
“Nyra Karina?”
“Hadir.”
“Maximillian Fransson?”
“Hadir.”
“Charlexa Saito?”
Sang guru mengangkat wajahnya dari daftar absen, mencari tangan yang terangkat di antara murid-muridnya. Tapi tidak ada jawaban sama sekali.
“Charlexa? Serenity Charlexa Saito?” Panggilnya sekali lagi.
“Hadir!!” Pintu terbuka. Chara berdiri terengah-engah di depan pintu kelas yang telah ia dorong dengan keras.
“Kau sudah ada izin masuk, Ms. Saito?”
Sebelum gurunya selesai berbicara, Chara mengacungkan izin masuk yang tersemat diantara jari tangan kanannya pada gurunya itu.
“Baiklah, kau boleh masuk.”
Chara memutar bola matanya, lalu melangkah masuk. Menaruh izinya di meja guru, lalu duduk di sebelah Max.
“Telat?”
Chara sedikit kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu, dan fakta dimana ia hampir lupa kalau Max-lah yang duduk di
sampingnya dan bukan lagi Nyra. Chara memaksakan senyum seadanya.
“Oh? Yeah.” Jawabnya sambil membuka buku matematikanya dengan cepat.
“Kenalkan, je Maximillian. Boleh panggil Max.” Sebuah tangan tersodor pada Chara, dan Chara memandang cowok itu. Sepertinya ini kali pertama Chara benar-benar menatap murid pindahan itu dengan jarak sedekat ini. Matanya biru jernih, rambutnya pirang dan garis wajahnya tajam maskulin.
“Charlexa. Panggil saja Chara.” Chara menyambut tangan Max, yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tangannya yang lebih seukuran dengan tangan Asia, seperti tangan mamanya yang mungil.
“Ms. Saito, sudah telat, sekarang mengobrol di kelas?” Suara keras guru matematika di depan kelas seolah bergema di ruang kelas yang sepi membuat Chara dan Max cepat-cepat kembali fokus ke buku
masing-masing. Chara diam-diam mendecakkan lidahnya, lalu mengangguk. Tapi seolah tidak peduli, sang guru matematika kembali melanjutkan pelajarannya.
“Sorry.” Bisik Max, tanpa menoleh kali ini. Chara menggelengkan kepalanya.
“Tidak masalah.” Chara balas berbisik.
Hari itu terasa lebih pendek dari biasanya. Kehadiran Max yang jahil dan penuh rasa ingin tahu membuat Chara
benar-benar merasa ia adalah siswa SMA biasa. Max bukan tipe-tipe cowok yang suka pura-pura dingin dan keren, ia malah terdengar seperti anak yang super polos.
“Tu orang Jepang kan?” Kata Max yang berjalan bersama Chara saat istirahat. Chara mengangguk.
“Kok nggak kedengaran logat jepangnya?” Chara tertawa kecil, pertanyaan yang sudah sangat-sangat sering dilontarkan kepadanya setiap kali ada seseorang yang baru berkenalan dengannya.
“Kau sendiri? Di Prancis berapa lama?” Chara balik bertanya.
“Oh, je sih benar-benar sudah jadi Warga Negara Perancis, karena je disana dari lahir sampai SMP, begitu SMA je ikut program pertukaran pelajar ini, jadi je pindah kesini.”
“Ohh…” Chara mengangguk-angguk, itulah mengapa logatnya begitu kental.
“By the way, jangan lupa hari ini kau harus menyerahkan formulir pendaftaran kelas kegiatan ya!” Poster cheerleading yang dilewati mereka, mengingatkan Chara akan hal itu.
“Kelas kegiatan? Apa itu?”
“Semacam komunitas pengembangan hobi, ekstrakulikuler.”
“Oh, memangnya ada apa saja?”
“Hm… ada Menyanyi, dance, Ballet, design, movie making. Atau club-club olimpiade seperti Sains, Inggris, Mandarin, Jepang dan Jerman. Oh ya, kau bisa belajar bela diri juga loh, seperti Capoeira, Taekwondo, dan seni pedang. Mungkin cowok sepertimu lebih tertarik olahraga ya, seperti Voli, Basket, Sepak bola, badminton, atau gymnastic. Kamu tinggal pilih saja.” Chara menjelaskan semuanya, otaknya menebak, Max bukan tipe cowok seni ataupun olimpiade. Tapi Chara tidak suka stereotyping.
“Tu ikut yang mana?” Max balas bertanya.
“Hm, aku tidak ambil untuk semester ini, sepertinya. Kelas-kelas terlalu sibuk dan aku juga banyak bimbingan belajar di luar, jadi terlalu merepotkan kalau perlu join kelas kegiatan juga.” Chara menghela napas. Jawaban itu bukan jawaban bohong, tapi kelas yang ingin ia ikuti adalah kelas seni bela diri dan kelas olahraga. Tapi kalau ia bergabung dengan mereka, kemampuannya fisiknya akan terlalu mencolok dan suatu saat seseorang akan menemukan kejanggalan, Chara tidak boleh terlalu populer di sekolah.
“Wah, begitukah? Sayang sekali. Mungkin je akan coba ikut Basket dan seni pedang, tapi entahlah…” Max berpikir lagi untuk beberapa saat.
Chara tertawa kecil. “Sudah kuduga, kau adalah tipe bela diri dan olahraga. Coba lah! Jangan malu-malu.”
Max ikut tertawa sambil menggaruk tengkuknya malu.
“Ah, bukan berarti je handal, tapi—“
“Hei Char!” Chara membalikkan badannya saat tepukan tangan yang familiar itu mendarat keras di bahu Chara dari
belakang.
“Nyra! Kenapa?” Nyra terengah-engah mengejar Chara, membuatnya dan Max berhenti berjalan dan memperhatikan Nyra.
“Hm, nggak. Dari tadi aku cari kamu ke mana-mana.”
“Oh sorry. Tadi aku bawa dia keliling.” Chara menunjuk Max.
“Oh, anak baru ya? Aku Elizabeth Nyra Karina. Boleh panggil Beth atau Nyra.” Nyra menyalami Max.
“Hi. Je Max. Salam kenal.” Max membalas perkenalan Nyra.
Chara tersenyum, melihat mereka berdua langsung akrab.
Kalau saja ini benar-benar kehidupan SMA Chara, tanpa embel-embel “kedok saja karena aneh kalau anak semuda Chara tidak menghabiskan waktunya di sekolah, dan Mr. West terlalu khawatir Chara akan berubah menjadi pembunuh berdarah dingin kalau hanya menghabiskan waktu disekitar misinya.”, momen-momen seperti ini akan jadi memori berharga.
Yah, momen-momen ini akan tetap jadi memori berharga, tapi pemikirannya yang selalu mengingatkan bahwa salah satu anggota Nocens bisa saja sedang memperhatikan mereka dari salah satu sudut sekolah benar-benar membuat memori itu ternodai.