Love Kills

Love Kills
Prolog



“Mama?” Charlexa menatap ke arah sepatu kecil merahnya yang melangkah pendek-pendek di samping ibunya. Tangannya dengan kuat mencengkram ujung baju ibunya agar ia tidak terpisah, sedangkan tangannya


yang lain memegang sebuah lollipop yang sudah hampir habis.


“Ya?” Jawab ibunya. Langkahnya menjadi lebih pelan saat mereka mendekati pagar rumah dan Charlexa melepaskan pegangannya saat ibunya merogoh saku tasnya untuk mengeluarkan serenceng kunci.


“Kapan Papa pulang?” Chara melemparkan pandangannya ke sekitar. Kompleks rumahnya tidak terlalu terang di malam hari,hanya ada satu lampu tinggi yang menyemprotkan cahaya kuning setiap 50 meter


sekali.


 “Mungkin akhir minggu depan. Kalau tidak berarti saat kau libur naik kelas kita akan ke Jepang menemui Papa. Kenapa? Kamu sudah kangen ya sama Papa?” Charlexa menatap ke atas, melihat senyuman ibunya yang terlihat tidak terganggu dengan masalah itu.


Charlexa hanya mengangguk, dan menunggu mamanya membuka pintu. Ia menggigit sisa lollipopnya dan menoleh ke arah tempat sampah yang berada di luar rumah mereka.


“Aku buang sampah ya, Ma? Mama masuk dulu saja nanti pintunya aku yang tutup.” Kata Charlexa dan ia langsung berlari ke tempat sampah itu tanpa menunggu jawaban ibunya.


“Iya, jangan lama-lama ya sudah gelap.” Sahut mamanya yang berjalan masuk ke dalam.


Charlexa tahu mamanya bukan tipe Ibu yang memanjakan anaknya. Charlexa juga tidak suka main terlalu lama di luar, ia lebih suka selalu berada di sisi mamanya untuk membantu apapun yang perlu ia bisa lakukan. Terutama semenjak papanya dengan terpaksa harus selalu bekerja di Jepang dan jauh dari mereka berdua.


Charlexa melemparkan stik permen itu ke tempat sampah, dan berbalik untuk kembali ke rumahnya.


Tap.


Ia berbalik dan mengernyit. Charlexa melihat sebuah bayangan berkelebat di gang tidak jauh dari tempat sampah.


Dak!


Charlexa terkesiap. Suara itu terdengar seperti seseorang yang jatuh dengan keras ke tanah.


Mungkin ada seorang tua yang tersandung di kegelapan itu dan jatuh? Kalau Charlexa tidak menolongnya mungkin saja orang itu akan mendapatkan kesulitan yang lebih besar.


Gadis kecil itu dengan cepat berlari kecil untuk masuk ke gang, tapi di dalam begitu gelap. Satu-satunya pencahayaan di gang ada di ujung jalan itu, dan itu membuat jalan di depannya gelap gulita.


“H-halo? Apa ada orang di sana?” Jantung Charlexa mulai berdebar-debar gugup. Sedikit banyak ia juga takut dengan kegelapan.


“Halo?” Panggilnya sekali lagi.


Tap!


Chara berbalik, dan semuanya terlambat. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan pisau berlumuran darah terangkat.Tenggorokannya langsung terasa kering. Ia mencoba untuk berteriak tapi tidak ada suara yang keluar dari sana.


Lelaki itu mulai maju menghampiri Charlexa dan dengan cepat Charlexa berusaha untuk berlari menjauhi lelaki itu, dan pilihannya hanayalah masuk lebih dalam ke arah gang di belakangnya.


Napas Charlexa memburu, dan seolah-olah ada yang menendang kakinya, ia terjatuh. Tangannya berpegangan ke tanah—atau lebih tepatnya, kepada sesuatu di yang ada di atas tanah. Sesuatu itu terasa dingin di tangannya, keras dan dingin.


Charlexa mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah benda yang dipegangnya dan wajah seorang lelaki dengan luka di perutnya menyambutnya tiba-tiba. Charlexa terlompat ke samping. Orang itu mati?


Orang itu mati! Matanya tertutup dan darah yang keluar dari perutnya sudah menggenang di lantai.


“Nak, kau tidak seharusnya berada di sini. Kalau kau tidak kemari tengah malam, kau tidak akan perlu melihat mayat itu..”Lelaki yang memegang pisau itu sudah berada di dekatnya dan Charlexa tidak bisa lari kemana-mana lagi. Punggungnya sudah menabrak tembok dan kakinya gemetar.


