
Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tapi mata Chara masih terbuka lebar, dan lampu kamarnya masih menyala, ditemani dengan TV yang masih berkumandang.
Tangan Chara memegang sebuah tablet kecil WPA yang biasa digunakannya untuk menerima berbagai misi dari WPA. Ia terus membolak-balik halaman tentang profil ThunderBird dan Ruby.
Jangan sampai ThunderBird datang di saat-saat begini. Apapun yang dilakukannya, Chara harus selalu menyaksikannya.
Tapi kenyataan seakan ingin menggoda Chara, sebuah notif tentang ThunderBird menyala di ujung tabletnya itu. Chara membukanya dengan semangat, dan membaca email yang masuk.
ThunderBird berada 376 meter dari lokasi rumah sakit WPA. Disarankan agar pesan ini diabaikan.
Chara mendengus. Diabaikan? Mana bisa diabaikan.
Chara melompat turun dari tempat tidurnya. Ia menarik napas, dan melihat ke sekeliling. Ia tersenyum, karena merasa rasa pusingnya itu sudah tidak ada. Ia melirik obat-obatan yang tadi diberikan perawat untuknya. Untuk jaga-jaga, Chara meraup tiga pill yang harus diminumnya itu, dan ia tenggak sekaligus dengan secangkir air mineral, lalu dengan sigap mengganti bajunya. Kali ini hanya turtleneck sweater putih agar ia tidak kedinginan, dan celana kargo hitam. Ia menyanggul rambutnya yang acak-acakan, lalu membawa Beretta yang ia simpan diam-diam di laci rumah sakit. Ia memasang topeng masquerade putih miliknya. Ia berjalan kearah jendela, lalu melompat turun dari jendela kamarnya dan berlari menuju tempat yang dimaksud di pelacak tabletnya.
Seperti biasa, ia mencari tempat strategis di atap rumah penduduk, untuk menonton sesuatu yang akan terjadi. Lalu datanglah ThunderBird, tapi ia tidak sendirian. Jantung Chara mulai berpacu. Kalau sampai ia ketahuan, ia tidak akan lolos kali ini.
Chara menyipitkan matanya, untuk melihat siapa yang bersama dengan ThunderBird.
“Hahahaha! Ya kalung emas itu memang cantik sekali.” Wanita yang bersama dengan ThunderBird itu tertawa cukup keras.
Kalung emas? Ruby?!
Lalu ThunderBird seakan menyuruh wanita itu untuk memelankan suaranya. Yeah, suaranya keras sekali tadi, mungkin satu baris rumah ini sudah mendengarnya.
Sial. Benar kata pesan itu. Seharusnya diabaikan saja.
Mereka berdua lalu duduk di depan sebuah toko disebelah bangunan tempat Chara duduk di atapnya. Karena jarak mereka lebih dekat, Chara dapat mendengar lebih baik tentang omongan-omongan mereka.
“Eh, kamu tahu? Katanya pemilik toko yang tadi aku rampok itu pernah membunuh mantan pacar putrinya.” Kata wanita yang mirip Ruby itu.
“Membunuh?” ThunderBird mendengus. “Sudah pernah membunuh tapi berani-beraninya memohon untuk tidak dibunuh.” ThunderBird tertawa.
“Pria tua yang bodoh.” Katanya pelan.
“Hm, dia kelihatan nggak berdaya sih.” Ruby tertawa.
“Dia cuma sok jago. Aku tahu anak buahnya banyak. Tapi nggak ada yang berguna.” Ruby melanjutkan kalimatnya. Lalu hening. Tidak ada yang bicara diantara mereka.
“Apa kamu pernah berpikir?” Tanya ThunderBird tiba-tiba. “Sampai kapan kita akan terus melumuri tangan kita dengan darah orang-orang? Sampai kapan kita akan terus mengikuti perintah si bodoh itu?” Tanya ThunderBird dengan nada yang serius.
“Oh… ya aku pernah berpikir tentang itu. Pasti ada saatnya aku ini beranjak tua hingga tidak bisa mengalahkan
musuh-musuhku. Pasti datang saatnya aku akan menemukan seseorang yang aku cintai. Dan lalu aku akan menikahinya. Lalu ia akan melarangku untuk berbuat pekerjaan-pekerjaan kotor seperti ini lagi.”Ruby tertawa lagi. Namun kali ini terdengar sedih.
“Ya. Cinta, bodoh kan?” Thunderbird bergidik. “Aku takut dengan cinta. Bukannya aku ngerti juga cinta itu apa
tapi orang bilang cinta itu membuat orang buta kan?” ThunderBird tertawa.
“Tentu saja nggak harfiah.”
Ruby mendengus.
“Makanya jangan jatuh cinta..” Kata Ruby sambil berdiri.
“Sudah ah. Aku mau pulang. Kau ikut?” Tanya Ruby. ThunderBird ikut berdiri.
