
Namanya Serenity Charlexa Saito. Kulitnya pucat seperti boneka keramik, wajahnya yang mungil dibingkai rambut hitam panjang yang bergelombang. Matanya bersinar coklat madu saat terkena cahaya. Campuran darah Eropa dan Jepang dari kedua orang tuanya menciptakan fitur-fitur cantik itu di wajahnya.
Mata Chara—panggilan dekat gadis itu—melirik ke arah kartu putih bergaris bitu di meja kayu di hadapannya,
bertuliskan ‘Andrew West’. Kartu itu persis dengan kartu putih yang masih ia simpan semenjak sebelas tahun lalu. Tapi tulisan nama itu lebih bagus sekarang, ditambah gelar yang sudah beralih dari ‘Agen Lapangan’ menjadi ‘Kepala Divisi 1’.
“Chara.” Gadis itu mengangguk, masih dalam seragam putihnya. Kuncir rambutnya agak acak-acakkan, dan beberapa luka goresan segar membekas di wajahnya.
“Maaf aku tidak memberikanmu waktu istirahat dan langsung memanggilmu kesini.” Kata Andrew West yang sekarang berumur hampir empat puluh tahun.
Chara mengangguk sambil tersenyum, taktik kecilnya untuk mengabaikan rasa pedas di seluruh luka di tubuhnya.
“Santai saja, Sir. Apa yang bisa kubantu?”
“Baiklah, aku akan langsung ke detail misinya. Setelah itu kau bisa istirahat.” Lelaki di hadapan Chara berdiri dan menekan sebuah remot. Layar dibelakangnya menyala, dan Chara duduk di kursi di depan meja pemimpinnya itu.
“Seperti yang kau lihat disini, tim kepolisian lokal dan pemerintahan membuat sebuah kesimpulan dari beberapa kasus yang terus-menerus terjadi akhir-akhir ini, tanpa istirahat. Mereka menduga, ada sebuah perkumpulan gelap yang menyebut diri mereka Nocens, dan menyewakan jasa pembunuh bayaran. Lazim, memang, tapi kau ingat kasus harta karun perampok-perampok Iorex itu?” Chara mengangguk, matanya mencoba untuk membaca tulisan-tulisan di belakang Mr. West dengan cepat.
“Mereka kemarin baru saja dibunuh oleh salah satu pembunuh bayaran Nocens.” Mr.
West menghela napasnya. Chara menggelengkan kepala.
“Dibunuh?” Chara berbisik tidak percaya.
“Ya, dan dari kasus itu, beserta kasus-kasus yang terjadi beberapa hari ini, setelah pencarian yang panjang dan
lama, ada beberapa wajah dan nama yang bisa kita masukkan ke dalam daftar terduga, orang-orang yang secara langsung turun ke lapangan untuk membunuh di bawah nama Nocens.” Mr. West kembali
menatap komputernya, mengetik-ngetikan sesuatu dengan cepat sebelum akhirnya kembali menatap Chara saat data yang ia cari telah ia temukan.
“Ini Rex, nama aslinya Reon. Ia tidak sengaja terdorong mangsanya yang akan ia bunuh di atap perusahaan berlantai empat puluh tujuh.” Layar menampakkan seorang laki-laki berperawakan besar, dengan rambut hitam dan satu mata yang terluka.
“Lalu ada Ruby, Identitasnya aslinya dilindungi—sama seperti kalian, mereka juga punya koneksi yang lumayan. data identitasnya tidak akan bisa diakses oleh siapapun terkecuali orang yang menyembunyikan
identitas itu—dan dia mengganti nama aslinya dengan Rena Samantha. Kemampuan jimnastiknya masih digunakan di barisan unggul Nocens. Kami dapat datanya ketika ia pernah mencoba masuk ke perusahaan ini.” Kali ini foto-foto yang ditampilkan adalah foto-foto semi-buram dari CCTV dan kamera pengintai lainnya, dari sana hanya terlihat seorang gadis mungil dengan rambut hitam pendek.
“Ini Scope, nama aslinya belum diketahui. Ia seorang sniper handal yang selalu ada di kebanyakan misi mereka. Belum pernah ada orang yang melihat wajahnya dengan jelas karena ia selalu berada jauh dari lokasi misi, tapi enam dari sepuluh korban yang jatuh di setiap misi yang disertai Scope, adalah hasil tembakannya.” Foto buram seorang lelaki mengenakan topi, sedang berdiri di sisi jendela terpampang di layar. Rambut hitamnya sedikit terlihat mencuat melebihi topinya.
“Sayangnya, ini adalah data kami yang terakhir. Thunderbird.” Foto kembali berganti, kali ini ke sebuah sketsa gambar wajah bertopeng bitu hitam, yang menutupi kedua mata dan pipi sisi kiri wajah di sketsa itu.
