
“Well, ternyata kita selesai dengan cepat. Jadi kita sekarang boleh main, kan?” Stella meraih limunnya. Chara mengangguk. Setelah mereka pijat refleksi di hotel, dua gadis yang tadinya sibuk itu sekarang bersantai di kursi malas dengan bikini sambil berjemur.
“Ya, dong! Karena hotel sudah disewa untuk 4 hari jadi kita punya sisa 2 hari untuk istirahat dan main bebas disini.” Chara membetulkan kacamata hitamnya.
“Aku mau berenang sebentar. Ikut?” Stella berdiri. Chara menggeleng, dan lalu berjalan ke pinggir air.
“Nanti aku nyusul.” Chara membiarkan kakinya terendam ombak yang pasang-surut. Kebiasannya yang membuatnya sedikit terlalu waspada membuatnya tidak bisa berhenti melihat ke kanan dan kiri, mengawasi semua orang. Dari kejauhan, Chara menangkap siluet seorang laki-laki pirang yang berlari ke arahnya. Chara memicing.
“M… Max?” Chara memanggil lantang tanpa pikir panjang, dan lelaki itu mendongak menatap Chara. Ia tersenyum saat mata mereka bertemu.
“Heei! Tu ngapain disini?” Max menghampiri Chara dan duduk di sebelahnya.
“Aku… lagi ada keperluan. Bantu-bantu sepupu.” Kata Chara. Max mengangguk-angguk.
“Kamu sendiri?” Chara memperhatikan bajunya. Celana merah yang dipakai Max cukup familiar.
“Em, je sih, je diajak magang disini, jadi lifeguard. Setiap libur musim panas je suka cari kerjaan tambahan di pantai seperti ini.” Max menunjukkan lambing life guard di celananya, gambar pelampung oranye dengan tali tambang putih mengikatnya membentuk tanda tambah.
“Oh, magang ya? Tahun lalu juga aku magang di pantai, tapi di bagian restoran.”
“Wah, tu melamar jadi apa?”
“Aku melamar jadi bartender, tapi karena dia bilang tidak bisa kalau aku tidak cukup umur, jadi aku hanya jadi waitress di bar dekat sana.” Chara menunjuk ke arah sebuah restoran di sisi pantai dekat hotel.
“Oh, tu itu cewek mulit-talented ya.”
Chara memutar matanya, ia tidak suka di puji.
“Oh ya, sore ini ada pesta kecil-kecilan di mansion life guard. Tu bisa datang?” Kata Max.
“Hm… Aku tidak bisa janji, tapi akan kuusahakan.” Kata Chara. Memang sih pekerjaan Chara sudah selesai, tapi ia jarang liburan dan selalu terkubur di antara pekerjaannya.
“Hei! Katanya mau berenang Char?” Chara berbalik badan, melihat Stella yang sudah berdiri di belakangnya.
“Oh Stella” Chara berdiri, dikuti Max.
“Ini teman sekolahku, Max. Max, ini sepupuku Stellaria.” Mereka bersalaman.
“Hei. Stella.” Stella memperkenalkan dirinya.
“Maximillian. Ini sepupu tu yang tadi tu bilang?” Tanya Max. Chara mengangguk, tidak khawatir dengan Stella yang selalu bisa mengikuti skenarionya.
“Oh, kalau begitu kalian datang berdua aja ke party nanti.”
“Eeh… tapi…” Chara memotong.
“Party?? Aku suka banget party!!” Kata Stella. Chara mendesis kecil.
“Pasti! Kita pasti datang!” Stella mengambit lengan Chara dan tersenyum lebar pada Max. Max ikut tersenyum
mendengar jawaban itu dan mengangguk.
“Ok. Kita pasti tunggu. Temanya warna-warna metalik ya. Kalau belum punya, ada toko kurang lebih setengah km
dari club, disitu banyak baju yang bagus-bagus dan murah.” Max menunjuk ke satu arah di belakangnya. Chara sudah tidak memperhatikan, dengan cepat ia membenarkan raut wajahnya yang mengkerut dan tersenyum agar Max tidak curiga dengan reaksinya.
“Kebetulan sekali! Aku memang sedang cari gaun-gaun warna metalik.” Stella melepaskan lengan Chara dan terkekeh kecil dengan genit. Tidak seperti cowok rata-rata, Max tampak biasa saja dengan kegenitan Stella yang biasanya sangat digemari laki-laki dan tetap menjaga image cool nya.
“Oke kalau gitu, Je pergi dulu ya. Harus keliling, À tout à l'heure!” Kata Max sebelum berlari meninggalkan kedua gadis itu.
“Oke!” Kata Stella sekenanya sambil melambaikan tangan, ia lalu memepetkan diri ke arah Chara sedikit sambil masih tersenyum. “Dia bilang apa?” Bisik Stella.
“Sampai jumpa nanti.” Chara menghela napas. Stella dengan cepat menyadari perubahan mood itu dan menatap Chara.