“Anak itu bukan targetmu.”


Charlexa sekali lagi terkesiap. Ada suara laki-laki lain dari mulut gang. Charlexa tidak terlalu bisa melihat wajahnya


dari kegelapan, tapi ia terlihat rapi dengan kemeja putih dan celana jins.


“Jangan ikut campur! Kemari dan kau akan kubunuh juga!” Ancam lelaki yang membawa pisau. Ia mendekat ke arah Charlexa dengan pisaunya yang diacungkan tepat ke arah wajahnya. Charlexa menutup matanya, menunggu untuk rasa sakit apapun datang.


Tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada apapun walau ia sudah menunggu lumayan lama.


Perlahan Charlexa membuka matanya, dan kini pria berbaju putih tadi sudah ada di depannya.


Charlexa kembali terkesiap dan dengan spontan mencoba mundur lebih dekat ke tembok yang sudah menempel ke


punggungnya.


“Ssst.” Bisik lelaki itu sambil mundur beberapa langkah dengan telapak tangannya yang kosong terangkat ke depan. “Aku bukan orang jahat. Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.” Lelaki itu berjongkok dan Charlexa bisa melihatnya dengan lebih jelas sekarang. Ia menggunakan topeng masquerade putih yang menutupi setengah wajahnya. Senyumnya terlihat lembut, dan melihat itu tubuh Charlexa perlahan melemas.


“S-siapa kau? Kemana orang jahat tadi?” Tanya Charlexa dengan suaranya yang masih bergetar.


Lelaki itu hanya menggeleng kecil.


“Dia sudah pergi. Aku dan teman-temanku adalah orang-orang yang bertugas untuk melawan orang-orang jahat seperti lelaki tadi supaya mereka tidak bisa lagi berbuat jahat.” Lelaki itu berjalan perlahan-lahan lebih dekat dengan Charlexa.


Charlexa memperhatikan kedua tangan lelaki itu tapi kedua tangannya kosong. Tangan itu perlahan-lahan terangkat mendekat ke arah Charlexa.


Gadis kecil itu dengan hati-hati meraihnya dan berdiri dengan bantuan lelaki itu.


Dalam diam, Charlexa menuntun lelaki itu ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana. Pintunya masih sedikit terbuka, semoga saja ibunya tidak keluar dan mencari atau ada orang asing masuk ke dalam dan menyakiti ibunya.


Memikirkan hal itu jantung Charlexa kembali berdegup kencang dan tanpa sadar ia berlari, menarik lelaki itu bersamanya sampai mereka berhenti di depan pintu yang terbuka itu.


Charlexa mengintip, tapi ia tidak bisa melihat ke dalam dari pagar.


Ia berbalik untuk melihat ke arah lelaki itu.


“B-bolehkah kau menunggu di sini? Aku membiarkan pintunya terbuka, aku tidak tahu kalau ada orang jahat di dalam. Aku akan keluar lagi untuk memberitahumu.” Kata Charlexa cepat dan ia berlari ke dalam tanpa menunggu jawaban lelaki itu.


Charlexa berlari kecil masuk ke dalam rumah dan menemukan ibunya di dekat meja makan, perlahan menyesap air di gelasnya. Ia melihat Charlexa masuk dan menoleh dengan sedikit kaget.


“Kamu sedari tadi masih di luar?” Tanya ibunya dengan khawatir. Charlexa dengan cepat tersenyum.


“Nggak… hm… tadi ada anjing lucu lewat jadi aku lihat dulu.” Charlexa menelan ludah. Itu kali pertamanya ia berbohong tentang suatu hal yang lumayan serius pada ibunya.


“Aku mau keluar lagi, pagarnya belum kukunci rapat.” Charlexa dengan cepat kembali berlari ke luar dan dadanya


terasa lega saat ia masih menemukan lelaki itu berdiri di balik pagarnya.


Charlexa dengan cepat meminta lelaki itu untuk berjongkok agar ibunya tidak akan bisa melihat lelaki itu kalau ia


memutuskan untuk keluar. Lelaki itu menurut saja dan berjongkok sambil tersenyum geli.


Charlexa tersenyum kecil. “T-terimakasih sudah menolong aku. Apa—“ Napas Charlexa tercekat, mengingat kejadian tadi. “Apa orang tadi mati?” Bisiknya.


Lelaki itu kembali terseyum lembut.


