Love Kills

Love Kills
Bab 4



Kamar Chara adalah ruangan kecil sederhana dengan jendela besar yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya. Chara dengan sengaja selalu membiarkan gordennya terbuka saat ia tidur, supaya ia selalu tahu jam berapa sekarang dari jumlah cahaya yang bersinar masuk. Semenjak kejadian sebelas tahun lalu, Chara tidak pernah bisa tidur sepulas itu. Sebagian darinya selalu sadar dan waspada, bahkan ketika ia tidur. Chara tidak pernah mau


mengakui kejadian sebelas tahun lalu itu membuatnya takut dan trauma, tapi semenjak ia berada dengan WPA, ia tidak pernah melepaskan earset WPA dari telinganya saat ia tidur.


Itulah yang membuat WPA dapat dengan mudah menghubunginya.


Satu bunyi…


Beep


Dan mata Chara langsung kembali terbuka.


“Ya Sir.” Bisik Chara sambil menekan tombol earsetnya untuk menjawab panggilan masuk itu. Mata Chara melirik ke jam digitalnya di sisi tempat tidur. Pukul 2:30 pagi.


“Maaf mengangguk tidurmu, Charlex. Aku sebenarnya hanya ingin memberi tahu, kalau ThunderBird sedang berada di Taman Utara 1 km dari rumahmu. Ia sedang dalam tugas pribadi sepertinya. Ia tidak ditemani banyak orang, jadi kurasa akan aman untukmu melakukan pengintaian. Tapi kontak tidak dianjurkan. Utamakan keselamatanmu hari ini.” Chara mengangguk. Ia dengan sigap bangun dari tempat tidurnya, dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik. Ia mengambil pakaian tugasnya, full body suit kulit putih, yang dapat dengan mudah mengkamuflasenya di manapun, dan topeng masquerade putih-perak-emas yang jadi ciri khasnya. Ia memakainya, mengikat rambut panjangnya diatas, menyelipkan White Snake Katana kesayangannya


di pinggang, dan membuka jendela. Baru saja ia akan melompat, matanya melihat Beretta 92 yang ada di bawah bantalnya. Chara ragu untuk beberapa saat, tapi untuk keamanannya, ia mengambil pistol itu dan menyelipkannya di kantong belakang. Chara menggigit bibirnya ragu, lalu melompat turun dari jendela.


Kemampuan parkour Chara mungkin sudah bisa dibilang professional, pelatihan parkour adalah pelatihan pertama yang diberikan WPA kepada agen-agennya. Tidak hanya membuat mereka bisa kabur atau pergi ke tempat tujuan mereka dengan cepat, tapi kemampuan itu juga otomatis membuat mereka lebih lincah di pertarungan. Sayang kemampuan itu bukan kemampuan yang bisa Chara banggakan ke teman-teman sekolahnya.


Chara berhenti di atap salah satu rumah yang menghadap langsung ke taman. Ia duduk dan menyilangkan kakinya.


“Waktunya untuk menonton film action tengah malam.” Bisiknya pada diri sendiri. Matanya mengawasi taman kosong dibawahnya. Sekitar satu menit kemudian, ia merasakan adanya seseorang yang bergerak dengan cepat di bawah. Matanya tak lepas dari taman penuh rumput itu. Di sana, terlihat ada seseorang berseragam tertutup, mirip dengan yang ia kenakan, namun dengan warna biru navy. Wajahnya tak terlihat, tertutup topeng biru navy yang menutupi matanya dan pipi sebelah kanannya. Yang dapat terlihat hanya pipi kiri hingga ke dagu kirinya. Mata Chara yang tajam terus mengikuti pergerakan lelaki itu. Tangannya siaga di pinggangnya, tepat di pegangan katananya, kalau-kalau ia terlihat dan orang-orang itu menyerangnya, Chara setidaknya akan punya kesempatan untuk melindungi diri.


