
Beberapa jam berlalu setelah pesta itu. Chara sudah terlelap di tempat tidurnya, dan lagi-lagi earset Chara berbunyi di saat-saat itu. Ia dengan sigap mengangkat, mengusahakan agar suaranya terdengar jernih.
“Ya?” Chara memandang jam digital di samping tempat tidurnya yang menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ia menguap, Ia baru saja tidur satu jam.
“ThunderBird ada di Rocky Point. Dia kelihatannya akan bertemu dengan seseorang. Kau mau lihat?” Suara Mr. West terdengar dari seberang sambungan. Chara mendengus.
“Tentu saja.” Katanya berbisik.
“Kau lebih baik ajak Stella. Ini pekan liburan dan kecelakaan di waktu-waktu seperti ini mudah untuk dianggap enteng orang-orang. Ditambah sepertinya ia tidak sendirian.”
Chara langsung berganti baju, dengan baju serba putihnya—yang menurutnya membuatnya terkamuflase setiap saat—dan membawa kantung serbagunanya.
“Char? Ada apa?”
Sontak Chara berbalik dan menemukan Stella sudah duduk di kasurnya. Chara menyeringai.
“Mereka ada di sini.”
Mata Stella membelalak dan ia ikut tersenyum.
“Ganti baju-lah, dan bawa yang kau perlukan. Ada lebih dari satu orang yang akan kita lihat.” Chara membuka jendela penginapannya dan memperhitungkan seberapa jauh ke bawah dan tempat-tempat yang memungkinkan untuk ia pijak.
Stella langsung melompat bangun, memakai celana hitam pensil, sepatu boot, baju lengan panjang v-neck berwarna hitam. Ia memakai lipstick hitam, lalu memasang topeng setengah wajah miliknya. Stella memakai earset tanpa kabel—seperti milik Chara—dan mengangguk pada temannya, setelah memastikan kedua sarung tangannya menempel lekat. Chara yang sudah memperhitungkan langkahnya, segera melompat keluar dari jendela.
Sama seperti Chara yang menguasai parkour, Stella bahkan lebih ringan lagi karena ia adalah seorang gymnast yang lebih handal daripada Chara.
“Mereka dimana?” Bisik Stella pada Chara, menyusul di sampingnya.
“Sir!” Kata Chara memencet tombol earsetnya. “Bisa bantu aku lacak?”
“Mereka hanya diam di satu tempat sedari tadi.” Bunyi ketikan terdengar. “Belok kanan di depan.”
Mereka mengikuti instruksi, dan masuk ke sebuah area terbuka di tengah-tengah area pantai, dekat dengan pusat
perbelanjaan ada sebuah bar terbuka yang sudah tidak dipakai.
“Jangan terlalu dekat, Charlexa. Ada lima orang berkumpul disana.”
Chara berhenti di depan toko baju renang tepat sebelum ia berbelok ke arah bar kosong yang ia tuju dan merapat ke dinding. Stella berhenti di belakangnya dan merapat pada Chara.
“Delapan puluh meter, arah jam satu.” Chara mulai bergerak merayap, agar bisa melihat situasi. “Hati-hati Charlexa.” Chara mengangguk-angguk kecil, tampak tidak peduli tapi badannya menempel lebih dekat pada tembok di belakangnya.
“Kau bawa kamera mini?” Chara berbahasa isyarat—sesuatu yang menjadi khas divisi didikan Mr. West agar mereka bisa berkomunikasi dalam situasi apapun.
Stella mengeluarkan kelereng hitam kecil, dan layar berukuran tujuh kali sembilan. “Baterainya sudah mau habis.” Isyarat Stella pada Chara. Chara mengangkatnya dan mengeluarkan tangannya sedikit ke arah bagian terbuka dari bar.
“Mereka terlalu banyak.” Stella berisyarat, Chara mengangguk setuju. Tapi mundur bukan pilihan.
“Jangan pikirkan itu, kita tidak akan apa-apa. Bantu aku pikirkan cara supaya kita bisa mendengar mereka.” Chara
menengok kanan kiri, lalu mematikan kamera mininya.
Chara mengisyaratkan agar Stella mengikutinya dan berjalan mengitari minimarket di belakang mereka agar bisa melihat bar itu dari sisi yang lebih terbuka. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan chip kecil, bersama permen karet. Ia mengunyah permen karetnya, lalu menggulung si chip di dalam permen karet agar tidak akan terjadi gangguan
saluran komunikasi kalau-kalau Nocens menggunakan alat komunikasi antar satu sama lain. Sinyal chip itu juga bisa mengganggu alat komunikasinya sendiri sehingga menimbulkan bunyi seperti televisi rusak. Chara berjongkok, dan melemparkan permen karetnya yang lalu menempel di lantai dekat lampu sorot bar.
“—Riskan. Pertemuan kita dimana selanjutnya?” Suara seorang pria terdengar, sepertinya itu si lelaki yang mirip mayat hidup. Chara mengacungkan ibu jarinya pada Stella dan memberikan sebelah earsetnya padanya.
“Jangan disini. Kalian ini mencurigakan.” Kata pria yang tidak bertopeng. Menyimpulkan dari nada bicaranya yang terdengar agak mengatur, Chara yakin dia adalah salah satu orang yang menyewa mereka.
“Ya ya, tapi dimana?” Jawab suara beraksen British yang familiar di telinga Chara.
“ThunderBird…” Chara berbisik kecil.
“Di ruang meeting hotel. Bagaimana?” Sahut seseorang lain.
“Di hotel tempat Queen tidur?” Suara wanita menjawab, Ruby.
“Ya, mungkin disitu. Apa kalian benar-benar bisa membawa dia kesini?” Kata si pria yang bernada tinggi.
“Jangan meragukan kami, Pak. Kami, bukan amatiran.” Kata Ruby sambil tertawa genit.
“B-baiklah. Tapi jangan sampai kalian mengganggu perserahan diadema nanti. Kami tidak mau Lavender dicurigai.” Kata si pria lain.
“Diadema? Lavender?” Gumam Stella.
“Tenang saja, kami tidak akan ledakan kepala Queen dan membuat Lavender berlumuran darah.” Ruby tertawa kejam.
“Ya kan Scope sayang?” Kata Ruby lagi. Chara menelan ludah, sniper itu ada di sana.
“Whatever. Yang jelas sepertinya kita harus cepat pergi dari sini.” Kata Scope.
“Kenapa?” Tanya Ruby.
“Aku… merasa ada yang mengawasi kita.” Kata Scope. Chara dan Stella saling berpandangan.
“Bantu aku?” Chara berisyarat, dan melanjutkannya dengan instruksi panjang.