
Dengan bantuan teman-teman sosialita Stella—yang ternyata banyak di antaranya adalah perempuan-perempuan yang menyebut diri mereka ‘fans’ Cerella yang hanya iri dengan cantiknya model itu—mereka bisa mendapatkan informasi tentang di mana Cerella akan tinggal di Rocky Point.
Ada tidaknya bantuan itu ternyata tidak terlalu efektif, karena begitu mereka sampai di depan “Rising Hotel”, wartawan dan fotografer sudah mengerubungi lobby. Dari jarak seratus meter pun semua orang tahu ada orang terkenal di sana.
“Miss Turco!”
Nama itu dijeritkan berkali-kali, bersamaan dengan flash kamera yang menghujani lobby hotel ketika seorang gadis berambut merah melenggang dengan gaun kuning tipis. Di sekitarnya tampak dua bodyguard dengan badan yang tidak terlalu kekar jika dibandingkan dengan lelaki berwajah mayat hidup dari tadi malam. Tidak lama setelah itu reporter berjalan masuk dan duduk di kursi-kursi yang sudah di siapkan sebelumnya, termasuk Chara dan Stella yang berdandan sama rapinya dengan yang lain.
Cerella berdiri di depan mereka dan dengan anggun mengatupkan tangannya dan tersenyum.
“Selamat siang para reporter yang terhormat. Terimakasih sudah menyambut kedatangan Cerella Turco ke pantai ini. Karena waktu yang terbatas, kami selaku managemen Cerella mohon agar wartawan sekalian dapat bertanya dengan tertib dan sopan, terimakasih.” Kata seseorang lelaki berkaca-mata yang dengan cepat berdiri di samping Cerella sebelum kembali pergi ke samping dan membuka acara.
Wartawan mulai melemparkan beberapa pertanyaan, kebanyakan dari mereka menanyakan soal sesi foto, soal tujuan konser, dan hal-hal yang berhubungan dengan berpindahnya karir Cerella Turco dari modelling menjadi penyanyi. Stella terus mempertahankan tangannya di udara sampai ia di tunjuk.
“Miss Turco, saya ingin memberikan dua pertanyaan. Apakah untuk konser ini Anda menggunakan seluruh kru Anda sendiri?”
“Hm, tidak. Konser mini ini sepenuhnya disponsori oleh Hotel Rising—terimakasih banyak—“ Sebut gadis itu sambil
membungkuk ke seorang laki-laki tua di barisan depan—pemilik Rising Hotel?—yang tersenyum sambil mengangguk-angguk, “Jadi tim yang datang bersama saya hanyalah asisten-asisten untuk kerpeluan pribadi saya sendiri.” Lanjutnya.
“Lalu, apakah kegiatan Anda setelah selesai konser?” Stella bertanya lagi.
“Sepertinya…. Akan ada meeting untuk pesta pribadi di daerah sini—khusus untuk para kru yang telah membantu kelancaraan acara ini—lalu juga akan ada pemotretan di pantai sebelum saya kembali pulang.” Cerella menjelaskan. Stella berterimakasih, lalu duduk.
“Ruang meeting?” Bisik Stella.
Chara yang sedari tadi sudah tidak memperhatikan konferensi, melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan Hotel Rising, yang walaupun bergaya super mewah, areanya tidak terlalu besar.
Dari tempatnya duduk, ia dapat melihat balkon lantai dua, dan sebuah ruangan dengan plakat tulisan yang tidak terlalu terbaca jelas di depannya.
“Aku mau ke toilet.” Bisik Chara dan langsung meninggalkan rekannya untuk keluar dan langsung menuju ke lobby hotel untuk bertanya.
“Halo, selamat siang.” Chara melipat tangannya manis di meja lobby dan petugas hotel langsung tersenyum ramah.
“Siang, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau rapat setelah ini, apa ada ruangan yang bisa kami sewa?”
“Mohon tunggu sebentar.” Staff itu kembali duduk, dan melihat komputernya untuk beberapa saat sebelum kembali berdiri.
“Mohon maaf, ruangan meeting kami telah terpakai semuanya untuk hari ini. Apa Ibu mau menyewa ruangannya untuk hari lain?”
Chara mengangguk-angguk. “Oke, besok tidak apa-apa. Apa saya bisa minta list harga dan melihat ke ruangannya?”
“Boleh, sebentar biar kami antar.” Staff di depan Chara memanggil temannya dari dalam ruangan, yang langsung tersenyum ramah dan membawa Chara naik ke lantai dua.
