Love Kills

Love Kills
Bab 3



“Selena?”


Kelas sudah sepi saat itu. Bel istirahat baru saja berdering dan semua siswa berlari dengan semangat keluar dari kelas. Chara menghentikan Selena yang hendak pergi mengikuti salah satu teman barunya ke luar dengan tepat waktu.


“Welcome to Nobles High. Senang bisa kenalan dengan orang Spanyol. Aku tertarik sekali dengan bahasa dan budaya Spanyol.” Chara menyodorkan tangannya pada Selena, dan gadis itu—tanpa jeda—tersenyum dan menyambut tangan Chara.


“Oh, ya. Senang, berkenalan.” Selena berusaha untuk menyusun kalimatnya.


“Aku… ingin tanya…”


Chara menoleh ke sekeliling kelas, memastikan isi kelas mereka sudah cukup sepi untuknya berbuat sedikit jahil


pada Selena.


“Bertanya?” Tanya Selena dengan wajah ingin tahu yang dibuat-buat. Chara mengangguk dengan senyum yang juga dibuat-buat.


“Kau bilang kau tidak lancar bahasa Inggris.”


“Aku? Ah, kau dengar bicara aku… tidak bisa.” Selena berbicara pelan-pelan dengan kedua tangan yang ikut aktif menjelaskan maksudnya.


“Ayolah, aku tahu kau bohong. Orang tidak pintar bahasa Ingris tidak mungkin bisa memiliki lafal yang bagus sepertimu. Apalagi kau berasal dari Spanyol.” Chara mencoba untuk menyampaikan maksudnya dengan nada bercanda—kalau-kalau tebakkannya ini salah, walaupun ia cukup yakin dengan tuduhannya.


“Spanyol mengapa beda? Mengerti… aku tidak.” Kata Selena sambil menggeleng. Chara mendengus.


“Aku ini cukup sering nonton film, Miss Delacora. Seorang pro dalam berbahasa Inggris yang tidak lahir di tanah air


berbahasa inggris atau memiliki bahasa inggris dari bahasa ibu pun, pasti terikat dengan dialek asalnya. Apalagi jika mereka berasal dari daerah Eropa dan beberapa daerah Asia. Ya, maksudku tidak menutup kemungkinan untukmu bisa memiliki lafal sempurna, tapi kau bahkan belum hafal banyak kosa kata.”


Selena kembali tersenyum.


“Pintar, kesimpulanmu. Namun, film, berbeda…. Dengan nyata.”


“Kau pintar sekali berakting. Sejak tadi, aku mengajakmu bicara dengan tempo cepat dan kalimat-kalimat sehari-hari yang nonformal, dan kau, sama sekali tidak memintaku untuk memelankan tempoku, berbicara lebih jelas,


atau meminta untuk mengulang perkataanku. Aku dapat melihat kau sepenuhnya mengerti apa yang kubicarakan sedari tadi.”


Chara menunggu, wajah Selena masih tersenyum manis bak putri raja yang perlu menjaga prilakunya di setiap detik.


Tapi seperti dugaannya, wajah itu perlahan mencair dan membentuk sebuah ekspresi lain yang jauh berbeda dengan figure seorang Selena.


Chara bergidik, tatapan mata gadis itu, seolah ia tahu banyak hal yang tidak seharusnya ia ketahui, dan Chara punya cukup banyak rahasia yang perlu ia jaga dengan nyawa sebagai taruhannya.


Selena berdiri dari bangkunya dan berjalan mendekat pada Chara sebelum mencondongkan tubuhnya mendekat dengan wajah Chara.


“Senang melihat reputasimu itu bukan bualan.” ‘Selena’ terkekeh, suara yang keluar dari bibirnya bukanlah suara yang ia dengar dari ‘Selena’ yang tadi. Suara Selena tinggi, jernih dan lembut. Tapi suara wanita ini, tipis dan husky,


seperti harpa.


“Cepat atau lambat kita akan bertemu lagi. Anggap saja kita ini adalah dua pemeran dari satu drama yang sama. Observasimu lumayan juga, Winter. Tapi banyak hal yang bisa kau perbaiki. Aku harus memaksamu untuk merahasiakan pembicaraan kita hari ini, percayalah, itu keputusan terbaik. Aku akan mengawasimu, untuk sekarang.” Bisiknya sambil menepuk-nepuk pundak Chara, lalu berdiri tegak, dan berbalik hendak pergi.


