
Mata Chara perlahan terbuka. Kupingnya mendengar bunyi samar pintu dibuka. Entah pintu mana yang terbuka, tapi ia yakin itu bunyi pintu masuk menuju kamarnya. Chara tidak berani bergerak sedikit pun. Ia ingin membalikan posisi badannya yang memunggungi pintu itu untuk melihat siapa yang datang, tapi ia merasa sedikit takut untuk melihat siapa yang datang. Chara lumayan paranoid, ia selalu tidur dengan katananya dan sekarang ia tidak punya senjata apapun yang berada di jarak jangkaunya.
“Chara?”
Suara lelaki bergema di ruangan itu. Suara yang sangat familier untuk Chara.
Tapi siapa?
“Oh… masih tidur kah?'
Lelaki itu berbisik. Kali ini lebih pelan.
Chara mendengar bunyi pelan sesuatu di geser di meja sebelah tempat tidurnya, dan…. Bunyi lainnya. Seperti bunyi gemerisik plastik, dan benturan pelan keramik dengan kaca meja.
“Sudah lama aku nggak melihatmu.” Kali ini sebuah tangan mendarat halus di kepalanya. “Nggak kusangka rasanya selega ini. Seperti pulang ke rumah.”
Mata Chara benar-benar terbuka lebar kali ini. Ia tahu suara siapa itu.
“Ray Trevor?” Gumam Chara pelan. Tangan yang sedang mengelus kepala gadis itu perlahan terhenti.
“Chara…” Kali ini lelaki itu tidak berbisik. Chara menarik napas pelan, dan memberanikan dirinya untuk berbalik.
“Ternyata memang kamu. Ray.” Chara tersenyum pada lelaki itu. Lelaki itu tampak gugup. Chara tertawa kecil.
“Kamu belum berubah sedikit pun.” Kata Chara sambil duduk di tempat tidurnya. Ia memperhatikan lelaki itu dari atas sampai bawah.
Rambut cokelat gelap yang dispike tidak rapi. Mata yang juga coklat, membuat tatapannya tampak hangat. Postur tubuhnya cukup tinggi dan berbahu lebar, Ia sedikit gendutan, pikir Chara, tapi hal itu malah membuatnya semakin tampan.
“Sorry, aku ganggu tidurmu.” Lelaki yang dipanggil Ray itu melihat ke lantai, dan tangannya menggaruk pelan tengkuknya.
“Telingaku memang sensitif. Kamu tahu lah.” Chara tersenyum. Sudah lama Chara ingin melihat orang ini.
“Iya… aku tahu.” Kali ini lelaki itu tersenyum sambil menatap Chara lekat.
"Kamu lagi apa di sini? Bukannya kamu--"
“Sibuk di Jerman?” Lelaki itu tertawa.
“Aku sedang liburan, dan lalu memutuskan untuk main ke WPA. Aku kangen pada mentorku dulu, Sir Kinley. Lalu aku ketemu Stella yang kelihatan pucat. Aku tanya kenapa, dan lalu aku tahu banyak soal keadaanmu sekarang, sampai kau harus tiduran di ruangan putih bau obat ini.” Ray tertawa lagi. Chara mengangguk-angguk.
Tatapannya melayang ke arah meja disebelahnya. Disana terletak vas cantik berisi beberapa tangkai bunga mawar merah dan tulip kuning kesukaannya. Mungkin itulah bunyi yang ia dengar tadi.
“Kamu yang bawa bunga ini?” Tanya Chara sambil meraih satu tangkai tulip dari vas, lalu menghirup aromanya.
“Ya. Suka?” Tanya Ray dengan wajah cemas. Chara mengangguk kecil sambil tersenyum. Tentu saja ia menyukainya. Bunga tulip dan mawar menyimpan banyak kenangan untuknya. Chara menaruh kembali tulip itu di vas.
Chara terdiam. Begitu pula Ray, yang tampak bingung dan gugup. Antara ingin bicara, tapi tidak tahu ingin bicara apa. Chara menarik napas pelan, sebelum menanyakan topik yang ia tahu akan menyakiti hatinya.