“Kami punya beberapa jenis ruangan, dari yang kecil sampai besar.” Staff tersebut memberikan sebuah lembaran kertas berisi tulisan angka-angka harga di atasnya.
“Ini ruangan terkecil yang kami punya.” Staff tersebut berhenti di ruangan yang tadi Chara lihat dari bawah balkon, dan betul saja tebakannya.
Plakat di depan ruangannya bertuliskan “Dandelion”
Merasa yakin dengan tebakkannya, Chara langsung menoleh ke arah staff yang mengantarnya.
“Kalau ruang Lavender ada di lantai berapa?”
Jantung Chara berdetak keras, kalau ternyata tebakkannya salah…
“Ruang Lavender ada di lantai empat. Apa Ibu mau melihat ruangannya?” Staff tersebut masih tersenyum sopan. Kali ini Chara membalas senyuman itu setulus mungkin.
“Kalau boleh?”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Yaa bagus! Tangan kanan dipinggang—ya seperti itu! Satu… dua….” Lalu terdengar bunyi jepretan kamera.
“Chara… kita mau apa disini?” Stella berbisik, menutupi wajahnya dari sorotan sinar matahari yang terik di pesisi pantai lepas. Chara terkekeh kecil.
“Mengamati?” Jawabnya pelan, lalu melihat ke sekeliling.
“Jangan gegabah ya… sniper kesayangan sudah siap di beranda lantai tujuh. Kurasa dia bakal bisa lihat kita kalau dari sana.” Chara berbahasa isyarat. Stella mengambil kaca lipstiknya dan berusaha melihat ke atas dengan kaca itu.
“Perhatikan lagi, ada sesuatu yang menyembul dari tengah-tengah cela pintu beranda.” Stella menyipitkan matanya.
Moncong senapan.
Setelah benda hitam itu terlihat oleh Stella, dengan cepat ia pura-pura menyentuh bibirnya sebelum memasukkan kacanya kembali ke tas.
“Lalu gimana? Berarti kita tidak bisa bergerak sekarang?” kata Stella. Chara menyeringai. Ia menyingkap sedikit kain pantai yang menutupi bahunya yang terbuka, lalu terlihatlah tas serbagunanya. Ia juga memperlihatkan baju serba putihnya di balik tank-top pink yang ia pakai.
“Lalu? Kain bunga-bunga itu akan kau jadikan jubah?” Stella menahan tawa. Chara mendorong main-main pundak Stella.
“Aku punya rencana.” Kata Chara pelan.
“Tapi kan… kau sendiri yang beritahu aku, pria itu bawa Remington kan? Sebelum kau sampai untuk meng-akupuntur dia, mungkin perutmu sudah dilubanginya.” Chara mendengus.
“Dia di lantai tujuh, Stellaria, aku kan tidak bisa terbang ke sana. Aku bawa sesuatu yang lain.” Chara membuka sedikit sleting tas kecilnya, lalu terlihat moncong Beretta.
“Kau dapat izin FA-5?” Stella terkejut. Chara hanya bisa menghela napasnya.
“Kurasa di titik ini Papa—“ Chara menyebut codename Mr. West “Juga panik. Ia bilang keselamatanku dulu, karena mereka bukan orang sembarangan. Lagipula kau seperti tidak tahu saja aku juga pernah kan kerja jarak jauh seperti dia.” Chara tersenyum tipis. Mengingat-ingat apa rasanya melihat di balik teropong senapan.
“Papa cuma waspada, dan bukan berarti kau perlu memakai itu kan? Setidaknya kau perlu punya rencana lain yang tidak perlu memilih pilihan itu.” Suara Stella berubah cemas. Stella handal, lebih handal dari Chara menurutnya. Selama ini izin FA-5 tidak pernah diberikan pada Stella karena agensi tahu ia punya banyak cara pintar untuk menyelamatkan dirinya sendiri tanpa membunuh orang lain, dan menyelesaikan pekerjaannya di waktu yang sama.
“Yaaah.” Chara menghela napasnya lagi, “Kita tinggal tunggu tanggal mainnya.”
“Dari percakapan kemarin, ada satu hal yang kita lupakan…” Chara menjelaskan. Stella hanya menatap kawannya.
