
“Stella?”
Chara berkata pelan-pelan, berusaha untuk membuat bibirnya tidak terlalu banyak bergerak.
“Yup. Terlihat jelas sayangku.” Suara Stella masuk lewat airpod di telinga Chara. Chara melirik sekilas ke arah Stella yang mengawasinya dari beranda hotel, menggunakan lensa teropong dari WPA yang dapat melihat hingga jarak yang sangat jauh.
“Ok. Kau lihat pria berciri-ciri yang diberitahukan?” Chara berkata lagi.
“Hm… tinggi sekitar 170-175, rambut membotak, sedikit gemuk. Ada sih, tiga orang seperti itu yang dari tadi menurigakan.”
“Oke… bisa kau… beritahukan posisinya?”
“1 orang berjarak lima meter arah jam dua di pesisir. Satu lagi ada di bar minuman, satu lagi di arah jam delapan, dekat pohon.”
“Ok. Kau perhatikan terus ya… Jangan terkecoh yang tidak-tidak.”
Chara berjalan menuju bar minuman. Ia duduk di sebelah pria yang dicurigainya dengan santai.
“Halo, bisa pesan lemon tea satu? Terimakasih.” Kata Chara pada bartender dengan suara centil yang ia buat-buat. Suara itu tentunya menarik perhatian pria yang ada di sebelahnya dan Chara tersenyum ramah padanya.
“Pantai penuh ya? Awal liburan sekolah sih, jadi begini.” Kata Chara. Pria itu tersenyum.
“Itu dia, anakku juga sedang berlibur bersama teman-temannya, jadi aku dan istriku bisa santai di pantai ini.” Pria
itu menjawab dengan pelan-pelan sambil menyesap minumannya sendiri.
“Oh, honeymoon kedua ya?” Chara tertawa kecil. Pria itu ikut tertawa.
“Bicara soal anak-anak, saya mau tanya, apa Bapak lihat seorang pria… mungkin seumuran dengan Bapak, membawa banyak anak-anak kemari?” Tanya Chara sesantai mungkin.
“Hm… banyak sekali yang membawa banyak anak-anak.” Kata si Bapak.
“Tepatnya empat anak-anak kecil, umur delapan kurang lebih. Aku sudah lelah mencari, itu paman saya, kami terpisah dan susah bertemu lagi.” Kata Chara.
“Oh. Mungkin yang disana? Yang berdiri di bawah pohon.” Si bapak menunjuk. Chara mengikuti arah jari si pria.
“Tadi dia membawa empat orang anak.”
Chara memicingkan matanya.
“Aduh, penglihatan saya kurang jelas, jadi tidak bisa lihat wajahnya. Tapi sepertinya bukan itu, paman saya agak gendut. Hanya dia ya yang membawa anak-anak?” Tanya Chara.
“Tidak-tidak, kalau tidak salah yang disana juga membawa banyak anak-anak tadi, yang disana juga.” Ia menunjuk lagi. Seorang lelaki yang sedang duduk di pinggir pesisir sambil melamun, dan seorang lagi yang sedang mengobrol sambil dikelilingi beberapa perempuan.
“Yang satu bawa anak lima orang, dan yang satu lagi… mungkin hanya bawa dua. Aku tidak ingat.” Pria itu bergumam, mencoba untuk mengingat-ingat. Chara mengangguk-angguk dan melompat turun dari kursinya.
“Terimakasih infonya ya om, saya mau coba lihat lebih dekat. Selamat berlibur!” Chara dengan cepat berlari kembali ke arah pantai.
“Sama-sama. Semoga cepat bertemu pamanmu.” Chara mengangguk sambil melambai dan pergi menjauh.
“Stella?”
Chara memanggil cukup keras, tapi tidak ada jawaban dari seberang.
“Stella!?”
“Oh ya,ya,ya?”
“Kau lagi apa sih?”
“Eh… sorry. Ada sinetron bagus sedang tayang. Lagi seru-serunya.” Stella tertawa kecil, Chara menghela napas.
“Kau mendengarkan percakapanku tadi kan?”
“Hm.. ya, tidak semua tapi aku mengerti intinya. Berarti tersangka jadi ada tiga dan bertambah satu dikurangi si Bapak yang tadi ya? Kalau menurutku sih yang bawa anak lima. Jumlah empat anak bisa dengan mudah terlihat seperti lima.”
“Hm… itu belum tentu. Bisa saja tidak semua anak bersama dia.” Chara berjalan ke arah target selanjutnya yang sedang melamun di pasir.
“Waaahh mataharinya panas sekali ya.” Chara cepat-cepat berlutut di dekat target dan memandikan badannya dengan air pantai.
“Ah, justru panas ini kan yang dicari wisatawan.” Jawab pria itu santai. Chara tidak setuju, tapi bukan itu intinya
sekarang.
