
"Selamat datang Dokter Zey" kata Jessie yang memyambut kedatangan Zey diruangnya.
Jessie duduk di kursi tempat dimana Zey bekerja, Jessie tersenyum dengan sangat manis didepan Zey dengan tatapan nya yang sangat sulit diartikan.
Sedangkan Zey terkejut mendapati sosok gadis itu yang berada didalam ruangannya dan duduk santai dikursi kerja nya, Zey mendekati Jessie hingga jarak mereka begitu dekat dan hanya terpisahkan oleh meja.
"Ngapain kamu disini?" tanya Zey.
"Saya hanya ingin menemanimu" kata Jessie yang kehilangan kendali
"Astaga Jessie mengapa kau berbica seperti ini, tenang Jessie tenang, kamu harus bisa mengendalikan jantung dan sikapmu didepan pria dingin ini" batin Jessie yang tengah sibuk mengendalikan dirinya.
"Sekarang kamu keluar dari ruangan saya, saya harus bekerja" kata Zey yang ingin Jessie keluar.
Jessie tidak menjawab perkataan Zey, melainkan dia mendekati Zey lebih dekat lagi, hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal saja.
"Jika kamu ingin bekerja, bekerjalah, saya hanya ingin menemanimu" bisik Jessie.
Setelah itu Jessie kembali duduk di kursi Zey, dengan melipatkan kedua tangan nya didada.
"Sebenarnya apa mitif kamu!" tanya Zey yang mulai menyadari aksi Jessie.
Jessie hanya tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah kepada Zey, terlihat jelas kalau Jessie tengah menggoda Zey, namun Zey yang memiliki sikap cuek dan dingin, dia sama sekali tidak menanggapi aksi Jessie.
"Tolong jawab saya, jika kamu sudah tidak memiliki kepenting saya minta tolong sama kamu keluar dari sini" kata Zey yang mulai kehabisan kesabaran.
"Tenanglah, saya pasti keluar dari sini, izinkan saya disini sebentar lagi" kata Jessie dengan santai nya.
"Ini sudah malam, seorang gadis tidak pantas keluyuran tengah malam begini" kata Zey yang mencari alasan agar Jessie segera keluar.
"Saya kemari karna ada urusan Dokter Zey" jawab Jessie dengan santainya.
Zey yang tidak mau menanggapi sikap Jessie, dia lebih memilih memgambil laptob nya yang dimeja dan dibawa nya ke sofa untuk menyelesaikan tugasnya dari pada harus beradu mulut dengan gadis yang menurut nya aneh.
Jessie mengamati Zey yang tengah sibuk mengotak atik laptob nya, Jessie ternyum entah mengapa hatinya sangat senang sekali mendapatkan adegan seperti ini.
"Tampan sekali dia, pantas saja jantung ini berdekup begitu kencang ternyata jantungku bisa merasakan bahwa dia sedang bersama pria yang sangat tampan, saya harus memilikinya, sikapnya yang jauh berbeda dari pria kebanyakan, Zey Zey" batin Jessie yang menyadari bahwa jantung nya sudah tidak bisa terkendalikan.
Tiba tiba..
"Aduhhhh.... Aaahhhhh" rintihan Jessie.
Seketika Zey langsung mendekati Jessie, Zey sangat khawatir dengan Jessie yang merintih kesakitan dengan memegangi bagian dadanya.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Zey yang panik dengan kondisi Jessie.
"Jantungkuhh" kata Jessie yang merintih kesakitan.
"Tunggu sebentar!" kata Zey.
Zey pergi kesebuah meja yang ada diruangannya, dia mengambil bebrapa alat untuk memeriksa Jessie, Zey mendekati Jessie dengan membawa Stetoskop untuk memeriksa Jessie.
"Maaf saya boleh memeriksamu?" Zey meminta izin untuk memeriksa Jessie.
Jessie hanya mengangguk dan terus memegangi dada nya, hingga Zey mulai memeriksa Jessie dengan alat Stetoskop, Zey mulai mendengar suara detak jantung Jessie, ya benar saja detak jantung Jessie mulai tidak terkondisikan, semakin lama dan semakin dekat dirinya dengan Zey jantung nya semakin memberontak hingga sulit untuk dikendalikan.
Tak berapa lama Zey sedikit menjauh dari Jessie dan melepas Stetoskop dari telingannya lalu diletakan dileher.
"Coba kamu singkronkan pernapasan mu, tarik perlahan dan keluarkan perlahan juga" kata Zey.
Jessie menatap Zey dengan tatapan yang sangat tajam, Jessie sangat tergila gila dengan sosok Zey yang sangat berbeda dengan pria kebanyakan
"Ya tuhan, izinkan hamba memiliki pria ini" batin Jessie yang berdoa agar Zey menjadi jodohnya.
Jessie tersenyum dan mempraktekan intruksi dari Zey, hingga beberapa kali.
"Bagimana? Sudah lebih enakan!" tanya Zey yang memastikan keadaan Jessie.
