Love Kills

Love Kills
Bab 8



Tepat sebelum matahari tenggelam, Chara menatap lagi catatannya. Ia bersandar pada halte bus yang berada di sebelahnya. Halte bus yang baru saja diceritakan Ernest. Ernest dan ayahnya sudah kembali pulang, dan Chara memutuskan untuk tinggal disana. Chara melihat lagi palang tanda bus berhenti yang berdiri di sebelahnya. Menurut Ernest, tinggi Paman Kattie tepat berada di bawah tulisan STOP. Kurang lebih satu kepala di atas


Chara.


Chara duduk di halte, membuka catatannya.


Tinggi terduga sekitar…. 170-175 cm, berbadan agak gemuk dengan rambut keriting yang membotak, dengan tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Mexico, pantai.


Chara menekan earsetnya dan menghubungi Mr. West.


“Halo, dengan Jane West.”


“Oh, hai Jane! Kemana Sir West?” Chara mengernyit, ia yakin nomor yang ia taruh di earsetnya adalah nomor kantor Mr. West dan bukan sekertaris—sekaligus adiknya—Mr. West.


“Hai Charlexa, Andrew sedang ada meeting, mungkin setengah jam lagi selesai. Ada yang bisa aku bantu?”


“Oh ya, aku perlu bantuanmu. Ini akan sedikit merepotkan tapi aku yakin hanya kau yang bisa lakukan. Tolong bantu aku lacak pembelian tiket pesawat atau transportasi darat yang menuju ke Mexico dari sini, dua atau tiga hari yang lalu. Kau juga bisa lacak dari pembelian akomodasi di salah satu pantai di Mexico. Satu laki-laki dengan empat orang anak. Salah satunya bernama Kattie Wilson, tapi ya sedikit banyak di titik ini aku yakin namanya akan di palsukan.”


“Segera. Kau ada di mana sekarang?”


“Aku ada di depan sekolah Kattie. Kenapa?”


“Kembalilah dulu ke kantor. Ini akan makan waktu.”


Sesampainya ia di kantor, Jane sudah menyediakan setumpuk file berisi foto yang perlu Chara perhatikan wajah-wajahnya dan seolah-olah memang belum waktunya untuk ia beristirahat, Chara kembali memicing ke arah layar dengan sepenuh hati untuk menemukan wajah Katie Wilson.


“Bukan.”


Mata Chara mengikuti foto-foto yang terus di sodorkan Jane padanya dari tablet berdesain sama yang biasa Chara gunakan untuk menerima tugasnya. Jemari Jane menyapu layar dan foto itu kembali berganti.


“Bukan.”


Telepon di meja Jane tiba-tiba berdering, mengagetkan mereka berdua dan Jane dengan cepat mengangkatnya.


“Jane West, ada yang bisa dibantu?”


Chara hanya bisa menunggu punggung Jane berbalik ke arahnya dan tidak lama Jane menoleh, dengan senyum yang lebar.


“Kita menemukan Kattie Wilson.” Katanya dengan senang. Chara menghela napas lega. Jane menutup teleponnya dan langsung mengetik di komputernya.


“Salah satu rekan kita yang berada di airport melaporkan bahwa ia baru saja melihat Kattie melakukan penerbangan ke Mexico. Tapi sayangnya mereka sudah hampir sampai.”


Chara dengan cepat membereskan barang-barangnya.


“Tidak masalah. Ke mana?”


“Rocky Point.”


Chara menyeringai. Tentu saja, salah satu spot ramai saat liburan di Mexico. Chara langsung berdiri dan mengambil


jaketnya yang ia sampirkan di belakang sofa.


“Aku akan mengatur transporasinya. Kau ambillah barang-barangmu di rumah, transportasinya akan siap dalam satu jam. Oh dan ini.”


Chara menoleh ke arah Jane yang menyodorkan sebuah buku tebal ke arah Chara dan Chara mengambilnya.


“Apa ini?”


“Beberapa kasus yang melibatkan banyak anak-anak dalam satu keluarga. Aku harap ini bisa membantumu.”


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


@ Rocky Point, Mexico.


Mobil sedan yang membawa Chara ke tujuannya berhenti di depan lobby sebuah bangunan mewah. Matahari di luar terik, dan dengan melihat dari dalam mobil yang dingin saja Chara bisa merasakan panasnya udara di luar.


Setelah mobil itu berhenti, pintu yang berada tepat di sebelah Chara dibuka.