“Bagaimana kabar Jesslyn?” Tanya Chara memecah keheningan. Tatapan Ray berubah drastis. Alisnya berkerut, dan bibirnya sedikit terbuka.
“Ah… aku…” Ray mendengus sambil tertawa.
“Aku sudah lama putus dengan Jesslyn.” Kepala Ray tertunduk lagi ke lantai. Jemarinya memainkan sprei kasur.
“Oh? sorry...Aku nggak bermaksud--aku cuma--” Chara mulai merasa bersalah. Ia tahu lelaki ini begitu menyayangi gadis yang bernama Jesslyn itu.
Ray tertawa kecil.
“Mungkin aku ini kena karma Char.” Kata Ray sambil duduk di kursi disebelah tempat tidur Chara. “Tuhan mempermudah jalanku. Tapi aku malah keras kepala” Ray melipat tangannya di depan dada, sambil menghela napas pendek.
“Maksud..mu?” Chara memandang pria itu lekat-lekat. Ray menatap balik pada Chara.
“Jesslyn meninggalkan aku, Char. Dengan cara yang sama saat aku meninggalkan kamu.” Kalimat terakhir Ray keluar dengan bisikan. Kepala lelaki itu tertunduk lagi. Rasa sesak yang familier menyerang dada Chara. Chara tersenyum pahit, tidak mengatakan apa-apa.
“Waktu itu aku belum sibuk kerja di Jerman. Paling-paling hanya kerjaan yang makan waktu kurang lebih tiga sampai empat hari. WPA memintaku pulang ke kantor untuk mengurusi beberapa berkas dan membantu penyelidikan. Tapi entah ada apa, lagi-lagi aku dipanggil ke Jerman, sehingga aku harus kembali menyiapkan keperluanku untuk berangkat kesana. Dan seperti biasa aku mengajak Jesslyn untuk menemaniku. Tapi lalu, Jesslyn menolak.” Ray berhenti sebentar untuk menghela napas. Tatapannya kosong entah menatap kemana. Chara tidak berani berkata apa-apa. Ia hanya memandang lelaki yang dulu pernah ia sayangi itu.
“Lalu Jesslyn bilang ingin mengajakku bicara. Ia memintaku untuk bertemu di café yang biasa aku datani. Saat kita ketemu…. Aku benar-benar tidak siap hati dengan keputusan Jesslyn. Hari itu Jesslyn bilang ia sedang menyukai pria lain. Ia bilang ia sayang padaku, tapi ia lebih sayang pada pria baru itu.” Ray menelan ludah, dan menarik napas beberapa kali. Ia tampak begitu sakit hati.
pernah aku ucapkan pada seseorang pada saat aku masih bersamamu. Dan sepertinya.. ucapan itu aku katakan padamu.” Ray menatap Chara. Dahi Chara berkerut. Lalu ia perlahan menggeleng dan melihat kebawah.
“Kita nggak pernah bersama Ray. Nggak pernah ada apa-apa di antara kita.” Suara Chara terdengar datar di telinga Ray. Sedangkan di telinga Chara? Suara itu terdengar seperti suara bergetar yang sedang menahan tangis.
“Sorry..” Gumam lelaki itu. Sakit yang pernah dirasakan Chara dulu, datang kembali, dan ia tidak menyukainya.
“Aku sudah pernah bilang, kamu tidak perlu minta maaf. Lagipula semuanya sudah lama lewat. Kita sudah nggak ada hubungan kerja. Kau jalani hidupmu, aku jalani hidupku.” Chara perlahan mendongakkan kepalanya. “Lagipula…” Chara memandang Ray dan tersenyum.
“Perasaanku padamu juga sudah berubah banyak semenjak waktu itu.” Chara berpura-pura tegar. Walaupun ia tahu, melihat wajah lelaki ini lagi saja sudah membuka satu bagian hatinya yang sudah lama ia kunci. Dan hal itu terasa menyakitkan.
“Kita… kembali ke jalan masing-masing saja. Tidak perlu ada masalah diantara kita. Seperti yang dulu aku pernah
katakan padamu.” Chara tersenyum lagi. Ray tersenyum pahit.