“Anggaplah aku naif dan mengatakan aku percaya padamu juga, setidaknya untuk sekarang. Tapi tidak akan lama sampai aku tahu siapa kamu sebenarnya. Sampai saat itu datang, aku harap kau tidak merusak kepercayaanku.” Chara berbisik. Selena hanya mengangkat bahunya lalu berlari ke luar.


Dua pemeran drama yang sama? Chara hanya bisa berharap ia tidak bermaksud untuk mengatakan ia ada di sisi antagonis pada protagonis yang di perankan Chara.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Chara langsung mengirimkan permintaan pada Mr. West untuk membantunya mengakses data kependudukan Selena. Dan sesampainya Chara di kantor Mr. West, satu amplop data tentang Selena sudah di kemas cantik di meja Mr. West.


"Siapa itu? Orang yang menurutmu mencurigakan?" Tanya Mr. West.


Chara mengambil amplop itu dan membawanya duduk ke sofa Mr. West.


"Mencurigakan? Iya. Tapi aku bukan menurigainya sebagai pembunuh bayaran. Hanya saja.... ada yang aneh dari cewek ini."


"Itu sebuah kesimpulan yang bagus, sebenarnya. Aku sudah bekerja terlalu lama di bidang ini untuk ditipu data samaran, data itu memang data palsu, dan aku tidak bisa membuka data aslinya." Jawab Mr. West.


Chara melirik sedikit dari balik amplop yang sedang ia buka ke arah Mr. West.


"Bukannya kau punya kualifikasi yang cukup tinggi? Semua data-data agen divisi satu di bawah tanganmu, kan?" Chara meraih ke dalam amplop dan menarik beberapa lembar kertasnya. Satu foto wajah 'Selena' tampak di bagian depannya.


"Itu dia. Pilihannya hanyalah antara dia adalah pembunuh bayaran, dia adalah agen elit sepertimu, atau dari kepolisian atau institusi pemerintahan lainnya. FBI, CIA, apapun yang terkait. Sama halnya mereka juga tidak akan tahu identitas aslimu, itu sepenuhnya ada di bawah kuasaku."


Chara menganguk-angguk. Setengah konsentrasinya sudah tersita di kertas data Selena yang ia pegang.


“Nama : Selena Delacora. Orang tua : Virginia Horrate ; Brenzo Delacor. Lahir : Spanyol. Umur : 17 (14 Mei) Sekolah : Sein Muzikal, Frankfurt, Jerman. Sudah? Itu saja?” Chara mendengus.


“Lahirnya di Spanyol kok sekolah di Jerman?” Chara bertopang dagu.


“Ya mungkin saja mereka pindah rumah? Lagipula cukup lazim kan untuk seseorang mengambil studi di luar negeri.”


“Tapi ia ikut pertukaran pelajar dengan jurusan IPA, padahal sebelumnya ia sekolah kejuruan di seni, kan? Itu saja sudah cukup aneh buatku. Ditambah, dia pura-pura tidak bisa bahasa Inggris, tapi logatnya sempurna dan kemampuan mendengarnya juga lebih dari amatiran. Dengan kemampuan itu tidak mungkin dia tidak bisa bicara bahasa Inggris. Dia seperti punya kepribadian ganda, juga, di satu detik bisa senyum-senyum seperti gadis manis, di satu detik kemudian menyeringai seperti mau membunuhku. Pantas jurusannya seni, mungkin dia bekas aktris?” Chara merasa ia bergumam pada dirinya sendiri, kepalanya penuh dengan kontradiksi-kontradiksi yang mendadak bermunculan.


Chara menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Tapi di satu sisi aku rasa dia bukan orang jahat." Bisiknya.


Mr. West sudah kembali sibuk dengan komputernya.


"Aku mengerti rasanya. Setelah bertahun-tahun kau kerja di bidang seperti ini, kau terbiasa juga kan untuk tahu siapa yang punya niat buruk dan tidak?"


Chara hanya mengangguk-angguk.


"Tapi dia tahu nama samaranku Winter. Itu membuatku agak sedikit khawatir."


"Dan itu juga membuatku khawatir. Tolong jangan anggap dia enteng." Mr. West hanya melirik sedikit ke arah Chara sebelum kembali bekerja. Chara mengangkat tangannya ke dahi membuat tanda hormat.


"Siap, tuan."