebisa mungkin Agnez harus terlihat tegar dan baik baik saja didepan mama nya karna dia tidak mau melihat mamanya bersedih mendapati dirinya bersedih.


"Gue nanti ya Nesa, gue mau pergi bentar ada urusan, salam buat mama lu," jawab Jessie.


"Ya udah gue duluan ya, makasih pakaian nya" kata Agnez yang telah membawa titipan nya kepada Jessie memasuki ruangan mama nya.


Jessie tersenyum dan Agnez membalas senyuman Jessie, setelah Agnez memasuki ruangan mamanya, Jessie bergegas berjalan ruangan Dokter tadi, Jessie sudah berhenti tepat didepan ruangan dokter tersebut, beberpa kali Jessie menoleh kekanan dan kekiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya, setelah itu dengan secepat kilat dan sangat perlahan Jessie memasuki ruangan itu, namun setelah masuk kedalam betapa pupus harapannya, dia tidak menjumpai pria itu disini.


"Kemana dia?" batin Jessie yang berapa kali menoleh noleh dan tidak menemukan sosok yang dicarinya.


Jessie melihat beberpa foto diatas meja dan plang nama dari pria itu.


"Dokter Zidan Rifqi al-Faruq, nama yang indah" kata Jessie yang membaca plang nama yang tepat diatas meja itu, yang dia rasa itu adalah meja dari pria yang dia cari.


Tiba tiba.


"Siapa kamu? ngapain kamu diruangan saya" kata seorang pria yang entah dari mana asalnya.


Jessie yang tepat membelakangi pria itupun spontan langsung menghadap kepada pria itu.


"Ya tuhan, betapa sempurnanya dia! wajahnya yang begitu tampan dan sikap nya yang sangat jauh dari pria kebanyakan, betapa beruntungnya gue menjumpainya" batin Jessie yang menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan, Jessie begitu mengagumi pria misteris ini, pria yang sangat berbeda dan menurutnya hanya 1000 dari 1 pria yang seprtinya.