“Kamu pulanglah duluan, dan kabari si bodoh tentang hasil kerja kita. Nanti aku nyusul ya. Aku ingin beli sesuatu dulu.” Kata ThunderBird sambil melihat ke arah atas.
Chara terkesiap. Kenapa rasanya ThunderBird seperti melihat kearahnya?
Ruby menguap.
“Hm.. Ok. Cepat ya, jangan lama-lama.” Lalu Ruby pun berlari cepat dan hilang di ujung jalan.
“Kau ini stalker ya?” ThunderBird tertawa. Ia sudah duduk disebelah Chara sekarang.
“Yup! Sedikit banyak begitu. Aku ini fansmu. Kau tahu lah” Chara tersenyum manis pada pria disebelahnya.
ThunderBird mendengus.
“Fans? Seharusnya aku yang bilang begitu padamu.” Ia tertawa sejenak.
“Tapi setidaknya ada tempat yang lebih baik dari atap rumah untuk melihat konser idolamu.” Kata ThunderBird sambil menatap balik pada Chara.
“Hm.. terimakasih tapi aku lebih suka posisi tribun ini. Posisi VIP kurang cocok untukku.” Kata Chara sambil melihat
ke bawah. Chara menelan ludahnya. Kenapa rasanya ia seperti mau jatuh meluncur ke tanah?
Chara mencengkram permukaan atap dengan keras.
“Ruby melukaimu cukup parah ya kemarin?” Tanya ThunderBird. Chara mendengus.
“Melukaiku? Aku hampir membelah tubuhnya jadi dua saat itu. Harusnya kau bertanya padanya dulu.” Chara mendengus. Tapi keadaannya lain dengan perkataannya. Segalanya mulai berbayang lagi. Ia menunduk dan memejamkan matanya.
“Ya, ya.” ThunderBird tertawa.
“Ia cukup banyak muntah darah kemarin.” Pria itu tertawa lagi, namun lebih keras.
Chara tidak menggubris kata-kata itu. Ia bahkan terlalu mual untuk membuka mulutnya.
“Well…well.” Chara terkesiap. Ada suara wanita yang ia kenal dari balik punggungnya.
“Bukankah kau perlu beli sesuatu, Thunder sayang?” Kata Ruby yang entah sejak kapan berdiri dibelakang dua orang itu.
“Bukankah kau seharusnya sudah pulang Ruby sayang? Si bodoh bisa-bisa marah pada kita kalau melapor terlalu larut.” Kata ThunderBird, dengan wajah yang masih menghadap ke depan.
Chara masih tetap menutup mulutnya. Rasa pusing yang aneh itu masih tetap menyerangnya.
“Well?? Kenapa pacarmu tidak bilang apa-apa? Apa ia terlalu takut padaku?”
Chara ingin… Ingin sekali berdiri dan menampar gadis itu. Tapi kepalanya mulai terasa ringan, dan semuanya gelap.
“Hey!” Jerit Ruby saat badan Chara jatuh tertidur kebelakang, mengenai kaki Ruby.
Ruby mendengus.
“Anak ini kenapa? Mengantuk?” Ruby mencemooh dan menendang kepala Chara dari kakinya.
“Jangan sentuh dia dengan kaki keparatmu itu!” ThunderBird berdiri dan menghantam perut Ruby dengan lengannya. Ruby terpelanting kebelakang. Darah langsung merembes dari baju hitamnya dan mengotori jemarinya yang menahan bekas luka yang masih segar itu.
“Sialan kau bodoh! Apa dia itu begitu pentingnya bagimu?!” Ruby menatap cairan merah yang berkilat di bawah sinar bulan. Seluruh telapak tangannya merah sekarang.
ThunderBird tidak menjawab, dan menghampiri tubuh Chara yang terkapar pucat. Ia mengangkat tubuh Chara hati-hati, lalu menggendongnya.
“Hey! Jawab bodoh!!” kata Ruby.
“Pertanyaanmu…” ThunderBird memperhatikan wajah Chara yang terlelap di pelukannya. “Tidak penting untuk dijawab.” ThunderBird melihat kearah Ruby sambil tersenyum, lalu melompat turun dari atap dengan Chara di pelukannya.
Ruby menggeram dan melihat rekannya itu berlari menelusuri jalan sampai hilang dari jarak pandangnya.
Dasar bodoh. Mungkin ia telah jatuh cinta dengan orang yang ia harus bunuh itu. ThunderBird bodoh.
Ruby mendengus, dan mencoba untuk bangun. Ia mengerang. Rasa sakitnya datang lagi. Oh, tentu saja datang lagi. Pukulannya itu membuat jahitan di perut Ruby terbuka kembali dan darah belum berhenti mengucur dari sana. Sinar bulan yang berada di atas ubun-ubunnya membuat jelas jejak darah yang turun dari bawah baju hitamnya, mengotori permukaan atap. Ruby tersenyum licik.
Tunggu saja sampai mereka tahu soal ini.