
Urusan Chara belum selesai. Jam menunjukkan beberapa menit lewat jam Sembilan dan Chara sudah siap menunggu di atap hotel Rising. Dari atap bulan sabit terlihat terang, dan cahaya-cahaya di sekitar pantai mengerlip cantik. Suara sayup-sayup pesta di bar terdekat masih terdengar, walaupun belum berjalan tiga jam semenjak kasus kematian seseorang terjadi di hotel ini.
“Selamat malam yang mulia.” Suara pijakan langkah keras dari sepatu berhak tinggi terdengar dari belakang Chara. Chara menoleh malas, menemukan seorang wanita berambut pendek hitam berdiri di dekat pintu atap yang barus aja ia buka. Ia mengenakan topeng dansa yang berkelap-kelip dari biji-biji permata, atau mungkin replikanya. Chara dapat melihat matanya yang dibubuhkan riasan tebal dan lensa kontak coklat yang dipakainya.
“Malam, kau membuat aku menunggu lumayan lama.” Chara kembali menatap ke bawah, mengabaikan Ruby yang berjalan mendekat.
“Banyak yang perlu aku bereskan. Mahkota itu lumayan mencolok, tidak bisa disimpan sembarangan.”
Chara menghela napas lalu berjalan menjauhi tepi atap, menuju tengah-tengah lantai, dan Ruby berjalan ke arahnya.
“Jadi?” Chara bertanya, mengangkat alisnya yang tertutup topeng putih yang ia pakai.
“Mari mulai?” Bisik Ruby. Chara melompat ke belakang Ruby. Ruby mengantisipasi pergerakan Chara dan melompat menjauh untuk menjaga jarak, dan menukar posisi mereka.
“Wah… kau lumayan gesit ya.” Ruby mengencangkan ikatan sarung tangannya. Chara menyeringai kecil.
“Jangan memuji aku.”
Tiba-tiba Ruby menendang kaki Chara, membuat gadis itu jatuh dan Ruby menendang sekali lagi, mengenai pipi Chara. Chara melompat bangun dan mengambil jarak. Gusinya berdarah tapi setidaknya rahangnya masih berada di tempat yang benar.
Chara mengencangkan kuda-kudanya.
“Kalau aku tidak salah.” Ruby berkacak pinggang. “Kalian tidak pernah pakai senjata seperti pistol kan? Kenapa?
Takut?”
Chara mendengus.
“Sayangnya aku tidak bawa senjata lain selain ini…” Chara melambaikan jari-jarinya.
“Jangan kau kira aku tidak lihat pedang putihmu itu. Ada di zaman apa kita? Sudah waktunya kau main dengan benda-benda yang lebih modern.” Ruby menunjuk ke pedang pendek putih yang menyisip di pinggang Chara.
Chara tertawa kecil.
“Jangan tersinggung tapi dia hanya untuk emergency.”
Ruby memutar bola matanya.
“Manusia-manusia sok suci.” Tangannya merogoh ke belakang kantung dan mengeluarkan dua buah beretta yang langsung ia arahkan ke Chara.
“Perkenalkan, ini namanya pis…tol…” Eja Ruby pelan-pelan.
Chara mengangguk. “Yeah, aku tahu.”
Setelah itu Ruby mengencangkan kuda-kudanya dan menembakkan empat peluru sekaligus. Chara mengeluarkan
katananya tepat waktu untuk melindungi dirinya dari hujan peluru itu dan melompat ke samping..
Ruby berhenti menembak dan bertepuk tangan.
“Bravo! Reputasimu bukan bohongan ternyata.” Ruby meregangkan lehernya ke samping. “Tapi ini cuma pemanasan.” Bisik Ruby yang lalu berlari ke arah Chara sambil menembak dengan kedua tangannya dengan bertubi-tubi.
Chara berusaha menghalau dan menghindari dari peluru itu sebisa mungkin sambil memperpendek jarak mereka berdua. Saat ia cukup dekat, Chara melayangkan tendangnya ke pergelangan kaki Ruby, membuat gadis itu terjatuh. Ruby mengerang dan lalu melompat ke belakang dan mendarat di pinggiran atap.
“Jangan menghindar, pengecut.” Chara berdecak.
“Sial…” Umpatnya pelan. Ruby tertawa keji, lalu berjalan mendekati Chara.
“Hm, tidak sehebat itu ternyata.” Kata Ruby sambil mengangkat dagu Chara yang tertunduk. Ia menodongkan pistolnya ke pelipis Chara.
“Ada kalimat terakhir?” Bisik Ruby. Chara mendengus.
“Kau… mungkin bisa lihat ke belakang.” Kata Chara. Ruby membelalak, merasakan benda tipis dan dingin yang menempel di lehernya. Pas di nadi leher gadis itu, menempel Katana Chara, yang sudah merobek kulit bagian luar Ruby karena begitu runcing. Ruby mengerang kecil.
