Love Kills

Love Kills
Bab 23



Chara membuka matanya perlahan, sinar matahari menghambur masuk melalui matanya. Ia melihat kiri dan kanan, entah dimana ia berada. Tempatnya terlihat seperti gudang besar bernuansa hitam, dan terkesan bersih walaupun itu ‘gudang’.


“Sudah bangun winter?” Chara kaget dan melompat bangun, dan sakit kepala itupun datang lagi. Chara memegangi keningnya dan mengerang.


“Ini…”


“Di mana?” Jawab suara seorang pria. ThunderBird berjalan mendekati Chara, sambil tertawa kecil.


“Kamu tidak perlu tahu ini di mana. Kamu seharusnya berterimakasih karena aku sudah menyelamatkan kamu.”


Chara mendesis pelan, dan mengusap keningnya. ThunderBird? Chara terkesiap dan meraba wajahnya. Ia lalu bernapas lega saat menemukan topeng putihnya masih menempel rapi di wajahnya.


“Aku belum lihat wajahmu.” Kata ThunderBird yang lalu berjongkok di sebelah sofa tempat Chara tertidur, dan


menatapnya.


“Lagipula aku kurang tertarik dengan apa yang ada di baliknya. Kamu sudah cukup cantik seperti ini.”


ThunderBird tertawa. Chara mendengus. Pria itu sendiri masih mengenakan topengnya.


“Kau mau aku antar pulang atau bagaimana? Atau mau kuhubungi teman cantikmu untuk menjemput ke sini?” Tanya ThunderBird sambil mengelus pipi Chara. Chara menepis tangan ThunderBird.


“Aku mau pulang sendiri.” Chara menyibakkan selimut yang sedari tadi bertengger di atas tubuhnya, dan berdiri. Ia mengambil beretta yang ada di meja, yang tampak seperti miliknya.


"Thanks.” Chara berjalan ke pintu.


ThunderBird tertawa pelan dan berjalan mendahului Chara yang sedang menyelipkan moncong pistolnya ke ikat pinggangnya.


“Kamu buru-buru sekali.” Kata ThunderBird yang membukakan pintu untuk Chara. Chara memutar bola matanya.


“Thanks. Sampai ketemu.” Kata Chara dengan datar dan senyum tak niat. Ia mulai berjalan pelan-pelan.


“Cepat sembuh, winter sayang.” Kata ThunderBird dengan nada yang menggoda. Chara memutar bola matanya dan berjalan lebih cepat. Setelah beberapa meter dari tempat ThunderBird tadi, Chara melihat kebelakang, memastikan kalau ThunderBird sudah masuk. Ia lalu melepas topengnya dan bernapas lega.


Ia memang sudah terlepas dari cowok penggoda itu, tapi sekarang orang-orang menatapnya dengan aneh. Ia lalu


berhenti di depan sebuah mini market, dan menggunakan pantulan dari pintu kacanya untuk melihat bagaimana ia terlihat.


Chara terkesiap. Rambutnya terlihat seperti orang gila. Chara melepas ikatan rambutnya, dan mencoba untuk merapikan sebisanya.


“Charlexa!” Chara otomatis membalikan badannya dan hampir saja menangis terharu saat melihat Stella datang dengan sedan butut miliknya. Ia berlari dan masuk ke dalam mobil Stella.


“Apa… kenapa.. bagaimana…”


“ThunderBird menghubungiku. Dia bilang kau sedang butuh bantuan di depan toko ini. Aku kebetulan sedang di perjalanan menuju rumah sakit WPA, lalu karena dekat jadi aku langsung tancap gas kemari.”


“Pria itu menjijikan.” Chara mendengus dan menggunakan kaca spion untuk merapikan rambutnya.


“Ya ampun. Kenapa dia?”


“Semua wanita ia panggil sayang-sayangan. Ih. Dasar gatal.” Chara bergidik. Stella yang mendengar kalimat Chara tertawa terbahak-bahak.


“Ayolah. Dia cukup baik dengan nggak membunuhmu tadi malam.” Chara memutar bola matanya.


“Cukup dengan topik ThunderBird. Aku tidak ingin membicarakan dia terlalu lama.” Chara menekan tombol radio di mobil Stella dan mencari channel yang bagus.


“Rumah sakit Char?” Kata Stella.


“Hm.” Jawab Chara singkat.


Jarinya terus menekan tombol next untuk mencari channel yang diinginkannya, dan berhenti di channel favoritnya yang selalu ia dengarkan.


“Sekilas berita guys seorang penulis dengan nama Jade membuat tulisan tentang kebakaran di blog G. Berita ini terus menjalar sampai ke telinga polisi dan kawan-kawannya yang lalu mencari kebenaran di blok G yang dimaksud. Tapi ternyata tidak ada kebakaran atau apapun yang terjadi di blog G tersebut. Apa ini termasuk salah satu berita ramalan seperti dua blogger sebelumnya? Tentu saja belum ada yang bisamemastikan. Tapi bagi teman- teman yang hidup di sekitaran blog G, berhati-hatilah. Setidaknya waspada. Walaupun kita belum tahu akan kenyataan dari berita ini.”


“Blok G? Bukankah itu rumahmu Char?” Tanya Stella sambil focus ke jalanan.


“Blok G… Ya… tapi itu tidak masalah bagiku. Sebentar lagi aku akan pindah ke asrama WPA dan bilang pada mama aku akan tinggal di kostan dekat sekolah karena aku bilang aku terus-terusan kena hukuman karena terlambat.” Chara terdiam sebentar. “Tapi yang jelas akan jadi masalah untuk Mama yang hampir selalu ada di rumah.” Chara menggigiti kuku ibu jarinya, mencoba untuk mencari jalan keluar.


“Kasus ini… tidak tampak terlalu sulit dan serius Char.” Kata Stella. Chara mendengus.


“Yang benar saja. Kasus ini perbuatan Nocens. Bagaimana bisa nggak serius?” Kata Chara sambil memindah-mindahkan channel radio.


“Nocens? Dari mana kau bisa tahu?” Tanya Stella setengah berteriak.


“Ada tiga kasus dilaporkan padaku. Informan pertama bernama Aphrodite. Aphrodite itu nama dewi kecantikan, sama dengan nama samaran salah satu anak Nocens yang punya kemampuan jimnastik yang hebat. Informan kedua memakai username GunLovers. Oh, ini terlalu jelas, ini pasti si pencinta Sniper itu. Dan yang baru saja kita dengar bernama Jade. Jade, Ruby, mirip-mirip lah. Bukankah semua itu terlalu kebetulan?” Chara memandang Stella yang tengah menyetir. Stella mengangguk-angguk kecil.


“Ya. Kalau begitu ceritanya ini semua terlalu kebetulan dan ini bukan kasus sembarangan. Kusarankan kau pindah rumah dulu untuk sementara Char.”


Chara tertawa kecil.


“Entahlah bagaimana caranya aku bisa membawa keluargaku keluar dari home sweet home mereka itu.” Chara menghembuskan napas keras-keras.


Suasana kendaraan itu hening untuk beberapa saat sampai Stella memecah keheningan.


“Ah!”Stella menjentikkan jarinya keras.


“Kalau kau ingin ada asap, harus ada api terlebih dulu.”