
“Aku yang menusuknya, aku yang menusuk Cerella! Tadinya pisau itu hanya sebagai alat untuk mengancamnya saja supaya ia mau memberitahukan aku cara-cara untuk mengambil harta-hartanya. PIN ATM, dan… penjelasan tentang sesuatu.”
“Tolong jelaskan semuanya dengan mendetail.” Chara menekankan setiap dari kalimatnya.
Morenno menelan ludahnya, menatap Chara dengan panik lalu pada Viktor.
“Hal itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini, yang jelas aku sudah mengaku, aku yang menusuk Cerella. Tapi itu hanya ketidaksengajaan. Cerella orang yang lumayan mudah marah, ketika melihat aku datang sendirian, dia langsung mengira aku… akan macam-macam padaya.” Ia berkelit lagi. Ada sesuatu yang ia sembunyikan dari Chara. “Lalu ia mencoba untuk keluar dari ruangan dengan paksa, mendorongku menjauh darinya dan saat
itulah pisau itu tertancap di perutnya.”
“Lalu luka tembaknya?” Sherry bertanya.
Morenno dengan cepat menggelengkan kepala. “Itu bukan perbuatanku, setelah aku menusuknya, aku panik dan hendak meminta bantuan. Tapi kupikir lift akan penuh di saat-saat seperti ini jadi aku keluar lewat jalan belakang, turun lewat tangga darurat yang bisa diakses dari sana.” Ia menunjuk ke sisi belakang ruangan yang tertutup gorden. “Desain ruangan ini persis dengan ruangan sebelah. Karena aku takut membuat semua orang panik, aku
mengunci pintunya dan pergi lewat belakang, tapi tidak ada bantuan yang bisa kumintai tolong dan ketika aku kembali Cerella sudah di tembak dan mati terkulai.”
“Di saat itu dimana Anda sedang berada?” Chara menunjuk Viktor.
“Dia ada di ruangan itu bersamaku.” Sambar Morreno cepat sebelum Viktor sempat menjawab.
“Tidak, saya berada di luar, mencoba untuk membuka pintu yang terkunci. Lalu saya meminta resepsionis untuk membukakan pintu, beberapa menit sebelum kematian Cerella, lalu Manda menjerit.”
Chara mengangguk-angguk. Jadi jeritan yang terdengar saat mereka turun itu adalah jeritan Manda.
“Tidak, Miss, Anda harus percaya saya, dia berada di dalam ruangan bersama saya, dan saya meninggalkan ruangan ini lewat tangga darurat bersama Viktor. Tapi saya pergi keluar untuk membuang pisau itu dan dia memutar untuk membuat kekacauan untuk mengalihkan perhatian orang.”
“Tidak ada bukti soal perkataan itu, kan?” Viktor menyeringai. Morreno menatapnya tidak percaya.
Chara melirik ke arah Stella. “Sebetulnya ada, kan? Bukti itu?”
Stella mengangguk-angguk.
“Ya, sebetulnya tas ini tidak tiba-tiba ada di tempat sampah belakang hotel, tapi tas ini di temukan menggantung
bersama jaketmu di ruang laundry hotel sebelum ada yang membuangnya ke tempat sampah itu. Di jaket itu pun banyak bercak darah yang menjadi bukti bahwa kau berada di sana.” Sebut Stella.
“Mr. Viktor.” Lanjutnya.
Wajah lelaki itu berubah pucat. Air mukanya yang tenang mendadak mengerut marah dan ia berbalik ke pada Morreno.
“Apa yang kau lakukan?! Kukira kau sudah membuangnya jauh-jauh!” Ia membentak. Morreno mundur se langkah.
Walaupun Morreno lebih berbadan besar, tapi Viktor jauh lebih kelihatan berani untuk berbuat banyak hal dibandingkan dirinya.
“Sumpah! Aku melemparkannya ke tempat sampah setelah menggulungnya dengan koran.”
Chara tertawa kecil, mengambil perhatian kedua pelaku kejahatan di depannya.
“Yang perlu kalian curigai adalah orang-orang yang kalian sewa. Apakah kalian kira mereka akan membiarkan
bukti-bukti kejahatan ini mengarah pada mereka? Mereka tidak akan mau jatuh sendirian. Lagipula…” Chara menghela napas. “Bayaran yang kau berikan pada mereka hanya mahkota permata kan? Bayaran mereka biasanya lebih besar dari itu.”