“Oh ya? Bapak kemari tadi bawa anak-anak kan? Kemana mereka?”
“Mereka sedang bersama mamanya. Sepertinya sedang mencari baju pantai.”
Chara mengangguk-angguk. Terdengar jujur.
“Lalu kenapa Bapak tidak ikut?”
“Aku tidak suka kalau diajak istriku jalan-jalan. Aku lebih suka berjemur dan main air disini.” Chara mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berbalik dan pura-pura melambai pada seseorang.
“Oh, temanku sudah ada di sini. Terimakasih sudah menemani aku ngobrol.” Kata Chara sambil berdiri dan berbalik
pergi. Ia berjalan sampai ke dekat sebuah pohon dan lalu mengipas-ngipas dirinya.
“Gila sekali mataharinya.”
“Hahahaha salah sendiri kau malah ikut jemuran bersama pria itu.” Stella tertawa.
“Hei, jangan ketawa kamu. Ayo tukaran tempat kalau mau.” Kata Chara. Stella tertawa lagi.
“Maaf deh.”
“Siap ya, aku mau mendatangi laki-laki yang… hm, sebentar…” Chara mengamati laki-laki yang sedang berbicara dengan 3 wanita itu. Lelaki itu sebentar-sebentar memegang salah satu dari wanita di sekelilingnya, lalu wanita itu akan berbalik menggodanya. Begitu terus, dia menggoda ketiga wanita itu, dan akan terjadi sebaliknya. Chara menyeringai.
“Ini… akan…jadi… sangat… menyebalkan.”
“Hm? Apanya?” Pertanyaan Stella tidak digurbris Chara yang sekarang sedang mengurai rambut panjangnya. Ia membuka selendang yang dari tadi menutupi bahunya dan berjalan mendekat si laki-laki untuk menjatuhkan selendangnya. Chara berdiri di belakang salah satu wanita yang sedang berbicara dengannya, lalu membungkuk
untuk mengambil selendangnya sambil terus memandangi targetnya. Si pria melihat Chara. Chara tersenyum ke arahnya sebelum berbalik pergi.
“Hei, hei. Kau sadar kan sedang menggoda bapak-bapak?”
“Sst.” Balas Chara dengan agak kesal. Lalu ia merasakan seseorang menepuk pundaknya.
“Hei, manis.” Suara seorang pria yang berusaha terdengar menggoda datang dari belakang Chara. Chara memuar bola matanya sebelum ia berbalik dengan senyum.
“Mau temani aku minum segelas atau dua gelas bir?” Pria itu menyeringai.
“Hm… tapi…”
lemah walau dibalik akting itu Chara bisa membanting lelaki ini ke pasir saat itu juga.
“Hati-hati~ Tangannya~” Stella tertawa. Chara tidak menggubris.
“Nah, ayo, pesan yang kau mau.” Pria itu duduk di kursi bar. Chara melihat ke menu.
“Hm, nachos keju satu.” Kata Chara. Lalu pria itu memesan segelas bir besar.
“Siapa namamu manis?” Terdengar tawa keras Stella di seberang.
“Stella.” Kata Chara dengan genit.
“Hei hei.” Stella berhenti tertawa sekarang.
“Stella ya? Namamu manis seperti wajahmu.” Chara menahan wajahnya agar tidak mengerut menjadi ekspresi jijik. Lelaki itu naif kalau berpikir ia terlihat tampan saat mengatakan hal-hal seperti itu.
“Wah terimakasih.” Chara tertawa kecil. Tiba-tiba ada seorang anak yang sedang membawa seember penuh air, lalu tersandung pasir dan membuat embernya tumpah membasahi kaki si pria.
“Hey! Bocah sialan!” Lelaki itu menghentak-hentakkan kakinya yang basah yang hampir saja menendang si anak itu, kalau saja anak itu tidak cepat-cepat lari. Chara mengernyit saat lelaki itu tidak melihatnya lalu kembali tersenyum dan melanjutkan topik.
“Oom, sedang liburan ya disini?” Tanya Chara, kembali dengan nada manisnya yang dibuat-buat.
“Ya, tentu saja.” Pria itu mengambil tissue di meja bar dan membersihkan kakinya.
“Sendirian?”
“Oh tidak sebenarnya…” Pria itu berhenti, memikirkan apa yang perlu ia katakan selanjutnya.
“Pasti dengan istri dan anak-anak ya?” Chara mencibir. Pria itu tertawa.
“Enak saja. Begini-begini aku belum menikah.” Chara memandang pria itu dengan curiga.
“Oh ya? Tadi kakakku bilang oom datang kesini dengan dua orang anak.” Kata Chara.
“Oh, itu bukan anakku.” Pria itu menjawab singkat.
“Lalu?” Chara menekan, nada bicara pria itu berubah. Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Eh… itu, mereka keponakanku.” Pria itu berdeham lalu meneguk birnya,
“Oohh keponakan oom ya?” Chara melompat turun dari kursinya.