Ia terus menonton, dan lalu lelaki itu diam ditengah lapangan. Tidak lama kemudian, datang lima orang laki-laki berjas. Salah satunya membawa tas hitam besar. Mereka tampak berbincang-bincang biasa, sampai ketika ThunderBird meminta tas itu, dan lawan bicaranya kelihatan ragu. Chara tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya dan… entah bagaimana caranya, ThunderBird berbalik dan menghilang untuk waktu yang singkat dan ketika ia kembali salah satu dari pria berjas itu tersungkur di rumput, dan kelihatan tidak lagi sadar diri. Chara membekap mulutnya.


Lawan bicara Thunderbird yang membawa tas, tetap bersikeras untuk tidak memberikan tasnya. Lalu sekitar dua detik kemudian, empat kawannya sudah terkapar di tanah. Chara sudah terbiasa untuk membedakan, mana orang yang pingsan dan mana orang yang sudah tidak bernapas lagi. Dan kelihatannya semua orang yang terkapar itu memang sudah tidak bernyawa, menyisakan satu orang di tengah, ia yang memegang tas hitam itu. Orang itu jatuh berlutut, menangis dan lalu menyerahkan tas di tangannya. Orang itu lanjut menyembah ThunderBird, memohon-mohon sesuatu yang Chara tidak bisa dengar. Tapi Chara dapat melihat keputusan Thunderbird dari posisinya.


Perlahan Thunderbird merogoh kantung belakangnya dan menarik sebuah benda hitam, dan mengarahkannya ke punggung orang yang sedang berlutut menciumi kakinya. Sebelum Chara dapat menarik napas, bunyi tembakan dengan peredam terdengar, dan orang itu tetap berlutut, tidak lagi bergerak. Chara mencoba bernapas dengan lebih tenang, menahan bunyi napasnya agar tidak menjadi terlalu keras.


“Kenapa? Kaget?”


Chara berteriak kecil, lelaki berambut coklat gelap yang tadi ada di bawah itu, sekarang sudah duduk disebelahnya,


menghitung uang dengan santai. Chara mendengus, menenangkan jantungnya yang berdebar kencang karena takut dengan berakting santai.


“Lumayan, jujur saja. Kau cepat sekali.” Chara berusaha mengatur napasnya agar terdengar normal.


“Yah, aku diberi nama ThunderBird bukan karena tidak ada alasan kan? Gadis musim dingin?” Pria itu tertawa kecil. Chara ikut tertawa kecil.


“Ya, ya. Kuakui kemampuanmu, aku tidak sepicik itu.” Chara menelan ludahnya pelan-pelan. Ia bahkan tidak berani


melirik ke sisinya, padahal kalau saja ia berani, mungkin ia bisa melihat wajah Thunderbird dengan lebih baik.


“Oh sorry.” Chara dengan cepat melepas tangannya dari katana dan dengan canggung menaruhnya di pangkuannya. “Itu pose nyamanku. Jangan tersinggung.”


Thunderbird mendengus.


“Aku pernah bertanya pada seseorang kenapa kau disebut Winter. Tentu saja selain karena kau selalu pakai baju putih itu kemana-mana. Dia bilang karena kau itu cepat dan mematikan, seperti badai salju. Seperti salju yang kelihatan tidak berbahaya, tapi kalau seseorang berada di salju terlalu lama, ia akan membeku dan mati rasa.” Thunderbird mendekat dan berbisik. “Kalau itu aku dapat testimoni dari orang yang sudah kau lumpuhkan badannya.”


Thunderbird terkekeh kecil sendiri sebelum kembali menjauh dan melanjutkan penjelasannya.


“Tapi lalu orang itu bilang, walaupun namanya Winter, kau tidak sedingin yang dia kira.”


Thunderbird menggeleng-gelengkan kepalanya. Chara melirik dari balik topengnya. Dibandingkan dengan Chara yang berada di posisi sangat siaga, Thunderbird duduk dengan santai.


