
Keesokan harinya, hari terasa lebih panjang daripada biasanya bagi Naeva. Dari pukul tujuh sampai pukul sembilan pagi dia pergi kuliah bersama Ruby. Sepulang kuliah dia pergi ke kafe untuk bekerja. Tapi secara mendadak dia ditugaskan untuk menggantikan kurir kafe tersebut mengantarkan pesanan pelanggan karena kurir kafe tersebut sedang sakit.
Dia bekerja hingga malam hari. Sekarang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan seharusnya jam kerjanya sudah selesai sejak satu jam yang lalu.
"Baiklah, ini pesanan terakhir." ucap Naeva.
Gadis itu memencet bel rumah megah didepannya. Selama beberapa saat dia menunggu pemilik rumah membukakan rumah, Naeva mengamati rumah yang ada di depannya itu.
"Sepertinya aku mengenali rumah ini? Tapi rumah siapa ya?" gumam Naeva bertanya-tanya.
Tidak beberapa lama kemudian sang pemilik rumah membukakan pintunya. Dan betapa terkejutnya Naeva, karena pemilik rumah tersebut adalah aktor yang menjadi idolanya. Yap, pemilik rumah itu adalah Zack Afriando.
"I-ini pesanan anda." kata Naeva sambil menyerahkan pesanan yang ia antar.
"Terimakasih..?" ucap Zack, laki-laki itu sedikit heran dengan Naeva yang tiba-tiba mematung. "Nona baik-baik saja?" tanya Zack.
"Ah. Iya! Saya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi." pamit Naeva.
Zack terus memperhatikan Naeva, dia merasa tidak asing dengan gadis di depannya itu. Sesaat sebelum Naeva naik motornya, Zack langsung memanggilnya setelah menyadari siapa gadis itu.
"Nona! Bisa bantu saya sebentar?" tanya Zack.
"Ya?"
Disisi lain Laskar di kamarnya sedang menyelesaikan salah satu lagu di album barunya yang akan di keluarkan kira-kira bulan depan. Memang dia mendapatkan libur, tapi disaat sendiri seperti ini dia merasakan bosan. Makanya dia menggunakan waktunya untuk menyelesaikan lagunya.
Alunan piano yang di mainkan Laskar sungguh merdu. Nada-nadanya lembut, dan nyaman didengarkan. Sesekali laki-laki itu berhenti memainkan pianonya dan menulis nada yang dia dapatkan.
"Tidak, ini salah..." gumam Laskar sambil mencoret lagu yang baru saja dia tulis.
Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya. Penthouse masih sepi, artinya Naeva belum pulang. Laskar melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Rasa khawatir mulai dia rasakan.
"Kemana gadis itu?" batinnya.
Kita kembali ke Naeva dan Zack. Rupanya Zack meminta bantuan Naeva untuk memperbaiki sistem laptopnya yang error'. Sebenarnya Zack bisa memperbaikinya sendiri, tapi dia ingin menahan Naeva lebih lama disana.
"Untung aku kuliah jurusan IT." batin Naeva setelah selesai memperbaiki laptop Zack.
"Woah, kau benar-benar bisa. Terimakasih banyak." ucap Zack dengan antusias.
Naeva mengangguk sambil tersenyum. "Tapi... aku tidak sengaja melihat beberapa file comeback drama barumu nanti? Apa... tidak apa-apa?" tanya Naeva.
Zack diam sebentar. Laki-laki itu memperhatikan tatapan Naeva kepadanya, sesaat kemudian dia tersenyum miring karena menyadari bahwa sosok gadis yang menjadi pacar Laskar ini mengidolakan dirinya.
"Tidak apa-apa. Lagipula kau tidak akan membocorkannya kepada Zack's mine yang lain bukan?" tanya Zack dengan senyum manis dibibirnya.
Untuk sesaat Naeva dibuat lupa dengan pesona seorang Laskar yang mampu membuatnya jatuh cinta karena berada didepan idolanya. Gadis itu terpaku melihat senyum seorang Zack.
"Tentu."
"Aku juga seorang Zack's mine. Bisakah aku meminta tanda tanganmu?" tanya Naeva ragu-ragu.
Zack tertawa. Tapi di dalam hatinya dia memiliki niat terselubung. "Baiklah, dimana aku harus memberikan tanda tangan?" tanya Zack dengan ramah.
Naeva segera mengeluarkan buku dan pulpennya agar Zack bisa menandatanganinya disana. Setelah mendapatkan tanda tangan Zack, gadis itu pamit pulang.
Sesudah Naeva pergi, senyum manis yang ada di bibirnya Zack seketika menghilang. Berubah menjadi tatapan dingin yang menyeramkan. Laki-laki itu mengambil handphonenya dan melihat rekaman video di handphonenya tersebut.
"Dengan ini aku akan mengetahui semuanya." ucap Zack.
Ternyata laki-laki itu memasang penyadap suara di dalam tas Naeva ketika Naeva sibuk memperbaiki laptopnya. Dia penasaran dengan hubungan Naeva dan Laskar yang sebenarnya. Dia tidak percaya jika mereka benar-benar berpacaran, karena setahunya selama ini Laskar tidak pernah berpacaran. Bahkan skandal asmara yang muncul selalu dibantah terang-terangan oleh Laskar.
Di depan rumah Zack. Naeva jingkrak-jingkrak kegirangan. Gadis itu tidak menyangka akan bertemu idolanya dengan cara seperti ini, bahkan idolanya itu meminta bantuannya.
"Ahh beruntung banget aku hari ini!" ucapnya.
"Kalau begini terus, aku tidak keberatan jam kerjaku bertambah" imbuhnya lagi disusul tawanya.
Ketika hendak naik motornya. Tiba-tiba handphonenya berdering. Melihat nama berandal yang tertera di layar handphonenya mata gadis itu langsung berbinar, dia segera mengangkatnya.
Baru saja dia mengangkat telepon, Laskar langsung menyerangnya dengan pertanyaan berturut-turut.
"Kemana saja kau jam segini belum pulang? Kau mau diculik pria tua itu lagi? Atau kau kembali kerumahmu karena tidak mau berpura-pura pacaran denganku??" tanya Laskar dibalik teleponnya.
"Diamlah, aku sedang bekerja. Dan ingat baik-baik. Sekalipun aku pergi dari rumahmu, aku tidak akan pulang ke rumah!" jawab Naeva kesal.
"Kerja apa jam segini belum selesai?! Cepat pulang!" perintah Laskar.
"Iya-iya cerewet!" sahut Naeva kemudian gadis itu langsung mematikan teleponnya.
Berbeda dengan saat telepon tadi yang nada bicaranya terkesan cuek. Setelah telepon dimatikan, Naeva kembali jingkrak-jingkrak karena salah tingkah.
"Serius? Dia tadi khawatir kan???" gumamnya. "Ahh tidak, jangan gila dulu Naeva. Kau harus kembali ke kafe mengembalikan motor ini kemudian pulang agar laki-laki cerewet itu tidak khawatir." ucapnya kemudian, setelah itu dia segera menjalankan motornya.
Di dalam rumah Zack mengerutkan keningnya karena penasaran.
"Telepon dengan siapa dia barusan?" gumam Zack bertanya-tanya.
"Apa itu Laskar?
...***...
...Bersambung......