“Max belum terlalu kenal aku, dan dia tipe-tipe anak yang polos. Banyak yang sedang kita sembunyikan Stel, aku
sedikit banyak nggak mau membiarkan dia kenal aku terlalu jauh. Dia punya….” Chara mengerang, mencari kata yang tepat. “Aura itu yang membuatku merasa tidak tega untuk berbohong banyak-banyak padanya.”
“Oh, oh. Tenang saja. Ini kan cuma sekedar pesta kecil-kecilan kan? Aku yakin kalian tidak akan mengobrolkan hal-hal personal di tengah-tengah pesta yang ramai. Kecemasanmu berlebihan.” Stella merangkul Chara dan menariknya berjalan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Stellariaaa sudah beluum?” Chara mengetuk-ngetuk kamar mandi temannya yang sudah lebih dari satu jam tertutup itu.
“Sabar dooong.” Suara Stella bergema, terdengar bunyi heboh pengering rambut yang dibereskan dan alat-alat makeup bertabrakan satu sama lain sebelum akhirnya suara kunci dibuka dan wajah Stella—yang terlihat berbeda dari tadi siang—terlihat. Stella keluar menggunakan legging berwarna silver metalik dan bralette putih yang membentuk badannya. Stella—yang adalah seorang make-up artist—membubuhkan warna biru es dan silver di kelopak matanya dan lipstick pink metalik di bibirnya. Rambutnya yang ia keriting diikat rendah dengan rapi. Berbeda dengan Chara yang tidak terlalu suka dandan mewah, ia mengenakan kaus hitam, celana pendek denim dan jaket oversized silver.
“Waktunya senang-senang!” Stella mengambil tas pestanya. Chara hanya memutar bola matanya dengan senyum tipis, sebelum tangannya ditarik Stella keluar hotel. Mereka berjalan ke arah club yang hanya terpisah beberapa ratus meter dari hotel mereka.
Musik keras menyambut kedatangan mereka, tidak seperti klab . Cahaya terang, suasana riuh dan di dalam tidak terlalu ramai berdesakan seperti klab pada umumnya. Kakinya langsung berjalan ke arah bar, dan ia pun duduk di salah satu kursi disitu.
“Pesan apa miss?” Tanya si bartender. Chara melihat-lihat menu minuman yang bertuliskan ‘Mojito’
“Mint Mojito.” Kata Chara sambil tersenyum. Jantungnya berdebar mengikuti irama music yang keras. Sedikit banyak ia merasa keputusan ikut ke pesta itu bukanlah hal yang salah.
“Hey! Calon bartender memang langsung duduk di bar ya begitu sampai.” Chara langsung berbalik, melihat Max. Ia tersenyum melihat wajah familiar itu di sana. Max duduk di sebelahnya, dan memesan segelas Sherley Temple khas pantai itu.
“Tu tidak menari disana bersama teman tu?” Max menunjuk ke arah lantai dansa dengan dagunya.
“Tadi je lihat ia langsung mengajak kapten Life Guard dan teman-teman yang lain
berkenalan. Tampaknya tipe cewek yang cepat nyaman dengan orang.”
Max memutar kursinya, dan memandang ke lantai dansa. Chara mengikuti arah pandang Max, dan menemukan Stella yang sedang berdansa dengan salah satu life guard di tengah-tengah keramaian, saking hebohnya mereka bergerak, bagian tengah lantai dansa dibuka hanya untuk mereka berdua. Chara tertawa pelan melihatnya.
“*Comme d’habitude.” Chara mengatakan dengan hati-hati, dan Max hampir tersedak minumannya.
“Lumayan juga. Tu bisa bicara Bahasa je?” Lalu Max langsung menyambar Chara dengan sebuah kalimat lain dalam Bahasa Perancis, Chara cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
“Tidak, tidak, hanya tahu sedikiiiiit, sekali.” Chara menunjukkan jarak kecil diantara ibu jari dan telunjuknya yang
ia rapatkan. Max mengangguk-angguk, menertawakannya sedikit.
“Ok, ok, santai.” Max tertawa. “Tu beda ya, dengan teman tu yang suka pesta ramai begitu.”
“Iya, aku nggak terlalu suka jadi pusat perhatian.”
“Je, sih nggak suka.” Kata Max dan Chara bersamaan. Mereka saling pandang lalu tertawa geli.
“Tu punya banyak kesamaan ya sama je.” Chara tersipu.
“Sebenarnya sih aku senang kok dansa, tapi nggak di tengah-tengah pesta ramai begini. Buatku pesta begini adalah suasana yang cocok dibawa santai.” Chara menghela napasnya.
“Kenapa? Malu?”
Chara tertawa kecil.
“Bukan begitu. Hanya saja… ya… kurasa aku agak ambisius. Kalau aku menari di depan orang dengan kemampuanku yang begini-begini saja kurasa itu memalukan. Aku lebih suka menari gila-gilaan sendirian sambil melompat-lompat di atas tempat tidur.” Kata Chara. Max tertawa, diam-diam membayangkannya. Malam itu, Chara menghabiskan malamnya bersama Max, dan benar kata Stella, obrolan mereka hanyalah topik-topik ringan yang tidak penting.
Tapi bukan berarti Chara sudah lupa tujuannya berada di sana.
---------------
*Seperti biasa