
“Jadi anak Ibu juga jarang bermain dengan Kattie ya akhir-akhir ini?”
Chara duduk di sofa jingga dalam satu rumah nyaman yang ternyata tidak jauh dari minimarket yang baru saja ia
datangi.
“Ya, Deandra beberapa kali minta izin untuk main ke rumah Kattie, tapi saat kami telepon rumah Kattie untuk
memastikan mereka ada di rumah, jawabannya selalu tidak. Kattie sering pergi keluar beberapa hari sebelum ia hilang. Yang terakhir aku ingat sempat menelepon di hari selasa, dua hari sebelum Kattie dilaporkan hilang.”
Chara mengangguk-angguk.
“Mungkin saya bisa bicara dengan Deandra sebentar? Tentunya dengan pengawasan Ibu, kalau berkenan.”
Wanita itu mengangguk dan memanggil anaknya yang tidak lama kemudian turun dari lantai dua, membawa buku gambarnya. Ia berlari ke arah ibunya dan menatap Chara dengan senyum polos.
“Hai Deandra, aku Lexa, teman Kattie. Boleh aku tanya sesuatu pada Deandra?” Chara mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit untuk menyesuaikan jarak pandangnya dengan Deandra yang lebih kecil.
“Hai miss, boleh, tapi Deandra sudah lama tidak main dengan Kattie. Kattie sudah tidak suka menggambar lagi sekarang. Iya kan ma?” Deandra kecil menatap ibunya.
“Ya, Kattie berhenti les gambar sekitar tiga minggu yang lalu. Kata Mrs. Wilson Kattie tidak lagi suka menggambar di waktu luangnya, jadi beberapa tugas menggambar yang perlu dibawa pulang tidak pernah di kerjakan oleh Kattie.” Ibu Deandra membantu menjelaskan.
Chara mengangguk-angguk.
“Lalu sekarang Kattie suka apa? Apa Kattie cerita pada Deandra?”
Deandra mengangkat bahunya. “Deandra tidak tahu. Sekarang Kattie lebih suka main sama teman-teman yang punya kartu Chiz. Deandra tidak boleh beli Chiz sama mama.”
Chara tertawa kecil, di dalam kepalanya ia tahu apa yang perlu dilakukan dan di waktu yang sama juga ia tidak tahu apa yang ia harus lakukan.
“Siapa teman-teman yang punya kartu Chiz? Mungkin aku perlu bicara dengan mereka juga supaya Kattie bisa cepat pulang.”
Deandra berpikir.
“Phoebe sudah punya tiga, dan Ernest punya empat.”
Chara melirik ke arah Ibu Deandra yang setelah itu memberikan nomor telepon dan alamat dari Phoebe dan Ernest. Chara kembali berjalan ke rumah selanjutnya.
Pertanyaan yang sama berulang, informasi yang dimiliki para orang tua kurang lebih sama, tapi anak-anak punya cerita mereka masing-masing.
“Phoebe tidak tahu. Phoebe tidak mau ngobrol soal Kattie. Kita kan sudah lama tidak berteman lagi.” Phoebe merajuk. Ayah Phoebe dengan cepat membujuk Phoebe untuk membantu Chara—yang datang dengan identitas kepolisiannya sehingga para orang tua tidak perlu di bujuk susah-susah.
Setelah dua-tiga janji soal es krim yang akan dibelikan Ayah Phoebe, gadis kecil itu akhirnya mau kembali menjawab pertanyaan Chara dan menjelaskan ceritanya.
“Miss, Phoebe bukan teman Kattie jadi Phoebe tidak tahu.”
“Betulkah? Tapi Phoebe tahu kan kalau Kattie suka koleksi kartu Chiz juga? Seperti Phoebe.” Chara melemparkan senyum terpalsunya. Phoebe mengangguk-angguk dengan wajah kesal.
“Iya, karena itu juga Phoebe dan Kattie jadi bukan teman lagi. Kattie tidak mau tukaran kartu dengan Phoebe padahal Kattie sudah punya lebih banyak dari Phoebe tapi Kattie tidak mau bagi.”
“Jadi setelah itu Phoebe tidak pernah ngobrol dengan Kattie lagi?”
Phoebe terdiam untuk beberapa saat, menarik-narik boneka kelinci yang sedari tadi ia pegang.
“Phoebe?”
“Hm… sebelum Kattie berhenti masuk sekolah, Kattie pernah bilang, katanya koleksi Kattie akan lengkap sebentar lagi. Tapi setelah itu Kattie tidak masuk sekolah lagi. Sepertinya Kattie cerita soal itu pada Ernest, bahkan ia mau berbagi kartunya dengan Ernest tidak seperti dengan Phoebe.”
Chara memutar otaknya, dan itulah hal terakhir yang ia dapatkan dari rumah Phoebe. Saat Chara mengetuk pintu rumah Ernest, Chara menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk menyemangati dirinya. Matahari belum tenggelam, jadi setidaknya Chara masih bisa meyakinkan diri kalau semua informasi bisa ia rampungkan hari ini.
Ernest punya cerita lain. Lelaki kecil itu tampak lebih dewasa dari Phoebe, bahkan wajah pertama yang menyambut Chara di pintu adalah wajahnya Ernest sendiri. Ia lalu mengundang Chara masuk—dengan persetujuan ibunya dan membantu menyuguhkan teh sebelum setelah itu duduk di hadapan Chara bersama ibunya.
“Kattie dan aku sempat bertukar kartu, miss. Setelah itu koleksi Kattie jadi enam dan koleksiku jadi empat. Saat itu
aku perlu kartu cherry, dan Kattie perlu kartu caramel. Aku punya dua caramel dan Kattie punya dua Cherry jadi kami tukaran.” Ernest mengangkat bahunya. Chara tersenyum puas.
“Tapi setelah itu koleksi Kattie jadi lengkap kan? Apa koleksimu juga sudah bertambah?” Tanya Chara basa-basi. Ernest dengan malu-malu menggelengkan kepalanya.
“Saat itu Kattie bilang ada pamannya yang punya tiga anak seumuran kami, dan mereka semua punya banyak kartu Chiz, seperti…. Lima puluh kartu Chiz masing-masing. Jadi kalau kami bertemu dengan mereka pasti koleksi kami bisa lengkap.”
Alis Chara mengangkat.
“Paman Kattie?”
“Ya! Waktu itu Kattie sempat mengajakku untuk bertemu pamannya, tapi saat aku mau kesana aku terlanjur di jemput jadi kita tidak sempat bertemu. Padahal tiga anak itu juga ada disana.”
Chara menahan diri untuk tidak dengan semangat menekan Ernest.
“Seperti apa paman Kattie?”
Ernest memicingkan matanya, mencoba berpikir.
“Aku tidak yakin miss, aku berdiri di dekat gerbang sekolah dan paman Kattie berdiri di dekat halte bus saat itu,
jaraknya lumayan jauh jadi aku juga tidak begitu bisa lihat jelas. Tapi aku ingat anak-anak yang turun untuk ikut dengan pamannya Kattie.”
Chara membuka buku kecilnya.
“Oh ya? Boleh kau deskripsikan untukku?”
“Hm…” Ernest melihat ke langit-langit. “Satu anak perempuan, rambutnya panjang berwarna coklat. Lalu dua anak
laki-laki, yang satu pakai kaca mata, yang satunya lagi berambut hitam legam dengan potongan mangkok.”
Chara tersenyum sambil dengan cepat menuliskan kata-kata Ernest.
“Terimakasih, Ernest, itu sangat membantu, tapi bolehkah aku merepotkanmu untuk satu hal lagi?”