“Nak, ada orang-orang di dunia ini yang melakukan kejahatan agar mereka bisa bertahan hidup. Jadi perbuatan jahat yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah suruhan orang lain, orang-orang yang yang tidak terlalu mengerti bagaimana caranya menyelesaikan masalah dengan cara yang baik.”


Charlexa tidak terlalu mengerti sepenuhnya saat itu. Yang ia tahu adalah orang-orang itu jahat.


Charlexa yang merasa sedih langsung mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah lelaki itu.


“Kami adalah orang-orang yang hidup untuk menghentikan mereka, orang-orang seperti lelaki tadi. Jadi kau tidak perlu takut, ya?” Lelaki itu dengan hati-hati mendaratkan telapak tangannya di rambut hitam bergelombang milik Charlexa untuk mengusapnya pelan.


Charlexa mengangguk-angguk, memperhatikan lelaki di depannya berdiri.


“Kalau begitu aku akan pergi. Masuklah, aku akan menunggmu sampai kamu masuk ke dalam.” Lelaki itu mundur selangkah. Charlexa sontak merasa panik dan melangkah ke depan mendekatinya.


“Bagaimana kalau lelaki itu kembali lagi? Aku di rumah hanya berdua sama Mama, dan kalau aku sekolah Mama sendirian di rumah.” Untuk sesaat Charlexa merasa suaranya terdengar terlalu keras dan ia menoleh ke belakang untuk memastikan mamanya masih di dalam.


Lelaki itu merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna putih dan berjongkok sedikit untuk


memberikannya pada Charlexa.


“Ini nomor teleponku, dan alamat e-mail kalau kau sudah bisa menggunakannya. Kalau kau perlu pertolongan, hubungilah aku.” Lelaki itu mundur lagi beberapa langkah, menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di sana yang memperhatikan mereka berdua.


“Bagiamana kau akan tahu kalau itu aku yang menelepon?” Charlexa mengernyit. Ia belum punya ponsel, tapi ibunya punya. Ia akan mencari cara untuk bisa menggunakannya.


Lelaki itu tertawa kecil. “Aku tidak akan lupa suaramu, nak. Kamu anak paling berani yang pernah kulihat. Jaga ibumu ya. Masuklah.” Suruhnya untuk terakhir kali.


Charlexa mundur beberapa langkah dan menutup pagar, memutar kunci otomatisnya dan tiba-tiba saja lelaki itu seperti melompat begitu tinggi dan hilang.


Setelah kejadian itu Charlexa tidak pernah bisa lupa tentang lelaki jahat dan pisaunya yang kemerahan. Ia juga tidak bisa berhenti memikirkan lelaki baik bertopeng yang menyelamatkannya.


Sampai suatu saat Charlexa memutuskan untuk menghubungi nomor itu karena sesuatu di dalam hatinya terasa sangat tidak tenang. Charlexa masih kecil, ibunya juga wanita yang sangat feminin dan tidak tahu cara untuk membela dirinya.


Charlexa tidak mengharapkan teleponnya untuk di angkat, sulit untuknya percaya seseorang setelah hari itu, tapi


ternyata sambungan itu diangkat dan lelaki yang sama menjawabnya.


“Halo,nak?”


“H-halo. Apa ini kau? Paman bertopeng waktu itu?”


Lelaki itu tertawa kecil, Charlexa langsung tersipu merasa ada sesuatu yang salah dari kalimat pertanyaannya.


“Betul. Kamu tidak sedang ada di dalam masalah kan?”


Charlexa spontan menggelengkan kepala tapi ia menjawab.


“Tidak. Tapi aku… bolehkah aku ketemu paman? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”


“Hm…” Lelaki itu berpikir untuk beberapa saat. “Aku akan ke sana. Tunggulah sebentar.”


Charlexa ada di sekolahnya. Ia menggunakan telepon umum di sekolah untuk menghubungi lelaki itu dan sambungan telepon di matikan sebelum Charlexa bisa memberitahu lelaki itu dimana ia berada.


Charlexa hanya bisa menghela napas kecewa, tapi ia berjalan menuju pintu depan, berpikir bahwa lelaki itu pasti akan datang lewat depan. Namun ternyata ia sudah menunggu tidak jauh dari pintu samping, mengintip ke arah pintu depan masih dengan topeng putih waktu itu.


Charlexa dengan cepat berlari menghampirinya dengan senyum terkembang.


“Apa kau harus selalu menggunakan topeng itu?” Tanya Charlexa, langsung melupakan pertanyaan dari mana lelaki itu tiba-tiba datang.