“Bodoh sekali kalimat itu. Tidak sedingin yang kau pikir? Teknikmu itu lebih menyiksa daripada pembunuhan. Membuat orang menderita seumur hidupnya sampai ia mati itu lebih kejam dari membunuh. Dibunuh, setidaknya tidak akan sesakit itu, kau sampai ke tujuanmu dan orang yang kau bunuh tidak akan merasakan sakit yang berkepanjangan.” ThunderBird menatap Chara tajam selama ia mengutarakan pikirannya.  “Kalau menurutku? Jujur saja, kau justru lebih jahat daripada yang kukira.” Suara Thunderbird merendah di kalimat terakhir. Kalimat itu hampir terdengar seperti kekecewaan dan ancaman di waktu yang bersamaan.


Chara mengangkat alisnya, mempertanyakan dirinya


yang sedikit banyak merasa kalimat itu cukup masuk akal.


“Kalau kau berkenan mendengarkan pendapatku, tuan maha tahu, aku percaya adanya Tuhan, dan karena itu aku tahu, nyawa manusia itu bukan milikku. Lagipula jangan naif. Semua orang pernah berbuat salah, jadi apa yang membuatmu merasa kau punya hak untuk sembarangan menilai mana yang seharusnya mati karena dia telah banyak berbuat salah? Setidaknya aku merasa dengan membiarkan mereka hidup--walaupun cacat atau sebagainya--mereka akan punya waktu untuk menyadari kesalahan-kesalahannya. Setelah itu entah dia mau menebusnya atau malah mau membuat lebih banyak lagi kesalahan itu semua ada di tangannya. Terkadang aku merasa mereka cuma berbuat kesalahan yang bukan niat mereka sendiri seperti membunuh demi membalaskan dendam orang lain. Atau sejenisnya, entahlah.” Chara menjelaskan pelan-pelan. ThunderBird menggeram kecil.


“Jadi, menurutmu kita harus menghargai nyawa manusia walaupun mereka sendiri tidak menghargai nyawa orang lain?”


“Menurutku perasaan dan pendapat personal kita soal itu tidak berarti. Semua orang pernah berbuat baik, semua orang pernah berbuat jahat. Jumlahnya saja yang berbeda-beda. Ada sesuatu di atas sana yang bisa menghitung semua itu dan menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Setidaknya itu yang aku percaya.” Chara ikut merenungkan kata-katanya. Ia bukan seseorang yang terlalu relijius, tapi memang begitulah yang ia pikirkan.


“Hm. Sayangnya, aku tidak percaya pada “sesuatu di atas sana” itu dan sebagainya.” Thunderbird kembali menarik tas hitam itu ke pangkuannya dan bersiap-siap untuk berdiri. Chara hendak membuka mulutnya untuk membalas kata-kata Thunderbird namun tampaknya ia belum selesai berbicara.


“Tapi mungkin…” ThunderBird memandang Chara, dan kali ini Chara menatap Thunderbird langsung ke matanya. Matanya yang bersinar diterangi sinar bulan.


“Sekarang aku percaya kalau malaikat benar-benar ada.”


Chara mengernyit. Ekspresi apa itu di wajahnya?


“Well, aku mau pulang, mari kita berbincang-bincang lagi di kesempatan lain.” Thunderbird berdiri dan meregangkan badannya, Chara hendak membuka mulutnya lagi dan ikut berdiri. Tapi ia tidak cukup cepat, setidaknya tidak jika dibandingkan dengan Thunderbird.


“Adieu.” Potong ThunderBird, disertai gulungan kabut abu-abu yang menggulung dirinya, dan lalu ia menghilang. Chara menghela napas. Lega, dan sesak dalam waktu yang bersamaan.


“Dia lebih cocok disebut Magician daripada Thunderbird.”Chara berbisik pada dirinya sendiri yang sedang memutar


bola matanya, dan lalu kembali pulang dengan kesal.