
Chara duduk termenung di depan komputernya, membaca postingan dari Jade tentang kebakaran di komplek rumahnya. Posting itu sudah ada sejak bulan lalu, dan biasanya hal yang tertulis di post akan terjadi pada tanggal 15 di bulan selanjutnya. Dan tanggal 15 itu tepat 5 hari lagi. Chara merenung sambil mengetuk-ngetuk pelan meja komputer dengan kukunya yang panjang. Ia menunggu printernya mengeluarkan hasil ketikannya seharian.
Hari itu hari Sabtu. Sekolah libur tentu saja. Chara yang biasanya selalu menyibukan diri itu sekarang menyempatkan diri untuk berdiam dirumah. Yah, sekadar istirahat dan menjaga harta bendanya kalau-kalau benar-benar terjadi kebakaran.
Chara tersenyum puas saat selembar kertas merosot lancar dari printernya langsung ke genggamannya. Matanya menelusuri hasil kerjanya, dan setelah ia yakin akan karyanya itu, ia berjalan keluar kamarnya dan turun.
“Mama?” Panggilnya pelan sambil menengok kanan dan kiri.
“Di sini sayang..” Sahut ibunya. Chara berjalan ke asal suara, ke arah dapur. Ibunya sedang menyapu rumah siang itu.
“Ini ada surat dari Club Capoeira-ku. Mereka akan mengadakan camping selama seminggu dan pelatihan lokal selama 4 hari setelahnya… dan lalu dilanjut oleh karya wisata sekolah 3 hari dan jadi… yah, aku pergi dengan mereka.” Kata Chara sambil menyerahkan kertas hasil print-nya yang telah dilipat rapi dan dijepret oleh hekter. Dahi ibunya mengerut sambil membaca dikarenakan penglihatannya yang sudah kurang jelas.
“Seminggu empat hari? Sekolahmu sudah kasih izin Lexa?” Jawab ibunya sambil masih membaca suratnya.
“Sudah dong, Ma. Ini kan termasuk acara sekolahku juga..” Ujar Chara. Ia menggigit bibirnya cemas.
“Hmm apa kamu harus pergi? Mama sudah jarang lihat kamu sekarang karena sibuk, dan sekarang kamu harus pergi lama lagi.” Mrs. Saito memasang tampang sedih. Chara mendengus.
“Sorry, ma. Bagaimana kalau Mama ikut tinggal di Tokyo dulu dengan Papa? Papa pasti mau belikan tiket buat Mama.” Chara tersenyum. Mamanya ikut tersenyum.
“Mama juga inginnya begitu, sayang. Tapi Mama punya kerjaan dan kewajiban juga disini. Bisa-bisa rumah ini jadi seperti rumah hantu disaat kita berdua pulang. Mama juga sudah membuat banyak janji yang tidak bisa dibatalkan.” Mama mengusap kepala Chara sambil mengembalikan surat izin yang diberikan Chara. Kali ini giliran Chara yang mengerutkan keningnya.
“Padahal tadi aku sudah face time Papa loh.. dan Papa setuju untuk memberikan Mama tiket pergi ke Tokyo.” Charame cemberut sambil melirik dengan penuh arti pada ibunya. Mrs. Saito tertawa kecil.
“Sudah Mama bilang, bukannya Mama nggak mau, tapi tidak bisa sayang. Sudah, Mama masih banyak kerjaan. Kamu bilang kamu nggak enak badan kemarin, sana, istirahatlah di kamarmu.” Mrs. Saito mengusap pelan kepala Chara. Chara menarik napas dalam-dalam dan membuangnya.
“Oke.” Kata Chara sambil kembali ke kamarnya. Rumah sakit memintanya untuk perawatan lebih intens di sana, mau tidak mau ia harus mencari cara agar ia bisa tinggal di rumah sakit lebih lama. Ia sudah mendapatkan cara untuk keluar dari rumah selama 14 hari, tapi ia tidak dapat membuat ibunya pergi meninggalkan rumah.
Chara duduk di tempat tidurnya, memandangi komputernya yang masih menyala terang.
Mungkin benar kata Stella.
Tidak akan ada asap kalau tidak ada api.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Mama!!” Chara menjerit histeris memanggil ibunya saat mereka baru saja kembali setelah berbelanja di mall terdekat dari rumahnya.
