
“Char, kenapa kau tiba-tiba ingin belanja? Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk lepas fokus dari misi.” Stella memegangi topi lebarnya, agar tidak terbang terbawa angin saat Chara menariknya masuk ke pintu toko pusat perbelanjaan. Chara tidak menjawab, dan memperhatikan sekelilingnya. Mereka berhenti di depan lobi toko dan Chara bersandar pada meja resepsionis yang kosong. Di dalam tidak terlalu banyak barang, satu area untuk cinderamata, area lain untuk baju-baju yang di bagi-bagi lagi menjadi bagian baju laki-laki, perempuan dan anak-anak. Chara berdiri tegak, dan mulai berjalan. Stella hanya mengikutinya di belakang sambil mencuci mata.
“Keith! Jangan jauh-jauh!” Kata seorang wanita sambil berlari menuju anak laki-laki di depannya. Chara mengamati wanita itu. Ia dikelilingi tiga orang anak.
“Keith itu siapa tante?” Kata si anak yang berlari sambil kembali ke arah wanita itu sambil membawa mobil-mobilannya.
“Kamu itu bagaimana sih Keith, kenapa kamu panggil Mama tante?”
Sekejap, kedua gadis itu saling berpandangan. Pusat perbelanjaan yang siang itu tidak terlalu ramai membuat Chara dan Stella dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas.Chara
“Hei tante! Tadi tante bilang mau beliin aku topi ini?” Seorang anak perempuan lain berlari ke arah wanita itu,
membawa-bawa topi jerami manis dengan pita merah muda di atasnya. Wajah anak itu familiar di mata Chara dan Stella, sontak mereka terbelalak.
“Itu!” Bisik Stella dan Chara bersamaan. Kattie, gadis kecil itu menarik-narik rok si wanita.
“Aduh Yena, jangan panggil mama tante dong. Kalian ini kenapa sih?” Kata si wanita itu lagi. Chara mendengus, menepuk keningnya pelan.
“Bagaimana kalau kita loloskan saja kasus kali ini?” Kata Chara pelan, hampir berbisik.
“Hah? Apa maksudmu?” Mata Stella masih memperhatikan pergerakan wanita itu dan ketiga anak-anak di sekitarnya.
Chara hanya mengernyit ke arah Stella dan Stella hanya bisa memandang Chara dengan bingung. Tanpa basa-basi, Chara langsung berjalan menuju si wanita.
“Tante.” Chara menepuk pundak wanita itu, dan ia menoleh.
“Maaf tante, tapi anak tante yang itu tadi nakal sekali sampai menumpahkan minuman teman saya.” Chara tersenyum tipis. Si wanita balas tersenyum.
“Maafkan Gerrie ya… dia memang anak yang nakal.” Wanita itu membungkuk kecil dan memanggil ‘Gerrie’ ke arahnya.
“Anak tante ada berapa tante?”Kata Chara. Si wanita hanya tersenyum.
“Anak tante ada empat.” Si wanita tertawa pelan. Chara menahan diri untuk tidak tersenyum.
“Banyak sekali tante! Pasti repot ya?” Chara mengulur pembicaraan. Sebetulnya ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan setelah ini.
“Iya, memang repot sebenarnya, tapi aku sayang mereka semua.” Wanita itu memandang anak-anak di sekitarnya satu persatu, menarik mereka mendekat..
Chara mengepalkan tangannya erat-erat, menguatkan dirinya sendiri.
“Ella? Carmella?” Tiba-tiba suara seorang laki-laki mendekat ke arah Chara dan wanita itu sontak berbalik badan, dan di belakang mereka berlari seorang laki-laki, laki-laki yang tadi duduk di pinggir pantai tadi.
“Oh sayang.” Pria itu dengan cepat berjalan ke samping wanita di depan Chara.
“Kau belum selesai?” Lelaki itu melihat beberapa baju yang dibawa istrinya.
“Ya. Aku masih mencari piyama untuk Gerrie dan Felicia.” Wanita itu menghitung baju yang ia bawa. Sesuatu di cara lelaki itu memandang istrinya, membuat hati Chara sakit. Wanita itu lalu kembali berjalan ke bagian lain, meninggalkan suaminya sendiri. Chara menghampiri lelaki itu.
“Paman…” Panggil Chara pelan.
“Oh, kamu gadis yang dipantai tadi kan? Bagaimana? Sudah ketemu pamanmu?” Lelaki itu bertanya dengan ceria. Chara hanya tersenyum tipis dan berjalan lebih dekat ke arahnya.
“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Pria itu mendekat, suaranya berubah mengancam.
“Kattie Wilson. Orang tuanya membayarku untuk membawanya pulang. Sebelum kami memutuskan untuk menggunakan kekerasan, ada baiknya Paman ikut kami dulu dan bicarakan hal ini baik-baik.” Chara berusaha untuk berbicara pelan-pelan.