“Apa maksudmu?” Sherry bertanya.
Chara tersenyum kecil, melirik ke arahnya sekilas.
Tapi wajah Morreno dan Viktor berubah bingung.
“Kami tidak membayar mereka dengan mahkota. Mahkota itu adalah tujuan kami bertemu dengan Cerella. Kami berjanji akan memberikan tiga puluh persen hasil yang kami dapat dari Cerella hari ini dengan mereka dan mereka setuju soal itu.” Jelas Morreno yang panik, Viktor, di sisi lain, terlihat sudah menduga apa yang terjadi di sini.
“Ah… begitukah?” Chara mengangguk-angguk.
“Biar itu menjadi urusan saya di lain kali. Untuk saat ini mari ikut ke kantor polisi.” Chara tersenyum simpul dan
membereskan catatannya.
“Tidak akan kubiarkan berakhir seperti ini!” Morreno berbalik untuk lari ke arah pintu darurat yang tadi ia tunjuk,
namun sebelum Chara bahkan dapat bergerak, Stella sudah mendahului Morreno dan menyengkat kakinya dari belakang hingga ia terjatuh. Stella duduk di punggungnya agar lelaki itu tidak kemana-mana.
Chara melemparkan borgol yang tadi ia ambil dari Beth ke arah Stella dan Morenno di borgol, untuk di bawa oleh kepolisian setempat.
Viktor jauh lebih kooperatif, dan tidak banyak bicara selama proses. Tapi sebetulnya motif mereka masih
kurang jelas buat Chara.
“Morreno pernah memacari Cerella.”
Chara mengangkat alisnya dan langkahnya terhenti. Di belakangnya berdiri Manda, manager Cerella yang matanya masih sembab menangisi kematian artisnya.
“Morreno pernah suka pada Cerella dan Cerella yang suka main-main dengan laki-laki menganggap Morreno juga main-main dengannya. Tapi dia sedikit banyak serius, dan ketika ia melihat Cerella pergi dengan laki-laki lain dan meminta penjelasan, Cerella tertawa, bingung kenapa Morreno begitu serius soal ini.”
Chara mengangguk-angguk sambil menyalakan perekam suara dari ponselnya.
“Tapi Morreno yang sudah terlalu jatuh hati pada Cerella sangat mudah di perdaya. Beberapa kali Cerella pura-pura
menangis dan meminta maaf, meminta Morreno kembali dan lelaki itu selalu kembali. Tapi setiap saat ia seolah hanya dijadikan pembantu oleh Cerella, yang disuruh-suruh Cerella untuk melakukan pekerjaan yang ia tidak ingin lakukan.”
“Kalau Pak Viktor? Bukankah dia orang kepercayaan Miss Turco?”
Manda mengangguk ragu.
“Sedikit banyak, iya. Tapi sebelum menjadi asisten personal Cerella ia adalah rekan satu studio Cerella. Ia juga perancang baju. Awalnya mereka berencana untuk membuat studio sendiri, Viktor merancang, dan Cerella yang menggunakan pakaian-pakaiannya untuk di promosikan. Tapi tawaran datang sangat banyak pada Cerella dan Viktor terpaksa menjadi asistennya. Ia punya Adik, yang baru saja terjatuh dari motor dan tempurung
lututnya rusak. Viktor butuh uang yang banyak, tapi Cerella tidak mau meminjamkan sepeserpun uang pada Viktor, takut ia tidak mengembalikannya.”
Chara mengangguk-angguk dan mematikan perekam suaranya.
“Terimakasih, Manda. Kau yang kuat ya, jangan terlalu lama sedih.” Chara mengusap punggung gadis itu dan Manda mengangguk.
“Aku tidak menyangka mereka tega melakukan hal ini. Aku mengerti Cerella bukan orang yang baik, tapi setidaknya… kenapa mereka harus membunuhnya?” Air matanya kembali menitik. Chara kembali mengusap
punggungnya.
“Semua orang pernah salah memilih.” Chara menghela napas.
“Tapi yang sudah terjadi ya mau bagaimana lagi?”