“Ngomong-ngomong… sepertinya saya perlu pergi sekarang. Saya ditunggu paman saya.” Chara hendak berbalik, tapi lengannya ditahan si pria.
“Sebentar dooong. Temani oom dulu disini…” Pria itu menyeringai. Chara menahan diri untuk tidak menggeram detik itu juga.
Sial… Chara mengumpat dalam hati.
“Lain kali yaa.. kita bisa main lagi kapan-kapan.” Chara menekan pelan titik yang ada di pergelangan tangan si pria
yang sedang mengelus-elus lengannya dan pria itu sontak berteriak kecil, mencoba menarik tangannya dari genggaman Chara.
“Sampai jumpa.” Chara tersenyum manis, dan menepuk-nepuk pundak pria itu sebelum berlari pergi, meninggalkannya kesakitan.
Chara menggeram kali ini, spontan merasa badannya kotor.
“Tangan itu ada bukan untuk sembarangan pegang-pegang orang lain, apalagi seorang wanita yang berumur setengah dari dirimu dan baru saja kau temui.” Chara menekankan setiap kata-katanya. Stella tertawa.
“Ya ya. Seharusnya ia lihat dulu, tukang akupuntur sepertimu berbahaya.” Suara tawa Stella masih mengikuti setelah itu.
“Hey. Aku bukan tukang akupuntur.” Chara mendecakkan lidahnya.
“Aku yakin, yah, setidaknya lumayan yakin kalau pria itu ada campur tangan di kasus ini.” Chara berjalan ke dekat salah satu pohon di sana untuk berteduh di bawahnya.
“Apa yang membuatmu yakin?”
“Yang jelas dua anak yang datang bersamanya itu bukan keponakannya. Aku yakin.” Chara berbisik, tetap waspada pada sekelilingnya.
“Tapi kalaupun memang ia terlibat berarti…”
“Orang yang dimaksud ‘paman Kattie’ bukan dia.” Kata Chara dan Stella bersamaan.
“Ya, itu benar. Dia benci anak-anak. Akan sulit membujuk anak-anak itu untuk ikut dengannya kalau ia bahkan tidak merasa nyaman di sekitar anak-anak.”
“Ya, lagipula tingginya tidak jauh berbeda denganmu. Kurasa tingginya tidak sampai 170.” Jawab Stella.
“Oh ya, masih ada satu orang lagi ya.” Chara menoleh ke arah pria berwajah sedih di bawah pohon tidak jauh darinya. Chara menghampirinya, di tengah jalan, ia menginjak sesuatu yang keras, lalu memungutnya, sebuah kotak kacamata. Chara mengambilnya, dan membawa kotak itu bersamanya.
“Pak?” Tanya Chara pada si pria, dan ia mendongak.
“Apa ini punya Bapak?” kata Chara sambil memberikan tempat kacamata itu padanya. Lelaki itu menerimanya, dan melihatnya lebih dekat.
“Bukan, ini bukan milik saya.” Si pria mengembalikannya pada Chara. Chara duduk di sebelah lelaki itu.
“Oh, bukan ya?” Chara menaruh kotak kacamata itu kembali ke pasir.
“Aku pikir punya Bapak soalnya tadi ada anak kecil yang agak mirip bapak memberikannya padaku.”
“Aku tidak punya anak.” Bisik pria itu pelan.
“Oh. Tapi tadi kata penjaga di sana paman bawa 3 anak?” Chara menunjuk pada penjaga pantai yang ada di dekat mereka.
“Itu anak asuhku.” Lelaki itu menjawab singkat. Ia terlihat tidak nyaman.
“Oh ya? Istri Bapak di mana?” Chara mulai prihatin dengan ketidaknyamanan lelaki itu.
“Bisakah kau tidak menggangguku?! Kepalaku sakit!!” Pria itu sedikit membentak dan Chara dengan cepat berdiri untuk pergi.
“Maaf.” Bisik Chara sambil berjalan pergi.
“Bukan dia pelakunya.” Chara berbisik kembali ke Stella.
“Kurasa ia jujur. Kulitnya merah, sepertinya sakit kepala karena terlalu lama di bawah matahari. Kalau ia memang sesensitif itu dengan matahari, ia tidak akan memilih pantai sebagai tempat tujuannya.”
Chara mengangguk kecil, masuk akal. Chara berjalan masuk ke hotelnya, dan masuk ke kamar untuk mengganti bikininya dengan baju yang lebih kasual. Stella masih duduk di ujung kasurnya, dekat dengan TV yang sepertinya masih menayangkan sinetron yang sedang diperhatikan Stella sedari tadi.
“Ayo.” Chara melemparkan bikininya ke kasur.
“Ayo kemana?” Stella memalingkan kepalanya dari TV ke Chara. Chara tersenyum.
“Shopping.”