Derap langkah ibunya terdengar dan sekejap ibunya sudah berdiri di samping Chara.
“Oh… Tuhan.” Desah ibunya saat melihat Chara basah kuyup, terduduk di lantai rumahnya yang sekarang terlihat seperti akuarium untuk kura-kura yang airnya menggenang rendah.
Mrs. Saito bersandar pada pintu dan mengusap kepalanya. Belum lima menit mereka menemukan rumah itu tampak tenggelam, tiba-tiba listrik mati, membuat Chara menjerit kecil karena kaget.
“Kenapa bisa seperti ini…” Kata Mrs. Saito pelan sambil duduk di kursi terdekat.
Kecipak air terdengar pelan saat Chara beranjak berdiri.
“Ma, aku punya kenalan yang bisa membenarkan listrik dan mengecek pipa air. Kemarin Terra yang tinggal di
belakang gang juga rumahnya kebanjiran. Biar aku yang urus ya Ma..” kata Chara sambil mengusap pelan punggung Mrs. Saito. Ibunya mengangguk, Chara tersenyum puas.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Pipanya bocor parah. Ada seekor tikus yang sedang menjelajahi gorong-gorong pipa air di depan, tapi lalu terjebak di pipa air ini yang ukurannya jelas jauh lebih kecil dari dirinya. Tubuhnya yang mengganjal jalur air membuat pipa meledak dan airnya mengalir keluar dari sana.” Jelas seorang pria muda dengan pakaian seperti montir yang lusuh. Chara menggigit pelan kukunya, menahan tawa.
“Ya. Dan karena airnya mengaliri sepelosok rumah, listrik konslet dan mati karena terendam air.” Sahut seorang wanita yang tampaknya seumuran dengan si lelaki, ia pun memakai baju montir yang serupa. Mrs. Saito terdiam sambil melihat ke dua pekerja itu.
“Jadi apa yang harus saya lakukan?” Kata Mrs. Saito dengan gundah.
“Ya… yang kami sarankan ada baiknya Anda tidak tinggal dulu dirumah ini selama kami bekerja untuk memperbaikinya. Karena, selain untuk sementara waktu listrik tidak bisa digunakan, ini juga sungguh berbahaya bagi orang-orang yang tidak pakai perlengkapan khusus dan terlatih karena air yang menggenang bisa saja mengalirkan listrik kapanpun. Aliran listrik bisa bahaya kalau tidak menggunakan perangkat khusus.” Tutur si wanita. Mrs. Saito mengehela napasnya lagi lalu memandang Chara yang sedang memasang tampang seserius mungkin.
“Yah… mungkin aku benar-benar harus pergi ke Tokyo.” Ujar Mrs. Saito sambil tersenyum pada Chara.
Chara tersenyum puas.
“Siap, Ma, aku kabari Papa ya. Jadi Mama bisa berangkat malam ini juga.” Chara membalas tersenyum dan merangkul ibunya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Keadaan rumah Chara sudah membaik. Air sudah tidak menggenang seperti tadi dan listrik sudah kembali berjalan.
“Sebenarnya tadi semua stop kontak sudah kututup dengan pelindung karet jadi kalau tergenang air pun listriknya tidak akan mengalir.” Stella mendengus.
“Ya, pasti kau sudah memperhitungkan itu, Kalau tidak pasti aku sudah gosong sekarang.” Kata Chara yang baru saja mandi setelah mengantarkan ibunya ke bandara.
“Itu juga ide Ricco sih. Benarkan?” Kata Stella. Ricco yang merasa terpanggil langsung berdiri tegak dan memandang Chara dengan sedikit tersipu.
“Y-ya, tentu saja. Keselamatan Charlexa sudah pasti menjadi prioritas Ricco.” Kata lelaki itu sambil berusaha tebar pesona mati-matian.
“Oh ya, terimakasih juga untukmu Ricco. Sudah lama kita tidak ketemu.” Kata Chara sambil tersenyum. Ricco yang merasa di sanjung oleh pujaanya langsung salah tingkah.
“Lalu setelah ini apa yang akan kita lakukan Stel? Aku yakin Rencanamu dan Ricco tidak berujung sampai sini saja.” Kata Chara sambil duduk di dekat meja makan tempat mereka bertiga berkumpul setelah membereskan sebagian besar rumah.
