Love Kills

Love Kills
Bab 13



Stella mengangguk pada rencana rekannya itu, dan tiba-tiba menghilang entah kemana. Beberapa detik kemudian, daerah itu menjadi berkabut tebal. Bahkan melihat jalan pun sulit. Chara lalu merasakan tepukan di pundaknya.


“Ayo. Cepat sebelum kabutnya hilang.” Chara mengangguk dan berlari masuk ke bar, dengan hati-hati, tangannya meraih penyadap miliknya.


“Sial, sepertinya anak buah WPA ada di sini.”


Chara menelan ludahnya mendengar suara serak si pria yang berwajah mirip mayat hidup. Ia cepat-cepat mengendap pergi.


“Ha! Iya, kau benar.” Kata ThunderBird tersenyum, setelah Chara berhasil kabur dari tempat itu.


“Ada Fog disini.” Kata si Frankenstein.


“Dan putri salju kesayanganku.” ThunderBird berbisik pada dirinya sendiri.


Setelah alat sadap sudah berada di genggaman Chara, ia kabur menyusul Stella yang sudah berjarak beberapa meter di luar kabut. Mereka langsung berlari ke arah belakang hotel dimana jendela kamar mereka menghadap dan memanjat naik.


“Gila! Sebentar lagi saja, kurasa kita tidak akan bisa kabur.” Stella melompat masuk duluan ke kamar, dan Chara masih mengangkat badannya naik ke celah yang tidak terlalu luas itu.


“Kita ketahuan. Aku sempat mendengar namamu disebut-sebut si mayat hidup.” Chara dengan cepat menutup jendelanya dan sekali lagi melihat keluar jendela, memastikan tidak ada siapa-siapa yang mengikuti mereka dan suasana masih hening seperti tadi.


 “Wah, dia sih pendendam kalau dia masih ingat padaku. Ia pernah kubuat muntah-muntah waktu kita ketemu dulu di kasus pembunuhan berantai.”


Chara tertawa kecil. “Urusanmu itu tidak pernah jauh-jauh dari pembunuh berantai.” Chara melepas topengnya diikuti oleh Stella.


“Sedangkan kau selalu dengan pembunuh bayaran.” Chara tertawa kecil.


“Betul juga.” Jawab Chara dan duduk di ujung kasurnya.


“Menurutmu..” Stella memecah keheningan. “Siapa yang mereka maksud Queen?”


“Banyak yang perlu kita cari tahu, Stella. Queen, Diadema, Lavender.” Chara menghela napas lalu bertopang dagu. Ia meraih laptopnya yang ia taruh di dekat televisi dan menyalakannya. Setelah internet tersambung dan ia menghubungi WPA, wajah seorang laki-laki muncul di layar.


“Sir?” Stella duduk di sebelah Chara. “Apa kau bisa bantu kami lagi?” Chara bertanya. Sir West tertawa kecil.


“Kantor West dan keluarga, buka dua puluh empat jam.” Sir West tersenyum.


“Hm… apa Sir tahu soal target Nocens kali ini?”


Sir West mengetik di komputernya.


“Apa saja yang sudah kalian dapatkan dari pengintaian tadi?” Alih-alih menjawab, pertanyaan itu kembali di lemparkan Mr. West pada Chara.


“Mereka disewa untuk membunuh Queen. Mereka juga bilang akan melakukan sesuatu di Lavender.”


“Queen…” Mr. West kembali mengetik.


 “Oh… sebentar, coba kau usahakan dulu sendiri, nanti akan kubantu lagi. Ada telepon lain masuk.” Sir West lalu


memutuskan jaringan. Chara menghebuskan napas kesal.


“Gunakan otakmu yang bagus itu dulu. Kau kan biasa ahli dalam hal begini.” Stella kembali berjalan ke tempat tidurnya.


“Oke. Coba.” Chara menutup laptopnya dan memejamkan mata.


