
Jessie menghampiri Agnez yang sedang asyik menikmati secangkir kopinya dan sangat kebetulam posisi Agnez membelakangi Jessie.
"Derrrrrrr" Jessie mengejutkan Agnez.
"Eh copot" latah Agnez yang terkejut karna tingkah Jessie.
"Hahaha apa nya yang copot mbak" Jessie tertawa telah berhasil membuat Agnez terkejut.
"Ah lu mah Jes, untung kopi gue nggak tumpah" kata Agnez.
"Maaf, Btw lu dah dari tadi kesini?" tanya Jessie.
Jessie langsung mengambil tempat duduk yang tepat dihadapan Agnez.
"Belum juga sih, gimana dinner lu sama Bimo" tanya Agnez.
"Ih tau nggak sih Nesa, menurut gue Bimo tu berlebihan banget, masak dia tu sampek bela belain booking tempat, terus dia ngasih gue cincin buat jadi pacarnya" penjelasan Jessie.
Nesa siapa ya? Nesa adala panggilan dari nama Agnez yaitu Agneza, ya Jessie lebih sering memanggil Agnez dengan sebutan Nesa.
"Hahaha gila tu Bimo, nyalinya gede juga, terus gimana gimana, lu mau?" tanya Agnez yang begitu kepo.
"Ih apa an sih lo Nesa, lu pasti tau lah jawabannya" kata Jessie.
"Hahaha udah berapa kali lu Jes nolak Bimo, apa lu ngak kasihan sama Bimo lu tolak terus?" tanya Agnez.
"Seharusnya gue yang nanya ke lu kuprett, emang lu nggak kasian sama gue kalau gue sampek nerima Bimo buaya darat itu" kata Jessie.
"Ya kasian" kata Agnez.
"Gue pesen minum dulu ya" kata Jessie yang ingin memesan minuman.
"Ok" jawab Agnez.
"Mbak" panggilan Jessie kesalah satu pelayan.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya pelayan yang sudah berada di depan Jessie.
"Saya pesen juz Alpukat" kata Jessie.
"Baik mbak" jawab pelayan itu lalu pergi mengambilkan pesanan Jessie.
Tiba tiba..
Ponsel Agnez berbunyi, Agnez mengangkat panggilan telpon itu.
"Hallo bik, Ada apa?" kata Agnez.
Jessie menyimak pembicaraan Agnez dari telpon, yang dia kira itu adalah pembantu dirumah Agnez.
"Apa? ya udah bik saya pulang sekarang" kata Agnez.
"Jes, gue pulang duluan ya, lu mau ikut gue apa disini" kata Agnez kepada Jessie.
Belum sempat Jessie menjawab, pesanan Jessie sudah datang.
"Ini mbak" kata pelayan itu.
"Gue ikut lu" kata Jessie yang ingin menemani sahabatnya.
Jessie menyodorkan uang dari tasnya untuk membayar minuman yang dipesannya itu.
"Ayok Jess" kata Agnez yang sudah tidak sabar untuk segera pulang.
"Kembalianya ambil aja mbak" kata Jessie yang tergesah gesah.
Sedangkan mereka berdua langsung bergegas secepat mungkin untuk segera kerumah Agnez, Agnez dan Jessie memasuki mobil Agnez, selama diperjalanan Agnez memgendari mobil dengan sangat kencang.
"Gak bisa Jes, kita harus cepat sampak rumah gue" jawab Agnez.
"Apa yang terjadi Nesa, Apa orang tua lu berantem lagi" kata Jessie.
Ya, Jessie sangat paham permasalahan keluarga sahabatnya itu, Orang tua Agnez sering kali bertengkar, padahal mereka sudah tercukupi semua kebutuhan ekonomi hanya saja hubungan mereka kurang harmonis, karna Papa Agnez sering kali berselingkuh dan membuang buang uang untuk silih berganti selingkuhan.
"Iya, Papa gue ketahuan selingkuh lagi Jess, kasian Mama, mama terlalu sabar menghadapi papa yang begitu keras dan kasar" kata Agnez sembari menitihkan air matanya.
"Nesa gue yang ngemudi ya" kata Jessie yang ketakuan berada didalam satu mobil dengan sahabatnya yang mengendarai nya dengan ugal ugalan dan kecepatan diatas rata rata.
