Love Kills

Love Kills
Bab 6



“Chara?”


“Hm?” Mata Chara sontak membuka sedikit, dan lagi-lagi pemandangan langit-langit putih kantor Mr. West menyambut matanya. Playlist permainan piano Debussy mengalun dari headset besar di kepala Chara yang menggantung miring, membiarkan telinga kanannya terbuka.


“Aku ada kasus untukmu. Mau dengar sekarang?”


Chara menghela napasnya dan mengumpulkan nyawanya yang masih bertebaran sebelum melepas headsetnya dan duduk.


“Akhir-akhir ini, banyak terjadi laporan anak hilang, kisaran umur 7 sampai 9 tahun. Yang terakhir adalah anak ini.”


Muncul foto seorang anak perempuan berambut pirang yang diikat dua di layar besar Mr. West.


“Hm… hilang?” Chara memicingkan matanya.


“Ya, dan, terakhir anak ini terlihat disini.” Mr. West mengklik mousenya sekali dan kali ini terlihat gambar sebuah


minimarket kecil.


“Namanya Kattie Wilson. Umurnya tujuh tahun, akan berumur delapan dua bulan lagi. Ia menghilang empat hari yang lalu, dan ibunya melapor ke inspektur Borris. Anak ini hilang tiba-tiba saja dari rumahnya tanpa meninggalkan jejak dan kabar.”


“Apa kau yakin ini bukan sekadar anak kecil yang merajuk pada orang tuanya? Mungkin sesuatu terjadi di rumah dan ia tidak berani bilang siapa-siapa?” Chara mengangkat bahunya. Mr. West menghela napas.


“Sudah kami pertimbangkan, tapi menurut Mrs. Wilson, Kattie bukan seorang anak yang manja. Lagipula kondisi ekonomi keluarga mereka cukup baik, dan kedua orang tua Katie juga jarang bertengkar. Tidak ada alasan untu Katie kabur dari rumahnya.”


“Apa orang-orang sekitar Kattie sudah di wawancara? Seperti guru di sekolahnya, atau teman-teman bermain, tetangganya?”


Mr. West mengangguk dalam-dalam.


“Sudah, tapi sekolahan Katie tidak memperbolehkan siswanya untuk berkumpul di area sekolah setelah pukul empat kecuali ada kegiatan ekstrakulikuler, jadi guru-guru tidak pernah melihat anak-anak berkumpul di sekolah setelah jam sekolah selesai, mereka sedikit banyak buta soal ini.”


“Teman-temannya?”


Mr. West mencari sesuatu di data yang ia miliki lalu menggelengkan kepalanya kecil.


“Sebenarnya kasus ini sudah dicoba untuk ditangani oleh kepolisian dan Oscar… tapi..”


“Oscar, siapa?”


“Oscar Xavier, yang menggantikanmu menyelidiki kasus orang hilang di gunung saat kau sedang bertugas di kasus penyelundupan obat di klab Midnight itu.”


Chara mengangguk-angguk lagi, lalu tiba-tiba berdiri, berjalan ke arah rak yang ada di sebelah bar, mengambil wig


pirang panjang, lalu beranjak ke pintu.


“Hei, hei, kau mau kemana?” Mr. West ikut berdiri.


Chara menyeringai pada pimpinannya itu.


“Ke minimarket tentunya. Untuk apa buang-buang waktu.” Ia memasang sebelah earsetnya, dan memasukan kabel


panjangnya ke baju.


Bunyi bel kecil terdengar saat pintu minimarket dibuka oleh Chara. Ia menaikan kacamata berlensa merah mudanya


sedikit dan mengamati sekitarnya. Minimarket itu tidak terlalu ramai, hanya ada tiga orang mungkin di dalam. Satu sedang memilih-milih camilan dengan dua botol minuman dingin di dekapannya. Satu lagi adalah sepasang suami istri yang sedang memilih popok bayi.


“Selamat siang, selamat datang di MiniMart.” Chara sontak menengok pada sumber suara, pria yang mungkin kira-kira berumur empat puluh tahunan di atasnya yang tampak bosan. Chara menghampirinya, tanpa berkata-kata, hanya sekadar menurunkan kaca matanya sedikit.


“Halo, saya mau tanya sesuatu.” Chara melepaskan kaca matanya kali ini, untuk bisa menatap lelaki ini dengan jelas. “Saya mencari anak ini.” Chara mengeluarkan tabletnya dan memperlihatkan foto Kattie.


“Mungkin ada yang pernah lihat?” Tanyanya lagi ketika lelaki itu melemparkannya tatapan bingung.


“Hm… maaf tapi saya baru saja kembali dari cuti. Mau saya panggilkan kasir sebelum saya?” Bapak itu menawarkan, setelah melirik ke arah foto dan melihat ke pintu bertuliskan ‘khusus karyawan’ di belakangnya.