“Queen… Queen itu berarti ratu, ratu itu sebutan pimpinan perempuan yang berkuasa. Berarti target kali ini seorang


wanita yang berkuasa dalam sesuatu. Sampai situ mungkin sudah bisa kita pastikan.” Chara kembali membuka matanya. Ia menoleh ke arah Stella yang sedang asik berkutat dengan ponselnya.


“Tapi…”


“Chara.”


Chara tidak menjawab, tapi Stella langsung mengoper ponselnya ke arah Chara.


Di layarnya terpampang foto seorang perempuan cantik dengan badannya yang tinggi dan ramping, berfoto di samping pantai.


“Siapa itu?” Tanya Chara sambil melanjutkan membaca sisa berita tersebut.


“Model, tapi baru saja bikin album. Konsernya kali ini gratis katanya, dan sedang musim liburan begini pasti akan


jadi lapak promosi yang lumayan kan. Kalau aku tidak salah besok dia sudah ada di Rocky Point.”


Chara mendengus kecil. “Wah wah, mungkin itu Queen.”


“Masa? Cerella Turco sedang sangat terkenal, kalau dia mati karena di bunuh, pembunuhnya akan sangat mudah


tertangkap.” Chara mengembalikan ponsel Stella pada pemiliknya.


“Tidak juga, kalau pemiliknya ini luput dari lingkaran orang-orang yang mungkin di curigai. Coba, kalau kau tidak


terlalu berpikir keras, siapa yang akan kau tuduh sebagai pembunuh Cerella kalau ia mati?”


Stella ikut berpikir, ia mengusap dagunya.


“Kalau tidak fans-nya, mungkin pacarnya kalau ia punya, atau seorang keluarga yang mengincar hartanya.”


“Ok, itu terlalu gelap.” Chara mengibas-ngibaskan tanganya di udara.


Chara mengambil layar dari kamera kecil yang mereka gunakan untuk mengintai tadi dan memperbesar gambarnya berkali-kali untuk melihat wajah lelaki-lelaki yang jadi lawan bicara Nocens.


“Mereka tidak terlihat seperti fansnya. Mungkin pacarnya, atau mantannya, tapi keluargapun aku nggak yakin.” Chara mengoper layar itu pada Stella yang langsung memicingkan mata untuk memperhatikan mereka lekat-lekat.


“Kenapa aku merasa wajah mereka familiar?”


Chara menghela napas, “Kukira hanya aku yang merasa begitu.”


Stella memperbesar gambarnya sekali lagi.


“Oh!” Kata Chara dan Stella bersamaan.


“Leher seksi itu!”


“Celana merah itu!”


Kata Chara dan Stella—sekali lagi—bersamaan. Chara menyeringai geli dan dahinya otomatis mengernyit.


“Leher seksi?!”


“Iya! Namanya Antonio, kepala tim penjaga pantai—seperti Antonio Banderas dan aku selalu ingat namanya karena garis wajah dan lehernya seksi seperti Antonio Banderas. Tadi aku berdansa dengannya!” Jelas Stella panjang lebar dengan semangat. Chara memutar matanya.


“Ia pakai celana merah, celana merah yang seperti Max pakai tadi siang. Seragam penjaga pantai.”


“Oh, betul, Max.” Kata Stella dengan lirikan penuh maksud.


“Kenapa dengan Max?”


“Kenapa dengan kalian? Kau kira aku tidak lihat kalian mojok berduaan sepanjang pesta?” Stella mencibir.


 Chara mendecakkan lidahnya. “Dia cuma teman.”


“Kau pikir siapa yang ini?” Chara kembali melihat ke arah layar kecil untuk mengalihkan pembicaraan dan menunjuk wajah lelaki yang satunya.


“Aku rasa kita belum pernah lihat dia. Lagipula menilai dari kulitnya yang terlampau putih, dia bukan orang dari


pantai.” Stella mendekat dan memperbesar layar.


Chara melihat ke langit-langit.


“Sepertinya besok kita bisa dapat jawabannya.”