"Iya, trimakasih!" kata Jessie.
"Sebaikanya kamu segera pulang, ini sudah malam, kamu juga perlu bnyak istirahat agar jantungmu terkontrol" kata Zey yang menasehati Jessie.
"Salah satu alasan mengapa jantungku seperti ini karna berada didekatmu Zey" kata Jessie yang mengutarakan rasanya.
Spontan Zey langsung membalikan badannya, dan berpura pura tidak mendengar perkataan Jessie, Zey langsung mnjauh dan meletakan Stetoskop itu ditempat semula.
"Dokter Zey boleh saya meminta nomer telpon anda?" kata Jessie yang ingin memiliki nomer Zey agar mudah di hubungi.
"Untuk apa?" tanya Zey yang tidak mau melihat Jessie yang tengah menikmati duduk nya dikursi.
"Ya tentu saja untuk mengkonfirmasikan jantung saya jika suatu waktu jantung saya tidak memberontak" jwab Jessie asal dan langsung mendekati Zey yang sedang berdiri membelakanginya.
"Maaf saya tidak bisa, dan saya bukan Dokter jantung, saya dokter bedah" jawab Zey.
"Baaaaa" Jessie mengageti Zey dengan mendekatkan wajahnya kewajah Zey.
Spontan Zey langaung menjauh dari wajah Jessie.
"Begitu saja takut hhhehehe" kata Jessie yang berniat menggoda dokter Zey sedangkan dokter Zey tetap tidak merespon Jessie.
"Baiklah, saya akan pergi, tapi lain waktu saya akan kembali lagi, see you dokter Zey" kata Jessie yang melambaikan tangannya kepada Zey dan langsung keluar ruangan Zey.
Sedangkan Zey hanya terpaku mendengar perkataan Jessie tampa ingin melihatnya sedikitpun, Setelah didengarnya gadis itu telah keluar dari ruangannya Zey langsung mengecek nya dan benar saja gadis itu benar benar sudah keluar.
"Baguslah, akhirnya dia keluar juga" gumam Zey sembari mengelus dadanya.
*****
Ke esokan harinya, seperti yang telah dijadwal kan oleh Faris, Jessie harus meeting siang ini di Jogja, dan Faris pagi ini menjemputnya untuk segera berangkat pagi ini ke Bandara, Faris sudah siap dengan mobil nya dan pak Supir untuk menjemput Jessie dirumah, Sesampainya didepan rumah Jessie Faris langsung membunyikan Bel bertandakan dirinya bertamu.
Ting tung Ting tungg.
Bunyi bel itu.
Nampak ada seorang pelayan dirumah Jessie membuka kan pintu dan berkata.
"Cari siapa ya mas?" tanya pelayan itu.
"Saya cari Jessie dan pak Wijaya, adaa?" kata Faris yang tengah bertamu.
"Ada mas, silahkan masuk!" kata pelayan itu.
Setelah Faris dan pelayan itu masuk, pelayan itu berkata.
"Silah duduk mas, saya panggilkan bapak sama neng Jessie dulu" kata pelayan itu.
Ya, seisi rumah ini memanggil Jessie dengan sebutan Neng, karna dia adalah anak satu satunya pak Wijaya.
Tak butuh waktu lama, pak Wijaya dan Jessie datang, namun Pak Wiijaya terlebih dahulu lah yang datang.
"Selamat datang Faris, How are you?" tanya pak Wijaya.
"Sehat pak" jawab Faris dengan tersenyum.
"Bagaimana kerja kamu kemarin, sulit tidak membina anak saya?" kata Pak Wijaya yang duduk tepat disebelah Faris.
"Tidak pak, anak bapak sangat cerdas dan berbakat dalam bidang perbisnisan, dengan cepat nona Jessie memahami nya" jawab Faris dengan tersenyum.
"Baguslah, jadi kalau begini om tidak menghawatirkan masalah tersebut" jawab nya.
Tak lama kemudian Jessie datang dan sekilas mendengar pembicaraan mereka.
"Cie ada yang lagi ngomongin Jessie nih" kata Jessie yang sudah siap.
Jessie terlihat sangat rapih dengan bajunya yang berwarna abu abu dan bercampur hitam, dengan model dress, Jessie terlihat sangat anggun dan cantik menggunakan dress tersebut dengan ikat rambut pendek dibelakang.
"Perfect sekali" batin Faris yang melihat Jessie yang terlihat begitu sempurna.
"Hahaha Papa hanya bertanya dengan nak Faris tentang kerja kamu nak!" kata papa yang tertawa menlihat putrinya datang.
"Oh iya, Ayok berangkat!" kata Jessie yang mengajak Faris segera berangkat ke Jogja.
"Hati hati ya, Papa doakan semoga sukses" kata papa menyemangati kami.
"Oh iya pa salam ya buat mama" kata Jessie.
Kami pun bersalaman dengan papa begitu juga dengan Faris mengikuti aksi Jessie.