“Tentu saja, nak.” Lelaki itu terseyum kecil. “Pekerjaanku adalah mencari orang jahat, kalau mereka tahu wajahku


mereka akan tahu siapa aku dan mencariku.” Ia berjongkok.


“Nah, apa yang mau kau bicarakan denganku?”


Chara berdeham.


“Aku mau jadi orang sepertimu.” Katanya tanpa basa-basi. Charlexa menunggu untuk lelaki itu tertawa. Tapi ia sama sekali tidak tertawa.


“Pekerjaanku bukan pekerjaan yang menyenangkan, nak. Mungkin untukmu hal ini terlihat keren, seperti superhero.


Tapi banyak hal yang tidak ingin kau lakukan yang perlu kau lakukan.” Untuk sesaat lelaki itu merasa bicara dengan anak seumuran Charlexa dengan Bahasa seperti itu sama saja nihil, tapi gadis kecil itu mengangguk.


“Aku tahu.”


Lelaki itu menunggu kelanjutan dari jawaban singkat yang terdengar mantap dan tidak goyah dari gadis kecil di


depannya.


“Tapi aku nggak bisa menunggu orang lain. Aku yakin orang jahat seperti pria yang bawa pisau waktu itu ada banyak. Aku tidak tahu apa kalian ada banyak atau tidak, tapi kalau aku juga berlatih sampai aku bisa hebat sepertimu, kurasa hal itu akan jadi keuntungan kan buat seluruh dunia?” Jelas Charlexa panjang lebar.


Lelaki itu ingin tersenyum mendengar kalimat yang tersusun sangat bijak dan dewasa dari gadis kecil seperti


Charlexa. Tapi ia ingat terakhir kali ia tersenyum gadis itu terlihat sedikit tersinggung.


“Itu bukan keputusanku, nak. Tapi aku akan menganggap permintaan ini serius. Latihanmu akan menyakitkan, banyak hal yang kan kau korbankan dan aku tidak menyarankanmu untuk melakukan ini.”


Charlexa kembali mengangguk-angguk dengan yakin.


“Bolehkah setidaknya aku mencoba dulu?


Untuk beberapa saat lelaki itu terdiam, sebelum akhirnya luluh dan mengangguk.


11 tahun kemudian…


“Mungkin saya perlu mengulangnya sekali lagi,” Suara gadis itu hampir terdengar serak. Bajunya yang serba putih dan topeng masquerade berwarna selaras yang menutup setengah matanya membuat ia tampak mencolok berlawanan dengan warna langit malam yang gelap. Matanya yang terlihat berkilat di balik topeng itu memperhatikan lawan bicaranya yang tersungkur tidak jauh dari titik dimana ia bediri.


“Kami tidak akan memberikan kesempatan seperti ini lagi untuk kedua kalinya.” Ia berjalan menuju lawan bicaranya itu lebih dekat. Jejak darah yang dimuntahkannya terlihat lebih jelas sekarang, meninggalkan garis merah di sisi dagu lelaki itu.


“Kalian akan menyesal Winter, kali kedua kita bertemu nanti aku akan jadi orang yang punya lebih banyak kuasa, lebih kuat! Dan orang yang memiliki kekuatan, akan selalu menang!” Mata pria itu nyalang. Bibirnya bergetar karena amarah yang mulai meledak.


“Anda salah Mr. Eli.” Bisik gadis itu pelan, namun cukup keras untuk dapat didengar lelaki yang dipanggil Mr. Eli


itu. Amarah di matanya kini bercampur dengan rasa takut. Pria itu menelan ludahnya, menunggu kata-kata yang ditujukan kepadanya itu dilanjutkan.


“Orang hanya dapat disebut kuat setelah dia menang.”


Kalimat itu seolah bergema di telinga Mr. Eli, memicu gemetar badannya yang semakin hebat. Untuk Mr. Eli udara terasa menipis dan semakin dingin, menusuk dan menyesakkan. Matanya terus mengikuti perempuan di depannya, yang kembali menaruh katana putihnya ke pinggang, berbalik dan pelan-pelan berjalan ke tepi atap dimana mereka berdiri.


“Winter?”


Bisik Mr. Eli. Namun gadis itu melompat dari tepi gedung, dan menghilang dari jangkau pandangnya. Mr Eli menengok ke segala arah, dan tidak menemukan jejak-jejak gadis itu lagi.


Hanya angin yang terasa dingin sampai ke tulang, dan sinar terang bulan penuh yang masih hadir dengannya di sana.