“Miss Saito?” Sapa lelaki berbaju formal yang berdiri di luar. Chara hanya tersenyum dan turun dari mobil itu.


“Miss Jones sudah menunggu Anda di pesisir pantai dekat bar.” Pria itu mengecilkan volume suaranya. “Barang-barang Anda biar kami yang bawa masuk. Kunci kamar Anda sudah berada dengan Miss Jones.”


“Terimakasih.” Chara tersenyum dan memasang kacamata hitamnya. Matanya yang tadi memicing kini bisa melihat dengan lebih jelas. Angin panas pantai menyapu kulitnya. Chara melirik ke arah kaca mobil untuk memperhatikan baju berkerah putih yang ia pakai dengan celana high-waist jeans hitam. Bikini putihnya mengintip dari balik bajunya yang tidak di kancing di bagian atas.


Chara meninggalkan lobby hotel dan berjalan ke arah bar yang ternyata tidak jauh dari dimana ia berhenti.


“Charlex!”


Chara menoleh dan di dekat bar seorang gadis sebayanya dengan rambut coklat kemerahannya yang pendek sebahu melambaikan tangan setinggi yang ia bisa ke arah Chara. Sontak senyum Chara mengembang saat berbagai memori menyenangkan dengan gadis itu berkelebat di kepalanya dan Chara berlari ke arah gadis itu.


“Hei! Kita sekantor tapi kenapa rasanya sulit sekali bertemu denganmu?!” Jones, Stellaria Jones, memeluk rekannya itu erat-erat.


yang ia anggap saudarinya sendiri benar-benar menenangkan di saat-saat seperti ini.


“Iya, tapi ada saksi mata yang baru mengaku dan karena itu ia berhasil tertangkap saat mau memasuki Italia. Tapi


aku masih menyelidiki motifnya.” Chara melepas pelukannya dan menyisir rambutnya yang terjatuh di wajahnya dengan jemari.


“Kau gimana? Kudengar kau dipindahkan ke kasus spesialis pembunuh bayaran?” Stella menariknya untuk duduk di salah satu kursi dekat bar.


“Ha! Anggap saja begitu, tapi semuanya akan kita jalani pelan-pelan, kita perlu main aman. Jadi aku akan selalu menerima selingan tugas dari divisi lain. Kau sudah ada disini dari jam berapa? Sudah menyelidiki pantai ini?”


“Kurang lebih lima belas menit? Aku check in lalu langsung kemari.” Stellaria mengangkat bahunya. “Aku sempat


berjalan-jalan di area tepi pantai dan yang bisa kutemukan hanyalah segerombolan peselancar tampan.” Stellaria tersenyum-senyum.


“Klasik, Stellaria.” Chara memutar bola matanya dan berdiri. “Ayo temani aku ke kamar sebentar, lalu patroli. Kita


tidak bisa buang-buang waktu.” Gadis manis berambut coklat kemerahan itu mengangguk, dan berjalan bersama Chara ke hotel.


Stella tidak bisa berdiam diri di hotel lama-lama. Chara baru saja mau membuka kopernya untuk membereskan barang-barang, tapi Stella tidak kuat membayangkan pria peselancar yang tadi bertemu mata dengannya, dan tanpa pikir panjang, Stella meninggalkan Chara untuk jalan ke bar. Ia meninggalkan secarik kertas dan menempelnya di pintu kulkas sebelum ia meninggalkan suite room mereka. Karena ia tahu, kalau ia bilang secara langsung pada Chara, gadis itu pasti akan memintanya untuk menunggu sebentar, dan sebentar itu biasanya kurang lebih satu jam.


Stella langusng berjalan ke arah bar, mengharapkan banyak hiburan menunggunya di sana dan tentu saja Stella tidak butuh waktu lama sampai ia tertawa genit di hadapan bartender yang sedang membuatkannya minuman—yang juga kelihatan tertarik pada Stellaria yang manis dan eksotis. Siapa yang tidak jujur saja.


“Aku tidak percaya! Jadi kau benar-benar sudah jadi bartender semenjak kau SMP?” Stellaria bertopang dagu dengan genit.


“Ya, begitulah, tapi dulu hanya hobi,sekarang bartending jadi sesuatu yang aku tidak bisa tinggalkan.” Kata sang bartender, yang tak kalah genitnya sambil menyodorkan gelas minuman pesanan Stella. Stella menggigit bibirnya dan membisikan terima kasih, lalu meneguk sedikit minuman yang disodorkan bartender itu.


