Love Kills

Love Kills
Bab 25



Ray dan Chara berjalan sambil mendorong satu trolley supermarket kecil berisi banyak barang belanjaan. Mereka


menghampiri sebuah café kecil tempat minum kopi dan lalu masuk dan memesan.


“Nah, aku benar-benar ingin bertanya ini sejak awal tapi ya… karena aku sibuk mengecek satu-satu barang belanjaan, dan tidak sempat mengobrol panjang, yaahh…” Ray tertawa kecil sambil mencampur minuman kopinya dengan sedotan.


“Bagaimana kabarnya WPA? Kau masih sibuk?”


“Yah… begitulah..” Chara tertawa pelan sambil menyeruput sedikit dari Green Tea Latte miliknya.


“Diselingi beberapa kasus, tapi tugas utamaku saat ini adalah mengejar Nocens, sekumpulan pembunuh bayaran ekslusif yang ternyata lumayan berbakat juga.”


“Oh my, kasus? Sejak kapan kau jadi detektif? Kuingat terakhir kali aku jadi partner mu di WPA kau hanya mengurusi pengejaran para tersangka semacam perampokan dan penculikan. Tidak ada kasus apalagi pembunuh bayaran.” Raut wajah Ray terlihat lebih serius. Chara menyeringai.


“Itu kan 2 tahun lalu. Aku nggak sengaja memecahkan sebuah kasus hilangnya sebongkah permata mahal waktu dibawa Mr. West ke pesta pernikahan salah satu temannya yang pernah dibantunya di Italy. Di sana ada inspektur Borris dan dia ingin aku menjadi anak buahnya. Mr. West memberikan penyamaran padaku, dengan nama Serenity Solara dan ia mendaftarkannya di kepolisian di seluruh dunia, CIA, FBI, sebutlah. Setelah itu permintaan mulai


bertadangan untukku.” Chara tertawa kecil sambil menggeleng. Ray ikut tersenyum tipis.


“Ya, kadang-kadang Mr. West memang agakajaib. Dia kelihatan seperti om-om biasa tapi dibalik itu—“ Ray menirukan suara ledakan kecil dengan mulutnya. “Dia punya banyak koneksi.” Chara mengangguk setuju.


“Tapi maksudku, kenapa kau bisa ditugaskan mengurus pembunuh bayaran? Seingatku Mr. West bukan tipe orang yang mau memberikan orang-orang kesayangannya—seperti kau dengan Stella—untuk beradu dengan lawan yang berbahaya seperti pembunuh.”


“Oh,” Chara memutar bola matanya. “Kau tahu kan ilmu bela diriku itu seringkali membuat orang cacat seumur hidup? Beberapa anggota Nocens sempat beradu denganku—waktu itu tidak sengaja—dan ada beberapa dari mereka yang pulang lumpuh. Boss Nocens—Terry—membuatku jadi target utama mereka setelah lihat anak anaknya itu pulang terkaing-kaing.” Chara mendengus, dan langsung membuang nada bercandannya saat matanya menemukan Ray yang tampak cemas.


“Kamu… banyak berubah ya.” Ray tertawa kecil sambil mengaduk lagi minumannya. Chara ikut tertawa.


“Yah, jelas.” Chara tertawa sambil mengatakan kalimat itu. “Bagaimana kamu? Sudah dapat kerja lagi dari WPA?”


“Sudah. Tapi belum serius. Hanya beberapa review, dan penyelidikan. Belum ada tangkap menangkap karena akupun sama sekali belum siap. Nama Ray Trevor diketahui dengan baik di Jerman, begitupula disini. Jadi Mr. West sedang menyusun identitas baru.”


“Samaran? Kenapa nggak pakai identitas lamamu? Phantom? Michael Lorrenzo?”


“Kamu masih ingat ternyata.” Ray menyeringai.


“Samaran Phantom tetap akan dipakai. Tapi Michael Lorrenzo harus diganti. Aku menghilang dari kegiatan selama kira-kira setahun bukan? Sehingga keberadaan Michael Lorrenzo dipertanyakan oleh orang-orang yang pernah berhubungan dengannya. Kalau tiba-tiba saja Lorrenzo muncul maka bisa-bisa aku dibombardir segudang pertanyaan yang tidak akan bisa aku jawab.”


Chara mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ray.


“Tapi kau kan pintar bikin cerita, kau pasti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.” Chara tertawa kecil.


“Pintar bikin cerita hah? Darimana kau dapatkan kesimpulan itu?” Ray tersenyum jahil sambil mengangkat alisnya,


berpura-pura merasa tersinggung.


Chara tertawa agak keras.


“Dari…” Tiba-tiba ia terdiam, pikirannya melayang jauh. Benar pertanyaan Ray. Darimana ia tahu kalau Ray pintar


mengarang cerita?


‘Aku harus pulang, maafkan aku. Aku tidak bisa ikut latihan programming hari ini. Hari ini ada les Jerman. Kamu


tahu lah, ortuku ingin aku sekolah di Jerman.’ Ray tersenyum sambil membereskan ranselnya.