“Posisi kita sama, Ruby. Pelurumu, sudah mentok menekan tulang dadaku, untungnya tertahan anti peluru yang kupakai. Bergerak sedikit saja, kau bisa langsung membunuhku. Begitu pula aku. Kau tahu sendiri, dimana letak kedua tanganku?” Bisik Chara sambil terengah-engah. Ruby melirik jari Chara yang sudah siap menekan saraf yang dapat menghilangkan kesadarannya. Sedangkan tangan satunya, memegang katana yang sudah hampir menyentuh nadinya. Ruby mengeringai.
“Baiklah yang mulia, mungkin perseteruan kita kali ini harus diakhiri dulu. Aku masih punya client yang perlu dilayani, sedangkan kau, kalau kubunuh aku bisa-bisa ikut mati dibunuh ThunderBird. Bagaimana kalau kita sekarang genjatan senjata dulu?” Kata Ruby. Chara menyeringai.
“Baiklah… Tapi kau jangan berani-berani menjilat ludah sendiri. Jangan-jangan ketika sudah ku jauhkan katanaku, kau menembak dahiku.” Kata Chara. Ruby mendengus.
“Aku tidak pernah sepengecut itu. Lagipula sudah kukatakan, ThunderBird tidak mau aku yang membunuhmu. Jika aku membunuhmu, bisa-bisa aku juga ikut dibunuhnya.” Kata Ruby yang perlahan menjauhkan Berettanya.
“Nah, sekarang, ayo kita damai dulu. Kau boleh kunci Berettaku atau apa pun, yang jelas jauhkan besi tipis itu dari
leherku.” Chara mengangguk dan menjauhkan katananya. Tiba-tiba Ruby melayangkan tembakan ke bahu Chara, dan Chara dengan otomatis menyayat perut gadis itu. Ruby melompat mundur, dan jatuh berlutut. Darah segar mengucur dari perut gadis itu, melewati tangannya yang berusaha menahannya.
“Urusan kita belum selesai.” Ruby terengah dan berusaha berdiri dan berjalan ke tepi atap. Chara meringis menahan sakit dan mengangguk, sebelum Ruby melompat jatuh dari gedung, dan menghilang. Chara yang sudah kesakitan setengah mati, jatuh terduduk menyandarkan badannya di tembok.
“Sial…” Chara mengumpat dan lalu menyalakan earphonenya, menghubungi Stella.
“Stellaria?” Chara berbisik, diantara napasnya yang terengah. Sambungan itu hening untuk beberapa saat sebelum Chara mendengar suara berisik udara dari sambungan.
“Chara! Kau kenapa?! Kau dimana?!” Stella berteriak panik. Chara tertawa kecil.
“Aku… tertembak di bahu. Bisa kau bawakan p3k? Atau sekalian kau panggil Stellmaria kemari.” Chara berbisik.
“Untuk apa kupanggil adikku kemari? Aku bisa mengatasi luka seperti itu. Yang penting kau dimana?!” Stella terdengar semakin panik. Chara terengah lagi.
“Di atap, di lantai paling atas hotel Rising.” Kata Chara.
“Bertahanlah sebentar. Aku akan ada di sana sekitar…. Delapan belas detik?” Chara mendengus. Beberapa saat kemudian, suara pintu menuju atap dibuka terdengar keras dan Chara hanya bisa melirik.
“Hei… Kau tidak apa-apa?” Stella berlutut di depan Chara, langsung membuka kotak peralatannya.
“Tidak apa-apa… tapi…” Chara bergumam. Stella memandang cemas temannya.“Kau sampai disini dalam dua puluh empat detik.” Chara tersenyum dengan kekuatannya yang tersisa. Stella tertawa.
“Yah, peralatannya berat. Setidaknya aku ada disini sekarang.” Kata Stella sambil membuka seragam putih Chara, dan mengeluarkan peluru yang tertanam di jaket anti pelurunya, dan satu lagi, yang tertanam di bahu, yang tidak tertahan jaket. Chara mengerang.
“Ssh, tahan sedikit.” Bisik Stella. Ia menutup luka Chara dengan perban yang melilit dari bahu sampai ke dadanya.
“Apa yang kau rasakan?” Kata Stella. Charaberusaha menjawab disela-sela napasnya.
“Entahlah… Linu… dimana-mana. Badanku rasanya meriang.” Chara berbisik. Stella mengumpat.
“Kita benar-benar butuh Stellmaria. Ayo, kita harus pergi sekarang.” Stella memapah Chara, membantunya berdiri.
Di sela-sela kesadarannya yang terakhir Chara bisa mendengar suara Stella berteriak ke arah earphonenya, meminta transportasi, sebelum menarik mereka turun lewat tangga darurat.
Lalu setelah itu semuanya gelap