“Tidak… tidak…” Lelaki itu gemetar. “Kali ini jangan ambil lagi anak-anakku, tidak…”
“Kami dari kepolisian, paman dan perlakuan paman beserta istri paman sudah termasuk ke dalam penculikkan, kalau paman kembalikan anak-anak itu pada kami, kami janji tidak akan membesar-besarkan masalah ini.“ Chara balas mengancam. Apapun yang terjadi yang mereka lakukan adalah hal yang salah.
“Tidak.” Lelaki itu melayangkan tinjunya ke perut Chara dan berlari melewatinya. Rasa pedas menjalar dari perut Chara ke seluruh tubuhnya. Namun tidak jauh di belakang Chara berdiri Stella yang tetap memperhatikannya, tangannya dengan cepat menarik lelaki itu dan menahannya. Chara langsung berdiri, dan mematikan beberapa titik di badan lelaki itu membuatnya tidak bisa bergerak. Stella melepaskannya, membiarkan lelaki itu jatuh ke lantai dan tersungkur di sana.
“Maaf Paman, kami sudah mencoba untuk memberikan Paman pilihan, tapi kabur bukan salah satunya.” Chara menghela napas, menyalakan earsetnya dan memanggil unit polisi terdekat untuk datang.
“Siapa kau?” Lelaki itu berbisik, masih terengah-engah karena adrenalin.
“Cuma seorang anak kecil yang benci melihat kejahatan terjadi di depan matanya.” Chara menghela napas dan mencari wanita itu agar bisa berjalan bersama suaminya.
Beberapa menit kemudian, seunit polisi dan seorang psikiater datang. Anak-anak dan pria itu diserahkan ke kepolisian dan istri pria itu dibawa oleh psikiater untuk di periksa dahulu.
“Charlexa! Saat mereka bilang yang datang adalah anak buah West aku tidak menyangka ternyata itu kau.” Kata seorang pria tinggi berseragam pada Chara. Chara tersenyum dan mengangkat bahunya pada wajah yang familiar itu.
“Inspektur Borris! Lama tidak ketemu!” Chara mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Char…” Panggil Stella pelan. Chara menoleh.
“Kau panggil psikiater… untuk apa?” Stella mengernyit kebingungan. Chara tertawa kecil, memang ia tidak bercerita semuanya pada Stella.
“Kau belum mengerti?” Stella menggeleng.
“Wanita itu… trauma. Ia sepertinya shock karena empat anaknya meninggal di waktu yang sama.” Chara merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan beberapa buah kertas yang dilipat-lipat..
“Meninggal? Kau tahu darimana?” Mata Stella melirik ke arah kertas yang sedang dibuka Chara, dan lalu Chara memberikan kertas itu padanya.
"Kecelakaan tragis, satu mobil keluarga tertabrak truk orang tua selamat tapi ke-empat anaknya tewas di tempat." Stella membaca kertas itu dengan suara nyaring.
"Berita itu sudah lumayan lama, dan tidak terlalu viral kala itu. Jadi wajar kalau kita berdua tidak tahu." Tambah Chara.
"Tapi maksudku, berita ini kan tidak membuatmu bisa tahu kalau mereka ada di tempat perbelanjaan ini." Stella mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk membaca berita itu dan menatap mata Chara.
Chara menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
"Nggak. Tapi coba kamu pikirkan. Pantainya sedang tidak terlalu ramai, semua target pria ada di pesisir tapi tidak ada seorangpun yang dikelilingi banyak anak-anak. Kalau tiba-tiba ada rekannya yang lain yang belum pernah dilihat anak-anak itu membawa mereka ke tempat lain tanpa pengawasan target yang sudah akrab dengan anak-anak itu, kupikir akan sulit, mungkin, tapi sulit. Lagian aku terus-terusan kepikiran soal motif penculikan ini. Metodenya janggal, mau menculik tapi mereka dibawa ke tempat wisata yang ramai begini." Chara menghela napasnya sebelum melanjutkan. "lalu ketika hampir semua target bilang mereka sudah beristri, aku jadi berpiikir. Kebanyakan anak kecil lebih mudah membuka diri pada sosok perempuan, kalau komplotan penculiknya adalah perempuan--dalam kasus ini adalah seorang Ibu yang sudah terbiasa mengurus anak-anak--maka kehadiran komplotan itu jadi masuk akal."
Chara menelengkan kepalanya ke arah Stella, memastikan bahwa ia mengerti apa yang diutarakannya.
"Jadi aku pergi ke pusat perbelanjaan, dimana kebanyakan ibu-ibu akan pergi untuk membeli cinderamata atau pakaian renang. Ini kebetulan saja sebenarnya, tadi kita langsung ketemu pelaku. Lagipula kita juga sudah hafal wajah Kattie, kan?"
Stella mengangguk-angguk. Sebagian dari kepalanya masih memproses penjelasan Chara. Stella tiba-tiba menoleh untuk melihat ke arah dalam pusat perbelanjaan, dan Chara mengikuti arah pandang Stella. Ia menemukan wanita itu, Ibu dari empat anaknya yang sudah tiada, menangis sejadi-jadinya di pelukan psikiater.