Chara mengangguk “Maaf merepotkan.”


“Anak itu keponakan saya, kemarin ibunya menitipkan dia di rumah saya tapi ia izin untuk ke supermarket ini dan ternyata menghabiskan jatah uang jajannya untuk dua minggu.” Chara tertawa canggung. “Mamanya marah karena saya kurang waspada, jadi sepertinya saya perlu tahu sekarang apa yang ia beli hari itu. Supaya dia juga tidak khawatir.”


Lelaki itu mengangguk-angguk dengan senyum ramahnya.


“Oh, anak-anak. Mereka sedang heboh mengoleksi mainan itu… apa namanya… orang tua seperti saya kurang hafal namanya.”


Chara mengernyit. “Mainan?”


 “Ya, mainan! Ada kartu yang kau bisa koleksi dari makanan kecil itu, yang bungkusnya biru.” Bapak itu menunjuk ke salah satu rak di dekat Chara. Snack berbungkus biru tua berjajar disana, Chara kurang bisa melihat dengan jelas merknya karena posisi rak yang menghadap ke samping.


“Lalu kalau kau sudah bisa mengkoleksi sepuluh macam kartu yang berbeda-beda, kau bisa menukarkannya dengan mainan boneka yang bisa bicara, atau semacamnya. Saya juga kurang yakin.”


“Jadi anak itu kemari untuk beli snack itu? Atau yang lain?”


Lelaki di hadapan Chara mengangkat alisnya, seolah baru ingat apa yang ia perlu lakukan.


 “Sebentar ya…” Gumam si Bapak sambil masuk ke ruangan “Khusus karyawan” di belakangnya. Chara kembali menoleh ke arah makanan kecil berkantung biru itu dan mengambil satu.


Chiz, tulisannya. Kalau Chara boleh menebak, snack itu hanya stik keju biasa, dengan marketing yang lumayan pintar.


“Hallo? Ada yang bisa saya bantu?” Chara sontak berbalik, dan sekarang yang berdiri di belakang kasir adalah wanita muda, mungkin di akhir dua puluhan.


“Hallo. Saya ingin tanya, apa kau pernah melihat anak ini?” Chara memperlihatkan fotonya. Perempuan ini tersenyum kecil lalu mengangguk.


“Ya ya! Anak ini gemas dan cukup mandiri untuk seumurnya. Dia membawa-bawa secarik kertas kecil berisi daftar belanjaannya dan minta tolong padaku ketika barang yang dia inginkan ada di rak yang terlalu tinggi.”


“Boleh saya tahu apa saja yang ia beli? Kau tahu lah, uang jajannya habis dan ia tidak bilang beli apa saja, jadi


kurasa aku perlu langsung kemari.” Chara menghela napasnya, berakting kesal.


“Hm… saya tidak terlalu ingat. Yang jelas ia belanja lumayan banyak, seperti mau pergi liburan. Sebotol kecil krim pelindung matahari, peralatan mandi mini untuk travel, topi, dan banyak camilan serta sebotol besar minuman vitamin.” Wanita itu mengingat-ingat dan sekali lagi melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mengingatkan dirinya sendiri.


“Liburan ya? Ah, anak itu pasti pamer tentang kemana dia akan pergi.” Chara tertawa kecil dengan canggung sekali


lagi.


“Oh tidak daripada pamer, ia bertanya padaku, apakah Mexico itu panas?” Wanita itu tertawa kecil, “Lalu aku bilang,


tergantung ke mana tempat yang ia tuju, dan lalu ia bertanya lagi, kalau ke pantai? Lalu saat itulah aku memberikannya krim pelindung matahari untuk ia beli juga, karena aku yakin kalau mau ke pantai orang tuanya pasti akan memintanya untuk beli krim pelindung matahari terlebih dahulu kan?”


Chara tersenyum, tidak canggung kali ini.


“Tentu saja. Terimakasih banyak… hm…” Chara melirik ke arah tag nama yang dipakai di seragam wanita itu, “Ms. Helena.”


“Jangan sungkan, sudah tugas saya.” Ia membungkuk kecil dan Chara berbalik berjalan menuju pintu.


“Oh ya..” Chara berhenti sebelum ia sempat membuka pintunya.


“Berapa banyak Chiz yang anak itu beli kali ini?” Chara bertanya lagi pada Helena yang masih berdiri di sana, menunggu Chara keluar. Dahi Helena berkerut.


“Dia tidak beli Chiz hari itu.”


Chara mengangguk-angguk.


“Oh baguslah, terimakasih sekali lagi.” Chara tersenyum dan melangkah keluar toko.


“Mr. West?” Chara menyalakan earsetnya.


Setelah beberapa detik, sebuah jawaban masuk dari earset itu.


“Ya?”


“Bisakah sir berikan aku alamat teman-teman Kattie?”