
Serenity Charlexa Saito
Tugas : Mencari dan melumpuhkan ThunderBird di Nobles High, target kurang lebih berumur 18-20 tahun.
Informasi lain: TBA
Perlengkapan : Glider, Safety glide, Beretta 92, Beretta 92FS Inox ,White Snake Katana.
Kategori Izin: FA-5
Chara menghembuskan napas panjang membaca e-mail itu. FA-5, bisa juga dibaca Field Agent – 5, atau izin level 5. Dimana mereka diizinkan untuk membunuh target dan atau tim yang menyerang bersama target. Lalu perusahaan akan mengurus semuanya. Chara tidak mau membunuh siapapun. Tapi harus bagaimana? Pengetahuannya tentang titik saraf di tubuh manusia dan cara melumpuhkannya mungkin kurang untuk ini saja. Kemampuan bela dirinya pun mungkin akan bisa diseimbangi lawannya. Kali ini, WPA juga benar-benar memberinya dua buah pistol Beretta untuk dipakai. Chara penembak yang handal, dulu ia mengambil posisi sniper--penembak jarak jauh--di WPA. Tapi setelah satu kecelakaan terjadi dan senapannya melubangi bahu seseorang, Chara berjanji tidak akan menyentuh benda itu lagi.
“Char, sepertinya banyak pikiran?” Seseorang menepuk punggung Chara, membangunkannya dari lamunan.
“O-oh, hai Nyra.” Nyra—teman sebangku Chara—tersenyum ceria.
“Sudah belajar?” Tanya Nyra sambil kembali duduk di sebelah Chara
“Sudah, tapi baru sebagian, ya.. lumayan lah.” Chara balas tersenyum.
“Ya, kamu sih enak, belajar sebentar langsung hafal.” Nyra mencibir, lalu membuka buku Biologi tebalnya dan menghafal tapi lalu ia menoleh kembali pada Chara setelah lima detik berlalu. “Eh, kamu tahu, kan? Mereka bilang hari ini ada pertukaran pelajar.” Nyra berkata dengan semangat sambil beberapa kali memukul-mukul buku biologinya.
“Oh iya? Aku baru tahu.” Chara dengan cepat mengatupkan bibirnya. Nadanya yang terlalu berusaha ceria itu terdengar dibuat-buat di kupingnya sendiri. Tapi Nyra sepertinya tidak terlalu memperhatikan.
“Iya. Bayangkan! akan ada banyak murid baru yang belajar bersama kita, dari seluruh dunia!” Nyra bertepuk tangan
senang.
“Bukannya kau bilang belum belajar, ya? Daripada itu lebih baik kamu buka buku tebalmu itu dan mulai menghafal.” Kata Chara ikut tertawa. Dengan panik, Nyra kembali membaca.
Chara menelan ludah. Tinggal hitung mundur sampai ia dan targetnya bertemu.
“Selamat siang, Bapak, Ibu, tamu-tamu terhormat, dan murid-murid Nobles High yang tercinta. Hari ini kita berkumpul untuk menyambut murid-murid yang akan belajar disini bersama kita mulai sekarang sampai beberapa waktu ke depan, untuk itu—“ Kepala sekolah lalu memberi sambutan. Chara menguap lebar, ia terlalu lama melakukan pencarian soal Nocens tadi malam, ia hanya sempat tidur empat jam.
“Mari berikan tepuk tangan yang meriah untuk teman-teman baru kita—“ Tepuk tangan riuh mengiringi naiknya sepuluh orang murid ke atas panggung. Chara dengan cepat menegakkan tubuhnya, berusaha melihat dengan lebih baik ke arah panggung aula.
Chara memicingkan mata. Ia sudah berhadapan dengan bermacam-macam penjahat dan pembunuh untuk sebelas tahun lamanya. Dengan dirinya yang saat ini harusnya Chara sudah bisa membedakan mereka dari orang biasa.
“Phillips Torry dari Inggris, Horrace Link dari Kanada, Lyana—“ Dan kepala sekolah masih terus menyebutkan nama mereka satu persatu. Buat Chara nama tidak penting. Namanya sendiri bahkan bukan nama aslinya, itu pengetahuan mendasar buat orang-orang seperti Chara. Kesepuluh murid mancanegara itu berdiri di atas panggung, berjajar rapi. Mata Chara tidak bisa berhenti memperhatikan murid-murid di jajaran belakang, empat nama yang akhirnya ia ingat, Enrico Wednstroy, Brianty Georgia, Selena Delacora, dan Maximillian Fransson. Sebutlah insting, intuisi, tapi di saat ini Chara belum bisa yakin tentu saja.
Setelah perkenalan singkat itu, guru Matematika kelas sepuluh naik ke podium untuk memberikan semacam pidato tentang pentingnya edukasi dan sosialisasi terutama dengan teman-teman dari negara lain. Kata-kata itu seolah lewat saja di telinga Chara sebelum akhirnya mereka kembali dipersilakan lagi keluar setelah masing-masing murid pindahan memberikan harapan singkat mereka bisa berada di sekolah itu.
Begitu mereka sampai di kelas, denah duduk yang baru langsung ditempel tepat di sebelah papan tulis kelas Chara. Chara dengan cepat berlari menyusul teman-temannya mengerumuni papan tulis. Ia menyeringai senang melihat denah yang baru. Ia didudukkan dengan Maximillian. Bukan hanya Maximilian tapi Enrico Wednstroy juga ada di kelasnya, bersama dengan Selena Delacora. Selena membuat Chara ragu. Sesuatu tentang Selena agak janggal, tapi entah apa, setidaknya Chara belum tahu sekarang.
“Selamat pagi anak-anak.” Seorang wanita setengah baya memasuki ruangan. Chara dan anak-anak yang ada di kelas itu segera duduk di denahnya masing-masing. Dibelakang wanita itu, tiga anak muda sebaya Chara membuntuti.
“Pagi ini Ibu akan memperkenalkan teman-teman baru kalian yang akan belajar bersama kita mulai hari ini.” Ia menoleh ke arah ketiga anak murid tersebut dan mengangkat tangannya.
“Silakan perkenalkan diri kalian.”
“Hey. Namaku Enrico Wednstroy. Singapore. Salam kenal.” Sapa cowok itu sambil mengangkat tangannya.
“Allô nama je Maximillian Franson. From French. You can call me Max.” Maximillian mengangkat tangannya dengan canggung sambil tersenyum memamerkan giginya yang rapi. Logatnya kental dengan Bahasa Inggris yang berat karena logat Perancis itu.
“Ah, yes. Saya… hm… kemari, dari Spanyol. Hm… nice… to see you.” Selena, murid terakhir yang memperkenalkan dirinya membungkuk kecil, dengan malu-malu menatap ke lantai.
“Tolong kerja samanya dari kalian, sebagai tuan rumah tolong buat mereka nyaman. Terutama untuk Selena. Bahasa Inggrisnya belum lancar. Ibu ingin kalian bisa berbaur dengan baik.” Setelah kalimat itu, ketiga murid di depan langsung berjalan pelan-pelan mencari posisi duduk mereka.
Mata Chara mengikuti satu-satunya murid perempuan asing yang masuk ke kelas mereka. Chara menyembunyikan seringaiannya.
Menarik.