“Yayaya tentu saja, jangan meragukan kepintaran Stellaria.” Kata gadis cantik itu sambil tertawa.
“Dan apakah ide brilian yang datang dari kepintaranmu itu?” Kata Chara sambil tertawa kecil.
“Oh sederhana. Hanya satu yang perlu kutanyakan sebelum aku menjelaskan rencanaku.” Jelas Stella. Chara mengangkat alisnya pada Stella sebagai isyarat menanyakan ‘apa?”
“Kau punya beberapa kamar tidur kosong?”
Singkat cerita ternyata Rencana Stella adalah menginap didalam rumah Chara yang saat ini berbentuk seperti kapal pecah karena ulah Stella dan Ricco. Sambil menunggu hari-H tiba, mereka bertiga membersihkan rumah Chara sehingga pada H-2 rumah tersebut sudah kembali bersih dan sudah bisa ditinggali dengan normal. Walaupun rumah itu tampak sangat normal, tidak ada yang tahu kalau 2 hari lagi rumah tersebut akan dibakar.
Itulah rencana Stella. Untuk membakar rumah ini, tentunya akan ada seseorang yang masuk ke dalam rumah untuk menyalakan api, dan pada saat orang tersebut masuk, Stella, Ricco dan Chara sudah menjaga rumah sehingga mereka bisa menangkap pelakunya.
“Apa kau yakin rencana ini akan berjalan dengan baik Stel?” Tanya Chara yang sedang bertopang dagu di meja makan.
“Oh, tentu. Aku yakin cara yang paling baik dan paling cepat untuk membakar rumah, adalah menaruh botol atau sebuah kemasan berisi gas, membakarnya diatas kompor dan BLAM! Tinggal tunggu meledak saja dan rumahnya akan habis terbakar.” Sahut Stella sambil memain-memainkan tabletnya. Chara mendecakan lidahnya.
“Kau ini bicara seolah-olah kau pernah membakar rumah seseorang.” Stellaria mendelik pada Chara, dan Chara hanya tersenyum polos.
“Charaa~” Ricco memanggil dengan suara manja dari arah kamar mandi.
“Hm??”
“Aku numpang tidur siang yaa~” Kata Ricco yang habis mandi sambil menguap.
“Iya. Sana tidur dikamarmu.” Chara menjawab tanpa melihat pada fansnya itu.
Sejenak mereka hanya terdiam. Ricco berjalan menuju salah satu kamar Chara yang Chara pilihkan untuk Ricco tinggali selama mereka menjaga rumahnya. Stella sibuk dengan game yang ada di gadgetnya. Sedangkan Chara? Hanya bertopang dagu dan memikirkan hidupnya.
Tiba-tiba telepon genggam milik Chara berbunyi, spontan ia merogoh sakunya dan memandang ke arah layar. Nomornya tidak dikenal.
“Ya?” Sahut Chara dengan agak malas pada handphonenya setelah ia menekan tombol hijau.
“Hallo, Chara?” Jawab suara diseberang telepon.
“Yaa ini Chara. Ini siapa?” Chara meletakkan kepalanya dimeja. Hampir tertidur karena bosannya.
“Ini Ray.”
Sontak Chara duduk tegak dan matanya terbuka lebar. Mendadak rasanya begitu segar, ia sama sekali tidak mengantuk lagi.
“Oh… Oh ya.. kenapa?” Chara berdeham.
Terdengar suara tawa kecil dari sebrang sana, suara tawa yang selalu sukses membuat jantung Chara berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Nggak ada apa-apa. Aku cuma ingin telepon. Kau sedang apa? Sedang sibuk kah?” Tanya Ray dengan suara beratnya. Chara sedikit tersenyum.
“Tidak. Sama sekali tidak sibuk sampai bosan setengah hidup.” Jawab Chara. Ray tertawa lagi.
“Kebetulan kalau begitu. Aku sedang berada di mall dekat rumahmu. Aku harus beli keperluan sehari-hari. Kau bisa temani aku?”
Chara terdiam sebentar. Sebagian besar dari dirinya berteriak tidak! tapi tanpa ragu-ragu ia menjawab.
“Oke.”