"Gue bisa kok Jes" jawab Agnez dengan berkali kali menghapus air matanya.
Jessie sangat paham sekali dengan apa yang dirasakan oleh Agnez, Agnez sering kali menjumpai pertengkaran orang tuanya karna kelakuan bejat dari papa nya, Agnez anak satu satunya dari orang tuanya, wajah cemas, khawatir dan sedih sedang menyelimuti nya, nampak begitu muram wajah Agnez malam ini.
"Semoga lu selalu kuat Nesa" batin Jessie.
Tak lama kemudian kami pun telah sam sampai di pekarangan rumah Agnez, kami pun langsung menuruni mobil dan segera masuk kedalam rumah, di luar saja kami telah mendengar suara berisik dari dalam, yang Jessie rasa itu adalah orang tua Agnez.
Kami berlari untuk memasuki rumah itu, nampak saja orang tua Agnez tengah beradu mulut dengan posisi berhadapan.
"Mama papa cukup" teriakan Agnez begitu keras.
Spontan orang tua Agnez menoleh kepada kamu, Agnez memeluk mama nya yang tengah menangis itu, sedangkan Jessie mengekori Agnez dari belakang.
"Papa apa nggak capek sih buat mama manenagis, buat mama sakit batin, mama kecewa sama kelakuan papa, Papa apa belum puas nyakitin mama terus, apa kurang nya mama pah?" kata Agnez kepada Papanya.
"Kamu itu masih kecil, nggak perlu ikut capur urusan orang dewasa" kata Papa nya kepada Agnez.
"Agnez udah dewasa pah, Apa oranh dewasa menyelesaikan masalah dengan begini! sadar pah sadar! apa yang papa lakuin itu salah, Papa menyakiti mama secara tidak langsung papa juga menyakiti Agnez" kata Agnez lagi.
"Kamu itu nggak tau apa apa, Papa hanya sekedar mencari hiburan, dan mama mu itu yang sudah berlebihan, teruskan saja membela mama mu yang jelas jalas sudah salah" kata Papa.
"Pa, Mama enggak salah, yang salah itu Papa!" kata Agnez yang membela mama nya.
Plakkkkkkk.....
Spontan satu tamparan mendarat di pipi Agnez, Agnez memegangi pipinya yang telah ditampar oleh Papanya, Agnez tersenyum kepada papanya.
"Mas cukup mas, nggak seharusnya mas kasar kepada Agnez" kata Mama yang tidak terima Agnez ditampar oleh suaminya.
"Karna mulutnya itu yang tidak sopan dan harus diberi pelajaran" kata Papa.
"Udah ma Agnez nggak apa apa kok" kata Agnez yang berkata pada Mama nya kalau dia baik baik saja.
"Ma kita masuk ya!" ajak Agnez kepada mama nya.
Agnez dan Mamanya mulai meninggalkan ruangan inj, sedangkan Papa Agnez mulai mengeluari rumah, belum sempat Om Lukman pergi Jessie menghentikan langkahnya, ya nama papa Agnez adalah Lukman.
"Tunggu om" panggilan Jessie kepada om lukman.
"Ada apa?" kata om lukman yang telah menghentikan langkahnya mendapati panggilan dari Jessie.
"Om, saya tau om orang yang baik, saya minta tolong sekali om, jangan pernah menyakitin perasaan tante hilda dan Agnez" kata Jessie yang meminta tolong.
Hilda adalah ibunda dari Agnez, Jessie cukup mengenal orang tua Agnez, karna dirinya sering sekali bermain kerumah Agnez terutara dengan ibunda Agnez.
"Saya bukan orang baik, jadi saya tidak perlu mengabulkan permintaan mu" kata Om Lukman.
"Tapi om masih punya perasaan kan, om kehidupan dunia itu tidaklah hakiki, om juga pasti memerlukan keluarga dan Jessie yakin om pasti menyayangi keluarga om" kata Jessie.
"Om harus pergi" kata Om Lukman yang tidak mau mendengarkan perkataan Jessie.
"Om" kata Jessie yang memanggil Om Lukman agar menghentikan langkahnya namun semua itu sia sia, Om Lukman tetap pergi membawa mobilnya.
Jessie sudah melakukan yang apapun sebisanya untuk keluarga Agnez tapi semua akan sia sia saja bila Papa Ahnez tetap bersih kerasa dltidak mau merubah sikapnya.