“Di setiap kasus pembunuhan kemarin, Thunderbird hampir berada di semua misi. Ia adalah petarung jarak dekat mereka, dinamakan Thunderbird karena gerakannya cepat dan tajam, mirip sepertimu, dia juga membawa sebuah katana kemana-mana.”
“Kenapa kau menjelaskan semua ini padaku Sir West?” Chara mengernyit, masih menatap sketsa topeng di depannya.
Mr. West mengangkat kepalanya yang tertunduk menatap layar computer untuk menatap Chara. “Terry, pimpinan Nocens, mengincarmu. Karena kau melukai dua orang kesayangannya.”
“Hm?” Chara berpikir keras. Pembunuh bayaran? Chara tidak merasa sering beradu dengan kasus yang dilakukan oleh pembunuh bayaran.
“Oh ya!” Chara menepuk dahinya. “Si pembunuh gila yang dinamakan apa? Diamond?” Mr.West mengangguk.
“Diamond, Ms. Juniper, sekarang sudah tidak bisa kembali aktif bekerja di masyarakat, sebagai pembunuh bayaran atau tidak, karena tangan kanannya kau lumpuhkan.”
Chara mendengus.
“Oh ya! Aku kurasa dia tidak bisa benar-benar pulih dari kuncianku waktu itu. Setimpal dengan semua hal yang sudah ia lakukan,kurasa?”
“Dan satu lagi, ingat laki-laki ini? Yang hampir memutuskan lehermu?” Layar berganti lagi dengan satu klik dari Mr. West dan muncul foto lelaki berambut pirang panjang sampai ke lehernya.
“Pasti! Aku tidak segan-segan mematikan saraf di kepalanya hingga dia lupa ingatan sama sekali dan tidak lagi punya kemampuan untuk berlatih ‘ilmu bela diri’nya yang sangat disalah gunakan itu.” Chara membuat tanda kutip dengan jari-jarinya di udara.
“Kedua orang itu adalah baris depan Nocens yang sudah setia pada Terry untuk lebih dari lima tahun lamanya. Terry, memutuskan bahwa membunuhmu adalah prioritas, yang pertama menyingkirkanmu itu yang dapat hadiah paling besar.” Kata Mr.West, sambil menatap Chara tajam, memastikan gadis itu mengerti seberapa besar ancaman yang ia maksud. Chara mengangguk.
“Dan untuk itu, kami hanya curiga saja sebenarnya, tapi di Nobles High tiba-tiba diadakan pertukaran pelajar asing
kan?” Mr. West mematikan komputernya dan menegakan tubuhnya untuk fokus sepenuhnya pada Chara.
Chara menganggukkan kepalanya pelan-pelan.
“Kalau aku pikir-pikir lagi, memang pertukaran ini terjadi terlalu mendadak. Maksudku, tidak pernah ada pertukaran
sebelumnya, tapi tiba-tiba dengan alasan ada beberapa orang yang ingin kuliah di luar negeri, sekolah langsung setuju dengan pertukaran ini.”
Mr. West tertawa kecil.
“Kami telah melihat data-data dari sepuluh orang yang mendaftar ke sekolahmu. Dan dari sepuluh orang itu, ada beberapa orang yang data dirinya agak…” Mr. West mendesis. “Mencurigakan. Tapi kami juga tidak bisa bilang siapa karena informasi-informasi yang diterima Nobles High bisa saja di palsukan dan akan sulit melacak sumbernya. Tapi kalau aku adalah Terry, Charlexa. Ini kesempatan emas buatku untuk bisa mendekat kepadamu kan?” Mr. West tampak meragukan kata-katanya sendiri.
“Jadi sekarang kita setidaknya bisa yakin kalau salah satu dari mereka sudah tahu identitas asliku?”
Mr.West menggelengkan kepalanya dengan ragu.
“Aku juga tidak bisa bilang hal itu pasti. Ada kemungkinan, walau sangat kecil, tapi seharusnya bukan itu yang terjadi. Kurasa, sama seperti kita, hal-hal ini hanya asumsi. Karena kami juga melihat ada beberapa pertukaran murid internasional yang terjadi tiba-tiba di beberapa sekolah lain. Mungkin saja mereka berpencar untuk mencari tahu.”
Mr.West kembali bersandar ke kursinya, menghela napas.
“Untuk sekarang, lebih berhati-hati saja lah. Aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku yakin kau bisa melindungi
dirimu sendiri selama kau tidak lengah.”
“Pasti Mr.West, aku tak akan lengah.” Gadis itu berdiri.
“Aku mau pulang sekarang. Nanti kalau ada kabar lain…” Chara mengetuk-ngetuk earphone di telinga kanannya.
“Tinggalkanlah pesan.”