“Sebenarnya aku kesini untuk menyampaikan lagi satu hal..” Kata Ray pada Chara.
“Oh ya? Apa?”
“Aku pulang Char. Aku akan kembali bekerja lagi pada WPA disini.”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kau hanya perlu minum obat, Ms. Serenity. Tapi kau harus bersabar juga. Pemulihan butuh waktu. Lukanya terlalu dalam dan terinfeksi.” Kata sang dokter sambil menutup buku analisisnya. Chara mendengus kesal.
“Mrs. Jones sudah memberikanku antivus untuk dipakaikan padamu. Apa kau bersedia untuk diinfus Ms. Serenity?” Tanya sang dokter.
“Hm…” Kalau ia diinfus… kesehatannya akan cepat pulih. Tapi kalau ia diinfus, itu akan membatasi pergerakannya.
“Apa tidak ada cara lain, dok?” Kata Chara dengan penuh harap. Sang dokter tertawa.
“Tentu ada. Aku sudah memperkirakan hal itu. Semua anak buah Mr. West tidak bisa diam. Memang tidak ada yang bisa dipasangkan infus” Sang dokter tersenyum, lalu menulis sesuatu di bukunya.,
“Bagaimana kalau suntik? Kalau kau bersedia maka akan diberikan suntikan antivus dan imun 1 kali sehari. Sebagai pengganti infus.” Sang dokter membenarkan kacamatanya. Chara tersenyum.
“Cara itu akan jauh lebih baik dok.” Chara mengangguk. Si dokter tersenyum puas.
“Baiklah kalau begitu. Sebentar suster akan kesini untuk menyuntik ya. Setelah itu saya sarankan istirahat.” Kata si
dokter sebelum meninggalkan ruangannya.
Malam itu Chara sudah terbaring rapi di tempat tidurnya, dengan baju seragam rumah sakit, dan gelang pasien di tangan kirinya. Ia memperhatikan sekelilingnya. Sunyi sekali. Jarang-jarang Chara berada di suatu sempat sendirian dikelilingi suasana yang begitu hening seperti sekarang.
Chara menunduk, memperhatikan jemarinya. Sebuah rasa yang dulu pernah ada di hatinya kembali menjalar lagi. Pikirannya berkecamuk. Bayangan-bayangan kejadian di masa lalu, dengan imajinasi akan apa yang akan terjadi di depannya, bercampur aduk di benak Chara.
Ray pulang satu jam yang lalu, atas panggilan Sir Kinley. Chara lega karena Ray pergi. Tapi sesuatu membuat ia
menginginkan Ray untuk tetap menemaninya.
Tapi bayang-bayang tentang masa lalunya yang menyakitkan membuat ia mengurungkan niatnya, dan mengusir segala pikiran tentang pria itu. Chara mendengus pada dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia saat itu.
Suara lembut yang datang dari arah pintu membuyarkan lamunan Chara.
“Ms. Serenity?” Chara mendongak lalu tersenyum.
“Saya mau memberikan beberapa obat dan suntikan.” Suster yang sedang melangkah masuk itu tersenyum lembut pada Chara. Chara mengangguk.
“Iya. Tadi Dokter Bayle sudah bilang. Silahkan suster.” Kata Chara sambil membalas tersenyum. Suster memberikan beberapa pil dan menaruhnya di meja dekat tempat tidur Chara. Ia lalu mengeluarkan jarum suntikan yang sudah berisi, dan lalu menyiapkan lengan Chara untuk disuntik. Chara memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Nanti malam kau akan merasa badanmu jadi panas ketika tidur. Tapi itu biasa. Dan mungkin gejalanya masih belum terasa berkurang. Banyak makan-makanan sehat, dan jangan terlalu banyak berkegiatan saja. Itu akan membantu.” Chara merasakan bekas lukanya dibersihkan kapas basah, dan ditutup dengan plester. Chara menghembuskan napas pelan sebelum mengangguk dan tersenyum.
“Terimakasih banyak suster.” Kata Chara. Suster itu mengangguk.
“Pencet saja bellnya kalau ada apa-apa ya..” Kata perawat sambil berjalan keluar.
Ia sendirian lagi.