“Kau ingat ia bilang pertemuan diadema? Diadem, dalam bahasa Inggris berarti mahkota. semalaman aku memikirkannya, tapi lalu aku malah semakin bingung, lalu aku menonton lagi video itu. Disana ada banyak anak-anak Nocens kan? ThunderBird, biasanya diundang kalau pekerjaan butuh membunuh seseorang tanpa keributan, seperti saat ini. Si mayat hidup—“
“Scar, Edward.” Stella menyela.
“Ya, Scar, sudah jelas menjadi tank untuk melindungi Thunderbird yang teknik berkelahinya jarak dekat, apalagi kali ini target punya bodyguard, Scope? Tentu ia berguna bagi penjagaan jarak jauh. Ruby? Apa yang mau mereka lakukan dengan Ruby? Perannya ambigu di dalam susunan tim yang seperti itu. Mereka sudah punya petarung jarak jauh, tameng, dan petarung jarak dekat. Akan masuk akal kalau dia juga adalah petarung jarak dekat, tapi dengan adanya Thunderbird di situ kurasa kehadirannya sebagai petarung jarak dekat hanya akan menghambat Thunderbird. Tapi lalu aku mulai menghubung-hubungkan diadem dan Ruby. Dua kata itu sepasang. Kau tahu kan, kenapa codename-nya Ruby?” Stella hanya terdiam, lalu perlahan air mukanya berubah. Chara tersenyum tipis.
“Ruby hanya diundang kalau mereka mau mencuri sesuatu, kan?” Stella seolah mengeja kalimatnya perlahan-lahan, Chara mengangguk.
“Ya, tepatnya, pertemuan diadema, dimaksudkan untuk membicarakan sesuatu yang dimiliki sang Queen yang punya nilai tinggi, dan ingin mereka curi.”
Seketika Chara merasakan bulu kuduknya berdiri, dan ia hafal perasaan itu.
“Terkaan pintar, putri salju.”
Suara itu datang sangat dekat dengannya dari belakang. Chara dengan cepat menunduk untuk menutupi wajahnya.
“Tenang. Aku tidak akan lihat wajahmu. Kalau kau dan temanmu juga tidak melihat wajahku. Jadi diam, jadilah anak baik dan lihat ke depan.” Perlahan, punggung wanita itu menempel pada punggung Chara.
“Biar kuberitahu, kami akan melakukan pertemuan itu pukul 6 sore nanti, para domba akan menganggapnya pertemuan kontrak kerja biasa. Kau, datanglah kalau kau berani. Jujur saja, aku ingin melawanmu, dalam pertarungan satu lawan satu. Tapi—“ Ruby berhenti sebentar untuk mendengus. “ThunderBird tidak pernah mengizinkanku. Kalau kau kuundang dalam pertarungan satu lawan satu, apa kau berani?” Chara terdiam sebentar, lalu mendengus.
“Boleh saja. Aku juga penasaran.” Chara dapat mendengar tawa kecil senang dari Ruby.
“Baiklah, jam sepuluh, di lantai paling atas.” Chara mengangguk.
“Lalu apa maksudmu dengan note yang kau tinggalkan di tempatku waktu itu? Soal temanku dan ancaman kosong lainnya?” Tanya Chara. Ruby hanya mendengus kecil.
“Oh. Itu cuma iseng. Tenang saja. Aku cuma bosan.” Ruby tertawa kecil. “Seperti katamu, mainan kali ini untuk cowok-cowok kasar. Bukan cewek anggun sepertiku.”
“Begitukah?” Chara balik tertawa kecil. “Oh, ya. Aku punya satu syarat soal pertarungan kita.” Chara berbisik.
“Katakanlah, yang mulia.” Ruby menekankan panggilannya
“Kalau kau kusakiti, jangan buat agencymu mengejar-ngejar aku. Aku bukan orang senggang.” Chara menenangkan dirinya sendiri. Sekali lagi Ruby tertawa, membuat jantung Chara kembali berderap panik.
“Maaf deh, soal itu kan bukan aku yang bisa atur.” Ruby maju selangkah, masih memunggungi Chara.
“Nah, aku harus pergi ya, ada barang yang harus kucuri.” Kata Ruby berjalan pergi.
Chara dan Stella tidak berani bergerak untuk beberapa waktu. Chara merasa ia sudah menghitung sampai seratus, satu setengah menit yang terasa seperti satu setengah jam.
“Ayo, lebih baik kita bergerak sekarang.” Kata Chara setelah ia bisa kembali bernapas normal, dan pergi, menarik Stella bersamanya.