‘Dasar anak rajin. Tapi aku tidak mau tahu ya kalau sampai kehebatanmu aku saingi.’ Chara tertawa kecil sambil menenggak sebagian besar isi botolnya. Keringat bercucuran dari pelipisnya. Sesi latihan club capoeira mereka baru saja di mulai. 


‘Hm, aku rasa aku tidak akan bisa dikalahkan semudah itu.’ Ray tersenyum jahil ‘Akanbutuh seratus tahun lamanya untukmu mengalahkan aku.’


‘Begitukah? Lihat saja nanti!’ Chara berkacak pinggang. Ray tertawa, lalu melambai.


‘Dah. Latihan yang benar ya.’ Ia lalu berlari pergi. Chara kembali berlatih.


"Char!" 


Chara menghentikan semua tinju yang ia layangkan pada sandsack di depannya dan menoleh untuk mencari sumber suara. Dari jauh seorang gadis dengan ikat rambut tinggi berlari ke arahnya. 


"Kamu bawa minum nggak?" Tanya gadis itu. 


"Sorry, Li." Chara menoleh ke arah botol minumnya yang sudah hampir kosong. "Minumku juga hampir habis." 


"Oh, kalau gitu mau nggak ke kantin bareng aku? Kita cari minum sebentar." Liana melambaikan tangannya, mengajak Chara ke arahnya. Chara mengangguk-angguk. 


"Oke." Kata Chara sambil berlari ke arah Liana dan berjalan dengan gadis itu ke arah kantin. 


"Kok kamu tumben latihannya dengan sandsack? Biasanya kan ada Ray yang suka ikut-ikut kamu kemana-mana seperti kucing." Tanya Liana. Chara tertawa. 


Langkah mereka masuk ke arah kantin, dan begitu pintu terbuka, mata Chara dan mata LIana langsung memandang lurus ke bangku paling jauh yang ada di kantin. Di bangku itu duduk dua orang yang familiar di mata mereka. Liana langsung meraih lengan Chara dan meremasnya sedikit. 


"Itu bukannya Ray?" Bisik Liana. Chara hanya menelan ludahnya. 


Chara benci dibohongi orang lain. Terutama orang yang ia percaya. 


"Sama siapa itu? Anak kelas satu ya? Yang anak band itu, kan?" Tunjuk LIana. 


Mata mereka langsung menemukan tangan Ray yang memegang mesra jemari gadis itu. Dan Chara langsung menarik Liana keluar dari kantin tanpa menjawabnya. 


 Chara tadinya tersenyum. Tapi lalu senyumnya menghilang karena kelebatan memori singkat tadi.


“Nah kan, kau tidak punya bukti kalau aku ini pernah membuat-buat cerita.” Ray tertawa puas. Dahi Chara berkerut, senyumannya sedikit terkembang ala kadarnya, karena tidak mau Ray menebak benaknya.


“Kenapa?”


Tapi tampaknya ia sadar akan pikiran Chara.


“Ah… nggak.” Chara tertawa kecil, kali ini benar-benar mengeluarkan senyum palsu andalannya, untuk menutupi rasa sakit yang meremas-remas hatinya sedari-tadi.


“Selebar apapun kamu senyum, orang tetap bisa lihat perasaanmu. Kamu terlalu mudah ditebak.” Senyuman menghilang dari wajah Ray, tatapannya kembali serius.


“Hm. Nggak ada apa-apa kok. Tiba-tiba ingat kerjaan, tahu lah seberapa menyebalkannya. Oh ya, sudah terlalu sore. Apa kau keberatan mengantarku pulang? Stella menunggui rumahku bersama Ricco, aku nggak enak meninggalkan mereka berdua.” Chara tersenyum dan berdiri.


Tapi tiba-tiba pandangannya berputar. Perasaannya berkecamuk dan rasanya mual. Spontan tangannya memegangi meja. Perlahan, badannya merosot dan kembali terduduk. Chara menaruh telapak tangan kirinya di dahi.


Suara Ray yang terus-terusan memanggil nama Chara sambil menanyakan keadaannya terdengar samar ditelinganya. Napasnya memburu, terasa semakin berat dari waktu ke waktu. Lalu entah apa yang terjadi. Rasanya tubuhnya melayang dari kursi, terlihat bayangan seorang lelaki yang sepertinya menggendongnya, lalu semuanya gelap.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Stellaria berjalan bolak-balik di depan pintu kamar rumah sakit WPA yang bernomorkan H-4. Ia ingin masuk, melihat keadaan sahabatnya yang terbaring lemah di dalam ruangan, tapi Stellmaria meminta waktu untuk berbicara berdua dengan Chara di dalam.


Ray terduduk di bangku dekat pintu, siku lengan kanannya tertumpu di paha kanannya, menopang kepalanya. Matanya terpejam, dan berkali-kali dihembuskannya napas keras. Pikirannya berkecamuk. Rasa bersalah terus menekan perasaannya. Apa tadi ia salah bicara? Apakah terlalu cepat membawa Chara jalan sekarang? Mereka baru saja bertemu lagi setelah sekian lama, jalan berdua mungkin terlalu menyebalkan untuk Chara.