“Itu namanya passion, sayang. Aku selalu senang pada orang yang berani hidup berdasarkan passionnya” Stella


mengedikan bahu telanjangnya yang tidak tertutup bralette hitam yang ia pakai.


“Setuju. Riskan, tapi menurutku menyenangkan. Kau sendiri? Masih sekolah?” Bartender itu menengok ke kanan dan kirinya, memastikan tidak ada lagi pengunjung lain yang perlu pelayanannya.


“Yup. sebentar lagi lulus kok.” Stella menyesap minuman dinginnya lagi. Matanya tidak berhenti memandang bartender di depannya.


“Kelas tiga SMA?”


“Yup. Tiga SMA. Kenapa? Apa aku terlihat tua?” Stella mengerling.


Sang bartender dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil tertawa.


“Yang benar saja, aku awalnya mengira kau itu masih kelas satu SMA, anak SMA yang sedang liburan dengan keluarganya atau semacamnya.” Ia tertawa lagi. Stella ikut tertawa.


“Oh, jangan lebay.” Stella memutar bola matanya dan kembali minum.


“Hei, kau kucari-cari dari tadi!” Chara datang dan menepuk pundak Stella dengan cukup keras.


“Bukankah aku sudah tempel sticky note di pintu kulkas? Kau tidak lihat?” Stella mengernyit dan menarik Chara untuk duduk di sisinya.


“Yah, lebih tepatnya aku baru lihat. Aku kan tidak rajin buka kulkas seperti kau. Makanya aku kalang-kabut mencarimu kemana-mana.” Jawab Chara dengan dengusan kesal, lalu berbalik menghadap bartender yang masih berdiri di sana mendengarkan pembicaraan mereka.


“Sherry.” Kata Chara singkat pada si bartender. Ia dengan sigap langsung menumpahkan minuman yang diminta Chara pada gelas cocktail, dan menyodorkannya pada Chara, yang langsung meneguknya hingga tandas.


“Oh wow, ada yang haus, atau panik? Kenapa?” Stella menepuk-nepuk punggung Chara.


“Nocens ada di sini.” Chara berbisik sambil memain-mainkan gelasnya.


“Nocens?” Stella balas berbisik dan spontan menoleh ke sekelilingnya, otomatis merasa ada yang memperhatikan


mereka.


“Ya, Nocens yang sedang kuburu. Atau mungkin seharusnya kukatakan Nocens yang sedang memburuku.” Chara mendengus mencibir dan menyodorkan kembali gelasnya kepada sang bartender.


“Sherry lagi miss?” Tawar si bartender. Chara menggelengkan kepalanya kecil sambil mengangkat telapak tangannya.


“Tidak, tidak, tidak usah. Aku agak… sakit kepala.” Chara memijat keningnya.


“Apa yang terjadi?”Tanya Stella sambil mencondongkan badannya ke arah Chara, menariknya untuk memunggungi sang bartender yang berada terlalu dekat dengan mereka.


“Entahlah. Aku juga nggak begitu mengerti. Tadi aku berpapasan dengan seorang perempuan saat aku ke resepsionis untuk minta handuk. Rambutnya hitam, pendek. Tiba-tiba saja rasanya dunia berputar di sekitarku saat gadis itu sudah beberapa langkah di belakangku, dan aku tiba-tiba merasakan ada sentuhan di punggungku. Lalu aku mendengarnya mengatakan sesuatu... seperti..." Chara berhenti sebentar untuk mengingat-ingat.


"Katanya, malam ini aku akan kehilangan seorang teman. Jelas begitu dia bilang begitu aku ingat kau! Lalu dia bilang sesuatu seperti... entah, dia bilang bersenang-senanglah malam ini sebelum aku tidak bisa senang-senang lagi. Dia juga bilang aku harus lebih menjagamu karena dia ingin mencakar wajahmu." Chara bergidik, suara wanita itu seperti menggema di kepalanya.


“Maka itu aku langsung mati rasa saat tiba-tiba saja kau menghilang.” Chara menghela napasnya. Stella mendecakkan lidah.


“Ancaman kosong, tidak seperti biasanya kau tertipu oleh hal-hal kecil seperti itu, Charlexa.” Stella berbalik ke arah


si bartender untuk membayar minuman yang ia beli.


“Ayo kembali ke kamar, banyak yang perlu kita bicarakan.”