Lebih dari sejuta alasan keluar di kepala Ray, menyalahkan dirinya sendiri.


Suara pintu geser yang dibuka membuat kedua orang di depan ruangan tersebut sontak melihat ke arah pintu.


“Kalian boleh masuk sekarang. Chara sudah kuberi obat. Gejala ini mungkin akan terjadi lagi. Jadi untuk sekarang, kumohon ia jangan beraktifitas sendirian dulu.” Kata Stellmaria. Matanya menunjukkan rasa prihatin. Stellaria mengangguk pada adiknya sekadar mengatakan terimakasih, lalu langsung menghambur ke dalam. Ray masih tetap diluar. Ia menghembuskan napas lega sambil menengadah ke langit. Ia menyandang tasnya lalu mulai berjalan.


“Ray? Nggak ke dalam dulu?”  Kata-kata Stellmaria membuat langkah Ray terhenti, lalu berbalik.


“Aku cuma akan jadi beban buat dia kalau ke dalam sekarang.” Ray tertawa pahit. “Biar dia istirahat. Titip Chara ya.” Ray tersenyum pada Stellmaria.


“Apa yang membuatmu berpikir kalau Chara menganggapmu beban?”


Senyum Ray memudar dan langkahnya terhenti. Tapi Stellmaria masih menunggu jawaban lelaki itu.


“Aku… kau tahu kan kenapa kami nggak dekat lagi? Yah, kau masih kecil sih waktu itu, tapi aku yakin kau sedikit banyak tahu apa yang terjadi.”


Stellmaria mengangguk.


“Aku terlalu banyak membuat Chara kecewa, mungkin sakit hati. Dulu aku senang lihat Chara begitu tulus sayang padaku, dan aku berharap lebih. Entah aku memang sayang padanya atau aku memang cuma cowok brengsek yang senang semena-mena dengan perasaan orang. Tapi lalu Jessie datang dan saat itu… entah bagaimana aku yakin saja dia orang yang tepat untukku. Di sisi lain aku juga berharap Chara tetap ada di sana dan memberikan perhatiannya untukku, aku bodoh kan?” Ray menghela napas dalam-dalam. “Aku selalu bisa melihat kekecewaan itu di matanya setiap kali dia tersenyum padaku. Waktu juga tidak membuat segalanya jadi lebih baik, semuanya berbeda sekarang. Aku… ingin menebus kesalahanku dengan menjaganya kali ini. Tapi kurasa yang bisa menyakitinya saat ini kurang lebih hanya aku.”


Ray menghembuskan napasnya keras.


“Sekarang malah aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih karena matanya seolah kosong saat melihatku. Tapi kurasa ini kesempatan terakhir untukku menjauh darinya supaya aku tidak berbuat lagi hal yang bodoh kepadanya.” Ray mendengus.


“Seandainya aku tidak pernah salah langkah, Chara mungkin tidak akan berhenti sayang padaku dan aku juga tidak akan meninggalkan luka besar di hatinya.” Ray kembali berbalik untuk pergi.


“Chara bukan tipe orang yang bisa berhenti sayang pada seseorang.” Lagi-lagi kalimat Stellmaria membuat langkah Ray terhenti dan badannya berbalik lagi.


“Kau tahu Nicholas? Agent WPA yang keluar sekitar empat tahun yang lalu?” Stellmaria membenarkan letak kacamatanya yang agak turun.


Ray menggeleng. Ia baru saja masuk WPA 3 tahun yang lalu.


“Singkat cerita itu cinta pertama Chara. Nicholas bukan seseorang yang terlalu special, dan aku juga tidak tahu apa yang membuat Chara jatuh cinta. Mereka masing-masing sangat sibuk dan Chara juga masih kecil, jadi mereka tidak sempat mengenal satu sama lain lebih dekat. Chara lalu berhasil melupakan cinta pertamanya itu setelah lima tahun.” Stellmaria tertawa kecil melihat ekspresi Ray yang seolah mengatakan kau-bercanda-kan?


“Yeah, gila, aku tahu. Memang waktu Chara suka pada Nicholas ia masih terlalu muda untuk cinta-cintaan. Tapi ditunggu berapa lamapun ia tetap suka pada orang yang sama. Itulah alasannya ia selalu sendiri selama ini. Ia menunggu Nicholas, atau seseorang yang lain yang bisa membuatnya merasakan hal yang sama. Tommy dari pelatihan bela diri sudah menyatakan perasaan padanya dua kali tapi dua-duanya di tolak. Ben yang adalah agen kesayangan divisi sebelah juga ditolak, padalah fansnya banyak. Dia ganteng dan baik hati, belum lagi skill kerjanya oke sekali.” Stellmaria mendesis, mengagumi Ben yang ada di bayangannya, “Tidak ada yang bisa membuatnya melupakan Nicholas.”


Ray mendecakkan lidahnya. Itu berarti dirinya pun hanya angin lalu.


“Maksudku kecuali kau, Ray.” Stellmaria tertawa kecil. Ray kembali mengangkat kepalanya.